NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:21
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 029: Rampasan Perang

Dua puluh menit setelah Arga memberi perintah, gerbang utara terbuka lagi.

Orang-orang di Kota Harapan masih menghitung mayat.

Tim Harem Arga sudah bergerak.

Langkah berat, napas serak, dan roda gerobak yang berderit melewati lumpur penuh darah menjadi irama keberangkatan mereka.

Di atas langit, retakan perak semakin banyak.

Airdrop Box jatuh satu per satu, membawa ekor cahaya pucat. Ada yang menghantam atap rumah roboh. Ada yang masuk ke halaman pabrik tua. Ada yang jatuh di tengah jalan yang semalam dipenuhi Zombie.

Nadira memegang peta yang sudah diberi lingkaran merah.

"Perkiraan total di radius lima kilometer sekitar dua ratus Box."

"Tim lain?"

"Kelompok Serigala masih kacau. Tim Kilat baru mengumpulkan orang. Tim Macan mundur terlalu jauh ke selatan. Surya bertahan membersihkan area utama."

Arga menatap tiga arah.

Telepati menyapu kota.

Pikiran manusia lebih mudah dibaca setelah perang. Lelah membuat mereka jujur.

Takut.

Marah.

Menghitung korban.

Menghitung kesempatan.

Hanya dua kelompok yang mulai bergerak cepat.

Tim Arga.

Dan sisa Kelompok Serigala yang masih terlalu serakah untuk duduk diam.

"Kita punya dua puluh menit," kata Arga.

Nadira mengangguk.

"Tim utama ke timur. Dara ke utara. Sepuluh orang terbaik ikut saya ke sektor barat. Kiara tetap di dekat Anda."

Kiara menatap Nadira.

"Aku bisa bergerak sendiri."

"Kamu bisa pingsan sendiri juga," jawab Nadira tanpa melihatnya.

Kiara menyipit.

Arga berjalan melewati mereka.

"Ikut aku."

Kiara diam, lalu ikut.

Box pertama jatuh di halaman bengkel yang terbakar.

Dua Zombie Tingkat 1 yang tersisa masih merangkak di dekat pintu. Arga memotong kepala mereka tanpa berhenti. Cincin Dimensi terbuka. Box masuk.

"Tidak dibuka di sini?" tanya salah satu anggota.

"Buka yang aman. Simpan yang jauh dari jalur."

Ia bergerak lagi.

Box kedua ada di atas bus terbalik.

Box ketiga di kios pulsa hancur.

Box keempat terjepit di antara dua rumah runtuh.

Untuk orang lain, setiap Box adalah risiko.

Untuk Arga, setiap Box adalah titik di peta yang sudah ia baca lebih dulu.

Ia menggunakan Telepati untuk menghindari kelompok manusia, mendengar Zombie yang belum mati, dan memilih rute tercepat. Saat jalan tertutup puing, ia menghilang dengan Teleportasi, muncul di sisi lain, mengambil Box, lalu kembali sebelum anggota di belakangnya selesai menarik napas.

Kiara memperhatikan setiap gerakan.

Matanya tajam meski wajahnya pucat.

Ia sudah melihat Teleportasi berkali-kali.

Tetapi melihat Arga memakainya untuk membuka Box satu demi satu membuat sesuatu di dalamnya bergerak.

Kemampuan itu terlalu cocok dengan Arga.

Cepat.

Tidak terduga.

Seperti keputusan yang sudah selesai sebelum orang lain sempat berpikir.

Dalam lima belas menit, Arga sudah mengambil sepuluh Box.

Dalam dua puluh menit, lima belas Box masuk ke Cincin Dimensi.

Di timur, Nadira bekerja berbeda.

Ia tidak secepat Arga, tetapi setiap langkahnya rapi. Sepuluh anggota membuka jalan, dua mengambil isi, tiga menjaga belakang, sisanya menutup sudut. Jika Box biasa, langsung dibuka dan dipilah. Jika Box terlihat lebih berat atau bercahaya lebih terang, Nadira menyimpannya untuk Arga.

"Combat Suit satu," kata Meiling lewat radio dari belakang setelah menerima laporan barang.

Nadira menatap kotak hitam yang baru dibuka.

"Catat untuk saya."

"Anda tidak bertanya dulu kepada Bos?"

"Bos sudah tahu saya membutuhkannya."

Di utara, Dara tidak banyak bicara.

Ia menendang pintu gudang, membunuh dua Zombie yang terjebak di dalam, lalu mengangkat Box dengan satu tangan.

"Yang ini bagus."

Seorang anggota melihat cahaya di dalamnya.

"Kak Dara, ada Combat Suit."

Dara menyeringai.

"Akhirnya baju yang tidak gampang robek."

Box berikutnya berisi senjata, Kristal, dan alat medis. Setelah tujuh Box, tim Dara hampir disergap lima orang dari Tim Macan yang mencoba mengambil dari belakang.

Dara hanya menoleh.

Tubuhnya penuh darah Zombie, goloknya masih menetes.

Lima orang itu langsung pura-pura lewat.

"Pilihan bagus," gumam Dara.

Dalam satu jam, Tim Harem Arga membuka lebih dari empat puluh Box.

Saat kelompok lain akhirnya berani keluar dalam jumlah besar, Arga sudah menguasai jalur timur dan utara.

Setiap Box yang jatuh dekat wilayah mereka diambil.

Setiap orang yang mencoba mendekat melihat seragam tempur, pedang berdarah, dan perempuan-perempuan yang semalam baru saja keluar dari neraka.

Tidak ada yang berani tertawa lagi.

Sebelum tengah hari, jumlah Box yang berhasil mereka buka mendekati enam puluh.

Hasil awal sudah cukup membuat mata Meiling bersinar meski ia kelelahan.

"Tingkat 1 Kristal sangat banyak. Tingkat 2 Kristal juga jauh melebihi perang malam tadi. Ada tiga Combat Suit. Satu Serum Bakat. Senjata Hi-Tech beberapa unit. Sisanya makanan, air, obat, baterai, tali serat, lampu, dan peralatan pertahanan."

Nadira langsung menatap Arga saat mendengar Serum Bakat.

Arga mengambil botol kecil itu tanpa menjelaskan.

Cairan di dalamnya berkilau tenang.

Barang ini terlalu berharga.

Untuk orang biasa, Serum Bakat adalah tiket untuk memiliki kemampuan.

Arga tidak akan memakainya sekarang.

Ia menyimpannya ke Cincin Dimensi.

Nadira melihat gerakan itu.

Ia tidak bertanya.

Belum.

"Combat Suit," kata Arga.

Meiling langsung membaca catatan.

"Tiga set."

"Satu untuk Nadira. Satu untuk Dara. Satu simpan untuk Galang."

Dara mengangkat alis.

"Galang tidak ada di sini."

"Dia akan butuh."

Tidak ada yang membantah.

Setelah semua yang terjadi, kalimat "dia akan butuh" dari Arga hampir sama beratnya dengan perintah.

Masalah muncul di sektor barat.

Sepuluh anggota perempuan yang dipimpin seorang ketua regu muda menemukan Box dengan cahaya kuning pekat di dekat kantor pos lama. Mereka baru selesai membunuh tiga Zombie ketika tiga puluh pria Kelompok Serigala keluar dari gang.

Di depan mereka berdiri Monyet.

Tubuhnya kurus tinggi. Senyumnya lebar. Matanya bergerak dari wajah ke tubuh para perempuan itu dengan cara yang membuat tangan mereka menggenggam senjata lebih kuat.

"Wah," kata Monyet, "ternyata pasukan perempuan Arga masih bisa jalan setelah semalam."

Ketua regu mengangkat pedang.

"Box ini kami temukan dulu."

Monyet tertawa.

"Ditemukan dulu bukan berarti punya kalian."

Tiga puluh pria di belakangnya ikut tertawa.

Monyet melangkah lebih dekat.

"Perempuan seharusnya menunggu laki-laki pulang. Bukan berkeliaran rebutan Box."

Wajah ketua regu memerah karena marah, tetapi ia tidak menyerang.

Ia ingat perintah Arga.

Jangan pecah formasi.

Jangan mati demi emosi.

Monyet melihat mereka menahan diri dan mengira itu takut.

Ia menunjuk Box.

"Tinggalkan Box itu. Malam nanti datang ke tendaku. Aku ajari kalian apa itu pertarungan sungguhan."

Beberapa anggota Kelompok Serigala bersiul.

Kalimat itu belum selesai menggantung di udara ketika ruang di belakang Monyet bergetar.

Arga muncul.

Tidak ada peringatan.

Tidak ada suara langkah.

Pedang Hi-Tech menembus punggung Monyet dan keluar dari dadanya.

Siulan berhenti.

Monyet menunduk melihat ujung pedang berlumur darah di depan tubuhnya. Mulutnya terbuka, tetapi yang keluar hanya cairan merah.

Arga mendekatkan mulut ke telinganya.

"Kamu bicara terlalu banyak."

Ia menarik pedang.

Tubuh Monyet jatuh ke lumpur.

Mati.

Tiga puluh pria itu membeku.

Arga mengibaskan darah dari pedang.

Matanya menyapu mereka satu per satu.

"Siapa lagi punya pendapat?"

Satu orang menjatuhkan parang.

Lalu yang lain.

Dalam beberapa detik, tiga puluh pria berlutut di jalan, wajah mereka seputih abu.

Ketua regu perempuan tadi menatap Arga dengan mata bergetar.

Harga dirinya ikut ditarik keluar dari lumpur.

Harga diri mereka baru saja dibayar dengan satu nyawa musuh.

"Ambil Box," kata Arga.

"Baik, Bos!"

Suara itu jauh lebih keras daripada sebelumnya.

Di gedung tinggi yang setengah runtuh, Serigala melihat tubuh Monyet jatuh dari kejauhan.

Wajahnya berubah gelap.

Ia sudah kehilangan lebih dari dua ratus orang semalam.

Sekarang tangan kanannya mati dalam satu tarikan napas.

Telepati Arga menyentuh pikirannya.

Arga...

Aku akan mengulitimu.

Tidak cukup dengan sisa orangku.

Barisan Darah.

Aku butuh Putih.

Kalau Putih mau bergerak, Arga akan mati.

Arga menoleh sedikit ke arah gedung itu.

Jarak mereka jauh, tetapi Serigala seperti merasakan pandangan itu. Ia mundur setengah langkah.

Arga tersenyum tipis.

Putih.

Nama itu justru membuatnya tenang.

Di kehidupan sebelumnya, pemimpin Barisan Darah punya disiplin, prinsip, dan rahasia yang tidak dipahami Serigala.

Jika Serigala ingin menyeret Putih ke papan ini, biarkan.

Kadang musuh yang bodoh adalah orang terbaik untuk mengantar sekutu lama ke pintu.

Menjelang siang, semua tim kembali ke wilayah utara.

Gerobak penuh Box kosong, senjata, makanan, dan kantong Kristal masuk satu demi satu. Wajah anggota masih lelah, masih berduka, tetapi mata mereka berbeda.

Mereka melihat tumpukan hasil rampasan.

Mereka tahu empat puluh satu orang mati semalam.

Mereka juga tahu, tanpa pertempuran itu, semua benda di depan mereka akan jatuh ke tangan orang lain.

Yuni berdiri di dekat gudang, tidak memegang daftar apa pun.

Biasanya ia akan berlari mengatur orang, menunjuk jalur, menghitung peti.

Hari ini tidak ada yang memberinya tugas.

Ia melihat anggota lain menurunkan barang dengan wajah pucat.

Tidak ada yang mencemoohnya.

Justru itu membuat dadanya lebih sesak.

Arga melewatinya tanpa berhenti.

Yuni menunduk.

Nadira melihat, lalu tetap berjalan. Ada hal yang harus sembuh dengan waktu, bukan belas kasihan.

Sore itu, kepala Monyet digantung di gerbang utara.

Tidak tinggi.

Cukup setinggi mata orang dewasa.

Setiap orang yang masuk ke area dagang harus melihat wajahnya yang membeku dalam ketakutan.

Beberapa penyewa luar mundur ketakutan.

Beberapa anggota perempuan berdiri lebih tegak.

Arga menatap gerbang.

"Biarkan semua yang lewat melihat."

Nadira berdiri di sampingnya.

"Pesannya?"

"Ini akibatnya jika menghina orangku."

Nadira diam beberapa saat.

Angin membawa bau darah lama dari luar tembok.

"Kamu membunuhnya dengan Teleportasi."

Arga tidak menoleh.

"Ya."

"Kemampuan itu tidak pernah kamu dapatkan secara terbuka dari Airdrop Box."

Kali ini Arga menoleh.

Nadira menatapnya lurus.

Tidak seperti bawahan.

Tidak seperti perempuan yang sedang menggoda.

Seperti seseorang yang sudah terlalu lama menghitung angka yang tidak pernah cocok.

"Arga," katanya pelan, "sebenarnya masih berapa banyak rahasia yang kamu simpan?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!