NovelToon NovelToon
His Royal Vow

His Royal Vow

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Penyesalan Keluarga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.

Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.

Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.

Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#16 21+

...( ͡° ͜ʖ ͡°) 🔞...

Pendar keemasan dari nyala api di perapian memantulkan bayangan dua tubuh yang saling terkunci di atas tempat tidur king-size bernuansa emas itu. Hujan gerimis di luar jendela Cotswolds Estate seolah menjadi latar musik yang membalut keheningan kamar.

Ciuman yang mendalam dan sarat akan kerinduan bertahun-tahun itu akhirnya terlepas perlahan. Napas Baxeena memburu, dadanya naik turun secara tidak teratur, sementara bibirnya yang sedikit bengkak memerah basah.

Manik mata hazel Alistair yang menggelap oleh gairah menatap lurus ke dalam iris mata Baxeena, memancarkan kepemilikan mutlak yang tak lagi tertutup oleh topeng kaku sang Pangeran.

Jemari tegap Alistair yang hangat mulai bergerak aktif, menelusuri garis pinggang Baxeena di balik gaun tidurnya, merambat naik dengan sentuhan yang membakar setiap jengkal kulit mulus wanita itu.

"Alistair..." Baxeena berusaha memasang raut galaknya yang khas, memegang pergelangan tangan pria itu walau cengkeramannya sama sekali tidak bertenaga. "Tanganmu... bisakah bergerak lebih sopan?"

Alistair terkekeh renyah—sebuah suara bariton rendah yang memantul hangat di ceruk leher Baxeena. Tanpa memberi ruang untuk melarikan diri, pria tinggi besar itu menggeser posisinya, menindih tubuh molek sang istri di atas kasur empuk, menumpu sebagian berat tubuhnya dengan kedua sikunya.

Alistair menunduk, berbisik tepat di depan bibir Baxeena, "Aku benar-benar merindukanmu, Amore. Aku menginginkanmu malam ini... Apa boleh?"

Bawahan kalimat itu diiringi oleh jemari Alistair yang mulai cekatan membuka satu per satu kancing bagian atas gaun tidur Baxeena.

Pipi Baxeena seketika memerah padam hingga ke balik telinganya. Rasa malu dan desiran hangat yang merayap di dadanya membuat pertahanan galaknya makin berantakan. Ia mendorong dada tegap Alistair dengan kedua tangannya yang gemetar.

"Tidur di posisimu, Alistair... kau berat," desis Baxeena, mencoba mengalihkan pandangannya dari tatapan intens suaminya.

"Masa sih berat, Sayang?" goda Alistair, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang amat familiar di mata Baxeena dari masa high school mereka. Alistair sengaja menekan sedikit tubuhnya, membuat Baxeena bisa merasakan kehangatan dan ukuran tubuhnya yang kian kokoh.

"Kau lebih suka tubuhku yang dulu atau yang sekarang, hm? Aku rasa kau lebih suka yang sekarang, Xeena."

Baxeena yang mengerti sepenuhnya ke arah mana pembicaraan dan maksud dari ucapan nakal suaminya itu seketika menahan napas. Sensasi intim yang menekan di antara paha mereka membuat jantungnya berdegup gila-gilaan.

"Aku belum siap... aku malu, Alistair," bisik Baxeena, suaranya terdengar begitu serak dan pasrah. "Anakmu ada di kamar sebelah. Jangan gila!"

"Aku janji aku akan pelan, Sayang. Violet tidak akan mendengarnya, kamar ini kedap suara," balas Alistair dengan suara bergetar rendah, sarat akan godaan yang melumpuhkan logikanya. Jemari pria itu meluncur makin lancar, membiarkan kancing gaun Baxeena terbuka sepenuhnya hingga memamerkan keindahan kulit bagian atas istrinya di bawah pendar api perapian.

Alistair menatap Baxeena dengan binar mata yang amat dalam, menanggalkan seluruh kesombongan gelar pangeran dan hanya tersisa seorang pria yang mendambakan wanita impiannya.

"Aku sudah menantikan memiliki anak bersamamu sejak lama, Xeena..." bisik Alistair dengan nada vulgar yang begitu jujur dan intens, menyusupkan jemarinya ke sela-sela rambut panjang Baxeena. "Demi Tuhan... boleh aku meminta penyerahan dirimu malam ini sebagai suamimu?"

Tatapan memohon yang dipenuhi cinta murni dan gairah yang tertahan selama empat belas tahun itu meruntuhkan sisa-sisa kegagahan Baxeena. Wanita Los Angeles yang terkenal dingin dan tangguh itu akhirnya mengangguk pelan, menyembunyikan wajah memerahnya di dada tegap Alistair.

Mendapatkan izin tersirat itu, Alistair menarik napas panjang, menahan getaran gembira yang meledak di dadanya. Pria itu memulainya dengan sangat lembut dan penuh penghormatan.

Ia menundukkan kepalanya, mendaratkan ciuman hangat yang lembut di atas kelopak mata kanan Baxeena, lalu berpindah menghaturkan ciuman yang sama di mata kiri wanita itu.

Baxeena memejamkan matanya, menikmati sentuhan yang bagai membalur seluruh luka masa lalunya. Alistair melanjutkan kecupannya ke batang hidung Baxeena yang bangir, berpindah ke kedua pipinya yang memanas, sebelum akhirnya mengunci bibir Baxeena dalam ciuman dalam yang memanjakan.

Secara perlahan, bibir Alistair terlepas dan meluncur turun ke ceruk leher Baxeena. Pria itu menyusupkan wajahnya di sana, menghirup dalam-dalam aroma khas vanila dan bunga mawar yang amat ia rindukan, memberikan gigitan-gigitan kecil dan ciuman basah yang membuat Baxeena melepaskan lenguhan halus.

Bersamaan dengan itu, tangan Alistair bergerak dengan sangat lembut menanggalkan kain gaun tidur Baxeena, melucutinya hingga terlepas sepenuhnya. Pandangan mata hazel-nya menyapu keindahan tubuh sang istri yang terpampang nyata di bawah remang ruangan.

Bibir Alistair merayap turun ke dada Baxeena, memberikan ciuman dan hisapan hangat di sana, membuat Baxeena meremas sprei dengan erat.

"Aku benar-benar merindukan mereka berdua..." bisik Alistair dengan suara parau penuh gairah saat merangkul area sensitif itu.

Baxeena hanya mampu menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, mencoba menahan desahan yang siap meledak dari tenggorokannya. Napasnya makin terengah-engah saat bibir Alistair tak berhenti berpetualang, meluncur turun mengusap perut ratanya.

Di atas perut Baxeena, Alistair memberikan ciuman bertubi-tubi dengan penuh harapan—harapan akan benih cinta mereka yang kelak dapat tumbuh di sana.

Sentuhan Alistair makin merendah, menelusuri lekuk paha mulus Baxeena hingga jemari tegapnya beristirahat di antara kedua paha istrinya, memberikan sentuhan paling sensitif yang membakar seluruh saraf tubuh Baxeena.

"Alistair... ah!" Baxeena mendesah hebat, tubuhnya melekuk refleks saat sensasi kenikmatan yang sudah empat belas tahun tak ia rasakan mendadak menyengat jiwanya.

Alistair dengan cepat kembali naik ke atas, menyejajarkan wajahnya dengan Baxeena. Napas mereka saling bertautan rapat. Alistair menatap Baxeena dengan binar mata yang mendalam dan penuh tanya.

"Apa empat belas tahun terakhir kau tidak pernah bersama orang lain, Sayang?" tanya Alistair, suaranya bergetar rendah, membutuhkan kepastian atas cintanya.

Baxeena menggelengkan kepalanya pelan, menatap mata Alistair dengan kejujuran yang utuh. "Hanya bersama dirimu... Tidak ada orang lain, Alistair."

Mendengar pengakuan jujur itu, dada Alistair serasa dihantam oleh rasa haru dan kebahagiaan yang tak tertandingi. Pria itu langsung menyambar bibir Baxeena kembali, menciumnya dengan kehangatan yang amat dalam dan penuh rasa syukur.

"Terima kasih... Terima kasih banyak, Amore," bisik Alistair di sela ciuman mereka, air mata haru hampir menetes di sudut matanya. "Aku mencintaimu... Sangat!"

Alistair kemudian memposisikan tubuhnya di antara kedua paha Baxeena. Ketika proses penyatuan itu dimulai, Alistair di awal mengalami cukup kesusahan. Bukan karena Baxeena seorang perawan, melainkan karena tubuh mereka sudah terlalu lama tidak menyatu, menciptakan ketegangan dan membutuhkan kehati-hatian luar biasa dari Alistair agar tidak menyakiti wanita yang amat dicintainya itu.

Alistair bernapas berat, dahinya menempel pada dahi Baxeena, membiarkan tubuh Baxeena menyesuaikan ritme dan kehangatannya terlebih dahulu.

"Pelan-pelan, Alistair..." bisik Baxeena, jemarinya mencengkeram bahu tegap suaminya, merasakan kehangatan yang perlahan-lahan memenuhi dirinya.

"Aku janji, Sayang..." sahut Alistair lembut, mengusap keringat tipis di dahi Baxeena sebelum akhirnya bergerak secara perlahan, menyatukan kembali dua jiwa yang sempat terpisah oleh takdir yang kejam.

****

Keringat tipis membasahi kening dan leher mulus Baxeena, berkilau di bawah pendar redup api perapian yang mulai mengecil. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan ritme yang tak beraturan.

Seluruh persendian di tubuh wanita itu serasa meloloskan rasa lelah yang luar biasa. Bertahun-tahun tidak merasakan sentuhan fisik yang begitu intens kini membuat tubuhnya terasa lemas tak berdaya di atas kasur sutra gelap tersebut.

Namun, di atasnya, Pangeran Alistair Blackwood sama sekali belum memperlihatkan tanda-tanda akan menyudahi malam.

Pria tinggi kekar itu masih menumpu tubuhnya dengan kokoh, matanya berkilat oleh gairah dan kepemilikan yang seolah tidak ada habisnya. Napas Alistair yang hangat memburu di leher Baxeena, mempertegas betapa staminanya sebagai perwira militer terlatih benar-benar berada di level yang tidak masuk akal.

"Alistair... sudah," bisik Baxeena, suaranya terdengar begitu parau dan lelah. Tangan lentiknya mencoba mendorong dada tegap sang suami, walau dorongan itu tidak lebih dari usapan lemas. "Aku lelah sekali. Tubuhku rasanya mau patah."

Alistair menunduk, menyapukan bibirnya di pipi Baxeena yang masih memerah hangat. Jemarinya yang tegap mengelus pinggang Baxeena dengan kelembutan yang teramat posesif.

"Biar aku yang bergerak, Sayang," bisik Alistair dengan suara bariton rendahnya yang teramat serak dan menggoda, merapatkan kembali posisinya tanpa berniat bergeser seinci pun. "Aku janji... sekali lagi. Please?"

Baxeena seketika membuka matanya lebar-lebar, mendelik galak pada pria di atasnya meski kedua matanya sudah berat oleh kantuk.

"Tapi sejak satu jam yang lalu kau mengatakan hal yang sama, Alistair!" semprot Baxeena dengan nada marah yang ditahan agar tidak terdengar hingga luar kamar. "Kau bilang 'sekali lagi' saat jam menunjukkan pukul satu malam, dan sekarang sudah mau jam tiga pagi!"

Alistair bukannya merasa bersalah, pria itu justru terkekeh renyah. Suara tawa rendahnya bergetar begitu halus, memantul di ceruk leher Baxeena sebelum ia mendaratkan gigitan kecil yang dalam di sana—sebuah tanda kepemilikan yang membuat Baxeena mendesah pasrah.

"Bayangkan, Amore..." bisik Alistair tepat di telinga Baxeena, menyusupkan jemarinya ke sela-sela rambut panjang istrinya yang berantakan di atas bantal. "Aku sudah empat belas tahun tidak menyentuhmu. Empat belas tahun, Xeena! Bagaimana mungkin semuanya bisa selesai hanya dalam waktu dua jam? Aku masih sangat merindukanmu, Sayang... Kumohon... sekali lagi, ya?"

Alistair menghentikan kalimatnya sejenak, menyejajarkan wajahnya dengan Baxeena lalu mempermainkan naik-turun alis tebalnya dengan raut wajah yang sok polos dan teramat menggoda.

Baxeena memutar bola matanya pelan, mendengus melihat tingkah sang Pangeran yang menanggalkan seluruh martabat kaku istana di atas tempat tidur ini.

"Sok ganteng," cetus Baxeena galak, meski jantungnya tetap saja berdebar melihat ketampanan alami suaminya. "Ingat berapa umurmu sekarang, Tuan Blackwood. Kau bukan lagi remaja Delapan belas tahun di Mayfair."

Alistair menjawab dengan sangat cepat, tanpa ragu sedikit pun. "Tiga puluh empat tahun, Sayang. Usia matang seorang pria." Pria itu menyunggingkan senyum miring yang amat tengil. "Dan harusnya kau memberikan hadiah atas bertahun-tahun ulang tahunku yang kau lewati tanpa hadir di sisiku. Kalau dihitung-hitung... harusnya ada empat belas kali pelepasan sebagai ganti ganti rugi—"

"Kau gila?!" potong Baxeena histeris dengan bisikan tajam, matanya membelalak penuh horor. Ia memukul bahu tegap Alistair dengan sekuat tenaganya yang tersisa. "Kau ingin membunuhku?! Tuan Pangeran yang terhormat, tolong pikirkan protokol keberlangsungan hidupku! Jangan hanya memikirkan dirimu dan stamina militer konyolmu itu!"

Alistair tertawa makin lepas, menahan kedua pergelangan tangan Baxeena lalu mengecupi jemari wanita itu satu per satu dengan penuh kasih sayang.

"Protokol keberlangsungan hidupmu adalah prioritas utamaku, Your Grace," goda Alistair, menatap Baxeena dengan mata hazel-nya yang dipenuhi binar cinta murni. "Tapi bukankah konstitusi kerajaan menyatakan bahwa tugas seorang pangeran adalah memberikan pelayanan terbaik bagi istrinya?"

"Pelayanan terbaikmu ini bisa membawaku langsung ke rumah sakit istana, Alistair," balas Baxeena sarkastik, namun sudut bibirnya tak sanggup lagi menahan senyuman tipis yang meluluh.

Alistair menunduk, mencium kening Baxeena dengan lembut dan tahan lama. Rasa haru, terima kasih, dan cinta yang membuncah di dadanya membuat rasa lelah sama sekali tak tersisa. Ia menggeser tubuhnya sedikit, membiarkan Baxeena bersandar nyaman di atas dada tegapnya, menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut bulu yang hangat.

"Baiklah, aku mengalah..." bisik Alistair, mengusap punggung polos Baxeena dengan ritme teratur yang menenangkan. "Kita istirahat sekarang. Tapi besok pagi, jangan salahkan aku kalau aku menagih sisa ganti rugiku."

Baxeena menyusupkan wajahnya di dada hangat Alistair, menghirup aroma kayu cendana yang begitu menenangkan jiwanya. Rasa aman yang sebelumnya menghilang akhirnya kembali memenuhi dadanya secara utuh.

"Tidur, Alistair," desis Baxeena pelan, menepuk dada pria itu. "Atau aku akan menyuruh pengawal memindahkanmu ke kandang kuda besok pagi."

Alistair terkekeh pelan, melingkarkan lengannya makin erat mengunci tubuh Baxeena dalam pelukannya.

1
Asriani Rini
Demoga biolet bisa membedakan mama yg tulus dan mana yg jahat
Rosdianah 🌷: benar kaa
total 1 replies
nayla tsaqif
Tp ttp aja,, kamu punya ank dr jalang itu pak ali,, jadinya jijik liat kamu bekas jalang,, harusnya baxee janda dulu biar bekas orang jg,, biar impas😩
Rosdianah 🌷: nah iya lagi, harusnya dibikin janda dulu ya🤣🤣🤭
total 1 replies
Adiba Azahra
Haloooo kak izin mengikuti dan nyimak yaaa dari awal hahaha 🙏😁👍 semangat terus pokok nya 😍👍
Rosdianah 🌷: okay ka🫶
total 3 replies
Mia Camelia
ehmm rencana apa sih yg di bikin violet dan katrine 🤔🤔🤔
Mia Camelia
violet baru nonggol udah pingin jitak aja🤣🤣🤣🤣
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭
nayla tsaqif
AJ besanan ama mantan nih,,, 😌
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!