Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANGAN MEMBUAT SAYA MENUNGGU
Pukul 08.10 pagi.
Alya baru saja menyelesaikan laporan jadwal ketika pintu ruangannya terbuka.
Raka berdiri di sana.
“Masuk.”
Alya menoleh.
“Bapak memanggil saya?”
“Iya.”
“Untuk?”
Raka mengangkat sebuah map.
“Presentasi hari Jumat.”
Alya langsung mengerti.
Presentasi tahunan perusahaan.
Agenda besar yang akan dihadiri jajaran direksi dan beberapa investor penting.
“Sudah saya siapkan draft-nya.”
“Bukan yang itu.”
Alya mengerutkan kening.
“Lalu?”
“Buat ulang.”
Alya menatapnya tidak percaya.
“Buat ulang?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Tidak sesuai.”
Alya mengambil map dari tangan Raka.
Dia membukanya.
“Bagian mana yang tidak sesuai?”
“Semua.”
Alya menatap Raka.
“Semua?”
“Ya.”
“Pak…”
Raka sudah berbalik.
“Pukul dua belas saya mau versi baru.”
Alya mengikutinya dengan tatapan.
“Pukul dua belas?”
“Ya.”
“Sekarang jam delapan lewat.”
“Saya tahu.”
“Berarti saya cuma punya empat jam?”
Raka menoleh.
“Empat jam cukup.”
Alya menarik napas.
“Untuk Bapak mungkin.”
Raka mengangkat alis.
“Apa?”
“Tidak apa-apa.”
Dia kembali ke mejanya.
Namun ketika Raka hendak masuk ke ruangannya, Alya berkata,
“Pak.”
Raka berhenti.
“Ya?”
“Kalau hasilnya bagus, Bapak jangan bilang itu memang seharusnya dari awal.”
Raka menatapnya.
Kemudian sudut bibirnya terangkat.
“Saya tidak berjanji.”
Pintu tertutup.
Alya menatap pintu itu.
“Ya Tuhan…”
Maya yang duduk tidak jauh dari sana tertawa.
“Kenapa?”
“Dia minta presentasi baru empat jam sebelum deadline.”
“Selamat datang di dunia Raka Mahendra.”
Alya menghela napas.
“Kadang saya ingin sekali menjadi bos.”
Maya tertawa.
“Kenapa?”
“Supaya bisa menyuruh dia bekerja untuk saya.”
PUKUL 09.00
Alya mulai bekerja.
Dia membaca ulang laporan.
Mengubah desain.
Memeriksa angka.
Menghubungi tim finance untuk meminta data terbaru.
Menghubungi marketing untuk mendapatkan grafik pertumbuhan.
Menghubungi tim operasional.
Satu demi satu.
Pekerjaan itu sebenarnya tidak sulit.
Yang sulit adalah waktu.
Pukul 10.30, Alya belum selesai separuh.
Pukul 11.00, laptopnya mulai penuh dengan file.
Pukul 11.20, Maya datang membawa kopi.
“Minum.”
Alya mengangkat wajah.
“Terima kasih.”
“Kamu sudah makan?”
“Belum.”
Maya menghela napas.
“Kamu mulai mirip bosmu.”
Alya langsung menggeleng.
“Jangan.”
Maya tertawa.
“Kenapa?”
“Jangan samakan aku dengan dia.”
Dari arah pintu terdengar suara.
“Dengan siapa?”
Alya dan Maya menoleh.
Raka berdiri di sana.
Maya langsung pergi.
Alya menatap Raka.
“Tidak ada.”
“Siapa yang Anda bicarakan?”
“Bapak.”
Raka mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Katanya saya mulai mirip Bapak.”
Raka melihat meja Alya yang penuh dokumen.
“Memang.”
Alya mendengus.
“Tidak mungkin.”
Raka mengambil satu lembar dokumen.
“Kamu belum selesai?”
“Bapak memberi saya empat jam.”
“Sekarang sudah tiga jam.”
Alya melihat jam.
“Makanya jangan mengganggu.”
Raka menatapnya.
Alya langsung sadar.
“Maaf.”
Namun Raka justru mengangguk.
“Lanjutkan.”
Dia pergi.
Alya melihat punggungnya.
“Kenapa dia tidak marah?”
Maya menjawab dari jauh,
“Mungkin dia mulai kebal.”
PUKUL 11.55
Alya akhirnya menyelesaikan presentasi.
Dia memeriksa semuanya dua kali.
Kemudian tiga kali.
Tidak ada angka yang salah.
Tidak ada halaman yang kosong.
Tidak ada format yang berantakan.
Dia berdiri.
Membawa laptop ke ruang Raka.
“Pak.”
Raka sedang menelepon.
Dia menunjuk kursi.
Alya duduk.
Beberapa menit kemudian Raka menutup telepon.
“Sudah?”
Alya mengangguk.
“Sudah.”
Raka membuka file.
Dia melihat slide pertama.
Kedua.
Ketiga.
Keempat.
Semakin lama, wajahnya semakin serius.
Alya mulai gugup.
“Bagaimana?”
Raka tidak menjawab.
Dia terus membaca.
Sampai akhirnya selesai.
“Bagus.”
Alya langsung menghela napas lega.
“Serius?”
“Ya.”
“Tidak ada yang mau diubah?”
“Tidak.”
Alya tersenyum.
“Syukurlah.”
Raka menatapnya.
“Kamu yang membuat?”
“Iya.”
“Sendiri?”
“Dengan bantuan tim.”
Raka mengangguk.
“Kirim ke saya.”
“Baik.”
Alya berdiri.
Namun sebelum pergi, Raka berkata,
“Terima kasih.”
Alya tersenyum.
“Sama-sama.”
Dia keluar.
Begitu pintu tertutup, Raka kembali melihat presentasi itu.
Dia harus mengakui sesuatu.
Alya memang kurang pengalaman.
Tetapi dia cepat belajar.
Dan yang lebih mengganggu—
dia mulai terbiasa mengandalkan perempuan itu.
PUKUL 13.00
Waktu makan siang.
Alya sedang duduk bersama Maya di pantry.
Dimas datang.
“Bu Alya.”
Alya menoleh.
“Pak Dimas.”
“Sudah makan?”
“Belum.”
“Pas sekali.”
Dimas menunjuk meja.
“Saya mau makan di luar. Ikut?”
Alya melirik Maya.
Maya langsung tersenyum.
“Pergi saja.”
Alya ragu.
“Tidak usah, Pak.”
“Kenapa?”
“Saya masih ada pekerjaan.”
“Setengah jam saja.”
Alya berpikir.
Kemudian mengangguk.
“Baik.”
Mereka berjalan keluar.
Tanpa mereka sadari—
Raka baru keluar dari ruangannya.
Dia melihat Alya berjalan bersama Dimas.
Langkahnya berhenti.
Maya yang masih berada di pantry melihat Raka.
“Pak?”
Raka menoleh.
“Alya di mana?”
“Pergi makan.”
“Dengan siapa?”
Maya tersenyum kecil.
“Pak Dimas.”
Raka diam.
“Oh.”
Maya menatapnya.
“Kenapa, Pak?”
“Tidak apa-apa.”
Dia kembali ke ruangannya.
Pintu tertutup.
Maya menggeleng.
“Wah.”
DI RESTORAN
Alya duduk berhadapan dengan Dimas.
“Pak Dimas sering makan di sini?”
“Lumayan.”
“Enak?”
“Menurut saya.”
Alya tersenyum.
Mereka berbicara tentang pekerjaan.
Tentang perusahaan.
Tentang pengalaman Alya bekerja.
Dimas ternyata jauh lebih santai dibanding Raka.
“Jujur saja,” katanya.
“Hmm?”
“Bagaimana bekerja dengan Pak Raka?”
Alya tertawa.
“Boleh jujur?”
“Boleh.”
“Capek.”
Dimas tertawa.
“Kenapa?”
“Dia suka mengubah keputusan.”
“Betul.”
“Dan terlalu serius.”
“Betul.”
“Dan…”
Alya berpikir.
“Kadang menyebalkan.”
Dimas tertawa lebih keras.
“Saya sudah lima tahun bekerja dengan dia. Saya setuju.”
Alya ikut tertawa.
Namun di tengah percakapan itu, Dimas bertanya,
“Kamu betah?”
Alya terdiam.
“Sejauh ini.”
“Bagus.”
“Kenapa?”
“Karena menurut saya kamu cocok.”
Alya tersenyum.
“Terima kasih.”
Dimas menatapnya sebentar.
“Kamu punya pacar?”
Alya hampir tersedak air.
“Kenapa tiba-tiba?”
“Cuma bertanya.”
“Tidak.”
Dimas tersenyum.
“Oh.”
Alya mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Bapak jangan macam-macam.”
Dimas tertawa.
“Saya tidak macam-macam.”
Namun ketika mereka kembali ke kantor, Alya tidak tahu bahwa seseorang sudah menunggu di lantai tiga puluh dua.
PUKUL 14.05
Alya kembali ke mejanya.
Raka keluar dari ruangannya.
“Mana laporan yang tadi?”
Alya menatapnya.
“Sudah saya kirim.”
“Belum masuk.”
“Coba cek email.”
Raka membuka ponsel.
Benar.
Sudah masuk.
“Oh.”
Alya menatapnya.
“Bapak mencari?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Saya bertanya.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Raka melihat jam.
“Kamu makan siang berapa lama?”
Alya mengerutkan kening.
“Sekitar satu jam.”
“Saya bilang setengah jam.”
Alya terdiam.
“Bapak bilang?”
“Ya.”
“Saya tidak ingat.”
“Karena kamu pergi terlalu lama.”
Alya mulai kesal.
“Pak, saya makan siang.”
“Saya tahu.”
“Dan semua pekerjaan saya selesai.”
“Saya tahu.”
“Lalu masalahnya apa?”
Raka diam.
Dia sendiri tidak tahu.
Dia hanya tahu sejak pukul satu, meja Alya kosong.
Dan dia beberapa kali melihat jam.
Dia bahkan sempat membuka pintu ruangannya untuk melihat apakah Alya sudah kembali.
Alasan yang sangat bodoh.
Akhirnya dia berkata,
“Lain kali beri tahu saya kalau pergi lebih dari tiga puluh menit.”
Alya menatapnya.
“Kenapa?”
Raka terdiam.
“Karena saya perlu tahu.”
“Untuk pekerjaan?”
“Ya.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Raka kembali ke ruangannya.
Alya menatap punggungnya.
“Kenapa rasanya seperti dimarahi karena pergi makan?”
PUKUL 16.00
Masalah berikutnya datang.
Seorang klien tiba-tiba meminta perubahan kontrak.
Tim legal panik.
Raka langsung mengadakan meeting.
Alya ikut.
Diskusi berlangsung hampir satu jam.
Salah satu pihak mengusulkan perubahan yang menurut Alya cukup berisiko.
Dia diam.
Raka melihatnya.
“Alya.”
Dia menoleh.
“Menurutmu?”
Semua orang di ruangan menatapnya.
Alya sedikit terkejut.
“Saya?”
“Ya.”
Alya membaca dokumen.
Kemudian berkata,
“Kalau klausul ini disetujui, perusahaan kita akan kehilangan ruang untuk mengajukan keberatan jika target tidak tercapai.”
Salah satu manajer menyela.
“Tapi itu permintaan klien.”
Alya mengangguk.
“Saya tahu.”
Kemudian menatap Raka.
“Tapi menurut saya jangan disetujui.”
Ruangan hening.
Raka menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena terlalu berat sebelah.”
Raka mengangguk.
“Saya setuju.”
Manajer itu langsung terdiam.
Raka menutup dokumen.
“Kita tidak menerima perubahan itu.”
Meeting selesai.
Setelah semua orang keluar, Raka masih duduk.
Alya berdiri.
“Pak?”
“Kenapa tadi kamu diam cukup lama?”
“Saya takut salah.”
“Kenapa akhirnya bicara?”
“Karena menurut saya itu memang salah.”
Raka tersenyum kecil.
“Itu yang saya suka.”
Alya terdiam.
“Apa?”
“Kalau kamu punya pendapat, sampaikan.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Raka menatapnya.
“Jangan takut salah.”
Alya tersenyum.
“Kalau saya salah?”
“Saya koreksi.”
“Kalau Bapak yang salah?”
Raka menatapnya.
Alya langsung tertawa.
“Bercanda.”
Raka ikut tersenyum.
Dan untuk beberapa detik—
mereka hanya saling menatap.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada pekerjaan.
Tidak ada alasan untuk saling menyebalkan.
Hanya diam.
Alya yang lebih dulu memutuskan tatapan itu.
“Saya kembali ke meja.”
“Ya.”
Dia pergi.
Raka masih memandang pintu.
Entah kenapa, dia merasa percakapan singkat tadi berbeda.
PUKUL 18.30
Hari kerja hampir selesai.
Alya sedang memasukkan barang ke dalam tas ketika Raka keluar.
“Kamu pulang?”
“Iya.”
Raka melihat jam.
“Besok ada meeting pukul delapan.”
“Saya tahu.”
“Datang lebih awal.”
Alya tersenyum.
“Bapak takut saya terlambat?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Saya tidak suka menunggu.”
Alya berhenti.
Dia menatap Raka.
“Bapak?”
“Hm?”
“Bukannya biasanya saya yang menunggu Bapak?”
Raka terdiam.
Alya tertawa.
“Selamat malam, Pak.”
Dia pergi.
Raka berdiri di tempatnya.
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa dia teringat satu hal.
Dia memang tidak suka menunggu.
Dan tadi ketika Alya belum kembali dari makan siang…
dia menunggu.
Tanpa sadar.
DI LIFT
Alya berdiri sendirian.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari Dimas.
Besok kalau tidak sibuk, makan siang lagi?
Alya membaca.
Dia belum sempat membalas ketika lift berhenti.
Pintu terbuka.
Raka masuk.
Mereka berdiri bersebelahan.
Raka melihat layar ponsel Alya.
Dia tidak membaca isinya.
Namun melihat nama pengirim.
Dimas.
Raka memasukkan tangan ke saku.
“Pak.”
“Hm?”
“Besok saya mungkin makan siang di luar lagi.”
Raka menoleh.
“Dengan Dimas?”
Alya terkejut.
“Bapak tahu?”
“Dia mengirim pesan?”
“Iya.”
Raka mengangguk.
“Baik.”
Hening.
Alya menatap angka lantai yang terus berubah.
Kemudian berkata,
“Bapak kenapa?”
“Kenapa?”
“Kelihatan tidak suka.”
“Saya biasa saja.”
Alya tersenyum.
“Bapak kalau bohong kelihatan.”
Raka menoleh.
“Saya tidak bohong.”
“Baiklah.”
Pintu lift terbuka.
Alya keluar.
“Selamat malam.”
Raka hanya mengangguk.
Namun ketika pintu lift kembali tertutup—
wajahnya berubah.
Dia sendiri tidak mengerti kenapa.
Dimas hanya mengajak Alya makan siang.
Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.
Tidak ada alasan baginya untuk merasa terganggu.
Tetapi tetap saja…
ada sesuatu yang mengganjal.
MALAM ITU
Alya sedang menyiapkan pakaian untuk esok pagi ketika ponselnya berbunyi.
Pesan dari Dimas.
Jadi besok?
Alya tersenyum.
Namun sebelum membalas, sebuah pesan lain masuk.
Raka.
Besok meeting jam delapan dibatalkan.
Alya membalas:
Baik, Pak.
Beberapa detik kemudian:
Jangan datang terlalu pagi.
Alya mengernyit.
Kemudian:
Kenapa?
Raka tidak langsung menjawab.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Akhirnya:
Karena saya tidak suka membuat orang menunggu.
Alya membaca kalimat itu.
Dia tersenyum kecil.
Namun dia tidak tahu bahwa di balik pesan sederhana itu, Raka sedang berusaha memahami sesuatu yang baru mulai tumbuh.
Rasa tidak suka ketika ada pria lain yang mendapatkan perhatian Alya.
Dan dia belum mau menyebutnya cemburu.
Belum.
Karena bagi Raka, Alya hanyalah asistennya.
Setidaknya…
itulah yang terus dia katakan kepada dirinya sendiri.