NovelToon NovelToon
SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.

Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.

​Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.

Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 - Jejak Digital Spiritual

​Rumah tua di kawasan Jakarta Timur itu masih terkunci rapat dari hiruk-pikuk dunia luar, menyembunyikan Maya yang kian ringkih di dalam kamar tanpa cermin.

Di ruang tengah yang berdebu, Danu duduk di sebuah kursi kayu kuno. Di atas meja tegel yang retak, sebuah laptop tangguh (rugged laptop) berspesifikasi militer menyala, memancarkan pendar cahaya kebiruan yang kaku ke wajah tegas sang detektif.

​Di samping laptop, terdapat beberapa gawai pemindai frekuensi, sebongkah kemenyan kering yang sengaja tidak dibakar, dan sebuah botol kaca berisi sampel cairan hitam yang dimuntahkan Maya di klinik kemarin.

Danu tidak menggunakan dupa; ia menggunakan data. Bagi Danu, dunia supranatural di era modern ini selalu meninggalkan jejak—baik dalam bentuk anomali frekuensi magnetik, catatan digital kuno yang terdigitalisasi, maupun sisa energi termal yang bisa dilacak secara forensik.

​Aryo berdiri di belakang Danu, meremas kedua tangannya sendiri. Matanya yang merah menatap layar laptop yang menampilkan baris-baris kode, peta topografi digital ujung timur Jawa, serta arsip-arsip koran digital zaman kolonial Belanda yang telah dialihbahasakan.

​"Apa yang sedang dicari, Mas Danu?" tanya Aryo, suaranya parau menahan lelah dan rasa sesak yang tak kunjung hilang dari dadanya.

​Danu tidak langsung menjawab. Jemarinya yang bersarung tangan lateks hitam bergerak lincah di atas trackpad, membuka sebuah folder terenkripsi yang berisi salinan dokumen bertahun 1923 dari arsip sejarah Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV).

​"Aku sedang melacak 'sidik jari' dari energi yang menyerang istrimu, Pak Aryo," kata Danu tanpa menoleh. Suaranya berat dan datar. "Setiap santet atau kutukan itu punya algoritma tersendiri. Ada asal-usulnya, ada nama penciptanya, dan yang paling penting: ada alasan kenapa energi itu bisa sekuat ini menembus benteng beton Jakarta. Dan tebakanku benar ... keluarga Sekar, garis keturunan Ki Demang, bukan sekadar dukun kampung yang memelihara jin."

​Danu mengetuk layar, memperbesar sebuah dokumen digital yang menampilkan pindaian foto hitam-putih seorang pria tua mengenakan blangkon gaya Banyuwangi kuno dengan tatapan mata yang sangat tajam, menembus waktu seabad lalu. Di samping foto itu, terdapat catatan dalam bahasa Belanda kuno.

​"Ini adalah Ki buyut Somo, kakek buyut dari Sekar," Danu menunjuk layar. "Berdasarkan catatan laporan intelijen pemerintah kolonial Hindia Belanda tahun 1920-an, daerah Blambangan—khususnya lereng Gunung Ijen—pernah mengalami fenomena yang disebut 'Pest van Blambangan'. Banyak mandor-mandor perkebunan kopi milik Belanda mati mendadak dengan kondisi tubuh membiru dan perut mengeras seperti kayu setelah mereka mencoba menggusur pemukiman adat untuk perluasan lahan."

​Aryo mendekat, dahinya berkerut. "Lalu apa hubungannya dengan santet Pring Sedapur?"

​Danu memantik rokoknya, mengembuskan asap putih tipis ke arah layar laptop.

"Pemerintah Belanda saat itu mengira itu adalah wabah pes atau racun tanaman. Tapi tim forensik medis militer mereka yang dikirim dari Batavia menemukan fakta ganjil: di dalam rongga dada setiap jasad mandor Belanda yang mati, tumbuh serat-serat kayu bambu kering yang menghancurkan paru-paru mereka dari dalam. Persis seperti yang terjadi pada Abah Kamdi kemarin malam, dan persis seperti yang sedang merayap di dada Maya sekarang."

​Danu menggeser layar komputer lagi, menampilkan peta topografi 3D dari Desa Kemiren dan hutan Alas Purwo. Beberapa titik di peta itu ditandai dengan lingkaran merah yang menyala.

​"Ki Buyut Somo adalah orang yang mengikat sumpah darah pertama dengan entitas penguasa Alas Purwo untuk menciptakan ilmu Pring Sedapur," jelas Danu, matanya menyipit menatap garis-garis koordinat di layar.

"Ilmu ini diciptakan bukan untuk sekadar balas dendam urusan asmara atau persaingan dagang. Ilmu ini adalah 'senjata adat' untuk menghancurkan siapa saja yang merusak tatanan, kesepakatan, dan kesetiaan di atas tanah mereka. Ki Demang mewarisi senjata itu, dan ketika bapaknya Sekar itu meninggal, seluruh otoritas 'senjata' itu jatuh sepenuhnya ke tangan Sekar sebagai anak perempuan satu-satunya yang membawa garis darah murni."

​Aryo menelan ludah, rasa dingin mendadak menjalar kembali ke tengkuknya.

"Jadi ... Sekar benar-benar memegang kendali penuh atas hidup dan mati kami sekarang?"

​"Secara teori supranatural, ... iya," Danu mematikan rokoknya di asbak kuningan. "Tapi secara forensik gaib, ada satu celah. Ilmu yang diikat dengan sumpah darah selalu membutuhkan 'jangkar' di dunia nyata untuk bisa tetap bekerja di jarak jauh. Sumpah itu tidak bisa terbang melintasi pulau begitu saja tanpa ada media penghubung yang sah. Dan jangkar itu ... adalah dirimu sendiri, Pak Aryo."

​Danu berbalik, menatap Aryo dengan tatapan yang sangat tajam, menguliti seluruh rahasia yang coba disembunyikan oleh sang pengusaha.

​"Anda membawa sesuatu dari rumah joglo Banyuwangi saat pertama kali sukses di Jakarta, kan? Sesuatu yang melambangkan pernikahanmu atau sumpahmu pada Ki Demang. Bukan cuma tanah proyek yang sudah amblas itu. Ada benda lain yang masih Anda simpan hingga hari ini."

​Aryo tersentak, wajahnya seketika pucat pasi. Ia mencoba mengingat-ingat, membolak-balik memori belasan tahun lalu ketika ia masih merangkak dari bawah.

​"Ada ...," bisik Aryo akhirnya, suaranya bergetar. "Sebuah kotak kayu jati kecil ... isinya sepasang cincin kawin kuningan kuno peninggalan ibunya Sekar, dan selembar kain mori hitam yang ditulis langsung oleh Ki Demang menggunakan darah ayam cemani sebagai jimat keselamatan bisnis saya dulu. Kotak itu ... masih ada di dalam brankas pribadi saya di kantor Sudirman."

​Danu memukul meja dengan pelan, sebuah senyuman dingin muncul di sudut bibirnya.

"Itu dia jangkarnya. Itu 'kontrak digital spiritual' yang membuat akar Pring Sedapur bisa melacak koordinatmu dan Maya di Jakarta. Selama kotak dan kain mori hitam itu masih utuh di dalam brankasmu, Sekar bisa mengirimkan energi mautnya kapan saja tanpa hambatan."

​Di tengah obrolan serius itu, tiba-tiba dari arah kamar belakang tempat Maya diisolasi, terdengar sebuah lenguhan panjang yang sangat menyayat hati. Suara itu disusul oleh bunyi hantaman kaku benda keras pada dinding kayu kamar.

​Brak! Brak!

​Aryo dan Danu langsung bangkit dari kursi. Danu meraih tas kulit buayanya, sementara Aryo berlari kencang memutari lorong rumah tua yang gelap menuju kamar belakang.

​Begitu pintu kamar dibuka, bau busuk bunga kantil hangus menyembur keluar dengan sangat pekat, membuat Aryo terbatuk-batuk hingga matanya berair.

Di bawah pendar redup lampu minyak darurat yang terpasang di dinding, kondisi Maya telah memasuki fase penyiksaan fisik yang kian ekstrem.

​Maya tidak lagi berbaring di atas kasur. Tubuhnya meringkuk di atas lantai ubin yang sedingin es. Pakaian tidurnya robek di bagian perut dan dada.

Sementara kulit perutnya yang semula membuncit kini tampak mengempis kaku, seolah seluruh cairan ketuban dan daging janin di dalamnya telah diserap habis oleh entitas kaku yang kini menetap di ulu hatinya.

​Tonjolan di dada Maya yang menyerupai pelepah bambu kering kini telah meluas, membentuk formasi berserat yang kaku yang melingkari seluruh tulang rusuknya—seolah-olah tubuh Maya sedang dipaksa memakai sebuah korset besi alami terbuat dari kayu jati mati.

​"Sakit ... Mas Aryo ... panas ...," ratap Maya, suaranya sangat tipis, nyaris menyerupai desisan angin di sela-sela daun bambu.

​Setiap kali Maya mengembuskan napas, dari sela-sela bibirnya yang hancur, keluar serpihan-serpihan kecil serat kayu berwarna hitam yang kaku. Kulit di sekitar matanya telah mengering dan pecah-pecah, mengeluarkan cairan bening yang berbau anyir.

Di bawah lapisan kulit lengannya yang kurus kering, Aryo bisa melihat dengan jelas ada garis-garis halus berwarna hijau kehitaman yang bergerak-gerak merayap lambat menuju ke arah ujung jemari tangannya—akar-akar gaib itu sedang menanam dirinya di dalam sistem saraf Maya.

​Danu berlutut di samping Maya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi minyak atsiri murni yang telah dirajah khusus. Ia meneteskan tiga tetes cairan itu ke atas kening Maya yang kian mendingin.

​Cesss!

​Maya tersentak kaget, tubuhnya mengejang kaku selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali lemas dan pingsan di pelukan Aryo.

Gerakan akar di bawah kulitnya melambat, namun detak jantung asing di dadanya masih berbunyi dengan kejam.

​Danu berdiri, melepas sarung tangan lateksnya yang kini telah ternoda oleh cairan hitam dari tubuh Maya, lalu membuangnya ke dalam tempat sampah.

Ia menatap Aryo yang sedang menangis memeluk tubuh istri mudanya dengan pandangan yang dingin namun sarat akan keputusan final.

​"Jejak digital spiritualnya sudah bersih, Pak Aryo. Analisis forensik saya selesai," ucap Danu sambil menutup laptop militernya di ruang tengah dengan bunyi klik yang tegas.

"Kita tidak punya waktu lagi untuk bersembunyi di Jakarta. Besok pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit, kita harus pergi ke kantor Sudirmanmu untuk mengambil kotak jangkar itu dari brankas. Setelah itu, kita langsung menuju ke lereng Gunung Salak untuk menemui petapa tua itu."

​Danu melangkah menuju pintu teras depan, memandang ke arah langit malam Jakarta Timur yang kian pekat oleh gumpalan awan hitam.

​"Siksaan fisik pada Maya akan meningkat dua kali lipat setiap kali jam dinding bergeser melewati angka tiga dini hari. Jika kita gagal memutus jangkar itu dalam waktu tiga hari ke depan ... istrimu tidak akan mati sebagai manusia, Pak Aryo. Dia akan berubah menjadi pohon mati yang akarnya akan mengisap habis seluruh sisa hidup dan keturunan yang Anda miliki di dunia ini."

1
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Sebelum paham soal Pring sedapur ini sempat berpikir, kenapa Sekar tidak langsung membalas sakit hatinya ke Aryo?

Yaa.... karena Pring sedapur ini memang tujuannya menghabiskan keturunan Aryo.

Jadi .... ibaratnya Aryo adalah target pamungkas dari pembalasan sakit hati Sekar.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Danu menyuruh Sekar membalas Aryo secara langsung di tanah wetan. Apa Danu lupa kalau santett Pring Sedapur ini berlaku untuk seluruh keturunan Aryo? menghabisi keturunan Aryo sampai akar akarnya.
Jadi ... Maya tidak mungkin dilepaskan oleh Sekar kan?

Bahkan siapapun yang terlibat dalam penghianatan Aryo sudah menuai akibatnya.
Cha Libra
mampus kau Aryo ..jngan kira perempuan klo udh sakit hati bkal diem inget perempuan klo udh sakit hati bkal lbih mengerikan
kinoy
ngeri BNR..angel temen ni santet. Yo Aryo. .km sih ah biang kerok
Cha Libra
syukurin ..emang 3nak makanya jngan suka selingkuh d ksih Istri yg baik mlah nyeleweng nikmatin ja buah dri penghianatan mu yo yo
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Siapa sebenarnya yang di gunung salak ini?
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
shafira 🥰
bagus banged... ceritanya sungguh menarik.seruuuuu.. karna aq juga tinggal di banyuwangi....
Buna: woah, ada tetangganya Sekar. 😄
terima kasih penilainnya, yaaaa. ❤
total 1 replies
shafira 🥰
lanjuttttttt.... thorrrr
shafira 🥰
lanjutttttt thorrrrrr.... seruuuuuu.... l
Buna: siap, kak. hari ini sudah 3 bab. insyaallah besok lanjut lagi. terima kasih sudah mampir, ya. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Aryo terlalu egois !!
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
Shusand MaiTtimu
habis kan saja Thor,, si Aryo nya juga
dasar laki laki tidak tau diri
kinoy
ttp y mnt tanggungjwb Aryo sbg pelaku utama y
kinoy
Bnr2 DAh..keren ni crt
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Emang kemana tujuanmu sekarang, Aryo??

Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻: Ngadi Ngadi authornya 😄
total 2 replies
kinoy
egois si Aryo..BKN y sadar
Mifta Afandi
orang kayak Aryo ma Maya moga GK ada yq nolongin
kinoy
ngeri y..adakah yg BS nolongin Aryo..ato EMG kudu metong
Inna Mirna AR
suka sama karyamu thor, serasa lagi nonton film horror
Buna: terima kasih, kak. selamat membaca. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
ibaratnya ....
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.

Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Meski jangkar sudah diputus oleh Danu, tapi tetap saja tidak bisa menolong Maya .
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!