NovelToon NovelToon
Istri Figuran Sang Pewaris

Istri Figuran Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Figuran
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Demi menyelamatkan nyawa sang adik yang mempunyai penyakit jantung bawaan, Alina Savina seorang figuran terpaksa menerima tawaran gila dari Leon Gennadi Alexander.

Leon, aktor mega bintang sekaligus pewaris tunggal imperium bisnis Alexander Group, membutuhkan istri instan demi menghindari perjodohan kolosal keluarganya.

Sebuah kecelakaan tak sengaja di basement apartemen membawa keduanya ke meja pernikahan kontrak yang rahasia, dingin, dan penuh batasan ketat.

Di balik dinding kaca penthouse yang megah, sandiwara pernikahan satu tahun dimulai.

Sanggupkah mereka menjaga hati agar tetap logis, ataukah skenario takdir akan meruntuhkan dinding keangkuhan yang telah mereka bangun?

JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAAA

FOLLOW IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Impian Almarhumah Ibu Saya

"Atau kamu sengaja menolak karena ada hal yang kamu sembunyikan dari kami?" tuduh Kakek Bramantyo.

Mendengar kalimat sang kakek yang sarat akan kecurigaan, Leon tahu dia sudah tersudut. Jika mereka bersikeras pulang, Kakek Bramantyo pasti akan langsung mencium ketidakberesan dalam pernikahan mendadak ini.

Leon melirik Alina sekilas, lalu mengembuskan napas pendek. "Baiklah, Kek. Kami menginap malam ini." sahutnya dengan terpaksa.

Kamar lama Leon berada di ujung lorong lantai dua sayap timur. Ruangan itu luas, bernuansa maskulin dengan dominasi warna abu-abu gelap dan kayu hitam.

Di tengah-tengah ruangan, sebuah ranjang berukuran king size dengan sprei katun Mesir berwarna kelabu tampak berdiri angkuh, seolah sedang menertawakan nasib Alina yang mendadak membeku di ambang pintu.

Klek.

Leon menutup pintu kamar ganda itu dan menguncinya dari dalam. Begitu suara kunci berputar, atmosfer di antara mereka berdua langsung berubah total. Aura suami yang penuh kasih di lantai bawah menguap tanpa bekas, digantikan oleh Leon yang dingin, berjarak, dan tampak sangat frustrasi.

Pria itu melepaskan jas navy-nya, melemparkannya ke atas kursi malas di sudut kamar, lalu melonggarkan dua kancing teratas kemejanya dengan kasar.

"Tidur di sisi kiri." kata Leon pendek tanpa menatap Alina. Dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah.

Alina berdiri terpaku di dekat lemari besar. Jantungnya berdegup kencang. Tidur satu kamar? Satu ranjang? Walaupun Jefri sudah membacakan pasal mengenai tidak adanya hubungan batin, berada di atas satu kasur yang sama dengan seorang pria asing dan pria itu adalah Leon Alexander membuat seluruh tubuh Alina gemetar kaku.

Sepuluh menit kemudian, Leon keluar hanya dengan mengenakan celana kain hitam dan kaus oblong putih santai. Rambutnya agak basah, membuatnya terlihat beberapa tahun lebih muda dan... jauh lebih manusiawi daripada saat mengenakan setelan jas mahalnya.

Pria itu langsung merebahkan tubuhnya di sisi kanan ranjang, memunggungi sisi kiri, lalu menarik selimut tebal hingga sebatas dada.

Alina menelan ludahnya dengan susah payah. Dengan gerakan sehalus mungkin agar tidak menimbulkan suara, dia naik ke atas kasur empuk itu.

Dia berbaring di ujung sisi kiri, menyisakan jarak kosong yang sangat luas di tengah-tengah mereka yang cukup untuk memisahkan dua benua. Alina memeluk tubuhnya sendiri, menatap langit-langit kamar yang temaram oleh lampu tidur yang redup.

Keheningan malam merayap naik. Suara detak jam dinding terdengar seperti ketukan palu yang lambat. Satu jam berlalu, namun baik Leon maupun Alina sama sekali belum memejamkan mata. Tubuh mereka lelah, namun pikiran mereka terlalu bising untuk bisa tertidur.

Alina membalikkan tubuhnya menghadap ke langit-langit, tangannya meremas ujung selimut. Ada satu hal yang mengganjal di dadanya sejak siang tadi, sebuah hal yang terus mengusik ketenangannya setelah menandatangani kontrak itu.

"Tuan Leon..." bisik Alina lirih, memecah kesunyian malam.

Tidak ada jawaban dari sisi kanan. Namun, gerakan bahu Leon yang sedikit naik menandakan bahwa pria itu tidak sedang tidur.

"Tuan Leon, saya tahu ini mungkin melanggar privasi, tapi... saya ingin menanyakan satu hal terkait masa depan saya selama satu tahun ini." ucap Alina lagi, suaranya sedikit lebih keras namun tetap berhati-hati.

Leon menghela napas panjang, lalu perlahan membalikkan tubuhnya. Dia berbaring telentang, menatap langit-langit yang sama dengan Alina.

"Bicaralah. Dan kubilang panggil namaku, jangan panggil 'Tuan' di dalam rumah ini. Dinding di Rumah Utama ini memiliki telinga." serunya.

"Baik... Leon," Alina meralat ucapannya dengan canggung. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan.

"Di dalam kontrak, tertulis bahwa saya tidak boleh lagi mengambil pekerjaan ojek online atau figuran lepas agar tidak memicu kecurigaan media. Saya paham tentang aturan itu. Tapi... apakah saya boleh tetap bekerja di industri hiburan? Setidaknya sebagai pemeran pendukung kecil, atau figuran yang wajahnya tidak terlalu terekspos jelas?" Alina mencoba bernegosiasi dengan Leon.

Leon menolehkan kepalanya ke kiri, menatap Alina dengan dahi berkerut.

"Kamu sudah mendapatkan seratus juta per bulan sebagai tunjangan kontrak, dan seluruh biaya adikmu sudah kulunasi. Untuk apa kamu masih ingin banting tulang menjadi figuran rendahan yang dibayar seratus ribu per hari? Apa uang itu masih kurang?" tanya Leon dengan penasaran kenapa wanita ini malah mengajaknya bernegosiasi.

Ada nada meremehkan yang tajam dalam suara Leon, dan itu membuat hati Alina sedikit berdenyut perih. Namun, dia menahan emosinya. Dia menatap mata gelap Leon dengan pandangan yang jujur dan lurus.

"Ini bukan soal uang, Leon." jawab Alina, suaranya melembut, membawa setitik kerapuhan yang dalam.

"Menjadi seorang aktris... itu adalah cita-cita saya. Lebih tepatnya, itu adalah impian almarhumah ibu saya sebelum beliau meninggal akibat kecelakaan tiga tahun lalu." tutur Alina.

Leon terdiam, tatapan matanya sedikit melunak mendengar kata 'ibu'.

"Ibu saya dulu sangat menyukai dunia seni peran, tapi beliau tidak pernah punya kesempatan untuk mengejarnya karena kesibukan keluarga," kenang Alina, seulas senyum tipis yang getir terukir di bibirnya.

"Sebelum kecelakaan itu terjadi, Ibu memegang tangan saya dan bilang... dia ingin sekali melihat wajah saya ada di layar kaca, memainkan sebuah peran dengan indah, walau hanya sekali. Menjadi figuran selama ini adalah cara saya untuk tetap merasa dekat dengan Ibu, sekaligus menjaga impian beliau tetap hidup di dalam diri saya." lirihnya.

Alina memutar tubuhnya miring, menghadap ke arah Leon. Matanya yang jernih tampak berkilau samar oleh sisa air mata di bawah cahaya lampu tidur.

"Saya tidak akan menggunakan nama besar Alexander. Saya akan tetap mendaftar dengan nama saya sendiri, seperti yang biasa saya lakukan. Saya berjanji tidak akan menimbulkan skandal atau kebocoran informasi apa pun. Jadi... tolong izinkan saya tetap bekerja." ucap Alina memohon.

Leon menatap gadis di sampingnya tanpa berkedip. Untuk pertama kalinya, dia melihat sesuatu yang melampaui status Alina sebagai gadis miskin yang butuh uang.

Di balik penampilan sederhananya, ada sebuah keteguhan, sebuah janji suci kepada seorang ibu yang telah tiada yaitu sesuatu yang sangat dipahami oleh Leon, yang juga hidupnya disetir oleh memori tentang orang tuanya.

Dulu, Leon terjun ke dunia akting juga sebagai bentuk pemberontakan dan pencarian jati diri setelah kehilangan orang tuanya. Dia tahu bagaimana rasanya memiliki sesuatu yang diperjuangkan di balik layar perak, sebuah alasan yang tidak bisa diukur dengan nominal uang seberapa pun banyaknya.

Leon memalingkan wajahnya kembali menatap langit-langit, menyembunyikan kilatan emosi yang sempat melintas di matanya.

"Jefri akan mengaturnya," kata Leon setelah keheningan yang cukup lama. Suaranya tidak lagi sedingin tadi, melainkan terdengar datar namun memberi kepastian.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

1
Silvia
lanjut
Euis Amalia
sombong banget clarissa... berat berat lahir bathin yaa Alina... tetap semangat...
partini
peran figuran,, biasanya sering interaksi sama aktor wah boleh itu
kiky
next...😍😍
Asni Mariati
haduhhhh bakal sekamar nih🤭🤭🤭
rinifikalisa
mampir 👍
Lala_Syalala: selamat datang kak,,, semoga ceritanya menghibur yaaaa🙏🙏😊😊🤗🤗😍😍😍😍😍
total 1 replies
Asni Mariati
lagii up ny
kuraanggg terus
kelamaan nunggu bsok thor😭😭😭😭
Lala_Syalala: sabar ya kakakku,, author masih nulis tungguin aja pokoknya kelanjutan cerita nyaa😍😍😍😍
total 1 replies
Rarik Srihastuty
akting yang sebenarnya akan segera dimulai
Silvia
perjuangan baru di mulai💪💪
Silvia
semangat Alina 💪💪 perjuangan baru di mulai
partini
aku ga yakin Alin bisa bertahan tetep anyep ga ada rasa suka ke Leon
Silvia
cerita nya bagus
Lala_Syalala: Terima kasih atas ulasan baiknya kak,,, semoga bisa selalu menghibur ya ceritanya🙏🙏😊😊🤗🤗🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Silvia
walaupun miskin tapi harus punya harga diri Alina semangat💪💪
kiky
next
partini
aihhh aduh ngmng kaya gitu perasan itu gampang berubah lah alamak 🤦
apa lagi perasaan wanita yg lemah lembut kaya lelembut wehhh melot duluan
Asni Mariati
kita lihat saja siapa dluan yg bakal jatuh cintrong 🤣🤣🤣
partini
pikiran adikmu aja jangn jatuh cinta Alin berbahaya karena kamu yg akan menderita
Euis Amalia
buktian alina... terpenting adik dapatbpengobatan terbaik...💪💪💪👍🙏
Asni Mariati
lanjuttttt tambah seru
gak sabar nunggu leon bucin akut 🤣🤣🤣
Koesbandiana
berakhir pernikahan sampai mempunyai cicit 🤣🤣🤣😜🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!