NovelToon NovelToon
SANGHYANG RASA

SANGHYANG RASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.

Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.

Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.

Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.

Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.

Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.

Dan apinya... baru saja mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 : PENYUSUPAN KARTA DI KADIPATEN

Matahari baru saja merunduk ke balik bukit saat Karta merapikan ikat kepala anyaman di kepalanya. Di hadapannya Bayu berdiri diam, memeriksa sekali lagi bungkusan kecil berisi sisa beras yang mereka dapat dari hutan.

“Ingat pesanku,” ucap Bayu pelan, matanya menatap tajam namun lembut ke arah sahabatnya.

“Masuk diam-diam, dengar saja apa yang bisa didengar. Jangan cari masalah, jangan bertindak nekat. Kalau ada bahaya sekecil apa pun, segera kembali. Jangan memaksakan diri.”

Karta mengangguk mantap, tangannya meremas gagang pisau di pinggang yang sudah disembunyikan rapi di balik kain sarung lusuh.

“Tenang saja Kang! Aku ini ahli menyamar sejak kecil. Dulu pernah menyamar jadi kerbau supaya tak disuruh kerja berat sama paman. Tak ada yang tahu!”

Bayu menghela napas panjang, tak kuasa menahan senyum tipis.

“Ini bukan permainan, Karta. Di dalam sana banyak mata yang waspada, banyak telinga yang mendengar. Satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal.”

“Aku tahu Kang,” jawab Karta lebih pelan.

“Aku tahu kalau Kakang tak bisa datang sendiri. Kalau Kakang tertangkap, siapa yang akan menjaga kampung? Siapa yang akan membela orang lemah? Biar aku saja yang main-main sedikit.”

Mereka berpisah di balik rimbunnya semak belukar di pinggir jalan besar. Bayu kembali ke tempat persembunyian sementara di gua Bukit Cijambe, sementara Karta melangkah santai mengikuti arah arus orang yang berjalan menuju gerbang belakang istana Kadipaten.

Di gerbang itu antrean panjang orang-orang yang membawa kebutuhan harian. Ada yang membawa sayuran, ada yang membawa kayu bakar, ada pula yang membawa bejana berisi air bersih.

Karta menyelinap di antara mereka, berjalan membungkuk seolah membawa beban berat di pundak, wajahnya kusut dan berkeringat.

“Kau dari mana?” bentak penjaga gerbang saat tiba gilirannya memeriksa.

“Dari desa sebelah, Ki,” jawab Karta dengan suara serak yang dibuat-buat.

“Disuruh bawa air untuk dapur istana. Katanya pembawa biasanya sakit demam.”

Penjaga itu mendengus kasar, menendang pelan bejana yang dipegang Karta.

“Cepat masuk! Jangan berhenti di jalan. Kalau ketahuan mencuri barang sekecil apa pun, kau takkan bisa keluar lagi dengan keadaan utuh!”

“Siap Ki! Terima kasih Ki!” seru Karta sambil membungkuk berlebihan, membuat penjaga itu makin tak curiga menganggapnya hanya orang desa yang tak tahu apa-apa.

Begitu masuk halaman belakang, Karta bergerak lincah menyelinap di antara bangunan gudang dan dapur. Matanya memeriksa setiap sudut, telinganya menangkap setiap percakapan yang terucap. Ia bergerak seperti bayangan, menghilang di balik tiang besar saat ada pelayan lewat, kembali muncul saat suasana kembali sepi.

Langkah kakinya membawanya ke dekat pendopo samping tempat terdengar suara dua orang yang sedang berbicara dengan nada rendah namun tegas. Karta mengintip dari balik tirai daun kelapa kering. Di sana duduk Adipati Rangga Sasmita dan Ki Wira Kusuma, wajah mereka serius dan penuh perhitungan.

“...sudah diputuskan,” suara Adipati terdengar berat.

“Bulan depan pajak tanah dinaikkan sepertiga lagi. Alasan cuaca buruk tak bisa lagi dijadikan alasan. Rakyat harus paham bahwa menjaga kerajaan butuh biaya besar.”

“Tapi .......,” sahut Ki Wira Kusuma hati-hati.

“Beberapa desa sudah hampir tak punya apa-apa lagi. Jika dinaikkan lagi, dikhawatirkan akan terjadi pemberontakan seperti yang dilakukan Si Pamanah Rasa.”

Adipati tertawa dingin.

“Biarkan saja. Justru itulah tujuannya. Semakin mereka menderita, semakin mudah kita tahu siapa yang berani melawan. Dan setiap gerakan perlawanan itu akan kita tuduhkan pada nama Si Pamanah Rasa. Lama-lama rakyat sendiri yang akan membenci dia.”

Karta menahan napas, tangannya meremas daun pisang yang ia temukan di dekatnya. Ujung pisau kecil yang terselip di ikat pinggang terasa bergetar pelan seolah ikut marah.

“Lalu bagaimana dengan laporan Putri Larasati?” tanya Ki Wira Kusuma lagi.

“Dia mulai curiga ada orang lain yang memakai nama itu untuk kejahatan sendiri.”

“Biarkan dia curiga,” jawab Adipati santai.

“Siapa yang akan percaya kata seorang putri dibanding bukti nyata perampokan yang terjadi di mana-mana? Lagipula, Prabu Kertayuda lebih percaya pada laporan yang terlihat jelas, bukan pada dugaan yang belum pasti.”

Karta mulai menuliskan apa yang ia dengar di atas lembar daun pisang itu, menggunakan ujung paku kecil yang ia temukan di tanah. Ia berusaha menulis secepat mungkin tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Namun nasib berkata lain. Saat ia hendak mencatat bagian terakhir tentang rencana penangkapan besar-besaran minggu depan, perutnya tiba-tiba terasa kembung karena menahan angin terlalu lama. Tanpa bisa dicegah, terdengar suara kentut yang cukup nyaring memecah keheningan pendopo.

Wajah Adipati dan Ki Wira Kusuma seketika berubah kaget.

“Siapa di sana?” bentak Ki Wira Kusuma sambil berdiri tegak dan mencabut kerisnya.

Karta pucat seketika. Tanpa berpikir dua kali, ia langsung jatuhkan badannya ke tanah dan berbaring meringkuk sambil memegangi perut.

“Aduh… aduh perutku!” teriaknya sambil berguling-guling dibuat-buat. “Maaf gusti! Maafkan hamba! Perut hamba tiba-tiba sakit sekali habis makan singkong mentah!”

Adipati mengerutkan kening melihat sosok pemuda lusuh yang berguling di tanah sambil mengerang tak karuan. Ki Wira Kusuma mendekat dengan keris masih terhunus, namun ragu untuk melukai orang yang tampak sakit parah itu.

“Kau siapa? Apa yang kau lakukan di sini?” bentaknya.

“Hamba hanya pembawa air, gusti!” jawab Karta sambil mengerang makin keras.

“Hamba tak sengaja lewat ke sini! Perut hamba meledak rasanya!”

Ia kembali mengeluarkan suara kentut lagi, kali ini dibuat lebih panjang dan berisik. Adipati memalingkan wajah jijik, melambaikan tangan memerintahkan agar pemuda itu disingkirkan.

“Usir dia! Bau sekali! Buang jauh-jauh dari sini sebelum menularkan penyakit!”

Dua penjaga datang menyeret Karta yang masih terus mengerang dan mengeluh sakit perut. Saat mereka melemparkannya ke luar gerbang belakang, Karta masih sempat berteriak-teriak minta maaf sambil tertawa dalam hati karena berhasil lolos dari bahaya maut.

Begitu penjaga sudah pergi, Karta segera bangkit berdiri, membersihkan debu di pakaiannya, dan memeriksa daun pisang yang masih ia genggam erat. Tulisan-tulisan kasar itu masih terbaca jelas. Ia segera berlari menjauh secepat kilat menuju pertemuan yang disepakati bersama Bayu.

Saat sampai di kaki bukit Cijambe, Bayu sudah menunggu dengan wajah cemas yang tak bisa disembunyikan. Begitu melihat Karta muncul dengan napas terengah namun senyum lebar di wajahnya, dadanya terasa lega seketika.

“Kau aman,” ucap Bayu pelan, napasnya terasa lebih ringan.

“Tentu saja Kang!” seru Karta sambil menyodorkan daun pisang yang penuh coretan itu.

“Lihat ini! Semua rencana jahat mereka sudah tertulis di sini! Mereka mau naikkan pajak lagi, dan semua kesalahan mau dilempar terus ke nama Kang!”

Bayu mengambil daun itu, membaca baris demi baris dengan hati yang makin terasa berat namun teguh.

“Mereka tidak hanya ingin mengambil harta rakyat. Mereka ingin memutus harapan rakyat juga.”

“Terus apa yang harus kita lakukan Kang?” tanya Karta serius.

“Kalau mereka sudah berencana begini, kita tak bisa diam saja.”

Bayu menatap jauh ke arah istana yang tampak samar di kejauhan.

“Kita tidak akan melawan dengan kekerasan yang sama. Tapi kita tidak akan membiarkan kebohongan mereka menang begitu saja. Kau sudah melakukan hal hebat hari ini, Karta. Kau membawa pulang kebenaran yang mereka coba sembunyikan.”

Karta tersenyum bangga, lalu tiba-tiba mukanya berubah sedikit canggung.

“Tapi Kang… tadi aku hampir ketahuan gara-gara kentut. Habisnya perutku tak tahan lagi menahan angin.”

Bayu tak kuasa menahan tawa kecil mendengarnya. “Yang penting kau selamat dan membawa info penting. Itu sudah lebih dari cukup.”

Malam itu, di dalam gua yang sepi, mereka duduk berdua merencanakan langkah selanjutnya. Di satu sisi kekuasaan yang tamak berusaha menindas dengan segala cara, di sisi lain ada kebaikan yang berusaha berdiri tegak meski dihujat dari segala arah. Dan di antara itu semua, bayang-bayang Ki Jaka Jagad masih terus mengintai, menunggu saat yang tepat untuk meraup keuntungan dari setiap pertikaian yang terjadi.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!