Li Zie seorang dokter dari abad 21 justru mengalami kecelakaan, dan jiwanya justru berteransmigrasi ke tubuh seorang wanita lemah di jaman kuno.
Li Zie pun berniat membalas penderitaan wanita yang namanya juga sama, Li Zie. Ia pun menjadi tabib di sana dan fokusnya hanya mengumpulkan harta, ia juga memiliki ruang dimensi, Li Zie menyembunyikan identitasnya dengan sangat rapi.
Tapi bagai mana jadinya jika ketenangan itu hanya sesaat, karena pria yang berkuasa di dinasti Xuan. Yaitu Kaisar Xuan Long justru mengetahui identitas aslinya.
Seperti apa kelanjutannya? yuk mampir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Li Zie menatap pangeran tampan dan kembali berkata, "Dan kau, Anak Muda... temui aku di Pasar Gelap untuk pengobatan berikutnya. Karena jika aku yang harus bersusah payah datang mencarimu ke tempat tersembunyi seperti ini lagi, bayarannya akan cukup untuk membeli satu kota."
Pangeran itu hanya bisa terdiam, antara terpesona dan bingung melihat kakek yang begitu sombong namun memiliki kemampuan sehebat dewa.
Li Zie kemudian melirik sang Pangeran yang masih menatapnya intens. Lalu Li Zie berbalik, melangkah keluar paviliun dengan punggung tegak dan dagu terangkat. Wibawanya begitu luar biasa sampai sepuluh pengawal zirah perak di depan pintu otomatis membungkuk hormat padanya. Yan mengekor di belakang seperti pelayan yang patuh.
"Tabib Agung, mohon terima ini," Yan menyodorkan sebuah kantung sutra merah yang ukurannya dua kali lipat lebih besar dan lebih berat dari yang di pasar gelap tadi. Yan kembali berkata, "Ini adalah bentuk rasa hormat Tuan kami atas nyawanya."
Li Zie hanya mengangguk pelan, memberikan kode pada Ji Yu untuk mengambilnya. Ji Yu sampai harus menggunakan kedua tangannya agar kantung itu tidak jatuh.
"Hmph, lumayan untuk uang lelah," ketus Li Zie, lalu ia melanjutkan langkahnya dengan sangat tenang keluar dari area hutan bambu.
Namun, begitu mereka melewati gerbang hutan dan merasa sudah tidak ada yang melihat...
Wibawa Li Zie langsung runtuh berkeping-keping.
"Ji Yu! LARI!" teriak Li Zie, suaranya kembali ke nada aslinya tapi penuh kepanikan.
"Eh? Guru? Apa ada musuh?" Ji Yu ikut panik sambil memeluk erat kantong emasnya.
"Musuhnya ada di perutku!" ujar Li Zie mulai berlari sekencang mungkin, Hanfu besarnya berkibar-kibar di udara.
"Cepat Ji Yu! Mataku sudah mulai error! Efek samping Mata Dewa ini gila... sekarang saat aku melihatmu, kau sudah tidak nampak seperti manusia lagi!"
Ji Yu menoleh sambil berlari terengah-engah dan berkata, "Lalu Guru melihatku sebagai apa?!"
"Kambing guling! Kau terlihat seperti kambing guling yang gemuk dan gurih, Ji Yu! Berlari lebih cepat atau aku akan menggigit lenganmu!" seru Li Zie dengan mata yang mulai berkunang-kunang membayangkan makanan.
"Aaaakkkhh! Guru! sadarlah! Aku pelayan setiamu, bukan makanan!" jerit Ji Yu ketakutan, membuat mereka berdua lari terbirit-birit menembus kegelapan malam, meninggalkan paviliun mewah itu dengan kesan paling tidak masuk akal.
Beberapa jam kemudian, keheningan malam di kediaman Menteri Li terusik oleh dua bayangan yang mengendap-endap lewat tembok belakang.
Wibawa Tabib Agung sudah resmi tamat. Li Zie berjalan dengan langkah gontai, Hanfu hitamnya sekarang penuh noda minyak. Tangan kanannya memegang kantung kertas berisi bakpao sisa, sementara tangan kirinya sibuk memegang paha ayam besar yang ia gigit dengan beringas sambil berjalan di kegelapan.
"Guru, pelankan suaramu! Kalau pengawal kediaman dengar bunyi kunyahanmu, kita tamat!" bisik Ji Yu panik, sambil memeluk dua kantong emas di dadanya seolah-olah itu adalah jantungnya sendiri.
"Biarkan... (nyam)... perutku lebih penting daripada Menteri tua itu," gumam Li Zie dengan mulut penuh daging. "Lagipula, dengan emas ini, aku bisa membeli seluruh kediaman ini dan menjadikannya kandang babi kalau aku mau."
Mereka akhirnya sampai di pojokan paling belakang kediaman, tempat sebuah paviliun kayu yang atapnya miring dan pintunya berderit menyedihkan berdiri. Itulah 'istana' Li Zie putri yang terbuang.
Li Zie menendang pintu paviliunnya dengan pelan, lalu masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi satu lilin redup. Li Zie langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi kayu yang reot, kakinya diangkat ke atas meja tanpa peduli tata krama putri bangsawan.
"Ahhh... kenyang juga akhirnya," desah Li Zie puas. Ia menyeka sisa minyak di pipinya yang masih cemong arang, lalu menatap kantong emas yang diletakkan Ji Yu di meja kayu yang berdebu.
Kilauan emas itu terpantul di matanya. Sesaat, ambisinya kembali menyala.
"Lihat ini, Ji Yu. Ini baru permulaan," ujar Li Zie, kali ini suaranya kembali tenang dan tajam. "Menteri Li dan selirnya itu mengira aku akan mati kelaparan di paviliun busuk ini. Mereka tidak tahu kalau satu kali aku menggerakkan jarum perakku, kekayaan mereka tidak ada apa-apanya dibanding bayaranku."
Li Zie mengambil satu bakpao terakhir dari kantungnya, lalu melemparkannya ke Ji Yu. "Makanlah. Pangeran es itu adalah 'tambang emas' berjalan kita. Kita tidak boleh membiarkannya mati sebelum dompetku penuh."
Ji Yu menangkap bakpao itu, dan berkata, "Guru... meski kau terlihat seperti gelandangan saat makan tadi, kau adalah majikan paling keren yang pernah ada!"
Li Zie tertawa kecil, suara tawa yang licik namun penuh percaya diri. Di tengah paviliun reot itu, sang putri terbuang mulai menyusun rencana untuk mengguncang kekaisaran satu keping emas pada satu waktu.
Yang sudah komen dan memberikan hadiah, tentu saja author ucapan terimakasih sebanyak-banyaknya.