NovelToon NovelToon
Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: E.N Viana

Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.

Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.

Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.

Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Hak Sang Tuan Pemaksa

Dua minggu berlalu sejak insiden mengerikan di depan gerbang kediaman Dirgantara. Selama kurun waktu itu pula, lorong VIP rumah sakit menjadi saksi bisu runtuhnya tembok keangkuhan seorang Baskara Dirgantara. Pria matang yang di dunia bisnis dikenal sebagai sosok bertangan besi, berwajah dingin, dan irit bicara itu, mendadak berubah menjadi sosok yang teramat manja namun tetap posesif khusus hanya di hadapan istri kecilnya, Kinanti.

"Kinanti... airnya terlalu dingin," keluh Baskara dengan suara rendah yang sengaja dibuat serak, matanya yang tajam menatap Kinanti dengan binar yang sulit diartikan. Posisinya kini sudah bisa bersandar di ranjang, meskipun punggungnya masih dilapisi kain kasa tipis.

Kinanti yang sedang memegang cangkir keramik mengernyitkan dahi herannya. Dia mencelupkan ujung jari kelingkingnya ke dalam air. "Hangat kok, Om. Ini pas seperti yang diminta dokter agar tenggorokan Om tidak kering."

"Tidak. Ini dingin," sahut Baskara keras kepala. Pria itu menyandarkan punggung bagian depannya ke bantal, lalu melipat tangannya di dada, memalingkan wajah tampannya ke arah jendela seolah sedang merajuk. "Aku tidak mau minum kalau bukan kau yang meniupnya dulu."

Kinanti menahan senyum geli di bibirnya. Siapa yang akan percaya jika direktur utama konsorsium pertanian daerah yang ditakuti para tengkulak kota ini bisa bersikap layaknya anak kecil yang meminta perhatian? Dengan penuh kesabaran, Kinanti duduk di tepi ranjang, mendekatkan cangkir ke bibirnya sendiri lalu meniup permukaan air hangat itu beberapa kali dengan lembut.

"Sudah, Om. Ini sudah ditiup," ucap Kinanti sabar, menyodorkan kembali cangkir itu.

Baskara menoleh perlahan, senyuman tipis yang teramat maskulin terukir di sudut bibirnya. Dia tidak menerima cangkir itu dengan tangannya, melainkan memajukan wajahnya, meminum air langsung dari cangkir yang dipegang oleh Kinanti, sembari sepasang mata elangnya tidak sedetik pun lepas menatap lurus ke dalam manik mata istrinya.

Tatapan intens dan menggoda itu seketika membuat detak jantung Kinanti berpacu liar. Wajah gadis sembilan belas tahun itu mendadak merona merah muda. Setiap kali Baskara menatapnya seperti itu, Kinanti selalu merasa seperti ditelanjangi oleh keinginan tersembunyi suaminya.

"Om jangan menatapku seperti itu...," cicit Kinanti pelan, menurunkan cangkir dengan tangan yang agak gemetar.

Baskara terkekeh rendah, suara tawa baritonnya yang seksi menggema di dalam ruangan yang sunyi. Dia mengulurkan tangannya yang besar, menyelipkan anak rambut Kinanti ke belakang telinganya, lalu mengusap pipi istrinya yang terasa hangat karena merona.

"Kau berutang banyak hal padaku selama di rumah sakit ini, kinan," bisik Baskara dengan nada suara yang dalam dan penuh arti. "Tunggu saja sampai dokter mengizinkanku pulang besok pagi. Aku akan menagih semua hakku yang tertunda sejak malam pertama pernikahan kita."

Kata-kata blak-blakan itu sukses membuat Kinanti hampir menggigit bibir bawahnya sendiri demi menahan rasa malu yang teramat sangat. Sejak menikah karena keterpaksaan dan dihantam berbagai badai urusan Chynthia, mereka memang sama sekali belum pernah melakukan hubungan suami istri. Gengsi Baskara di masa lalu dan rasa minder Kinanti sempat menjadi sekat tebal di antara mereka. Namun kini, setelah darah ditumpahkan dan perlindungan diberikan, sekat itu telah meleleh sepenuhnya, menyisakan ketegangan romantis yang mendesak untuk dituntaskan.

Keesokan harinya, kepulangan Baskara ke rumah utama disambut dengan suka cita yang luar biasa. Rumah sudah dibersihkan total. Natasha bahkan menyambut papanya di depan pintu dengan senyuman tulus, membantu membawakan tas kecil milik papanya. Suasana dingin yang dulu menyelimuti rumah mewah itu kini telah digantikan oleh kehangatan sebuah keluarga yang utuh.

Malam pun tiba menyelimuti kota. Setelah makan malam keluarga yang hangat dan memastikan Natasha sudah tidur di kamarnya untuk bersiap sekolah besok, Kinanti melangkah masuk ke dalam kamar utama.

Kamar berukuran luas itu tampak temaram. Baskara sudah berada di atas tempat tidur berukuran king size, duduk bersandar pada kepala ranjang dengan hanya mengenakan celana panjang hitam tanpa atasan, menampilkan dada bidangnya yang kokoh serta balutan perban tipis yang masih menutupi sebagian punggung kirinya. Sinar lampu tidur kuning keemasan memberikan siluet yang teramat maskulin dan menggoda pada lekuk tubuh tegap pria matang itu.

Kinanti berjalan mendekat dengan langkah kaki yang perlahan, membawa sebotol kecil minyak terapi herbal yang diberikan oleh dokter untuk dioleskan di sekitar pinggiran luka bakar agar kulitnya tidak kaku. Dia mengenakan baju tidur satin sederhana berwarna putih tulang yang panjangnya mencapai lutut, memperlihatkan kulit kakinya yang putih bersih khas gadis desa yang terawat.

"Om... waktunya mengoleskan minyak," ucap Kinanti, suaranya agak bergetar. Atmosfer di dalam kamar malam ini terasa jauh lebih intim dan menegangkan ketimbang saat di rumah sakit.

Baskara tidak menjawab dengan kata-kata. Mata elangnya bergerak lambat, menyapu penampilan Kinanti dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh rasa lapar yang tertahan. Sorot mata yang begitu intens itu mengunci pergerakan Kinanti, membuat gadis itu merasa seluruh tubuhnya mendadak meremang indah.

"Duduk di sini," perintah Baskara rendah, menepuk kasur kosong di samping paha kekarnya.

Kinanti menelan ludah, menuruti perintah suaminya. Dia menuangkan sedikit minyak ke telapak tangannya, lalu dengan gerakan yang teramat hati-hati, jemari lentiknya mulai mengusap kulit di sekitar perban punggung Baskara. Kulit Baskara terasa hangat di bawah sentuhannya. Pria itu memejamkan matanya sebentar, menikmati sensasi sentuhan tangan lembut istrinya yang menenangkan.

Namun, baru beberapa menit Kinanti memijat lembut, gerakan tangannya mendadak terhenti ketika tangan kanan Baskara yang besar dan hangat bergerak cepat mengunci pergelangan tangannya.

"Om? Ada apa? Apa pijatanku terlalu keras dan membuat punggungmu sakit?" tanya Kinanti panik.

Baskara membalikkan tubuhnya perlahan, menghadap sepenuhnya ke arah Kinanti. Pria itu menatap lurus ke dalam mata istrinya, lalu dengan satu gerakan yang terencana, dia mengambil botol minyak dari tangan Kinanti dan meletakkannya di atas meja nakas di samping ranjang.

"Punggungku sudah tidak sakit, Kinanti," ucap Baskara, suaranya kini berubah menjadi sangat dalam, berat, dan sarat akan otoritas seorang pria dewasa yang sedang menuntut hak mutlaknya. "Dua minggu di rumah sakit sudah cukup menyiksaku. Bukan karena luka bakar ini, tapi karena harus menahan diri untuk tidak menyentuh milikku sendiri yang setiap hari berada di depanku."

Wajah Kinanti seketika memerah sempurna layaknya kepiting rebus. Dia mencoba menundukkan kepalanya karena tidak sanggup menatap kilat gairah yang begitu nyata di mata suaminya. "Tapi Om... luka di punggungmu kan belum sembuh total... bagaimana kalau nanti..." Kalimat Kinanti menggantung di udara, lidahnya mendadak kelu karena rasa malu yang teramat sangat.

Baskara mengeluarkan tawa rendah yang teramat seksi. Dia memajukan tubuhnya, memangkas jarak di antara mereka hingga Kinanti bisa merasakan hembusan napas hangat Baskara yang berbau mint menerpa permukaan wajahnya. Tangan besar Baskara bergerak naik, menangkup dagu ramping Kinanti dengan lembut namun tegas, memaksa gadis itu untuk mendongak dan menatapnya kembali.

"Kau meragukan kemampuan suamimu, hm?" goda Baskara dengan senyuman asimetris yang begitu menawan, sepasang matanya berkedip menggoda, membuat pertahanan mental Kinanti runtuh berantakan. "Luka ini ada di punggung kiri, Kinanti. Masih ada banyak posisi yang bisa kulakukan tanpa menyentuh luka ini sedikit pun. Aku bisa mengendalikannya."

Kinanti menyembunyikan wajahnya di dada bidang Baskara, meremas pelan otot dada suaminya yang kokoh demi menyalurkan rasa gugupnya yang luar biasa. Melihat kepolosan dan kepasrahan yang begitu tulus dari istri kecilnya, gejolak posesif dan rasa yang mendalam di dalam dada Baskara kian membumbung tinggi. Pria matang itu melingkarkan lengan kirinya yang kuat di pinggang ramping Kinanti, lalu dengan perlahan dan penuh kelembutan, dia merebahkan tubuh ramping istrinya di atas empuknya kasur utama, menaungi tubuh Kinanti di bawah kungkungan tubuh tegapnya tanpa menekan punggungnya sendiri.

Baskara menatap wajah Kinanti yang berada di bawahnya. Rambut hitam gadis itu tersebar acak di atas bantal putih, matanya yang jernih tampak sedikit berair karena rasa gugup, dan bibir ranumnya yang sedikit terbuka. Keindahan alami gadis desa yang kini telah bertransformasi menjadi nyonya besar Dirgantara ini benar-benar memabukkan seluruh indra Baskara.

"Malam ini, di kamar ini... kau adalah milikku sepenuhnya, Kinanti Dirgantara. Tidak ada lagi keterpaksaan, tidak ada lagi kontrak, dan tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu," bisik Baskara dengan nada suara yang teramat lembut namun penuh dengan janji kepemilikan mutlak. "Malam ini, aku akan mengambil hakku sebagai suamimu."

Kinanti menatap sepasang mata elang di atasnya yang kini dipenuhi oleh rasa cinta yang teramat dalam. Rasa takut dan gugupnya perlahan sirna, berganti dengan rasa percaya yang mutlak pada pria yang telah mempertaruhkan nyawa demi melindunginya. Kinanti tersenyum tipis, mengulurkan kedua lengan rampingnya untuk mengalungkan tangannya di leher tegap Baskara, menyambut kedekatan mereka dengan kepasrahan seorang istri sejati.

"Iya, Mas Baskara... aku milikmu," bisik Kinanti lirih.

Baskara tersenyum penuh kemenangan yang paling hakiki di dalam hidupnya. Pria matang itu perlahan menurunkan wajahnya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang awalnya teramat lembut dan penuh perasaan, sebelum akhirnya berubah menjadi ciuman yang menuntut, panas, dan sarat akan gairah kepemilikan mutlak yang telah lama terpendam.

Malam itu, di bawah temaram lampu kamar utama kediaman Dirgantara, badai masa lalu telah resmi terkubur sedalam-dalamnya. Di atas ranjang pernikahan mereka, dua hati yang semula dipertemukan oleh takdir yang memaksa, kini telah melebur menjadi satu kesatuan yang utuh melalui pembuktian hak sang tuan sejati.

Fajar menyingsing perlahan, menembus celah-celah gorden sutra abu-abu di kamar utama. Cahaya biru keputihan khas udara subuh menyapu permukaan ranjang king size yang tampak sedikit berantakan. Di balik selimut tebal yang hangat, Kinanti terbangun lebih awal. Tubuhnya terasa sedikit pegal, namun ada rasa hangat dan damai yang teramat asing sekaligus membahagiakan menjalar di seluruh aliran darahnya.

Dia menoleh ke samping. Baskara masih tertidur lelap dengan posisi menyamping, menghadap ke arahnya. Wajah pria matang yang biasanya selalu tampak tegang dan penuh perhitungan saat terjaga itu, kini terlihat begitu tenang dan damai. Satu lengan kekar Baskara melintang kokoh di atas pinggang ramping Kinanti, seolah bahkan dalam tidurnya pun, pria itu tidak sudi kehilangan hak kepemilikannya atas sang istri.

Kinanti tersenyum tipis. Dengan sangat hati-hati, dia mencoba mengangkat lengan besar Baskara agar tidak mengganggu tidur suaminya. Dia ingat kewajibannya sebagai wanita desa untuk bangun subuh, menyiapkan air hangat, dan membantu Bi Asih di dapur.

Namun, baru saja ujung jemari Kinanti menyentuh pergelangan tangan Baskara, cengkeraman di pinggangnya mendadak mengerat. Sebelum Kinanti sempat bereaksi, Baskara menarik tubuh istrinya kembali ke dalam pelukannya dengan satu sentakan pelan yang terarah.

"Mau ke mana, hm?" gumam Baskara dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Matanya masih terpejam, namun bibirnya dengan sengaja mengecup puncak kepala Kinanti, menghirup aroma wangi sampo herbal yang melekat di rambut istrinya.

"Mas... lepaskan dulu. Ini sudah subuh," bisik Kinanti, wajahnya merona merah mengingat kejadian semalam yang teramat intens. Dia mencoba mendorong dada bidang Baskara yang tidak mengenakan pakaian, namun kekuatannya tentu tidak sebanding. "Aku harus ke dapur, membantu Bi Asih menyiapkan sarapan untuk Bapak dan Natasha sebelum dia berangkat sekolah."

Baskara perlahan membuka kelopak matanya. Sepasang mata elang itu menatap Kinanti dengan tatapan malas yang teramat seksi dan menggoda. Sifat manja yang dia tunjukkan di rumah sakit kemarin rupanya sengaja dibawa pulang ke rumah.

"Bi Asih sudah tahu tugasnya. Dan Natasha bukan anak kecil lagi yang harus disuapi," sahut Baskara acuh tak acuh. Dia justru menyurukkan wajahnya di ceruk leher Kinanti, menggelitik kulit sensitif istrinya dengan kumis tipisnya yang baru tumbuh. "Tetap di sini sampai matahari benar-benar terbit. Punggungku tiba-tiba terasa agak kaku lagi pagi ini. Kau harus bertanggung jawab menemaniku."

Kinanti tertawa kecil, rasa geli dan gugup bercampur menjadi satu. "Mas jangan mencari alasan ya. Kata dokter kemarin kalau sudah pulang berarti sudah sehat. Lagipula, kalau Bapak melihat kita belum keluar kamar jam segini, aku pasti malu, Mas!"

Mendengar kata 'malu' yang diucapkan istri kecilnya, Baskara justru terkekeh rendah. Dia mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata Kinanti yang jernih. "Bapak justru akan sangat senang kalau tahu kita terlambat bangun pagi ini. Beliau sudah menagih cucu dariku sejak hari pertama kita menginjakkan kaki di rumah ini. Jadi, tidak ada alasan untuk pergi."

Meskipun terus menggoda, Baskara akhirnya melonggarkan pelukannya setelah melihat kilat kepasrahan yang menggemaskan di wajah Kinanti. Dia membiarkan istrinya duduk di tepi ranjang untuk merapikan baju tidur satinnya. Namun sebelum Kinanti melangkah ke kamar mandi, Baskara menarik tangan gadis itu sekali lagi, mendaratkan satu ciuman lembut di keningnya.

"Jangan terlalu lama di dapur. Aku akan turun sepuluh menit lagi," ucap Baskara dengan nada perintah yang kini melembut, dipenuhi rasa sayang yang teramat dalam.

Aroma harum nasi goreng bumbu desa dan telur dadar krispi seketika memenuhi area dapur bersih kediaman Dirgantara. Kinanti, dengan rambut yang disanggul asal namun rapi, tampak cekatan memotong daun bawang di atas talenan kayu. Wajahnya tampak segar, memancarkan aura kebahagiaan seorang Nyonya Besar yang sesungguhnya. Tidak ada lagi gumpalan mendung atau rasa minder yang dulu selalu membayangi langkahnya.

Bi Asih yang sedang mengaduk nasi di atas wajan besar sesekali melirik ke arah Kinanti dengan senyuman lebar yang tidak bisa disembunyikan. Sebagai orang lama di rumah ini, Bi Asih tahu betul bagaimana dingin dan kakunya rumah ini saat Chynthia masih berkuasa dulu. Namun sekarang, kehadiran Kinanti membawa kehangatan yang sesungguhnya.

"Nyonya Muda tampaknya sangat bahagia pagi ini," goda Bi Asih dengan nada ramah khas seorang ibu. "Wajahnya berseri-seri sekali, seperti bunga anggrek di taman samping yang baru mekar setelah disiram hujan."

Wajah Kinanti seketika merona merah mendengar godaan itu. Dia buru-buru memasukkan potongan daun bawang ke dalam wajan untuk mengalihkan perhatian. "Ah, Bi Asih bisa saja. Kinanti hanya merasa lega karena semua masalah hukum kemarin sudah selesai, Bi. Dan Mas Baskara juga sudah bisa pulang ke rumah."

"Bukan cuma karena itu saja sepertinya, Nduk," sebuah suara bariton tua yang berwibawa memotong percakapan mereka dari arah meja makan.

Juragan Ramli melangkah masuk dengan pakaian batiknya yang santai, memegang koran pagi. Pria tua itu menatap menantunya dengan binar mata yang dipenuhi rasa puas dan bahagia. "Bapak ini sudah tua, sudah banyak makan asam garam kehidupan. Bapak tahu mana wajah wanita yang sedang cemas, dan mana wajah wanita yang hatinya sudah sepenuhnya dimiliki oleh suaminya. Baskara tampaknya sudah menjalankan tugasnya dengan sangat baik semalam, ya?"

"Bapak!" cicit Kinanti, benar-benar mati kutu karena digoda oleh mertuanya sendiri. Dia menundukkan kepala, pura-pura sibuk menata piring-piring di atas meja makan demi menyembunyikan senyum malunya.

Tepat saat suasana di meja makan penuh dengan tawa renyah Juragan Ramli, langkah kaki yang santai terdengar mendekat. Baskara turun dari tangga dengan mengenakan kemeja kasual berwarna biru dongker yang longgar agar tidak menekan perban di punggungnya. Di belakangnya, Natasha mengekor dengan seragam sekolah yang rapi dan tas ransel di punggungnya.

Ajaibnya, Natasha tidak lagi memasang wajah cemberut atau sinis. Remaja itu langsung duduk di kursi makan di samping Juragan Ramli.

"Pagi, kakek. Pagi, Tante Kinanti... Papi," sapa Natasha dengan suara yang pelan namun terdengar tulus. Mata remaja itu sempat melirik ke arah Kinanti yang sedang menuangkan susu hangat ke dalam gelasnya. "Tante... terima kasih ya untuk bekal sekolah yang kemarin. Teman-teman di kelas bilang kue cucur buatan Tante yang dibawa dari desa itu sangat enak."

Kinanti tersenyum sangat tulus, hatinya membuncah melihat perubahan drastis anak tirinya. Dia meletakkan gelas susu di depan Natasha dan mengusap bahu remaja itu dengan lembut. "Sama-sama, Natasha. Nanti kalau kamu pulang sekolah dan ingin belajar membuatnya, aku bisa ajarkan di dapur."

Natasha mengangguk dengan senyuman tipis yang manis. Kedamaian ini terasa begitu nyata dan menyejukkan hati siapa saja yang melihatnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!