Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.
Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.
Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.
pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aulia 21
"Eh, Farrel! Sama Pak Ghani juga," Aulia tersenyum tulus, rasa sesak yang sempat menggelayuti dadanya perlahan terangkat melihat keceriaan dua anak kecil itu.
"Nggak mengganggu sama sekali, Pak Ghani. Kebetulan ponsel saya tadi sedang di charge di kamar, jadi tidak sempat mengecek pesan. Mari, silakan masuk dulu."
"Cantika, mau nggak kita main di tempat yang waktu itu?" Tanya Farrel kepada cantika. Mata Cantika seketika berbinar dan mengangguk namun dia melirik ke arah ibunya seolah meminta izin.
"Kalau Bu Aulia harus di rumah bersama dengan suami, apa tidak keberatan kalau saya mengajak Cantika saja?" Ghani sedikit canggung.
Setengah jam kemudian, mereka tiba di sebuah restoran keluarga yang cukup luas di pinggir kota. Restoran ini terkenal dengan area bermain indoor dan outdoor yang sangat lengkap., mulai dari kolam bola, perosotan spiral, hingga area ketangkasan mini. Begitu sampai dan memesan makanan, Farrel langsung menggandeng tangan Cantika menuju area bermain.
"Jangan berlarian ya, Farrel! Jaga Cantika!" seru Ghani mengingatkan, yang dijawab dengan lambaian tangan mantap oleh putranya.
Dari meja makan yang sengaja dipilih menghadap langsung ke area bermain, Aulia dan Ghani bisa mengawasi anak-anak mereka dengan leluasa. Melihat Cantika tertawa lepas saat meluncur di perosotan, beban di pundak Aulia perlahan terasa luruh.
"Maaf kalau ajakan Farrel mengnggu waktu istirahat anda dan keluarga Bu..."
"Tidak pak, justru saya yang harusnya berterima kasih. Karena dengan kedatangan Farrel membuat Cantika kembali ceria setelah paginya di buat hancur!" Jawab Aulia dengan nada penuh penekanan. Ghani pria yang tahu batasan dan dia tak lagi banyak bertanya, karena itu pastinya adalah urusan pribadi Aulia.
"Cantika, ayo lewat sini! Aku jagain dari belakang!" seru Farrel dengan sangat protektif, menuntun Cantika menaiki jembatan tali mini dengan sabar.
Cantika tertawa lepas, suaranya yang nyaring dan ceria bergema di antara mainan warna-warni. Dia merasa begitu dihargai dan disayangi di tempat itu. Setelah sebelumnya selalu mendapat penolakan bahkan terkesan lebih kasar dari ayahnya selama lebih dari satu minggu ini.
"Pak Ghani, apa anda punya kenalan kuasa hukum?" Tanya Aulia tiba-tiba.
"Ada, sebentar saya kirim nomornya kepada Bu Aulia. Dia adalah pengacara langanan saya, bisa di andalkan dan masalah tarif bisa di atur. Anda bilang saja, kalau anda adalah teman saya!" Ujar Ghani yang tak bertanya lebih banyak alasan Aulia meminta nomotr pengacara.
Ting
"Terima kasih Pak Ghani..."
"Sama-sama, Bu. Apapun masalahnya semoga bisa segera di selesaikan dengan cara baik-baik. Kalau butuh bantuan jangan sungkan, kalau bisa saya pasti akan bantu. Apalagi untuk Cantika yang sudah di anggap adik sendiri oleh Farrel," Aulia hanya bisa menatap Ghani dengan tatapan yang sulit di artikan.
Di dalam dunianya yang selama ini merasa sendirian dan berdua berjuang bersama Cantika, ternyata masih ada ornag yang peduli dengan keadaannya dan juga sang anak yang di angap pembawa sial dan aib bahkan di katai cacat hanya karena Cantika mengalami telat berbicara.
Aulia menggenggam erat ponselnya yang baru saja bergetar, menampilkan sebuah kontak bernama "Yuda, S.H." yang dikirimkan oleh Ghani. Ada sepercik rasa lega yang begitu besar menyelusup ke dadanya. Selama ini, dia merasa seperti berjalan di atas titian tali yang rapuh, sendirian menjaga keseimbangan agar tidak jatuh bersama Cantika. Namun hari ini, di tempat yang bising oleh tawa anak-anak ini, dia menyadari bahwa dia tidak sebatang kara.
"Terima kasih banyak, Pak Ghani. Benar-benar... terima kasih," bisik Aulia. Suaranya sedikit bergetar, menahan gejolak emosi yang hampir membuncah.
Ghani tersenyum lembut, sebuah senyuman kebapakan yang menenangkan tanpa ada nada menghakimi atau menyelidik.
"Sama-sama, Bu Aulia. Terkadang, meminta bantuan bukanlah tanda bahwa kita lemah. Itu justru bukti bahwa kita cukup kuat untuk tahu kapan harus melindungi apa yang berharga bagi kita." Aulia mengangguk pelan.
Makanan sudah datang, yuk kita panggil anak-anak dulu," ajak Ghani dengan ramah begitu seorang pelayan menyajikan ayam goreng madu, kentang goreng, dan beberapa menu favorit anak-anak di meja mereka.
"Farrel! Cantika! Ayo makan dulu, Nak!" panggil Ghani setengah berteriak hangat.
Kedua anak itu langsung menoleh. Farrel dengan sigap menggandeng tangan Cantika, menuntunnya keluar dari area mandi bola menuju meja makan dengan tertib.
"Cuci tangan dulu, ya," ujar Aulia lembut, bersiap berdiri untuk mengantar mereka ke wastafel. Namun, Ghani sudah lebih dulu bangkit berdiri dengan sigap.
"Biar saya saja, Bu Aulia. Saya sekalian mau ke toilet. Anda tunggu di sini saja, silakan istirahat."
"Eh, apa tidak merepotkan, Pak?"
"Sama sekali tidak," jawab Ghani sambil mengedipkan sebelah matanya jenaka ke arah Farrel.
"Ayo, kapten, bawa adikmu cuci tangan."
Aulia tertegun melihat punggung Ghani yang menjauh bersama kedua anak itu. Pemandangan itu begitu kontras dengan apa yang biasa dia lihat di rumah. Jika mereka sedang makan di luar bersama Galang, boro-boro Galang mau mengantar Cantika cuci tangan. Galang akan sibuk dengan ponselnya, sesekali menggerutu jika Cantika tidak sengaja menumpahkan air atau terlalu lambat menyuap makanan.
Seharusnya sosok ayah itu seperti ini, batin Aulia perih. Melindungi, mengayomi, dan memberikan rasa aman.
Aulia buru-buru menyeka sudut matanya yang sempat menghangat tepat saat Ghani, Farrel, dan Cantika kembali ke meja makan dengan tangan yang wangi sabun. Aroma ayam goreng madu dan kentang hangat langsung menyambut mereka, menerbitkan selera makan kedua anak kecil itu.
"Ayo makan! Farrel mau paha ayamnya!" seru Farrel riang, langsung duduk di samping Ghani.
"I..kaa.... au en... tang, Bu," cicit Cantika dengan artikulasinya yang masih agak tersendat, namun matanya berbinar menatap piring di tengah meja.
"Iya, anak pintar. Ini untuk Cantika, tapi makan nasi juga ya sama seperti Farrel!" Aulia tersenyum manis, dengan telaten menyuapkan potongan daging ayam dan kentang ke piring kecil putrinya.
Suasana hangat sempat tercipta selama beberapa menit. Celotehan Farrel yang menceritakan liburan sekolahnya berulang kali memancing senyum di wajah Aulia. Ghani pun menanggapi putranya dengan penuh perhatian, sesekali memastikan Cantika juga mendapatkan bagian makanannya dengan adil. Untuk sejenak, Aulia merasa bebannya menguap. Namun, kedamaian itu mendadak runtuh dalam hitungan detik.
Saat sedang mengunyah kentang gorengnya, pandangan Cantika tanpa sengaja beralih ke arah dinding kaca besar restoran yang menghadap langsung ke area parkir pertokoan di seberang jalan. Matanya yang bulat mendadak melebar. Di sana, tepat di depan sebuah butik pakaian mewah, sebuah mobil hitam yang sangat dia kenali baru saja berhenti.
Dari pintu kemudi, turun seorang pria yang sangat Cantika kenali. Pria yang beberapa jam lalu membentak ibunya dan membanting pintu rumah mereka hingga menyisakan gema yang menakutkan.
"Pa... Pa...pa!" Panggilan pelan lolos dari bibir mungil Cantika.