Mengisahkan Perjalanan kisah cinta Adel Emanuella Sanjaya anak tunggal dari pasangan suami istri bapak Max Sanjaya dan ibu Jenny Andreas. Kisah ini berawal ketika Adel berkenalan dengan seorang polisi yang identitasnya sengaja di rahasiakan karena tugas negaranya. Di pertemukan lagi ketika Adel sudah menjadi seorang dokter. Saat itu Adel Emanuella Sanjaya baru tahu bahwa Karel Imanuel Barnabas seorang perwira Kepolisian berpangkat Iptu. Apakah cinta mereka bisa bertahan menembus segala cobaan dengan profesi Karel yang adalah seorang intel??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Kampung
Kami sekeluarga tiba di kota Tabalong Kalimantan Selatan. Setelah menempuh perjalanan lewat udara empat puluh menit dari kota Banjarbaru. Di kota ini kami mempunyai rumah besar yang dijaga dan dirawat oleh keluarga mama.
Maksud kedatangan kami kesini adalah melamar Maya Dessy anak dari sahabat mama untuk Kaleb Imanuel Barnabas. Selama ini Kaleb dan Maya hanya berkomunikasi lewat media sosial. Semua persiapan sudah kami siapkan dari Jakarta. Acara lamaran akan dilaksanakan luas sesuai yang di rencanakan. Kemudian dua minggu kedapan mereka akan menikah. Rencana nikah dinas akan dilakukan setelah kami semua kembali ke Jakarta.
Hari yang ditentukan kami datang melamar Maya Dessy buat Kaleb. Acara berlangsung sangat meriah, seperti pesta kampung. Dari lamaran sampai pernikahan akan ada acara - acara terus. Apalagi keluarga kami adalah orang terpandang di kampung, makanya pestanya pasti meriah. Kami sudah membahas kemungkinan semuanya ini di Jakarta sebelum kami tiba di Tabalong kampungnya mama.
Dua hari berikutnya Karel harus balik ke Jakarta. Dan pagi - pagi subuh, dia di antar oleh om - omnya ke kota Banjarbaru dari sana dia akan terbang ke Jakarta. Simeon yang mengawal Karel, karena dia yang mengikui kami. Kepulangan Karel ke Jakarta, karena ada urusan penting. Adel berharap suaminya pada saat kakaknya menikah akan ada bersama kami.
"Mas balik Jakarta dulu ya. Selesai urusan mas balik kesini."
"Jaga dirinya mas ya."
"Iya, I love you."
"Love you more." Karel memeluk dan mencium istrinya. Sekarang baru pukul tiga subuh. Selesai pamit dari istrinya dan anak laki - lakinya, Karel meminta istrinya Adel untuk istirahat lagi.
"Ade mau ikut antar ke depan."
"No, sayang. Ayo bobo." Kembali Karel mencium bibir istrinya kening, leher sampai bahu. Dan dia memberi tanda cinta di bahu kanan istrinya. Adel kembali tidur sambil menyusui anak laki - lakinya. Karel keluar kamar. Di ruang keluarga sudah ada papa, mama, kakak dan tante Nunik.
"Pa, ma, kak, tante, titip Adel dan Aldo ya."
"Iya. Kamu tidak usah kuatir, dia disini aman bersama kami."
"Terima kasih."
"Komandan ayo, semua sudah siap."
"Mon, hati - hati ya."
"Siap bang."
"Adek, sampai Jakarta telepon papa ya."
"Siap papa."
Sebenarnya ini waktu cutinya Karel, namun karena ada tugas dia di minta kembali ke Jakarta. Sebagai pasukan khusus polisi, AKP Karel Imanuel Barnabas harus siap. Kemungkinan ada masalah yang menganggung keamanan masyarakat. Apalagi dia seorang interpol.
Dan benar setelah menonton televisi ada berita tentang teroris di daerah Jawa Barat. Pagi ini kami semua sarapan sambil menonton berita. Dan informasi bahwa Karel sudah berada di lokasi kejadian. Ternyata dia bersama Simeon di jemput dengan pesawat khusus ketika mereka keluar daerah kampung. Dua jam perjalan pesawat itu menjemput dan Karel bersama Simeon naik ke pesawat dengan menggunakan tali.
"Kak Karel dan temannya hebat sekali. Kami seperti melihat adegan film - film." Papa dan mama serta Kak Kaleb hanya tersenyum. Karena bagi mereka itu sudah biasa. Perna kejadian di Bali, lagi berenang pesawat tiltrotor (gabungan pesawat dan helikopter) datang menjemput di pantai. Dan mereka yakin bahwa pesawat itu juga yang tadi menjemput Karel dan Simeon asisten pribadinya.
Berita memanas, dan Adel hanya bisa berdoa. Karena dia tahu, selama suaminya belum menghubungi berarti dia masih dalam misi.
"Dek, makan. Kakak tahu Karel pasti baik - baik saja."
"Iya."
Dua hari Adel belum mendapat informasi dari suaminya. Dia semakin gelisah. Dan ini berpengaruh kepada Aldo anaknya. Untung ada mertuanya serta kakak iparnya yang mengurus Aldo. Keleb dekat dengan Aldo jadi tidak susah bagi Kaleb untuk menenangkannya.
Malam hari pukul sebelas malam. Dering telepon Adel berbunyi. Dia ketakutan mengangkat telepon itu. Namun dia memberanikan diri melihat siapa yang menghubungi. Ternyata nomor suaminya.
"Mas......"
"Hallo ade..... Sayang."
"Ade takut. Vidio call. Mau lihat mas." Sebenarnya Karel belum mau memperlihatkan mukanya. Karena tubuhnya terluka pada misi ini. Luka tembak di bahu kiri. Namun tidak ada masalah yang berarti dari lukanya. Tetapi Karel tahu, luka ini akan membuat Adel istrinya kuatir.
"Ade.... Ingat mas baik - baik."
"Mas... Bohong. Besok terbang ke sini. Ade yang rawat. Siapa dokternya??"
"Sayang.... Iya mas akan besok terbang ke sana."
"Ade tunggu mas." Mama dan papa mendengar pembicaraan Adel dan Karel. Mereka pun bergabung di kamarnya Adel. Di kamar itu, Adel sudah menangis. Papa mertuanya langsung memeluk Adel.
"Karel luka pa, Adel ke Jakarta."
"Ngak sayang, mas yang kesana. Nanti Resa dan Simeon yang jaga mas."
Pagi hari memang benar, Karel berangkat jam delapan pagi ke Banjarbaru Kalimantan selatan. Semua tenaga medis di rumah sakit polisi. Dokter bedahnya, dokter Simon, sudah mengirim riwayat medis Karel kepada doker Adel. Fisik Karel sehat hanya luka operasi belum sembuh. Biar penyembuhannya dilakukan oleh istrinya sendiri.
Karel sudah tiba di kota Tabalong dengan pesawat kecil bersama Reza dan Simeon. Sudah ada papa dan Kaleb yang menjemput. Langsung dibawa ke rumah. Adel sudah memeriksa suaminya.
"Mas tidak bisa lihat kamu menangis. Sakit hati mas. Sini bobo sama mas." Adel langsung mendekati suaminya dan tidur disamping suaminya. Hatinya baru merasa lega.
Acara pernikahan Kaleb Imanuel Barnabas dengan Maya Dessy pun dilaksanakan. Pemberkatan dan catatan sipil semua berlangsung di gereja. Dan acara resepsi dilakukan di aula kota Tabalong. Banyak kerabat yang hadir.