NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta CEO Galak

Dikejar Cinta CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rifani

Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. (Bersekutu Dengan Musuh)

"Kau!!"

Mata Andrea melotot besar begitu melihat sosok di hadapannya.

"Long time no see, Andrea," ucap Lucien ramah menyambut sang tamu kehormatan.

Tak ada respon. Andrea masih dengan posisi antara kaget dan juga emosi setelah tahu kalau orang bernama Tuan Lucien ternyata adalah sosok pria mesum yang sempat bermasalah dengannya tempo hari. Sungguh, tak sedikitpun dia menyangka kalau yang telah membuatnya kehilangan pekerjaan ternyata punya latar belakang yang tak biasa. Lantas apa tujuan dibalik ketidakadilan yang menimpanya?

"Aku tahu kau orangnya suka terus-terang, tapi apa harus sejelas ini?"

"Maksudnya?"

"Kau sedang terpesona pada ketampananku, Nona."

Lucien penuh percaya diri berkata demikian. Rasanya puas sekali melihat reaksi Andrea begitu melihatnya. Gadis ini pasti terlampau gembira hingga tak bisa berkata-kata.

"Ya Tuhan Ya Tuhan, tolong selamatkan aku," ratap Andrea seraya mengelus dada. Entah dari sudut mana dirinya dianggap sedang terpesona.

"Jangan sungkan mengaku. Kau adalah orang kesekian yang hilang fokus setelah bertatap muka denganku. Santai saja," ucap Lucien sombong. Setelah itu dia menatap sengit ke arah Veroz. "Pilih kanan atau kiri. Aku ingin melihat gips terpasang di tanganmu besok."

"Kejadian tak terduga, Tuan. Sungguh." Veroz mencoba membela diri. Yang benar saja. Hanya gara-gara Nona Andrea panik saat lift bergerak dia sampai diminta untuk mencederai tangan sendiri. Tidak mungkin Veroz lakukan. Dia belum sebodoh itu langsung mengiyakan hukuman atas kesalahan yang tak dia perbuat.

"Owh, sudah berani melawan ya sekarang?"

"Saya tidak bermaksud. Hanya ingin memperjelas saja kalau kejadian barusan sungguh diluar prediksi. Mohon Anda tidak berat sebelah."

"Apa aku terlihat seperti orang yang suka main hakim sendiri di matamu?" cecar Lucien dingin.

"Tentu saja tidak. Anda adalah orang yang paling adil di perusahaan ini," sahut Veroz meyakinkan.

"Baguslah kalau kau ingat. Sekarang lakukan perintahku atau ....

"Hei hei hei, di sini masih ada orang lain selain kalian berdua ya. Jangan asik sendiri!"

Kesal, Andrea berjalan cepat menghampiri Lucien lalu berkacak pinggang di hadapannya. Tatapannya sengit, penuh amarah, juga dendam membara.

"Kau pria mesum, apa maksudmu mengancam pemilik restoran supaya memecatku? Apa masih belum cukup dengan melecehkanku sampai harus merusak rencana masa depanku juga?"

"Rencana masa depan?" Sebelah alis Lucien terangkat ke atas. Rasanya agak ambigu dengan kalimat yang diucapkan Andrea barusan. "Masa depan apa yang sudah ku rusak?"

"Tentu saja masa depan sebagai calon karyawan di restoran. Apalagi!"

Lucien terkesima mendengar jawaban tersebut. Menjadi karyawan dari sebuah restoran kecil dianggap sebagai rencana masa depan? Sempit sekali pemikirannya.

"Gara-gara kau ya aku jadi kehilangan pekerjaan. Apa sih sebenarnya maumu. Punya dosa apa aku padamu sehingga kau tega memutuskan rantai kehidupanku?"

Tahu akan ada badai besar, Veroz bergegas melarikan diri setelah membungkuk ke arah bosnya. Ibarat kata, sedia payung sebelum hujan.

"Anggap saja ini balasan karena kau telah mempermalukanku di tempat umum dan di kantor polisi. Jangan lupa ya kau telah menuduhku berbuat mesum. Padahalkan aku belum melakukan apa-apa padamu," ucap Lucien sembari melihat ke sisi lain. Ada gelenyar aneh saat dia terbayang tangannya yang tak sengaja menyentuh dada Andrea.

(Pasti dia tak bisa tidur gara-gara dadanya tak sengaja tersentuh. Makanya begitu melihatku langsung terkesima. Ckck, pesonaku memang tak perlu diragukan lagi)

"Kau tahu tidak ini apa?" tanya Andrea menahan geram sambil memamerkan kepalan tangan di depan wajah Lucien. Hidungnya kembang kempis saking dia jengkel dengan alasan yang pria ini ucapkan barusan.

"Aku tidak buta ya. Tentu saja itu tangan."

"Yang bilang ini kaki siapa?!"

"Lalu apa maksudmu bertanya seperti itu? Mentang-mentang jari tanganmu lentik lalu seenaknya pamer padaku. Sedang menggodaku apa bagaimana?"

"YAKKK LUCIEN!! Biji matamu yang mana yang melihatku sedang menggodamu hah! Yang benar saja!!"

"Lalu apa maksudnya?"

Tak tahan, emosi Andrea akhirnya meluap juga. Dia melayangkan tinju ke tubuh Lucien, tapi bukan di bagian fatal.

"Beraninya kau memukulku!" teriak Lucien kaget.

"Cihhh, lemah sekali! Baru juga lengan yang ku tinju, bagaimana jika icibosmu yang jadi sasaran. Jamin pingsan sekali pukul!" sahut Andrea lantang. Sumpah, dia sangat ingin menghajar orang ini.

(Icibos? Bagian yang mana itu? Baru dengar)

"Sudahlah, aku datang kemari bukan ingin berkelahi denganmu, tapi ingin tahu alasan kenapa kau meminta bos pemilik restoran memecatku. Jika memang ada kesalahan yang tak sengaja aku lakukan, mari kita perjelas dan selesaikan hari ini juga. Aku benar-benar muak melihat tampang mesummu itu, Lucien."

Dengan patuh Lucien mengikuti Andrea yang kini telah duduk di sofa. Entah siapa yang jadi bosnya, malah dia yang diperlakukan bak seorang tamu. Anehnya Lucien terima-terima saja dengan sikap berani Andrea. Meski wajahnya begitu datar dan bengis, diam-diam dia selalu mencuri kesempatan untuk melirik gadis tersebut. Ada perasaan aneh yang menjalar, membuatnya kesal sekaligus suka.

"Cepat katakan alasanmu melakukan semua itu. Waktuku tak banyak," ucap Andrea mencoba sabar.

"Memangnya kau mau pergi ke mana?"

"Lucien, aku ini bukan orang kaya dan baru saja kehilangan pekerjaan. Tentu saja aku harus berkeliling kota untuk mencari pekerjaan baru. Begini saja harus dijelaskan."

"Galak sekali. Akukan cuma bertanya," Lucien menggerutu.

"Dan pertanyaanmu membuatku kesal. Sudahlah, cepat jawab pertanyaan yang tadi."

Hening. Bukannya langsung menjawab, kali ini Lucien terang-terangan menatap Andrea. Ekspresinya dingin dengan aura gelap yang mengelilingi.

"Bekerja padaku. Ku jamin masa depanmu akan seterang sinar matahari," ucap Lucien tiba-tiba. Berbagai niat jahat telah tersusun rapi di dalam kepala.

"Kau gila ya! Kita ini musuh. Untuk apa aku bekerja padamu?" amuk Andrea kembali diguncang emosi.

"Eitss jangan salah. Justru bersekutu dengan musuh adalah keputusan paling tepat jika ingin menaklukkan dunia. Pernah dengar tidak kalau tempat berlindung paling baik adalah berada di belakang orang yang menjadi lawan dari tujuan kita. Kau ingin masa depan yang cerah, bukan?"

Andrea dengan polos menganggukkan kepala. Kalimat bersekutu dengan musuh terdengar cukup aneh, tapi entah kenapa seperti memberikan efek tantangan yang menggugah.

"Masa depan erat kaitannya dengan uang, sedangkan aku adalah pusat dari uang itu sendiri. Dengan bekerja padaku maka kau punya poin terpenting untuk menggapai masa depan itu. Nikmati aku. Oke?"

Bulu kuduk di tubuh Andrea seketika meremang hebat saat Lucien berkata agar menikmatinya. Ke mana arah pembicaraan mereka sebenarnya?

"Kau mesum lagi ya?"

"Sembarangan. Aku ini sedang menawarkan kehidupan yang jauh lebih baik padamu. Bagaimana sih," omel Lucien kesal. Bisa-bisanya gadis ini menuduhnya ingin berbuat mesum.

"Lalu kenapa memintaku untuk menikmatimu?" desak Andrea penuh curiga. Dia sampai menyipitkan mata saking tak percaya pada pria di hadapannya ini.

Glukk

Lucien menelan ludah. Jadi Andrea begitu ingin menikmati dirinya ya? Mendadak tubuh Lucien menjadi gerah. Wajahnya memerah seperti buah tomat.

"Hei, kau kenapa? Wajahmu merah sekali. Kau sakit ya?" tanya Andrea terheran-heran. Ini adalah kali kedua dia melihat wajah Lucien memerah tanpa sebab yang jelas.

"Ekhmmm, jangan pura-pura tidak tahu," jawab Lucien seraya tersenyum tipis.

"Hah?"

"Sudahlah, kau setuju tidak bersekutu denganku? Kalau setuju besok kau sudah boleh masuk kerja."

"Bayarannya bagaimana?"

Tak langsung menjawab, Lucien bertopang dagu sambil menelisik wajah Andrea. Gadis ini punya keinginan kuat untuk menikmatinya, rugi jika dia membayar mahal. Cukup tubuhnya saja yang dijadikan imbalan.

"Oke, aku terima pekerjaan ini. Besok pagi aku akan datang lagi dan menemuimu. Aku pulang dulu," pamit Andrea kemudian berjalan keluar. Saat ingin menutup pintu, sekali lagi dia melihat ke dalam ruangan di mana Lucien masih termangu diam di sofa. "Aneh. Kenapa rasanya ada hawa tak biasa saat wajahnya memerah tadi. Apa jangan-jangan wajah orang kota memang mudah memerah? Hmmm,"

***

1
Fadillah Ahmad
Covernya bagus... Menarik juga... 😂😂😂

Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂
Mak Rifani: Amiinnn m 🙏🙏
total 3 replies
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖
makkkk
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖ : ok mak😘
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!