Hidup sungguh tak pernah berpihak kepadanya,
Sejak kecil nyawanya sudah terancam, dia harus menjadi saksi kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.
Menjadi yang tertuduh dan dianggap paling bertanggung jawab atas kematian satu satunya orang yang paling menyayanginya setelah sang ibu yakni sang tuan besar yang sebenarnya adalah juga kakeknya hingga akhirnya ia di buang dan ia terpaksa harus bertahan hidup di jalanan menjadi seorang kurir narkoba sejak usia belia demi hanya untuk bisa bertahan hidup.
Gabriella Calista,
mampukan ia menyelamatkan nyawanya ketika meski setelah 15 tahun berlalu, nyawanya masih di inginkan.....
dan apakah ia akan mau menerima cinta yang di tawarkan padanya oleh seseorang yang ternyata dia adalah pewaris sah darah seseorang yang telah membuatnya hidupnya hancur dan sengsara....
ikuti karya baru aku.....
" BIEL..... "
SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA, LOVE YOU😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6 tragedi
Steve masih menatap tidak suka kepada Erick yang kini terlihat mulai memasuki teras utama rumah besarnya.
Suasana hatinya tiba tiba kian menjadi buruk. sejak dulu ia tak pernah suka kakak tirinya itu.
( hanya aku, hanya aku yang akan menjadi pewaris di keluarga ini ....
hanya aku yang akan menjadi yang paling terbaik di sini.
hanya aku.......
Tidak dia.....juga tidak......) hati Steve berbisik dengan tatapan yang begitu tajam kepada sosok Eric di sana.
Hingga bayangan Erick tak lagi bisa ia lihat.
Tatapan matanya beralih kepada Biel yang masih menunduk di tempatnya.
( dia......)
desisnya lagi masih di dalam hati.
Tiba tiba Steve melangkah cepat ke arah Biel dan langsung merebut tali balon yang di pegang Biel.
Tak siap dengan serangan Steve yang mendadak itu,
Biel tak bisa mempertahankan balonnya.
Tali balon itu berpindah kepada Steve dan tentu saja dengan balonnya.
Steve tersenyum menyeringai menatap kepada Biel.
Tatapan penuh dengan ejekan.
" kembalikan....itu punya ku " Biel berteriak sedikit kencang meminta balonnya dari Steve.
" ini punyaku, lihat ....dia ada padaku....itu artinya dia punyaku " jawab Steve dengan tak tahu malunya.
Ia bahkan mendorong Biel yang mendekat dan berusaha merebut balonnya kembali. Biel jatuh ke lantai dan Steve menendangnya.
" aww......sakit....!! " Biel meringis menahan sakit ketika Steve menendang perutnya.
" pergi sana, jauh jauh dariku ....aku jijik padamu " sentak Steve kasar
" kembalikan balonku, itu punyaku " Biel tak mau menyerah.
Ia bangkit dengan wajah yang meringis menahan sakit.
Ia kembali berusaha merebut balonnya dari tangan Steve.
" kembalikan....itu punyaku "
" mana punyamu ?! Ini punyaku ....buktinya dia ada padaku "
" pencuri......kau pencuri !! " teriak Biel kepada Steve dan itu sukses membuat Steve kian marah.
" apa kau bilang ?!!! " sentak Steve
" pencuri....kau pencuri "
" sialan ....beraninya kau menuduhku pencuri " Steve berucap dengan gigi yang bergemeretak menahan amarah.
Tangannya terulur mencekik Biel.
" uhuk uhuk....le....paskan....." Biel terbatuk dan wajahnya memerah karena cekikan Steve padanya itu.
Ia berusaha keras melepaskan cekikan Steve pada lehernya.
Steve tertawa menyeringai melihat Biel yang sudah seperti kehabisan nafas.
" inilah hasilnya kalau kau berani melawanku anak haram.... " desis Steve dengan mata melotot.
Tak lama ia melepaskan cekikannya di leher Biel dan Biel kembali jatuh ke lantai.
Tubuhnya terasa lemas karena ia yang kekurangan oksigen.
" uhuk uhuk...." Biel terbatuk dan memegangi lehernya.
Air mata nampak mengalir dari sudut matanya.
Steve berjongkok di hadapannya.
" sekarang kau sudah tahu harus bagaimana bersikap di hadapankukan ?!
tempatmu memang seharusnya seperti ini, di bawah kakiku " bisik Steve di telinga Biel yang masih memucat akibat cekikannya tadi.
" dan harus selalu kau ingat....semua yang ada di rumah ini adalah milikku " lanjutnya lagi.
Biel mendongak menatap Steve, tatapan matanya berubah tajam.
" itu milikku, mamaku membelikannya untukku dengan uangnya...
bukan uangmu..." jawab Biel ketus.
" ha ha ha....." Steve sekali lagi tertawa terbahak mendengar jawaban Biel barusan.
" mamaku membelikannya untukku dengan uangnya... " Bocah laki laki itu menirukan ucapan Biel
" heh ...." Steve berdiri dan berkacak pinggang.
" kau pikir dari mana pelayan yang kau panggil mama itu mendapat uang hah ?! tentu saja dari rumah ini....
dan itu artinya apa yang kau miliki saat ini adalah juga milikku " sentaknya dengan mata melotot.
" tapi tak apa....kau sangat ingin ini kan ?! Baiklah.....
ambil kalau begitu !! " ucap Steve sambil melempar batu pemberat balon itu ke arah jalan di depan sana.
Batu itu menggelinding ke arah pagar yang tak tertutup.
Mata Biel sontak melebar melihat hal itu, seketika ia bangkit dan mengejar balonnya yang menggelinding ke arah jalan raya.
Kebetulan,
Rumah besar keluarga Lee ini berada di ketinggian dari jalan raya di depan rumah itu.
" balonku.....!!! " Biel berteriak sambil mengejar balonnya.
Gadis kecil itu terus berlari, kondisi jalan yang menurun membuat ia tak mampu mengendalikan diri.
Tubuhnya terus meluncur ke bawah.
" ahhhhh........!!!! " Biel berteriak ketakutan ketika ia tak mampu menghentikan langkah kakinya.
Sebuah mobil dari arah kanan meluncur dengan cepat dan seolah siap menghantam tubuh kecil itu.
" Biel......!!! "
sebuah teriakan menggema di telinga Biel sebelum suara keras dan sebuah teriakan juga terdengar di telinganya seiring dengan sebuah sambaran pada pinggangnya.
Tubuhnya terlempar ke sisi jalan, tapi.....
" ahhhh......!! "
Mata bocah kecil itu membulat, tubuhnya membeku seketika tatkala ia melihat tubuh sang mama terlempar jauh ke depan sana setelah terhantam mobil.
" mama......!!! " Biel berteriak histeris ketika ia mulai menyadari apa yang sudah terjadi.
Mamanya ternyata adalah orang yang telah meraih tubuhnya dan melemparnya ke pinggir jalan agar ia tak tertabrak mobil.
Tapi karena itu, mamanya justru tertabrak oleh mobil itu menggantikan dirinya.
Biel berlari kencang ke arah tubuh sang mama yang tergeletak di tengah jalan.
Ia meraup tubuh sang mama yang telah tak sadarkan diri dan bersimbah darah.
" mama.....bangun mama........mama....!!! " Biel berteriak dengan air mata yang berurai.
" nona kecil.....berikan mama kepada saya " seorang penjaga rumah mendekat kepadanya. Wajahnya nampak memucat melihat kondisi Biel dan mamanya.
Ia sedang memasukkan mobil Shahnaz ke dalam garasi di lantai dasar dan lupa menutup pintu gerbang.
" kita bawa dia kerumah sakit, saya yang akan bertanggung jawab atasnya " seseorang yang baru keluar dari mobil nampak turut mendekat.
" iya tuan " jawab penjaga itu.
" jangan sentuh mamaku " pekik Biel ketika orang asing baginya mendekat dan hendak meraih tubuh sang mama yang berada dalam dekapannya.
" Nona kecil,
tenanglah....jangan takut, kita akan membawa mama nona ke rumah sakit.
Semoga kita masih bisa menyelamatkannya...." ucap penjaga itu
" iya nak....aku yang akan bertanggung jawab pada ibumu itu " ucap pria asing itu.
Mendengar ucapan dua orang dewasa di hadapannya itu Biel melunak,
Ia mengendurkan dekapannya pada tubuh sang mama.
Laki laki asing itu berjongkok dan bersiap hendak meraih tubuh Saraswati.
Namun...baru saja ia akan mengangkat tubuh itu,
Sebuah suara menghentikannya.
" turunkan dia....jangan kau berani membawanya bersamamu "
Semua orang menoleh ke arah sumber suara.