"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."
Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.
Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.
Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.
Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.
Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.
Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5 Menggagalkan Pernikahan
Tenda putih yang dihiasi juntaian melati itu terasa begitu syahdu. Di ruang tengah rumah mewah keluarga Ardy, semua orang duduk dengan khidmat menanti momen sakral.
Penghulu yang duduk berhadapan dengan Ardy mulai menjabat tangan pria itu. Ardy menarik napas panjang.
"Saya terima nikah dan—"
Brak!
Suara daun pintu utama yang didorong dengan sangat kasar seketika memutus kalimat Ardy.
Semua kepala serentak menoleh.
Di ambang pintu, berdiri seorang wanita dengan gaun sederhana berwarna krem yang tampak kebesaran di tubuhnya.
Wajahnya sangat pucat, rambutnya hanya diikat seadanya, dan sebuah perban tipis masih menempel melingkar di dahinya.
"Kirana?" gumam Ardy pelan, cengkeramannya pada tangan penghulu terlepas begitu saja.
"Tidak mungkin," bisik Sarah dengan wajah shock. Tangannya yang memegang kipas seketika bergetar.
Sementara itu, senyum kemenangan di wajah Siska lenyap tanpa sisa. Jantungnya berdegup begitu keras hingga rasanya mau pecah saat melihat wanita yang seharusnya sudah mati atau menghilang itu kini berdiri hidup-hidup di hadapannya.
Dengan langkah pelan namun pasti, Kirana berjalan masuk. Tatapannya menyapu seluruh ruangan. Ia menatap dekorasi bunga putih yang mahal, meja akad yang dihias cantik, penghulu yang kebingungan, dua orang saksi, dan terakhir menatap Ardy serta Siska yang duduk berdampingan.
Senyum miring terukir di sudut bibir pucat Kirana.
"Silakan dilanjut. Kenapa diam saja? Bukankah tadi sudah sampai di bagian sakral?"
Ucapan itu membuat para tamu mulai beringsut tak nyaman dan saling berpandangan.
Ardy menelan ludah. "Rana, darimana saja kamu?"
Melihat Ardy hendak berdiri, Kirana segera mengangkat sebelah telapak tangannya ke udara, menghentikan pergerakan pria itu.
"Duduk saja, Mas. Jangan repot-repot menyambutku. Dan tolong, jangan salah paham. Aku datang bukan untuk menangis apalagi merebut mu kembali darinya," ucapnya seraya melirik Siska.
Kalimat itu justru membuat dada Ardy sesak secara tiba-tiba. Entah kenapa, perempuan yang biasanya selalu mengiba dan menunduk padanya itu, kini menatapnya seolah Ardy tak lebih dari sekadar kotoran debu.
Kirana melangkah maju hingga berdiri tepat di depan meja akad. Ia menatap sang penghulu sambil tersenyum sangat sopan.
"Maaf mengganggu waktu Pak Penghulu," ucap Kirana lembut. "Saya hanya ingin bertanya soal hukum. Apakah Bapak tetap akan menikahkan laki-laki ini, meskipun statusnya saat ini masih sah menjadi suami saya?"
Sang penghulu terbelalak kaget dan langsung menoleh ke arah Ardy.
"Pak Ardy?! Benarkah apa yang dikatakan ibu ini? Anda bilang pada pihak KUA bahwa anda sudah menduda!" cecar penghulu itu dengan nada tinggi.
Ardy membuka mulutnya, wajahnya seketika memerah karena panik. "I-itu... Pak, saya..." Namun, tak ada satu pun kata pembelaan yang bisa keluar dari tenggorokannya.
Melihat putranya tersudut, Sarah buru-buru berdiri dari kursinya.
"Bohong! Jangan didengarkan dia, Pak Penghulu!" jerit Sarah sambil menuding wajah Kirana. "Perempuan ini sudah kabur dari rumah selama berhari-hari! Dia istri durhaka! Dan sekarang dia malah datang merusak acara keluarga kami dan membuat onar!"
"Kabur?" Kirana menoleh pada ibu mertuanya dan terkekeh pelan. "Hebat sekali dongeng karangan Mama. Aku nggak kabur, Ma. Aku baru saja koma. Aku terbaring berhari-hari di ruang ICU, bertaruh antara hidup dan mati karena tabrak lari."
Tatapannya beralih kembali menusuk manik mata Ardy.
"Dan di saat aku meregang nyawa di rumah sakit, suamiku ternyata malah sedang sibuk menjahit baju pengantin untuk menikahi wanita lain."
Seketika, kasak-kusuk tamu undangan meledak tak tertahankan.
"Astaga! Tega banget, istrinya sekarat malah ditinggal kawin lagi!"
"Jadi selama ini Siska itu pelakornya? Gila ya keluarga Darmawan?!"
"Pantas saja acaranya terkesan buru-buru dan tertutup."
Mendengar gunjingan itu, wajah Sarah berubah merah padam menahan malu yang luar biasa.
"Kirana! Jaga mulutmu! Jangan berani-berani mempermalukan keluarga kami di depan umum!"
"Yang mempermalukan keluarga ini aku atau anak kesayangan Mama yang berniat poligami ilegal sebelum menceraikan istri sahnya?" ucap Kirana menaikkan sebelah alisnya dengan menantang.
Sarah terdiam kaku. Mulutnya menganga. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, wanita sombong itu tak mampu membalas sepatah kata pun.
Siska yang sejak tadi duduk menjaga image anggunnya kini tak bisa lagi menahan kepanikannya. Ia menggenggam lengan Ardy dengan brutal.
"Mas! Gimana ini?! Lakukan sesuatu, Mas! Bantah dia!" desak Siska sambil ketakutan.
Ardy membuang napas kasar. Ia memberanikan diri menatap mata Kirana.
"Rana, dengarkan aku. Beri aku waktu, aku bisa jelaskan semuanya padamu. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan."
Kirana menatap pria itu lekat-lekat, lalu tersenyum sangat tipis.
"Aneh," guman Kirana pelan. "Dulu aku selalu bersujud dan menangis di kakimu, menunggu satu saja penjelasanmu. Dan sekarang, saat kamu memohon ingin menjelaskan kenapa rasanya aku sudah tidak tertarik sama sekali,ya, Mas?"
Kalimat penolakan itu menghantam dada Ardy jauh lebih keras dan menyakitkan daripada sebuah tamparan fisik.
Melihat kekacauan yang tak terselamatkan, sang penghulu menggeleng pelan lalu menutup buku nikah di hadapannya dan mulai membereskan berkas-berkasnya.
"Maaf, Pak Ardy, Bu Sarah. Sebelum ada putusan cerai yang sah dari pengadilan agama atau surat persetujuan resmi dari istri pertama, saya sama sekali tidak bisa melanjutkan akad ini. Ini melanggar hukum."
Keputusan mutlak penghulu itu membuat wajah Siska seketika pucat pasi seperti mayat.
"Apa maksudnya?! Nggak bisa! Akad ini nggak boleh dibatalkan!"
Siska berdiri sambil menangis histeris. Ia berusaha mengikis jarak, berniat menjambak Kirana, namun tubuhnya ditahan oleh saksi keluarga.
"Aku nggak mau gagal nikah! Aku harus jadi istri mas Ardy hari ini juga!"
Sarah ikut panik dan memohon, "Pak Penghulu! Tolonglah! Pasti ada jalan lain! Kami berani bayar dua kali lipat, asal mereka disahkan hari ini!"
Penghulu itu menatap Sarah dengan tatapan tersinggung.
"Saya bukan petugas yang bisa disuap, Bu. Permisi. Assalamualaikum." Pria berpeci itu langsung beranjak pergi meninggalkan ruangan, mengabaikan teriakan Sarah.
Di tengah batalnya acara itu, Kirana justru terlihat paling tenang. Ia menunduk, memungut sebuah kotak kecil berisi suvenir pernikahan mewah yang tadi tak sengaja tersenggol dan terjatuh di lantai karpet.
Ia memandang kotak itu selama beberapa detik, mengusap debu di atasnya, lalu berjalan santai menghampiri Siska yang masih terisak hebat.
"Sayang sekali, aku yakin kamu sudah tidak sabar dan sudah latihan gaya untuk menjadi nyonya besar di rumah ini kan, Siska?" bisik Kirana dengan kasihan.
Siska menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah. Ia menatap Kirana dengan penuh kebencian.
"Mbak Kirana kamu jahat! Kamu sengaja kan datang di detik terakhir buat bikin aku malu?! Padahal mama Sarah yang meminta kami menikah! Ini bukan salahku!"
"Sengaja? Wah, lucu sekali jalan pikiranmu."
Kirana mencondongkan wajahnya ke telinga Siska, lalu berbisik.
"Aku hanya warga negara yang taat hukum, Siska. Aku datang untuk menghentikan pelanggaran. Lagipula, bukankah maling memang harus ditangkap tepat saat dia sedang beraksi?"
Siska tersentak mundur, tak sanggup membalas tatapan membunuh dari Kirana. Melihat calon menantunya diserang mental, Sarah menunjuk wajah Kirana dengan tangan gemetar sehebat-hebatnya.
mau lihat gimana si siska setelah ardy bangkrut dan pasti itu bukan anaknya ardy