Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.
Tapi Nana tahu yang sebenarnya.
Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.
Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.
*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34
Keesokan paginya, Nana melapor kepada Irwan sebelum pergi.
Itu aturan baru. Bukan minta izin seperti tamu rumah, bukan kabur seperti anak pasar. Ia menyebut tujuan, jam berangkat, siapa yang menjemput, dan rute pulang. Irwan mencatat tanpa komentar panjang.
"Daniel Tjang?" tanyanya.
"Iya."
"Loki ikut?"
"Seharusnya."
"Ponsel darurat dibawa. Earpiece tidak perlu dipakai kecuali aku hubungi. Jangan pindah mobil."
Nana mengangguk.
Irwan menatapnya sebentar. "Tuan Steven tahu?"
Pertanyaan itu membuat tangan Nana berhenti di tali tas.
"Aku tidak tahu."
"Itu bukan jawaban."
"Kalau dia perlu tahu, Pak Irwan bisa memberi tahu."
Irwan hampir tersenyum. Hampir. "Kau belajar cepat dari orang-orang menyebalkan."
Mobil Daniel menunggu di luar gerbang, seperti biasa tidak masuk. Loki duduk di depan. Daniel sendiri berdiri di samping pintu belakang, mengenakan kemeja biru muda dan wajah santai yang terlalu rapi untuk seseorang yang mengajak orang melihat rumah yang pernah dirampas dari keluarganya.
"Pagi, murid pintu kecil."
"Jangan mulai."
"Baik. Pagi, anggota Tim Lilin baru."
Nana berhenti. "Siapa yang bilang?"
"Semua orang yang bisa membaca wajah Irwan."
Loki berkata datar dari kursi depan, "Tuan Daniel menebak sejak semalam."
"Pengkhianat," kata Daniel ringan.
"Saya hanya meluruskan."
Nana masuk ke mobil. "Ke mana tepatnya?"
Daniel duduk di sampingnya. "Rumah yang dulu punya nama Tjang di pintu. Sekarang tidak ada nama. Biasanya begitulah cara dunia pura-pura bersih."
Perjalanan tidak terlalu jauh, tetapi terasa memasuki waktu lain. Mereka melewati jalan yang lebih tua, rumah-rumah besar yang pagarnya tinggi, dan pohon-pohon yang akarnya membuat trotoar retak. Mobil berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai dengan cat putih kusam. Pagarnya sudah diganti. Papan kecil di depan menyebut properti itu milik sebuah perusahaan pengelola aset, bukan Tjang.
Daniel tidak langsung turun.
Nana memperhatikan tangannya. Jari-jarinya diam di atas lutut, terlalu diam.
"Kau tidak harus masuk," kata Nana.
Daniel menoleh dengan senyum cepat. "Kalimat itu seharusnya bagi orang yang punya pilihan."
"Kau punya."
"Tidak untuk tempat seperti ini."
Ia turun.
Halaman rumah itu luas, tapi kosong. Tidak ada pot bunga, tidak ada kursi, tidak ada tanda keluarga pernah tertawa di sana. Hanya rumput yang dipotong terlalu pendek dan jendela-jendela tertutup tirai abu-abu.
Seorang penjaga properti membuka pintu setelah Daniel menunjukkan surat izin. Lelaki itu tidak banyak bicara. Mungkin karena Loki berdiri di belakang Daniel dengan wajah yang membuat orang tidak ingin bertanya.
Di dalam, udara berbau debu dan kapur barus. Lantai marmernya masih bagus, tetapi dingin. Ruang tamu kosong. Di dinding ada bekas warna lebih terang, bentuk persegi besar, tempat lukisan atau foto keluarga pernah tergantung.
Daniel menunjuk dinding itu. "Dulu ada foto keluarga di sana. Papa berdiri terlalu kaku. Mama selalu bilang dia tampak seperti pengawas ujian."
Suaranya ringan.
Terlalu ringan.
Nana melihat bekas persegi itu dan membayangkan foto yang sudah hilang. Orang kaya juga bisa ditinggalkan bekas debu di dinding, ternyata.
"Kau tinggal di sini sampai umur berapa?"
"Sampai dunia memutuskan Tjang bukan nama yang pantas dipasang di pintu."
Daniel berjalan ke ruang makan. Meja besar sudah tidak ada, tapi lampu gantung masih tersisa. Salah satu kacanya retak.
"Di sini pertama kali aku belajar orang dewasa bisa tersenyum sambil menghitung utang orang lain," katanya. "Setiap Imlek, meja ini penuh. Orang-orang datang membawa jeruk, kue keranjang, amplop merah. Mereka memanggil Papa saudara. Setelah laporan itu keluar, mereka datang membawa pengacara."
Nana tidak menyela.
"Laporan palsu itu soal proyek pelabuhan?" tanyanya setelah beberapa saat.
"Sebagian." Daniel menyentuh punggung kursi yang sudah bukan kursi, hanya bekas goresan di lantai tempat kursi dulu ditarik. "Ada tuduhan dana dipindahkan ke rekening luar. Ada tanda tangan direktur yang katanya menyetujui. Ada jaminan bank yang tiba-tiba hilang. Semuanya rapi. Terlalu rapi."
Nana teringat tanda tangan di file Patrick. "Terlalu rapi berarti seseorang menyiapkannya untuk dibaca."
Daniel menatapnya.
Kali ini, senyumnya tidak muncul.
"Pak Shen mengajarimu kalimat itu?"
"Hidup mengajarinya. Pak Shen memberi nama."
Daniel tertawa kecil, tapi cepat hilang.
Mereka naik ke lantai dua. Anak tangga kayu berderit pelan. Daniel berhenti di depan sebuah kamar kosong. Tidak ada ranjang, tidak ada lemari. Hanya garis-garis di dinding, bekas stiker yang dicabut kasar.
"Kamarku."
Nana berdiri di ambang.
"Boleh masuk?"
"Kau sudah masuk ke ruang bawah keluarga Sie. Kamar kosong ini tidak akan menggigit."
Namun Nana tetap menunggu sampai Daniel mengangguk.
Di dekat jendela, ada bekas goresan kecil di kusen. Angka-angka tinggi badan. Beberapa masih bisa dibaca, meski cat baru mencoba menutupinya.
Daniel menyentuh angka tertinggi. "Ini terakhir sebelum semuanya diambil."
"Berapa umurmu?"
"Cukup muda untuk percaya orang dewasa akan memperbaiki kesalahan. Cukup tua untuk mengingat saat mereka tidak melakukannya."
Nana menatap goresan itu.
"Apa yang terjadi setelah laporan keluar?"
Daniel menarik tangannya dari kusen. "Bank menarik fasilitas. Vendor menuntut pembayaran lebih cepat. Media memakai kata skandal sebelum pengadilan memutuskan apa pun. Teman keluarga menghilang. Orang yang dulu makan di ruang makan bawah berkata mereka tidak pernah dekat dengan kami."
Kata-katanya tidak keras. Justru karena itu, Nana merasakan luka lama di bawahnya.
"Dan keluargamu?"
Daniel berjalan ke jendela, melihat halaman kosong. "Papa mencoba membuktikan bahwa tanda tangan itu palsu. Mama mencoba menjual perhiasan sebelum semua disita. Aku mencoba menjadi anak baik yang tidak membuat mereka semakin lelah."
Ia tersenyum, sangat tipis. "Kami bertiga gagal dengan cara masing-masing."
Nana merasa dadanya sakit.
Daniel berbalik sebelum rasa itu sempat menjadi kasihan.
"Jangan lihat aku seperti itu."
"Seperti apa?"
"Seperti orang ingin berkata aku tidak salah."
"Kau memang tidak salah."
"Itu kalimat yang datang terlambat bertahun-tahun."
Nana tidak punya jawaban.
Daniel membuka laci kecil yang tertinggal menempel di dinding. Kosong, kecuali satu koin tua yang kusam. Ia mengambilnya, melempar ke udara, menangkapnya, lalu menatap telapak tangannya.
"Dulu aku menyimpan koin di sini. Untuk kabur beli es krim kalau orang dewasa terlalu membosankan."
"Sekarang?"
"Sekarang aku membeli utang orang dewasa supaya mereka berhenti berbohong."
Koin itu masuk ke sakunya.
Di lantai bawah, suara Loki memanggil, "Tuan Daniel, waktunya."
Daniel tidak menjawab.
Ia menatap kamar kosong itu sekali lagi.
"Di rumah ini aku belajar bahwa orang kaya bisa menjadi yatim dalam satu malam, bahkan sebelum orang tuanya benar-benar pergi."
Nana berdiri di sampingnya, mendengar kalimat itu jatuh di lantai kamar kosong.
Untuk pertama kalinya, ia melihat Daniel bukan sebagai pria yang selalu punya harga untuk semua hal.
Ia melihat anak laki-laki yang pernah menunggu orang dewasa memperbaiki dunia, lalu menyadari tidak ada yang datang.