NovelToon NovelToon
Dia Tak Lagi Membujuknya

Dia Tak Lagi Membujuknya

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Keiko Hartono punya rahasia.

Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.

Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.

Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.

Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.

Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.

Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.

"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."

Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4 - Catatan dan Obat Maag

Keesokan paginya, Keiko datang ke sekolah dengan botol air hangat di dalam tas.

Bu Tuti yang memaksanya membawa itu. Sebelum mobil berhenti di depan gerbang SMA Bina Bangsa, perempuan itu masih menoleh dari kursi pengemudi, matanya penuh kekhawatiran yang tidak pernah bisa disembunyikan.

"Kalau perutnya sakit, jangan ditahan, Nduk."

Keiko mengangguk. "Iya, Bu."

"Kalau mual, telepon Bu Tuti."

"Iya."

"Kalau gurunya tanya, bilang sakit maag aja. Jangan sok kuat."

Keiko tersenyum kecil. "Iya, Bu Tuti."

Tiga kali `iya` biasanya cukup untuk membuat Bu Tuti berhenti mengomel. Pagi itu tidak. Bu Tuti masih menggenggam tangannya sebentar, ibu jari perempuan itu mengusap punggung tangan Keiko yang terasa dingin.

"Hari ini jangan berani-berani cuma makan dua sendok."

Keiko menatap wajahnya. Di luar jendela, murid-murid lain berjalan masuk sambil tertawa, membawa bekal, buku, dan hidup yang tampak begitu ringan.

"Aku coba."

Bu Tuti menghela napas. "Itu bukan jawaban yang bagus."

"Tapi jujur."

Akhirnya Bu Tuti melepaskan tangannya, meski jelas tidak rela.

Di kelas, kursi sebelah Keiko masih kosong ketika dia tiba. Meja Kelvin tampak lebih rapi daripada meja murid laki-laki lain, hanya ada buku tulis hitam dan pulpen yang sama. Keiko duduk, mengeluarkan buku catatan, lalu meletakkan botol air hangat di sudut meja.

Lima menit sebelum bel, Kelvin masuk.

Kelas yang tadinya ribut langsung turun beberapa nada. Beberapa murid menoleh, cepat-cepat pura-pura tidak melihat ketika Kelvin menyapu ruangan dengan tatapan malas.

Keiko ikut menoleh.

Luka di buku jarinya sudah ditempeli plester kecil. Entah siapa yang memasangnya. Atau mungkin dia memasang sendiri, asal-asalan, karena ujung plesternya sedikit terangkat.

Kelvin duduk tanpa menyapa. Namun setelah beberapa detik, matanya turun ke botol air hangat di meja Keiko.

"Kamu sakit?"

Keiko hampir menjawab otomatis.

Nggak apa-apa.

Namun suara Bu Tuti pagi tadi masih terngiang. Jangan sok kuat.

"Sedikit tidak enak badan."

Kelvin menatapnya sebentar. "Kalau sakit, pulang."

"Kalau semua murid yang sedikit sakit langsung pulang, kelas bisa kosong."

Kelvin memalingkan wajah ke jendela. "Terserah."

Tetapi lima menit kemudian, saat Pak Surya masuk untuk pelajaran kimia, Kelvin menggeser kursinya sedikit ke samping. Gerakannya membuat Keiko punya ruang lebih lega, tidak terjepit di antara meja dan dinding.

Keiko memperhatikan, tetapi tidak mengatakan apa pun.

Pelajaran kimia dimulai dengan rumus yang ditulis cepat di papan tulis. Pak Surya bicara sambil menulis, kapur bergerak begitu lancar sampai bunyinya seperti gerimis tipis. Keiko biasanya bisa mengikuti. Dia bahkan suka saat angka dan huruf tersusun rapi, seolah dunia punya aturan yang bisa dipahami.

Masalahnya, Fajar duduk tepat di depannya.

Fajar tinggi. Punggungnya lebar. Rambutnya yang agak mengembang membuat setengah papan tulis hilang dari pandangan Keiko setiap kali dia bergerak.

Keiko miring ke kiri.

Fajar ikut miring karena meminjam penghapus ke Putri.

Keiko kembali ke kanan.

Fajar membungkuk ke kanan untuk mengambil pulpen yang jatuh.

Di sebelahnya, Kelvin mengamati semua itu dalam diam.

Beberapa menit kemudian, sebuah sobekan kertas kecil bergeser ke atas buku catatan Keiko.

Tulisan di atasnya miring, tidak terlalu rapi, tetapi mudah dibaca.

`Mau tukar tempat?`

Keiko menoleh.

Kelvin masih menatap papan, seolah kertas itu muncul sendiri dari udara.

Keiko mengambil pulpen, menulis di bawahnya.

`Tidak usah. Nanti Pak Surya marah.`

Kertas itu kembali ke meja Kelvin.

Dia membacanya, lalu menulis lagi.

`Kalau kamu terus miring begitu, lehermu duluan yang marah.`

Keiko menahan senyum.

Sayangnya, Pak Surya melihat.

"Kelvin."

Suara Pak Surya langsung membuat beberapa kepala menoleh.

Kelvin mengangkat mata.

"Kertas apa itu?"

Keiko cepat-cepat menutup sobekan kertas dengan telapak tangan, tetapi sudah terlambat. Pak Surya berjalan mendekat, mengambil kertas itu, lalu membaca isinya.

Kening guru kimia itu berkerut. "Saya sedang menjelaskan, kamu malah mengajak teman sebangku tukar tempat?"

"Dia nggak kelihatan papan," jawab Kelvin datar.

Pak Surya menatap Fajar, lalu Keiko. "Keiko, benar?"

Keiko berdiri sedikit dari kursinya. "Benar, Pak. Saya yang kesulitan melihat. Kelvin hanya..."

"Tapi caranya tetap salah," potong Pak Surya, meski nadanya tidak setajam guru Bahasa Inggris kemarin. "Kalau ada masalah, bilang guru, bukan kirim-kiriman catatan."

Fajar yang baru sadar tubuhnya jadi sumber masalah langsung menoleh dengan wajah bersalah. "Maaf, Pak. Maaf, Keiko. Gue duduk lebih rendah deh."

Beberapa murid tertawa.

Pak Surya mengetuk meja. "Tidak perlu drama. Fajar, geser sedikit. Kelvin, simpan kertasnya. Keiko, kalau tidak terlihat, langsung bilang."

"Baik, Pak," jawab Keiko.

Kelvin mengambil sobekan kertas itu dari tangan Pak Surya. Ketika duduk, dia melirik Keiko.

"Sudah kubilang tukar tempat."

"Nanti kamu yang tidak kelihatan."

"Aku nggak pernah kelihatan juga tetap hidup."

Keiko tidak tahu harus menjawab apa. Kalimat itu terdengar seperti candaan, tetapi cara Kelvin mengatakannya terlalu datar, seolah dia memang terbiasa berada di tempat yang tidak diperhatikan orang.

Pelajaran berlanjut.

Menjelang siang, udara kelas mulai terasa pengap. Keiko membuka botol air hangat dan menyesap sedikit. Rasa perih di perutnya belum hilang, tapi masih bisa ditahan.

Yang tidak bisa ditahan justru suara kecil dari sebelahnya.

Kelvin menunduk, satu tangan menekan bagian atas perutnya.

Gerakannya cepat. Hampir tidak terlihat. Kalau Keiko tidak sedang menoleh untuk mengambil penghapus, dia mungkin melewatkannya.

"Kamu sakit?" tanyanya pelan.

Kelvin langsung melepaskan tangan dari perutnya. "Nggak."

Keiko menatap wajahnya. Warna bibir Kelvin sedikit lebih pucat daripada pagi tadi.

"Maag?"

Kelvin diam sebentar. "Biasa."

Kata `biasa` keluar terlalu mudah. Seperti orang yang sudah berkali-kali mengatakan hal itu untuk menutup pintu.

Keiko merogoh tasnya, membuka kantong kecil berwarna ungu muda. Di dalamnya ada beberapa strip obat yang dipisahkan rapi oleh Bu Tuti. Obat utama tidak mungkin dia berikan. Tetapi ada antasida kunyah yang memang sering dipakai untuk meredakan asam lambung.

Dia mengeluarkan satu, meletakkannya di atas meja Kelvin.

"Ini untuk maag. Dikunyah setelah makan. Kamu sudah makan?"

Kelvin menatap obat itu, lalu menatap Keiko.

"Kamu bawa obat maag ke sekolah?"

Keiko mengangguk. "Aku sering sakit perut."

Kalimat itu benar.

Hanya tidak lengkap.

"Aku nggak butuh," kata Kelvin.

Perutnya memilih saat itu untuk membantah. Wajah Kelvin menegang sedikit, sangat cepat, tetapi cukup jelas bagi Keiko.

Keiko mendorong obat itu lebih dekat. "Kalau tidak butuh, simpan saja. Kalau butuh, minum."

"Kamu selalu begini?"

"Begini bagaimana?"

"Nolong orang yang baru kamu kenal."

Keiko menunduk, menata kembali kantong obatnya. "Kamu juga meminjamkan buku padaku kemarin."

"Itu beda."

"Kenapa beda?"

Kelvin tidak menjawab.

Bel istirahat berbunyi. Murid-murid langsung bangkit, membuat kelas kembali penuh suara. Fajar menoleh dari depan, masih merasa bersalah.

"Keiko, nanti kalau gue nutupin papan lagi, tepuk aja kursi gue, ya."

Keiko tersenyum. "Iya. Terima kasih."

Fajar pergi bersama Putri. Kelas perlahan kosong. Kelvin masih duduk, menatap antasida di mejanya seperti benda itu lebih rumit daripada rumus kimia Pak Surya.

Keiko berdiri. "Aku ke kantin sebentar."

"Kamu makan?"

Pertanyaan itu keluar begitu cepat sampai mereka berdua sama-sama diam.

Kelvin memalingkan wajah duluan. "Maksudku, tadi kamu bilang sakit perut."

"Aku akan beli roti."

"Jangan roti pedas."

Keiko hampir tertawa. "Roti biasanya tidak pedas."

"Di kantin ini, apa pun bisa dibuat pedas."

Kali ini Keiko benar-benar tersenyum.

Saat dia melangkah ke pintu, dari sudut mata dia melihat Kelvin akhirnya membuka bungkus obat itu. Cowok itu memasukkannya ke mulut, mengunyah dengan wajah seolah sedang kalah debat.

Keiko berhenti sejenak di ambang pintu.

Ada sesuatu yang aneh menusuk dadanya.

Dia memberikan obat maag pada cowok yang hanya sakit maag biasa.

Sementara di kantong ungu muda dalam tasnya, obat-obat lain tersusun rapi untuk tubuh yang sudah tidak bisa disembuhkan hanya dengan satu tablet kecil.

Kelvin menoleh, menyadari dia belum pergi.

"Kenapa?"

Keiko menggeleng pelan.

"Nggak apa-apa."

Lalu dia berjalan keluar kelas, membawa rasa pahit yang bahkan tidak berasal dari obat di lidahnya.

1
Yani
yuk lanjut crita nya yuk Thorr 🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!