Bunga Lestari bukan siapa-siapa.
Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.
Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.
Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.
"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.
Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?
🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 003
Perjanjian
"Selamat datang di dunia orang lapar, Tuan."
Bunga mengucapkannya sambil mengaduk sisa sambal di atas kertas minyak. Ia berniat mengejek, tetapi suara itu tidak langsung membalas. Diamnya Tuan Misterius kali ini berbeda. Bukan diam sombong, melainkan seperti orang yang baru menemukan jendela di ruang yang terlalu lama terkunci.
Angin malam membawa bau asap sate dari ujung jalan. Mobil lewat tanpa peduli pada gadis berkaus lusuh yang duduk di trotoar dengan kepala diperban seadanya. Jakarta memang begitu. Kota ini bisa menelan orang tanpa sendawa.
"Kamu selalu makan seperti ini?" tanya Tuan Misterius akhirnya.
"Kalau lagi kaya, pakai kerupuk."
"Itu bukan jawaban serius."
"Itu jawaban paling serius dari orang yang tadi bayar makan pakai anting imitasi."
Bunga melipat kertas nasi, lalu menyelipkannya ke kantong plastik warung. Nenek Ratna dulu selalu bilang, miskin bukan alasan meninggalkan sampah sembarangan. Tangan Bunga bergerak otomatis, seolah omelan Nenek masih berdiri di belakangnya.
Perasaan itu menusuk sedikit.
Tuan Misterius menangkap perubahan napasnya. "Kamu kesakitan?"
"Kepala gue dijahit, Tuan. Masa geli?"
"Bukan itu."
Bunga terdiam. Ia tidak suka laki-laki ini terlalu cepat membaca sela-sela. Di dalam kepala sendiri saja rasanya ia tidak punya tempat bersembunyi.
"Dengar," katanya sambil berdiri pelan. "Kita harus bikin aturan."
"Saya setuju."
"Pertama, jangan komentar setiap kali gue makan."
"Sulit, tapi akan saya usahakan."
"Kedua, jangan lihat kalau gue mandi, ganti baju, atau apa pun yang normalnya orang sopan gak lihat."
"Saya sudah mengatakan akan menjaga batas."
"Ketiga, kalau lu tahu cara keluar dari kepala gue, lakukan."
Hening.
Bunga mengangkat alis. "Nah. Masalahnya di situ, kan?"
"Saya belum tahu caranya."
"Berarti kita sama-sama sial."
"Tidak sepenuhnya." Nada Tuan Misterius kembali rapi. "Kamu butuh bantuan. Saya juga."
Bunga berjalan menjauh dari warung. Kakinya masih sedikit goyah, tetapi ia menolak duduk lagi. Kalau duduk terlalu lama, tubuhnya akan sadar bahwa ia hampir mati malam ini.
"Bantuan apa yang lu punya? Dompet aja gak ada."
"Pengetahuan."
"Pengetahuan gak bisa buat bayar kos."
"Bisa, kalau digunakan benar."
Bunga tertawa pendek. "Orang kaya kalau ngomong memang suka begitu. Uang mereka berubah nama jadi pengetahuan, jaringan, peluang. Di bawah sini namanya tetap nasi dan kontrakan."
"Maka katakan apa yang kamu inginkan."
Langkah Bunga berhenti.
Pertanyaan itu terlalu besar untuk trotoar sempit dan perban murahan di kepalanya. Apa yang ia inginkan? Makan cukup? Tidur di kamar yang pintunya bisa dikunci? Ponsel baru? Tidak dikejar satpam mal karena bajunya lusuh?
Tidak.
Semua itu hanya kulit.
Yang ia inginkan berdiri jauh lebih tinggi, di balik gedung kaca, mobil hitam, meja VIP, dan senyum orang-orang seperti Hartono.
"Gue mau masuk ke dunia mereka," kata Bunga pelan.
"Mereka?"
"Orang-orang di ballroom tadi. Yang sekali buang makanan bisa buat gue makan seminggu. Yang kalau ngomong semua orang diam. Yang kalau salah, ada pengacara. Kalau jahat, ada acara amal buat cuci muka."
Tuan Misterius diam, tetapi Bunga tahu ia mendengarkan.
"Gue mau belajar cara mereka berdiri, cara mereka bicara, cara mereka bohong. Gue mau ada di ruangan yang sama dengan mereka tanpa diusir."
"Untuk apa?"
Bunga menatap pantulan dirinya di kaca minimarket yang sudah tutup. Kausnya kusut, perbannya miring, sendal jepitnya beda warna karena satu tertukar di rumah sakit. Ia tampak seperti lelucon yang tersesat di Jakarta.
Namun matanya tidak bercanda.
"Untuk mendekati Hartono Prakoso."
Nama itu membuat udara di dalam kepalanya berubah. Bunga merasakan dingin yang bukan miliknya, tajam dan tertahan. Tuan Misterius mengenal nama itu. Bukan sekadar tahu, tetapi benci.
"Apa hubunganmu dengan Hartono?" tanyanya.
Bunga menutup mata sebentar.
Desa Kemuning muncul seperti luka lama yang ditekan. Jalan tanah setelah hujan. Bau daun basah. Suara Nenek Ratna menghitung gerakan pencak silat di halaman. Tangan tua itu keras saat membetulkan posisi kuda-kuda Bunga, tetapi selalu hangat saat menyodorkan makan.
Bunga bukan lahir dari keluarga. Ia ditemukan, dibesarkan, dimarahi, dilatih, dan dicintai oleh seorang perempuan tua yang semua orang panggil Nenek Ratna.
"Dia membunuh orang yang membesarkan gue," kata Bunga.
Tidak ada tawa dalam suaranya sekarang.
"Nenek Ratna bukan nenek kandung, tapi dia satu-satunya keluarga gue. Di Desa Kemuning, dia ngajarin gue silat, ngajarin baca, ngajarin jangan takut sama orang yang pakai sepatu mahal. Lalu orang-orang Hartono datang. Katanya tanah desa masuk proyek tambang. Katanya kami harus pergi."
Tangannya mengepal di sisi tubuh.
"Nenek menolak. Banyak orang menolak. Setelah itu rumah-rumah dibakar, beberapa orang hilang, dan Nenek..." Bunga berhenti. Rahangnya mengeras. "Gue cuma sempat lihat tubuhnya di lantai rumah, dengan darah di dekat mulutnya."
Untuk pertama kalinya sejak mereka berbagi kepala, Tuan Misterius tidak menyela dengan logika.
"Gue lari dari Desa Kemuning ke Jakarta," lanjut Bunga. "Gue jadi apa aja. Cuci piring, angkat galon, tidur di emperan, masuk acara orang kaya buat curi makanan. Semua supaya gue bisa tetap hidup sampai punya kesempatan."
"Kesempatan untuk membunuh Hartono?"
Bunga membuka mata. "Kalau bisa."
"Itu bukan rencana. Itu bunuh diri yang diberi nama dendam."
"Lu pikir gue gak tahu?"
"Kalau kamu tahu, kamu seharusnya mencari cara lain."
"Makanya gue butuh masuk ke dunia mereka." Bunga menepuk dadanya sendiri. "Gue punya badan, nyali, dan dendam. Tapi gue gak punya peta."
Tuan Misterius menjawab lebih pelan, "Saya punya peta."
Bunga menunggu.
"Saya juga ingin menjatuhkan Hartono Prakoso."
Kali ini Bunga yang diam.
Sebuah motor lewat terlalu dekat, membuat ujung bajunya berkibar. Ia tidak bergerak. Di dalam kepalanya, kebencian Tuan Misterius terasa seperti baja tipis yang disimpan lama di bawah kain beludru.
"Kenapa?" tanya Bunga.
"Karena dia membangun kerajaan dari tambang ilegal, pembunuhan, pengusiran, dan uang kotor. Karena hukum selalu berhenti satu langkah sebelum menyentuhnya. Karena malam ini saya hampir berhasil membuka buktinya di depan publik."
"Flashdisk itu."
"Ya."
"Berarti lu bukan cuma cowok jas mahal yang apes."
"Deskripsi itu tetap akurat, tetapi tidak lengkap."
Bunga hampir tersenyum, lalu menahannya. "Jadi apa mau lu?"
"Bantu saya bergerak. Tubuh saya tidak bisa saya pakai sekarang. Saya tidak tahu di mana kondisi fisik saya, tetapi selama saya berada di dalam kesadaranmu, saya perlu mata, telinga, dan tangan."
"Tangan gue mahal."
"Saya bisa membayarnya."
"Katanya gak punya dompet."
"Saya punya akses, jaringan, dan pengetahuan tentang cara kerja orang-orang yang ingin kamu masuki."
Bunga mengangkat satu jari. "Syarat gue pertama, lu bantu gue masuk ke lingkaran elite Jakarta."
"Bisa."
"Jangan gampang banget jawabnya. Gue ini cuma cewek kampung dengan baju jelek dan logat medok."
"Justru itu bisa digunakan."
"Digunakan gimana?"
"Kejujuran yang diarahkan dengan benar terlihat seperti keberanian. Kekurangan yang diberi cerita tepat bisa berubah menjadi daya tarik."
Bunga menatap kosong beberapa detik. "Tuan, kalau lu lagi jual seminar motivasi, gue pulang."
"Saya sedang menyusun strategi."
"Syarat kedua," Bunga melanjutkan. "Lu gak boleh mengambil alih badan gue tanpa izin."
Tuan Misterius hening sesaat. "Saya bahkan belum tahu apakah itu mungkin."
"Kalau nanti mungkin, ingat dari sekarang. Ini badan gue."
"Saya setuju."
"Syarat ketiga, jangan bohong soal Hartono."
"Kamu juga."
Bunga mengulurkan tangan ke udara kosong. "Deal?"
"Kamu sadar saya tidak bisa menjabat tanganmu?"
"Simbolis, Tuan. Orang miskin juga ngerti simbol."
Untuk beberapa detik, tidak ada apa-apa. Lalu Bunga merasakan sesuatu yang aneh, bukan sentuhan, tetapi kesadaran lain yang mendekat pelan, seperti seseorang berdiri tepat di sampingnya tanpa mengambil ruang.
"Deal," kata Tuan Misterius.
Bunga menurunkan tangan. "Oke. Sekarang gimana caranya gue masuk dunia mereka?"
"Ada sebuah socialite gathering tiga hari lagi. Tamu utamanya Baskara Prawira."
"Siapa lagi itu?"
"Keponakan Hartono. Pewaris Keluarga Prawira. Akses yang lebih halus menuju pamannya."
Bunga langsung tegak. Rasa sakit di kepalanya seperti lupa hadir. "Lu bisa masukin gue ke sana?"
"Sebagai plus one, mungkin."
"Plus one siapa?"
"Itu yang perlu kita atur."
Bunga menatap bayangannya lagi di kaca minimarket. Kaus lusuh, celana kusut, sendal jepit, rambut berantakan, perban di kepala.
Tuan Misterius juga melihatnya melalui mata yang sama.
Diam mereka kali ini kompak.
Akhirnya Bunga menunjuk dirinya sendiri. "Dengan tampilan begini?"
Suara Tuan Misterius terdengar sangat datar.
"Ya. Itu masalah pertama kita."