Apakah kembali ke rimba bersama perempuan masa laluku menyenangkan ?
Jika bukan karena uang yang sedang kubutuhkan, Aku memilih untuk tak akan kembali ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Faksi Yang Terlibat Diplomasi Rimba
Menunggu balasan surat dari Mapenduma, semalaman Aku berbicara banyak dengan Kelly di honai Purua. Selain dua pengawalnya, Rey dan Yakob ikut bergabung bersamaku.
Topik pembicaraan tentu saja tak jauh dari apa yang sedang terjadi di kampung sekitar distrik Tiom.
"Sebagian kitorang lepas sudah," kata Kelly menjawab keberadaan para peneliti yang sempat kutanyakan nasibnya.
Tentang keberadaan dirinya di Purua juga disinggungnya. Dia sedikit menceritakan isi surat yang dikirimnya ke Mapenduma. Pada pokoknya Kelly menyerahkan urusan para peneliti kepada Daniel dan wakilnya Silas jika tuntutannya dipenuhi.
Selama tuntutan itu belum dipenuhi, dia berpesan untuk tetap menahan mereka.
Dia juga mengatakan negosiasi dengan tokoh agama dianggapnya sudah selesai, dan meminta negosiasi selanjutnya adalah melalui pihak Palang Merah Internasional.
"Kitorang berbeda prinsip !" Tegas Kelly saat menyinggung awal perdebatan sengitnya dengan Mgr. Herman Ferdinand Marie Munninghoff, Uskup Jayapura sekaligus gurunya dulu yang mengakibatkan perundingan gagal.
Tanpa sepengetahuan dirinya, Daniel yang lebih lunak, kata Kelly melakukan kontak dengan keuskupan Jayapura untuk melakukan perundingan.
Rabu, 17 Januari 1996, sebuah heli jenis Bell milik perusahaan penerbangan Airfast mendarat di Mapenduma untuk memasok logistik berupa selimut, makanan, minuman, rokok, dan obat-obatan bersamaan dengan kedatangan pertama tokoh agama seperti yang diminta Daniel.
Di mata Kelly, diplomasi rimba tersebut semakin melunakkan Daniel. Apalagi beberapa sandera kemudian dibebaskan oleh Daniel.
"Sa kecewa, karena sa punya rencana dibalas dengan Tom mati di Jakarta," ungkapnya kesal. "Bagaimana sa mo lepas sandera seperti permintaan bapa Uskup, jika sa punya guru lain dan sa punya kerabat juga mati tanpa sebab jelas ?"
Andai saja Thomas Wanggai tidak meninggal misterius di Jakarta mungkin cerita Mapenduma akan menjadi lain, "Sa pasti akan lepas semua sandera itu." Dia mempertegas rencananya.
Kemarahan Kelly semakin memuncak seperti kemarahan orang Sentani tempat Tom akan dimakamkan di pemakaman tokoh perjuangan Papua, setelah ada kabar kedatangan peti jenazah Tom yang kosong di sana.
Bagi orang Papua, penghormatan jenasah adalah sesuatu yang sakral. Bahkan orang Mee dan Dani masih ada yang memotong ruas jarinya jika ada kerabat dekatnya yang meninggal sebagai tanda penghormatan.
Aparat yang menolak keinginan sekelompok warga yang ingin menyemayamkan jenazah Tom di Kampus Universitas Cendrawasih tempat dia sempat mengajar tentu saja memantik kemarahan masyarakat.
"Sa punya rencana berubah sudah," kata Kelly lagi.
"Jadi itukah sebab bapak masih tahan orang luar di hutan ?" Aku memotong ceritanya.
Tak lekas menjawab seperti kebiasaannya. Kelly mengalihkan perhatianku dengan menyalakan rokok.
***
Tak lama setelah menikmati dua batang rokok, Kelly mengatakan akan membawa para sandera yang tersisa ke Purua setelah dia bertengkar hebat dengan Daniel dan Silas.
Semula Daniel dan Silas bersikeras membawa sandera ke Geselma, sedangkan Kelly menolaknya.
Cerita itu menjawab pertanyaanku tentang peruntukan bahan makanan yang diangkut ke Purua.
Pada pertemuan berikutnya dengan tokoh agama di Mapenduma, Kelly akhirnya datang bernegosiasi langsung dengan mereka untuk menegaskan tuntutannya.
"Sa su minta maaf ke bapak Uskup dan putuskan tak ada lagi pembicaraan dengan dorang," kata Kelly.
Secara jabatan di perjuangan gerilya versi prajurit pembebasan Papua, kedudukan Kelly berbeda dari Daniel dan Silas.
"Betul Kelly dan Daniel sama-sama kombatan gerilya, tetapi keduanya tidak saling tunduk," kata Albert saat kami berdua menikmari kopi di honai Malendik, "Banyaknya pemasok dukungan Papua Merdeka dari luar negeri mempengaruhi strategi keduanya," pungkas Albert kala itu.
Dan sekarang di honai Purua, Kelly tak segan membagi pengetahuannya, yang secara tidak langsung menguatkan pendapat Albert tentang kerapuhan aliansi Papua sebab banyaknya faksi di dalamnya ....
Secara garis besar, Aku menyimpulkan ada tiga faksi kuat di luar negeri. Keberadaan mereka adalah untuk mencari dukungan internasional lewat jalur diplomasi.
Faksi pertama adalah turunan perlawanan Markas Victoria disingkat Marvik pimpinan Seth Roemkorem seorang desersi perwira TNI sekaligus Presiden pertama Papua Barat tahun 1974.
Faksi kedua adalah Pembela Kebenaran disingkat Pemka pimpinan Hendrick Jacob Prai sekaligus Senator Papua Barat tahun 1974.
Faksi ketiga adalah Dewan Revolusi Papua yang dipimpin oleh Moses Weror -seorang mantan pegawai Kemendeplu RI- sejak tahun 1982.
Munculnya faksi-faksi itu terjadi setelah terjadi perselisihan antara Roemkorem dan Prai yang menyebabkan masing-masing prajuritnya terpecah menjadi dua kubu yang mengatasnamakan Tentara Pembebasan Nasional Papua.
Kelly Kwalik sendiri adalah Panglima Daerah dan bentukan KODAP III Nemangkawi untuk wilayah Kabupaten Fak-Fak sayap militer Pemka-nya Prai.
Sedangkan Daniel sepertinya dia lebih condong kepada sayap militer Marvik-nya Roemkorem.
Setelah terjadi peperangan hebat antara kedua kubu militer Marvik dan Pemka di wilayah perbatasan West Papua – Papua New Guinea, tepatnya di kampung Wutung, Prai dan Roemkorem ditangkap oleh tentara Papua New Guinea.
Roemkorem mendapat suaka dan tinggal di Belanda, sementara sang Komandan Pemka Jacob Prai dan sekretarisnya Otto Ondawame meminta suaka dan diterima oleh Pemerintah Sosialis Swedia waktu itu, dan sampai hari ini keduanya berkewarga-negaraan Swedia.
Mengenai Moses Weror, dia lebih condong memperjuangkan kemerdekaan Papua lewat diplomasi dan menolak gerakan bersenjata. Dia menyeberang dan mendapatkan suaka di Papua New Guinea setelah melakukan demo menentang pepera dengan menyuarakan satu suara untuk satu pilihan saat kedatangan Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa Fernando Ortiz Sanz di Jayapura pada 19 April 1969 jelang Pepera Juli-Agustus 1969 di provinsi Irian Barat ketika itu.
"Sa kecewa dengan Palang Merah Internasional pada pertemuan tanggal 10 Maret 1996." Kelly menyinggung hasil pertemuan tim Palang Merah Internasional di Port Moresby selama 2 hari dengan Ketua Dewan Revolusi OPM Moses Weror. "Apa dasar Moses lewat suratnya memerintahkan membebaskan sandera yang belum dilepas," keluhnya.
Dalam suratnya, Moses mengatakan penyanderaan yang telah berlangsung lama sudah mendapat perhatian internasional, dan sudah ada permintaan dari Sekjen PBB Boutros-Boutros Ghali, Paus Johanes Paulus II, Presiden Parlemen Uni Eropa, dan Pimpinan Palang Merah Internasional di Swiss. Selain itu, Moses merasa puas setelah dijanjikan bahwa Palang Merah Internasional akan membuka perwakilan di Irian Jaya.
Menurut Moses, komunike itu dibuat setelah mempertimbangkan saran dari tokoh-tokoh OPM Irian Jaya di luar negeri yang lain.
Menanggapi surat Moses. tanggal 14 Maret 1996, di Port Moresby, Kelly dan Daniel lewat juru bicaranya Simon Allom menyatakan kepada surat kabar setempat akan membunuh para sandera apabila tuntutannya tidak dipenuhi.
Kelly juga menyatakan pihaknya tidak tunduk pada Moses Weror sebagai Ketua Dewan Revolusi OPM. Tuntutannya, agar Jacob Prai -mantan Presiden Dewan OPM-, John Otto Ondowame -wakil OPM di Australia-, Juru bicara pemerintah Papua New Guinea William Jonggonao, dan seorang komandan OPM Bonny Anaia, diikutkan dalam perundingan pelepasan sandera.
Bantahan Kely ini menjadikan upaya pembebasan sandera yang sudah berlangsung hampir tiga bulan seperti dugaanku sejak Aku berada di Geselma menjadi mentah kembali .....
"Tidur sudah Yos, besok ko pigi ke Geselma. Biar sa urus semua dari Purua." Menarik jaket tentaranya, Kelly berbaring telentang melepas kantuknya sekaligus menutup perbincangan kami.
Tak terasa arlojiku sudah menunjukkan hampir jam dua pagi. Aku menyusul berbaring diatas kasur ilalang, mencoba tidur secepatnya sambil berharap besok akan baik-baik saja untuk semuanya.
***
*Kitorang : kita dalam bahasa Papua
*Dorang : mereka dalam bahasa Papua
*Su : sudah dalam bahasa Papua
*Pigi : pergi dalam bahasa Papua.