Spin-of Baby's breath untuk Aretha
Arlo dan Queena sudah bersahabat sejak kecil, sebenarnya di bilang sahabat juga bukan atau lebih tepatnya musuh bebuyutan. Lebih pada Queena adalah sasaran empuk kejahilan dan kenakalan Arlo, si cantik putri dari pasangan Rega dan Rhea tersebut sudah menjadi target keusilan putra Hana dan Leo sedari Queena masih bayi.
“Apa? Mi-mom jangan bercanda, ya!” Arlo terkejut saat mi-mom Hana memberikan usulan untuk menikahkan Arlo dan Queena diusia mereka yang masih muda.
Arlo mengusak rambutnya frustasi, kecerobohannya memanjat balkon kamar Queena membuatnya terjebak dalam situasi yang membuat kedua orang tuanya dan orang tua Queena murka. Dan satu-satunya orang yang harus di salahkan adalah kakak sepupu Arlo yang tidak lain adalag Gavin.
Lalu apa alasan Arlo dan Queena menyembunyikan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 # Para penggemar Arlo
Ketiga mahasiswi bidang mikrobiologi medis tersebut mendongak keatas, mereka menatap pemuda yang baru saja datang dan minta ijin untuk bergabung.
Queena menatap jengah setelah dia tahu siapa yang bertanya.
“Silahkan. Masih ada tempat,” jawab Raya dengan kedua pipi yang sudah merona.
“Terimakasih,” jawab pemuda tersebut yang akhirnya duduk tidak jauh dari mereka bertiga.
Queena dan Intan saling tatap. “Rayemot kenapa tuh, Ueena?” bisiknya kemudian pada Queena.
Queena hanya menggeleng. Namun dia langsung memiringkan wajahnya agar bisa melihat pemuda yang baru saja duduk tersebut. “Bukannya harus jemput princess Cimol?” tanya Queena.
“Sudah di jemput paman Aji. Paling sebentar lagi bocah itu mengoceh,” jawab pemuda tersebut yang tidak lain adalah Enzo sepupu Queena. Enzo memang sedang mendapatkan hukuman dari daddy Axel, selama satu bulan dia harus memenuhi permintaan sang adik yang tidak lain adalah Azura.
“Tidak ikut tanding?” lanjut Queena.
“Sudah ada Arlo,” jawab Enzo. “Jangan bilang kalian kesini buat lihat Arlo,” tebak Enzo.
“Dia,” Queena dan Raya langsung menunjuk kearah Intan.
Intan menoleh bergantian pada Queena dan Raya. “Aa Arlo, semangat!” teriak Intan kemudian. “Aa Arlo pasti menang,” lanjut Intan.
“Bukan teman kita sih ini,” celetuk Raya pada Queena. “Padahal sudah tahu masuk sarang singa betina. Eh! Malah dia teriak,” imbuh Queena.
Semua mata langsung menatap tajam kearah mereka, Queena dan Raya bahkan sampai menyembunyikan wajah mereka di belakang punggung Intan. Sedangkan Enzo sudah tergelak melihat hal tersebut, dia menggeleng.
“Arlo memang luar biasa,” celetuk Enzo. “Arlo!!! Fans mu ada di sebelah sini,” kini Enzo ikut berteriak lebih lantang dari pada Intan.
Bukan hanya Arlo yang menoleh, tapi para fans Arlo ikut menatap tajam kearah tiga mahasiswi cantik yang duduk di dekat Enzo.
Plak
“Malah teriak. Kamu tidak lihat itu, Enzo. Para fansnya Arlo berasa siap nerkam,” Queena menggeplak Enzo, pemuda tersebut justru kembali terbahak. Dia tertawa puas melihat ekspresi Queena dan kedua sahabatanya.
Kasak-kusuk mulai terdengar membicarakan ketiga mahasiswi cantik tersebut.
“Mereka siapa?” tanya salah satu mahasiswi yang duduk tidak jauh dari lapangan.
“Anak Fakultas Ilmu dan Teknologi,” jawab yang lainnya.
“Mereka fans Arlo juga?” Sintia bertanya pada rekan-rekannya.
“Setahuku hanya Intan yang ngefans Arlo. Dua yang lainnya mungkin hanya menemani, Intan. Tapi Ueena, gadis yang pakai hijab blue sea itu teman Arlo dari kecil. Semua fans Arlo tahu,” jawab sahabat Sintia.
Sintia mengangguk. “Bisa sih di manfaatkan untuk dekati Arlo,” gumam Sintia.
Sementara itu pertandingan basket terhenti sejenak gara-gara ulah Enzo, mereka jadi ikut fokus melihat kearah Queena dan dua sahabatnya duduk.
“Tenang, bro. Ciwi-ciwi datang kemari memang bukan untuk melihat petandingan. Tapi untuk melihat Arlo,” Jose menepuk pundak Bagas yang tidak lain wakil Fakultas sebelah.
“Ck … tentu saja mereka datang untuk mendukungku. Kalian saja yang terlalu percaya diri,” jawab Bagas.
Andreas hanya menghela napas, lagi-lagi nama Arlo masuk dalam pembahasan mereka.
Jose terkekeh melihat rasa percaya diri Bagas, sedangkan Indra sudah meledek Arlo. “Fansmu ngeri gi la, bro. Jangan sampai Ueena kena amuk tuh,”
“Queen tidak selemah itu,” jawab Arlo datar, seolah tidak perduli dengan gadis-gadis yang sedang mengelu-elukan dirinya di lapangan.
Permainan kembali berlanjut, suara tepukan dari menonton kembali terdengar saat poin kembali di dapatkan tim Arlo.
Queena akhirnya tetap menemani Intan dan Raya di sana, begitupun dengan Enzo. Sepupu Queena tersebut bahkan punya pasukan dadakan yang tiba-tiba datang.
“Paman di mana?”
“Di parkiran, mas.”
“Lurus saja, nanti ada lapangan basket. Aku tunggu di sana,”
“Oke,”
Enzo memutus sambungan telepon dengan paman Aji, pemuda tersebut berdiri dari tempatnya duduknya. “Titip tempat duduk ya, Ray. Aku balik lagi nanti,” pintanya pada Raya yang duduk di sampingnya.
“Oke,” jawab Raya.
Enzo bergegas pergi untuk menjemput pasukan dadakannya, sudah bisa di pastikan betapa rewelnya pasukan ciliknya itu nanti. Karena Enzo sengaja tidak mau menjemputnya kesekolah.
“Enzo mau kemana, Ray?” Queena melihat sepupunya yang berlalu pergi.
“Kamar mandi, mungkin. Soalnya nitip tidak boleh di tempati orang,” tunjuk Raya pada kursi Enzo.
***
“Ini bocil satu kenapa harus ke mari, sih?” gerutu Enzo.
“Ekhee … apatal palcu ndak boleh lalang-lalang plincess. Daddy bilang, abang haluc tuluti cemua mauna Zula. Ndak boleh nolak,” sahut Azura.
“Ck … ngeri amat kekuatan anak bungsu,” celetuk Enzo.
Siang itu Azura datang ke kampus Enzo, tentu saja paman Aji mengiyakan. Sebenarnya Enzo yang harus menjemput Azura, namun adik Aretha tersebut sedang malas. Karena itu dia minta tolong paman Aji untuk menjemput Azura sang adik, dia kira sang adik bisa di kibuli dengan mengatakan kalau Enzo masih sibuk. Namun nyatanya, Azura tidak mau pulang kalau bukan Enzo yang menjemput. Sampai akhirnya Azura mau pulang bersama paman Aji, asalkan mereka mampir ke kampus sang kakak.
Alhasil, di sinilah Azura sekarang. Enzo menggendong Azura, mereka kembali ke lapangan basket.
“Siapa tuh, bocil?” tunjuk Intan kearah Enzo yang sedang menggendong gadis kecil.
Queena dan Raya menoleh.
“Baby Cimol,” celetuk Queena.
Intan dan Raya melongo. “Namanya persis makanan ya, Ray. Cimol,” Intan terkikik.
“Hush … mana mungkin namanya Cimol, Ntan. Gemesin begitu,” jawab Raya. “Siapa?” tanya Raya saat melihat Queena berdiri.
“Adiknya Enzo,” jawab Queena, gadis itu tersenyum kearah Azura. “Baby Cimolku,” celetuknya.
Kedua sudut bibir Azura melengkung sempurna, membuat gadis kecil tersebut terlihat mempesona. Raya dan Intan saja terpesona pada senyum gadis kecil tersebut. “Kakak Ueena,” ucapnya. “Zula mau cama kaka Ueena,” lanjutnya minta turun dari gendongan Enzo.
“Ck … ketemu bestie langsung lupa sama abang,” sahut Enzo.
“Cuka-cuka plincess lah,” jawab Azura.
Gadis kecil itu duduk di pangkuan Queena. “Zura sudah makan siang belum?” tanya.
Krucuk … krucuk
Azura mendongak. “Eheheh … cudah di jawab cendili cama pelut,” ucapnya sambil menunjuk kearah perut.
“Mau sandwich? Mama Rhea buat sandwich,” bekal makan siang Queena hari itu memang hanya sandwich, sesuai requestnya pada sang mama.
Azura mengangguk. “Pelut cudah kedomblengan, apa caja bica Zula makan. Apatal palcu ndak kacih jajan Zula,” adunya pada Queena.
“Heuh? Aku lagi yang kena,” gumam Enzo.
Raya dan Intan terkekeh mendengar ocehan Azura.
Queena mengeluarkan sandwich dari kotak bekalnya, untung saja tadi tidak dia makan semuanya. Queena memotong sandwich menjadi empat bagian, dengan begitu memudahkan Azura untuk makan.
“Ekhee … abang Allo bandung,” teriak Azura dari bangku penonton.
Arlo menoleh, dia tersenyum sambil melambaikan tangan kearah Azura.
“Aaaa … aa Arlo melambaikan tangan padaku,” Intan menggoyang-goyangkan lengan Raya. “Bukan ke kamu itu, Ntan. Dia melambaikan tangan pada Azura,” ujar Raya.
Azura sampai terkejut karena ulah Intan. “Abang Allo Bandung banak penggemalna,”
Queena tertawa. “Penggemar Azura lebih banyak,” sahut Queena.
Beberapa saat berlalu, pertandingan basket antara Fakultas Teknik dengan Fakultas Ilmu dan Teknologi berakhir. Skor selisih tipis, dan tim Arlo yang keluar sebagai pemenangnya.
Arlo berjalan kearah bangku penonton, banyak dari mereka yang berteriak-teriak. Berharap Arlo menghampiri mereka.
Pluk
Arlo melempar handuk yang dia gunakan untuk menyeka keringat pada Queena.
“Arlo! Jorok tahu,” kesal Queena, dia kembali melemparkan handuk tersebut kembali pada Arlo.
“Wangi ini, Queen. Orang lain saja rebutan kalau aku lempar. Kamu aku kasih gratis, malah tidak mau. Mahal ini,” jawab Arlo.
“Buat aku saja,” Intan dengan memelas minta pada Arlo.
“No! Nanti kamu dukunin,” Arlo kembali melemparkan handuk itu kearah Queena, hal tersebut menjadi perhatian para penggemar Arlo, termasuk Sintia.
Queena hanya bisa berdecak, dia kesal karena Arlo jadi membuat orang-orang memperhatikan Queena. Setelah ini pasti hidupku tidak aman, gara-gara si manusia red flag nih.
“Abang Alo Bandung jolok. Huch … huch, mandi cana. Bau,” Azura menutup hidungnya.
“Bau gak tuh,” ledek Enzo.
“Ck … untung bocil,” sahut Arlo.
Semua terkekeh mendengar celetukan Azura, hanya Azura yang bilang kalau Arlo bau asem. Padahal para mahasiswi di sana terbucin-bucin karena melihat Arlo habis main basket.