✦ JERAT TIGA SISI ✦
"Pilih dengan bijak, Azira Anandya Gunawan. Menikahi CEO pilihan Papahmu, lari ke pelukan sahabat doktermu, atau kembali menjadi milikku seperti dulu?"
Azira terjebak di antara tiga pria yang memiliki cara berbeda untuk mengurungnya.
Sisi Pertama — Baskara Yudistira Prayoga. Pria berjas mahal yang angkuh. Ia memandang Azira sebagai kewajiban kontrak, namun tatapan matanya perlahan mulai menuntut hak yang lebih dari sekadar status.
Sisi Kedua — Farhan Nalendra. Pria berjas putih dengan senyum hangat yang selalu menyembuhkan luka Azira. Sosok yang kini berani melangkah keluar dari friendzone demi melindungiku.
Sisi Ketiga — Gavin Mantiez. Dan yang paling berbahaya... teman masa kecil Azira sekaligus mimpi buruk yang kembali dengan tatapan penuh kepemilikan gila.
Tiga pria, tiga cara mencintai yang ekstrem, dan satu hati milik Azira yang diperebutkan. Siapakah yang akhirnya akan mendampingi AZira di garis akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran dan Sisi Lain dari Sang Serigala Bisnis
Suara tepukan tangan yang lambat dan ritmis yang mendadak itu, seketika membuat mereka menghentikan pelukannya. Farhan dengan sigap langsung menarik tubuh Azira ke belakang punggungnya, memasang posisi protektif.
"Wah, wah... Pemandangan yang luar biasa indah," sebuah suara bariton yang dingin dan sarat akan nada sarkas, terdengar dari balik bayang-bayang pohon palem besar.
"Di dalam rumah, tunanganmu sedang sibuk meladeni para kolega bisnis. Tapi di taman belakang, sang calon pengantin, malah asyik berpelukan dengan pelayan gadungan."
Seorang pria jangkung melangkah keluar dari kegelapan, menuju area yang terkena bias lampu taman.
Setelan jas hitam yang ia kenakan tampak sangat pas di tubuh tegapnya, namun ada aura kelam dan berbahaya yang menguar dari sosoknya.
Azira menyipitkan mata, mencoba mengenali wajah pria itu di bawah cahaya remang. Begitu sepasang mata tajam pria itu menatapnya, napas Azira tercekat.
"Gavin...?" bisiknya tidak percaya. Hati Azira awalnya membuncah senang.
Gavin Manzies adalah teman masa lalunya, bagian dari kenangan masa kecil yang sempat hilang setelah bertahun-tahun, berpisah tanpa kabar.
Namun, rasa senang itu tidak bertahan lama. Detik berikutnya, sebuah rasa takut yang dingin mendadak merayapi tengkuk Azira.
Gavin yang berdiri di hadapannya malam ini terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi binar ramah dari anak laki-laki yang ia kenal dulu. Sorot mata Gavin kini tampak begitu intens, liar, dan penuh kepemilikan yang gila saat menatap Azira.
Senyum tipis yang tersungging di bibir Gavin, bukan senyuman rindu seorang teman lama, melainkan senyuman seorang predator, yang berhasil menemukan kembali mangsa berharganya yang sempat hilang.
Gavin melangkah maju, mengabaikan tatapan waspada dari Farhan yang masih berdiri membentengi Azira.
Setiap ketukan sepatu pantofel Gavin di atas rumput taman, terasa seperti hitungan mundur yang menegangkan. Tatapannya melekat lekat pada wajah Azira, beralih dari matanya yang sembap hingga berhenti di jemari kiri Azira, yang kini dihiasi cincin berlian dari Baskara.
"Kamu tidak tahu seberapa besar aku merindukanmu, Azira," bisik Gavin, suaranya mendadak berubah lembut, namun justru terdengar mengerikan di telinga Azira.
Gavin menyentuh dadanya sendiri, menatap Azira dengan binar mata yang terlalu intens. "Bertahun-tahun aku terjebak di luar sana, terus menghitung hari, hanya untuk bisa melihat senyummu lagi. Dan sekarang, setelah aku berhasil kembali untukmu. Kenapa. Kenapa kamu malah bersembunyi di pelukan pria lain, dan apa ini?"
Gavin meraih tangan kiri Azira secara paksa, menyentak pergelangan tangannya, hingga Farhan terpaksa melepaskan pembelaannya agar tangan Azira tidak terluka.
Ibu jari Gavin mengusap kasar cincin pertunangan di jari manis Azira, matanya berkilat penuh amarah obsesif yang tertahan.
"Cincin murah ini sama sekali tidak pantas untukmu, Sayang," desis Gavin gila, mendekatkan wajahnya hingga Azira bisa merasakan hembusan napasnya yang dingin.
"CEO sombong bernama Baskara itu, tidak berhak memilikimu. Papahmu yang serakah itu juga, tidak berhak menjualmu di meja rapat. Kamu adalah milikku, Azira. Sejak masa lalu kita dimulai, dengan janji itu, kamu sudah digariskan hanya untukku. Tidak akan kubiarkan, pria mana pun di dunia ini menyentuh milikku. Bahkan, jika aku harus menghancurkan pesta pertunangan megahmu ini sekarang, untuk membawamu pergi dari sini, akan ku lakukan."
Azira gemetar hebat, seluruh tubuhnya bergetar di bawah cengkeraman Gavin. Sentuhan pria itu sangat posesif, dan kata-kata gilanya membuat bulu kuduk Azira meremang. Ini bukan Gavin, teman masa kecilnya yang hangat lagi. Pria di hadapannya ini adalah perwujudan obsesi gelap, yang siap menelan kebebasan hidupnya bulat-bulat.
"Lepaskan tanganmu dari Azira, bajingan!" teriak Farhan.
Bugh!
Farhan yang sudah tidak kuasa menahan amarahnya lagi, saat melihat Azira diperlakukan sekasar itu, langsung melayangkan satu pukulan mentah yang sangat telak ke arah rahang Gavin.
Sentakan keras itu, membuat cengkeraman Gavin pada tangan Azira terlepas seketika, dan tubuh jangkung Gavin terhuyung beberapa langkah ke belakang.
Namun, di luar dugaan Farhan dan Azira, Gavin tidak membalas pukulan itu. Pria itu justru menyeka darah segar yang mengalir di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu dia tertawa lepas yang melengking, dingin, menggema mengerikan di tengah sunyinya taman belakang.
Keributan fisik itu berujung fatal sesuai dengan rencana busuk Gavin. Suara hantaman pukulan dan tawa gila Gavin yang sengaja dikeraskan, langsung memancing perhatian dari dalam aula pesta.
Dalam hitungan detik, area taman belakang yang semula sepi mendadak dikerumuni oleh lautan manusia. Papah, Tante Shafira, Sendy, serta orang tua Baskara berlari keluar dengan wajah panik yang kaku.
Di belakang mereka, belasan wartawan dengan kilatan lampu flash dari puluhan kamera media yang haus akan skandal langsung menyala berebutan, membidik pemandangan kacau di atas rumput taman tersebut.
Baskara melangkah paling depan dengan tatapan mata yang kian menggelap menyaksikan kekacauan ini. Di sinilah kelicikan Gavin bekerja dengan sempurna. Begitu menyadari lensa kamera dan tatapan para elite tertuju pada mereka, ekspresi gila di wajah Gavin lenyap seketika, digantikan oleh raut wajah terluka yang sangat meyakinkan.
Dia memegang rahangnya, lalu membungkuk sopan di depan Baskara dan orang tua mereka, seolah-olah dia adalah korban yang tak bersalah.
"Maafkan saya, karena memicu keributan di malam bahagia ini, Tuan Baskara, Tuan Gunawan," ujar Gavin dengan nada suara yang sengaja dibuat bergetar namun terdengar jelas oleh pengeras suara wartawan.
"Saya adalah Gavin Menzies, teman masa kecil Azira. Saya sengaja datang ke taman belakang ini, karena curiga melihat pria berseragam pelayan ini, menyeret Azira keluar dari toilet. Saya hanya berniat menolong, demi kelancaran pertunangan Anda berdua." Gavin mengalihkan tatapan terluka namun penuh kemenangan terselubung ke arah Farhan, yang masih memasang posisi waspada.
"Tapi pelayan gadungan ini, atau harus saya sebut Dokter Farhan, malah menyerang saya. Dia terus berteriak, ingin merebut Azira dan menggagalkan pertunangan megah ini. Dia ingin membawa kabur calon tunangan Anda, Tuan Baskara." Lanjut Gavin, sambil terus berpura-pura kesakitan.
Bisik-bisik langsung berdengung riuh di antara para tamu. Jepretan kamera wartawan kini beralih menyorot Farhan dengan brutal, menguncinya sebagai pengacau kelas bawah yang terobsesi merusak pernikahan dinasti bisnis.
Tante Shafira langsung memanfaatkan momen itu dengan berteriak histeris, memprovokasi pengawal untuk menyeret Farhan.
Azira terpaku di tempatnya berdiri, tubuhnya bergetar hebat dengan air mata yang terus luruh deras membasahi pipinya.
Pikirannya buntu, diselimuti kabut kepanikan yang luar biasa. Logikanya berteriak ingin maju, membentengi Farhan, dan meneriakkan kebenaran bahwa Gavin lah monster yang sebenarnya di sini.
Namun, serbuan kilatan lampu flash kamera yang menyilaukan dan bisikan menghakimi dari ratusan pasang mata membuat langkahnya terkunci. Azira tahu, jika dia membuka mulut untuk membela Farhan di depan media saat ini, reputasi Farhan sebagai dokter akan hancur total, dan segalanya justru akan menjadi jauh lebih rumit bagi pria setulus itu.
Sebelum Azira sempat mengambil keputusan, sebuah cengkeraman tangan yang besar dan kokoh mendarat di pergelangan tangannya. Baskara. CEO muda itu tidak membuang waktu untuk mendengarkan drama lebih jauh di taman belakang, dengan rahang yang mengeras dan sorot mata sedingin malam, Baskara langsung menarik dan menyeret Azira, keluar dari kerumunan manusia yang haus skandal itu.
Dia membawa Azira menjauh, mengabaikan pasrahnya langkah kaki sang wanita yang melangkah tanpa jiwa.
Saat tubuhnya diseret menjauh menuju lobi dalam yang aman, Azira sempat menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya.
Di bawah temaram lampu taman, di antara keributan para pengawal yang mulai meringkus Farhan, Gavin berdiri mematung. Pria masa lalu itu, menatap kepergian Azira sembari menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang penuh kemenangan, senyuman mengerikan yang menegaskan bahwa permainan gila ini baru saja dimulai.
...****************...
Keesokan harinya, di ruang kerja Baskara Yudhistira Prayoga di puncak gedung Prayoga Tower yang terasa begitu sunyi, dingin, dan mencekik.
Atmosfer di ruangan bernuansa minimalis modern itu, bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dengan hiruk-pikuk pemberitaan viral di luar sana, dimana seluruh media sosial dan portal berita bisnis, sedang sibuk menggoreng skandal panas di malam pertunangan agung mereka.
Azira duduk kaku di atas kursi mewah, tepat di hadapan meja kerja besar sang CEO. Kedua tangannya meremas satu sama lain di atas pangkuannya, mencoba meredam getaran hebat yang masih menjalar di jemarinya akibat trauma semalam.
Di hadapannya, Baskara berdiri tegap membelakangi jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan cakrawala Jakarta dari lantai atas. Siluet tubuh tinggi bidangnya memancarkan aura dominan yang sangat mengintimidasi, menguasai seluruh ruangan tanpa perlu bersuara.
Baskara berbalik perlahan dengan gerakan yang tenang, namun menuntut kepatuhan mutlak. Dia melangkah mendekati meja, lalu meletakkan sebuah tablet digital yang menampilkan tajuk berita utama hari ini, ke atas permukaan meja dengan bunyi ketukan yang tegas.
Sepasang mata elangnya berkilat dingin, mengunci tatapan pucat Azira yang tampak rapuh.
"Aku tidak suka mengonsumsi berita sampah, dari media yang haus rating, Azira. Jadi, aku menuntut kebenaran langsung dari mulutmu sekarang," ujar Baskara. Suaranya berat, tenang, namun sarat akan otoritas yang tidak boleh dibantah.
Pria itu memajukan tubuhnya, memangkas jarak di antara mereka, hingga Azira bisa merasakan tekanan kehadirannya yang pekat.
"Siapa, sebenarnya pria berseragam pelayan itu, yang nekat memukul orang di taman belakang semalam, Dan siapa pria bernama Gavin, yang tiba-tiba muncul berlagak menjadi pahlawan kesiangan, di hadapan kamera wartawan?"
Azira menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberaniannya yang berada di bawah intimidasi tatapan tajam Baskara.
"Farhan. dia cuma sahabat terbaikku sejak remaja. Dia datang ke pesta itu murni karena cemas dengan kondisiku, bukan untuk merusak acaramu!" bela Azira dengan nada mendesak.
Suaranya sedikit bergetar dan parau saat menyebut nama pria setulus Farhan, yang kini entah bagaimana nasibnya setelah ditangkap pengawal.
"Dan Gavin... dia cuma teman dari masa laluku yang sudah bertahun-tahun menghilang tanpa kabar." Lanjut Azira.
Baskara menyipitkan matanya yang tajam. Intuisinya yang terlatih di dunia bisnis mendeteksi ada sesuatu yang sengaja disembunyikan dari nada bicara wanita di hadapannya ini.
"Seorang sahabat, tidak akan nekat menyamar menjadi pelayan, dan memukul orang secara brutal di tengah pesta elite, hanya karena alasan cemas, Azira. Tegas Baskara.
"Dan tatapan pria masa lalumu yang bernama Gavin itu. Itu bukan tatapan seorang teman lama yang merindukan sahabatnya," Lanjut Baskara dingin, menganalisis situasi semalam dengan logika bisnisnya yang sangat tajam dan tak terbantahkan.
Baskara menegakkan kembali punggungnya, menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana mahalnya dengan gaya angkuh.
"Dengar baik-baik. Mulai hari ini, reputasi Prayoga Group terikat sepenuhnya dengan namamu. Aku tidak peduli masalah pribadi atau romansa apa yang kamu miliki dengan kedua pria itu di masa lalu. Tapi, jika mereka berdua kembali muncul dan mengancam stabilitas pernikahan kontrak kita, aku tidak akan segan menggunakan seluruh kekuasaanku untuk menyingkirkan mereka dari hidupmu. Jadi, katakan padaku yang sebenarnya, Azira. apa yang sebenarnya terjadi di taman belakang semalam?" Tuntut Baskara.
Azira terdiam seketika. Dia menunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan erat di atas pangkuan. Dadanya terasa begitu sesak dan bergemuruh akibat dilema besar yang berkecamuk di dalam kepalanya. Sebagian dirinya berteriak untuk tetap diam, karena ia belum sepenuhnya memercayai Baskara, pria asing sedingin es, yang menganggap segala hal di dunia ini sebagai transaksi bisnis.
Namun, bayangan wajah penuh kepedihan Farhan saat diseret paksa oleh pengawal, dan senyum kemenangan Gavin yang manipulatif semalam, terus menghantui pikirannya bagai mimpi buruk.
Azira sadar, jika dia terus menyembunyikan kebenaran demi melindungi egonya, kesalahpahaman ini justru akan menjadi senjata mematikan bagi Gavin untuk menghancurkan hidup Farhan. Di saat yang sama, Baskara juga pasti akan bertindak gegabah secara hukum demi mengamankan harga saham perusahaannya, yang mulai goyah di lantai bursa.
"Baiklah," Azira menarik napas panjang, mendongak untuk menantang langsung sepasang mata elang Baskara, dengan sorot mata pasrah sekaligus tegas.
"Aku akan menceritakan semuanya. Tapi tolong, dengarkan ini dengan logikamu sebagai pebisnis, bukan dengan keangkuhanmu." Lanjut Azira.
Baskara tidak menyahut, namun dia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, memberikan gestur bahwa dia siap mendengarkan tanpa interupsi.
"Farhan, semalam menyamar, karena dia tahu aku disekap, dan dikunci di dalam kamar oleh Papah, selama berhari-hari menjelang pertunangan," suara Azira mulai bergetar, menahan perih saat mengingat penderitaannya sendiri.
"Ponselku disita, dan Farhan nekat datang ke rumah hanya untuk diusir dan dihina miskin oleh Tante Shafira. Dia masuk ke pesta itu, murni karena ingin memastikan aku selamat. Dia tidak punya niat buruk pada pernikahan kontrak kita." Azira menjeda kalimatnya sejenak, menelan ludah sebelum mengucapkan nama pria yang kini menjadi mimpi buruk barunya.
"Dan Gavin. Dia bukan pahlawan seperti yang dia lakonkan di depan kamera semalam. Dia teman masa kecilku yang aku tidak sangka, malam tadi terlihat bukan dia, dia terlihat gila. Dia mencengkeram tanganku, mengatai pernikahan ini sampah, dan bilang kalau aku adalah miliknya. Farhan memukul Gavin, karena Gavin memperlakukanku dengan kasar di taman itu"
Setetes air mata frustrasi akhirnya lolos dari pelupuk mata Azira, jatuh tepat di atas cincin pertunangan mereka yang berkilau.
"Gavin sengaja, tidak membalas pukulan Farhan, dia malah tertawa mengerikan. Dia memanipulasi media agar Farhan terlihat seperti penjahat pengacau, sementara dirinya bersih bagai penyelamat. Jadi tolong. Jangan apa-apakan Farhan. Dia hanya korban dari kegilaan Gavin dan ambisi beracun keluargaku."
Baskara tetap tak bergeming di kursinya, mendengarkan seluruh pengakuan emosional Azira, tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang sedingin es. Tidak ada kata-kata penenang, apa lagi pelukan hangat yang keluar dari tubuh pria itu. Bagi Azira, keheningan Baskara setelah mendengar semua kebenaran ini, terasa seperti penolakan yang membekukan hati.
"Aku sudah mendengar semuanya. Kamu boleh keluar sekarang," ujar Baskara datar, pandangannya langsung beralih kembali pada berkas-berkas di atas mejanya, seolah kejujuran Azira barusan tidak lebih penting dari laporan keuangan bulanannya.
Azira menghela napas panjang, menelan kekecewaannya bulat-bulat, lalu berbalik meninggalkan ruangan kerja mewah itu dengan langkah gontai tanpa jiwa.
Namun, tepat setelah pintu kayu jati yang tebal itu tertutup rapat di belakang punggung Azira, atmosfer di dalam ruangan kerja Baskara berubah drastis secara ekstrem.
Baskara meletakkan pulpen mahalnya ke atas meja dengan sentakan keras. Sepasang mata elangnya yang tadi tenang kini berkilat tajam, memancarkan amarah besar yang tersulut hebat. Ego, harga diri, dan naluri protektifnya sebagai pria dominan terusik luar biasa, setelah mengetahui fakta bahwa calon istrinya pernah disekap dengan kejam oleh keluarganya sendiri, dan kini sedang diincar oleh seorang pria gila yang berani berbuat onar di wilayah kekuasaannya.
Baskara menekan satu tombol di telepon kantornya, memanggil asisten kepercayaannya yang paling handal untuk mengurus urusan-urusan gelap di balik layar.
"Reza, masuk ke ruanganku sekarang," perintah Baskara dingin lewat interkom.
Begitu sang asisten berdiri dengan sikap tegap di hadapannya, Baskara langsung menjatuhkan titah beruntun dengan nada suara mutlak yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
"Pertama, hubungi semua pimpinan redaksi media massa hari ini juga. Bersihkan nama dokter bernama Farhan itu dari seluruh berita skandal semalam. Tarik semua video, foto, dan artikel yang menyudutkannya dari internet. Pastikan reputasi dan kariernya sebagai dokter kembali bersih tanpa cacat sedikit pun."
Baskara menjeda kalimatnya sejenak.
Rahangnya mengeras hingga urat lehernya mencuat, saat dia mengingat nama Gavin yang melintas di benaknya.
"Kedua, selidiki seluruh latar belakang pria bernama Gavin Manzies. Cari tahu, dari mana dia mendapatkan kekuasaannya, apa saja bisnis tersembunyinya, dan. Apa kelemahan terbesarnya. Aku mau laporan lengkapnya sudah ada di mejaku, sebelum matahari terbenam hari ini."
"Dan yang terakhir," Baskara berdiri dari kursi, berjalan mendekati jendela kaca besar dan menatap tajam ke luar, menembus deretan gedung-gedung pencakar langit kota.
"Mulai detik ini, tempatkan tim pengawal terbaik kita, untuk mengawasi, dan menjaga Azira, dua puluh empat jam penuh. Lakukan secara diam-diam, tanpa sepengetahuannya. Jangan sampai, pria bernama Gavin, berani menyentuh atau mendekati tunanganku, seujung kuku pun. Siapa pun yang berani, mengusik ketenangan di wilayah kekuasaanku, harus tahu apa akibat tragisnya."
...****************...
Di sudut lain kota Jakarta, di dalam sebuah ruangan luas bertirai gelap yang mewah dan kedap suara, Gavin Manzies tengah menatap layar monitor komputer yang menampilkan visualisasi enkripsi data tiruan dirinya.
Di balik senyum tenangnya yang sangat tampan namun manipulatif, Gavin sebenarnya adalah seorang pewaris dari jaringan bisnis gelap internasional yang hampir lenyap, dan memiliki kekuatan finansial dan bekingan politik masif, sebuah kekuatan bayangan yang sama sekali tidak kalah kelas jika dibandingkan dengan dinasti Prayoga Group milik Baskara.
Namun, Gavin bukanlah pria bodoh atau emosional yang hanya mengandalkan otot. Dia adalah seorang konseptor yang kejam. Dia tahu betul bahwa Baskara, adalah pria cerdas dengan intuisi tajam yang pasti sedang mengerahkan seluruh bawahannya untuk menguliti rekam jejak latar belakangnya, pasca insiden keributan di taman belakang semalam.
"Hapus semua aset resmi, rekam jejak korporasi, dan manifes data penerbangan saya selama di luar negeri," perintah Gavin dingin kepada orang kepercayaannya di seberang telepon satelitnya.
"Buat identitas baru yang sangat bersih tanpa celah hukum sedikit pun. Mulai hari ini, pastikan di atas kertas resmi pemerintahan, bahwa aku hanyalah Gavin Manzies, seorang anak yatim piatu miskin, yang tumbuh besar di panti asuhan kumuh, yang berjuang keras sendirian hanya untuk bertahan hidup dari kerasnya dunia."
Gavin mematikan ponselnya, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa hitam, sembari menyesap minuman alkohol di gelas kristal dengan perlahan. Sebuah senyuman licik yang mengerikan terukir jelas di bibirnya, saat membayangkan bagaimana ekspresi frustrasi Baskara nanti, ketika bawahan setianya hanya menemukan data kemiskinan palsu miliknya.
Dengan mengubah siasat menjadi orang biasa, yang tidak punya apa-apa di mata hukum, Gavin tahu dia sedang memainkan pion catur pertahanan yang mematikan. Baskara tidak akan bisa menyerangnya secara terbuka menggunakan hukum, korporasi, atau kekuasaan bisnis jika Gavin terlihat seperti warga sipil biasa, yang tidak berdaya di hadapan publik.
Dan yang paling krusial. Status sebagai anak panti asuhan yang malang, kesepian, dan teraniaya akan menjadi senjata psikologis terbaik Gavin, untuk mengetuk kembali pintu hati Azira yang lembut.
Dia akan memicu rasa iba, dan rasa bersalah wanita itu atas masa lalu mereka, sekaligus menghancurkan benteng perlindungan yang sedang mati-matian dibangun oleh Baskara dan Farhan, di sekeliling wanita yang dicintainya.
Permainan penyamaran berdarah ini baru saja dimulai, dan Gavin siap bertindak sebagai domba berbulu serigala demi mendapatkan kembali Azira ke dalam pelukan obsesinya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author's Note
Hi semuanya...
Terima kasih sudah membaca sejauh ini ya! Ini novel pertamaku di MangaToon. Mohon kritik dan sarannya ya, agar aku bisa lebih baik lagi dalam membuat bab selanjutnya.
Jangan lupa Like, Comment, dan Share cerita ini ya, supaya kalian tidak ketinggalan update cerita selanjutnya! Dukungan kalian sangat berarti bagiku yang masih pemula ini. Salam cinta buat kalian semua! ❤️