Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.
Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Mbak Mila tersenyum tipis, sedikit ragu namun tetap melanjutkan ucapannya, "Nanti malam jam delapan kamu datang aja ke alamat yang Mbak tulis dan langsung temui Manajernya namanya Pak Johan, bilang aja kamu saudara Mbak. Nanti di sana dijelasin tugas-tugasmu," ucapnya.
Nadia menerima secarik kertas berisi alamat tersebut, menangkupkan kedua tangannya di dada dengan senyuman lesung pipit yang penuh rasa syukur yang mendalam. Tanpa rasa curiga sedikit pun, Nadia membayangkan tempat itu adalah sebuah restoran besar atau hotel yang beroperasi hingga malam hari.
Malam harinya, dengan mengenakan pakaian terbaiknya yang sangat rapi, kemeja putih lengan panjang yang bersih dan celana kain panjang berwarna hitam serta sepatu kanvas polos, Nadia berangkat menuju alamat tersebut menggunakan angkutan umum terakhir.
Namun, begitu Nadia turun dari angkot dan melangkah menyusuri kawasan hiburan malam di pusat kota, langkah kakinya melambat dan akhirnya terhenti total.
Di hadapannya berdiri sebuah bangunan megah bertingkat dengan lampu-lampu neon berwarna merah dan ungu yang berkilauan mencolok, dentuman musik bass berfrekuensi rendah terasa bergetar hingga ke pijakan kakinya. Di atas pintu masuk utama yang dijaga oleh beberapa pria berbadan tegap, terpampang papan nama berukuran besar dengan lampu glamor.
"Eternity Club & Lounge"
Nadia terpaku, matanya membelalak menatap kerumunan pengunjung berpakaian sangat terbuka dan minim yang berlalu-lalang masuk ke dalam gedung tersebut, bau alkoh*l dan asap rokok menyengat di udara luar.
Seketika, kesadaran menghantam jiwanya bagaikan disiram air es, ini bukan restoran atau hotel biasa. Tempat ini adalah sebuah klub malam, dunia malam yang penuh dengan gemerlap kemaksiatan dan risiko bahaya yang selama ini selalu dihindari oleh keluarganya.
Tubuh Nadia bergetar. Refleks, ia mundur beberapa langkah, merogoh ponselnya dengan tangan gemetar dan mengetik pesan balasan kepada Mbak Mila dengan panik.
^^^*Nadia: Mbak Mila, ini tempat hiburan malam! Nadia tidak bisa bekerja di tempat seperti ini! Nadia takut*!^^^
Beberapa detik kemudian, balasan dari Mbak Mila masuk secara bertubi-tubi.
Mbak Mila: Nadia, dengar kata Mbak! Kamu itu butuh uang sekarang! Mau makan apa besok? Mau bayar air dan listrik pakai apa? Kamu pikir dengan kondisimu yang nggak bisa bicara, ada yang mau nampung kamu? Nggak ada, Nadia! Mbak sudah bilang sama Pak Johan, kamu tidak akan dijadikan pemandu lagu atau cewek sedia minuman! Kamu cuma kerja jadi waiter pelayan operasional biasa! Pakaianmu rapi, pakai celana panjang dan kemeja! Tidak ada yang bakal ganggu kamu di sana!
^^^Nadia: Tapi, Mbak. Ini tempat hiburan malam.^^^
Mbak Mila: Kalau kamu menolak pekerjaan ini, terus kamu mau kerja di mana lagi? Mau terlunta-lunta di jalanan? Pikirkan itu, Nadia!
Nadia berdiri terpaku di trotoar yang dingin. Ia menatap layar ponselnya, lalu menatap bangunan megah berlampu neon di hadapannya. Perang batin yang teramat hebat berkecamuk di dalam dadanya. Prinsip hidupnya, memori orang tuanya yang mendidiknya dengan kesederhanaan dan kehormatan, beradu dengan kenyataan pahit bahwa perutnya kosong dan ia tidak memiliki satu rupiah pun untuk menyambung hidup esok hari.
Air mata menumpuk di sudut mata Nadia, ia memejamkan mata rapat-rapat dan meremas jemarinya sendiri hingga memutih.
'Ibu... Ayah... maafin Nadia. Nadia hanya ingin bertahan hidup agar bisa melanjutkan mimpi Nadia, tolong lindungi Nadia...," bisik hatinya penuh kepedihan.
Nadia membuka matanya kembali. Dengan senyuman tipis yang dipaksakan untuk menguatkan dirinya sendiri, ia membulatkan tekad dan memperbaiki posisi kancing kemeja putih panjangnya hingga rapat ke leher, lalu melangkah maju menembus pintu masuk Eternity Club.
Aroma alkohol yang menyengat, aroma parfum menyengat dari para pengunjung dan dentuman musik house yang memekakkan telinga langsung menyambutnya begitu ia melangkah melewati pintu kaca tebal tempat tersebut.
Seorang pria berbadan tegap dengan jas hitam dan earphone menempel di telinga menghalangi langkahnya. Tatapannya menelisik Nadia dari ujung kepala hingga ujung kaki, menatap heran pada kemeja putih tertutup rapat, celana kain dan sepatu kanvas polos yang terasa sangat kontras dengan kerumunan di sekelilingnya.
Nadia dengan cepat merogoh tasnya, mengeluarkan secarik kertas tulisan tangan Mbak Mila, lalu menunjuk nama Pak Johan yang tertera di sana sambil mengatupkan kedua tangan di dada dengan raut memohon.
Pria itu menghela napas panjang, lalu mengibaskan tangan memberi isyarat agar Nadia mengikutinya. Mereka berjalan menembus lorong bernuansa gelap dengan lampu neon temaram, melewati area dance floor yang riuh, hingga sampai di sebuah pintu kayu tebal di sudut paling belakang gedung.
Pria itu menggetok pintu tiga kali sebelum membukanya. "Pak Johan, ada yang nyariin. Katanya saudaranya Mila," ucapnya.
Di dalam ruangan kantor ber-AC dingin yang jauh lebih tenang, duduk seorang pria berusia pertengahan empat puluh tahun di balik meja kerja kayu jati yang mewah. Pak Johan mengenakan kemeja hitam yang dua kancing atasnya terbuka dan sedang mengisap cerutu pendek, matanya yang tajam dan sedikit teduh langsung terarah pada Nadia.
"Oh, ini kamu yang katanya Mila," suara Pak Johan berat dan serak, ia mengibaskan tangan dan memberi kode pada pengawalnya untuk keluar dan menutup pintu.
Pak Johan menyandarkan punggungnya di kursi kulit, memperhatikan Nadia yang berdiri kaku dengan jemari yang saling meremas erat.
"Mila sudah cerita soal kondisi kamu," ujar Pak Johan datar, namun tidak ada nada merendahkan dalam suaranya.
"Kamu nggak bisa bicara, kan?" tanya Pak Johan.
Nadia mengangguk pelan, menundukkan kepala sebentar sebagai tanda hormat, lalu dengan cepat mengetik sesuatu di layar ponselnya dan menyodorkannya ke arah Pak Johan.
[Saya Nadia, Pak. Saya siap bekerja keras apa saja.]
Pak Johan terkekeh pelan, tawa pendek yang terkesan dingin namun menyimpan keputusasaan yang sama dan mematikan cerutunya di asbak.
"Bagus, di tempat seperti ini kerja keras memang yang paling dibutuhkan," ucap Pak Johan sambil berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati meja tempat Nadia berdiri.
"Tapi Mila jaminan kamu, dia banyak bantu club ini dulu. Dan sesuai janji saya ke Mila, saya nggak bakal tempatkan kamu di hall utama, karema didana terlalu bar-bar," lanjut Pak Johan.
Pak Johan mengambil sebuah papan jalan berisi beberapa lembar kertas dari mejanya, lalu menyodorkannya ke Nadia.
Pak Johan berhenti sejenak, tatapannya mendadak menjadi sangat serius dan penuh penekanan. "Tapi ingat. Di sini, kamu harus buta, tuli dan bisu. Bukan cuma karena kondisi fisikmu, tapi karena semua yang kamu lihat dan dengar di dalam gedung ini tidak boleh keluar melewati pintu depan, paham?" peringat Pak Johan.
Nadia memproses kata-kata itu dengan dada sesak. Ia tahu ada risiko besar di balik pekerjaan ini, namun bayangan masa depannya yang suram menguatkan niatnya. Nadia mengangguk mantap, lalu mengetik cepat di ponselnya.
[Saya paham, Pak. Terima kasih banyak atas kesempatannya, saya janji akan bekerja sebaik mungkin.]
Pak Johan menatap layar ponsel itu lama, lalu menghela napas halus. "Bagus, shift kamu mulai malam ini sampai jam tiga pagi, nanti akan ada yang ngajarin kamu,"
.
.
.
Bersambung.....