"Tanda tangani surat cerai ini atau keluargamu membusuk di penjara!"
Difitnah atas kejahatan yang tidak dilakukannya, Flossie diusir oleh suaminya, Alfie Kincaid, ke tengah badai malam. Pria itu tidak pernah tahu, Flossie pergi dengan membawa rahasia yang terkunci rapat di dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian, wanita yang disangka telah mati itu kembali sebagai sosok berkuasa yang siap membalikkan keadaan.
Saat kebenaran masa lalu mulai terungkap satu per satu, Alfie berlutut memohon kesempatan kedua. Namun, sepasang mata dingin sang mantan istri menatapnya tanpa emosi.
Apakah Alfie sanggup membayar harga dari sebuah pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Satu bulan telah berlalu lagi, griya tawang mewah di kawasan elite Champs-Élysées, Paris, diselimuti kehangatan meskipun musim dingin mulai menyapa di luar jendela.
Di dalam ruang tengah yang berdesain modern klasik dengan dominasi warna putih dan emas, tampak Flossie yang sekaramg sepenuhnya menyandang nama Emma Ellis sedang duduk di sofa beludru panjang.
Kandungan Elena kini telah memasuki usia empat bulan. Di balik gaun sutra longgar berwarna krem yang dikenakannya, perutnya mulai terlihat membuncit kecil.
Tangan kanannya mengusap tonjolan halus itu dengan penuh kasih sayang, sementara tangan kirinya memegang sebuah tablet digital yang menampilkan grafik pergerakan saham berlian global.
Xavier Ellis berdiri tidak jauh darinya. Ia menuangkan teh camomile hangat ke dalam dua cangkir porselen.
"Bagaimana analisis pasarmu hari ini, Emma?" tanya Xavier.
Xavier meletakkan cangkir itu di atas meja kaca di depan Emma.
Emma tidak langsung menjawab. Matanya menyipit tajam menatap grafik di layar.
"De Beers mengalami penurunan pasokan mentah sebesar empat persen. Ini celah besar bagi perhiasan dengan konsep indie-luxury untuk masuk terutama jika kita menggunakan batu permata alternatif berpotongan unik."
Xavier menaikkan sebelah alisnya dan bibirnya mengukir senyuman puas.
"Empat bulan belajar dan kamu sudah bisa membaca celah yang bahkan dilewatkan oleh analis seni senior Kincaid Group. Kamu belajar dengan sangat cepat."
"Aku harus cepat, Xavier," sahut Emma.
"Aku tidak punya waktu untuk meratap. Anak-anakku butuh seorang ibu yang kuat bukan wanita cengeng yang bisa diinjak-injak oleh siapa pun."
Xavier duduk di kursi tunggal di seberangnya dan melipat kaki dengan anggun.
"Bagus. Mental seperti itu yang kubutuhkan dari aliansiku. Ingat, di dunia bisnis internasional, kelemahan sekecil apa pun adalah umpan bagi hiu."
Emma meletakkan tabletnya. Tatapannya beralih ke sebuah mangkuk tembaga kecil yang terletak di sudut meja. Di dalam mangkuk itu terdapat tumpukan abu hitam, sisa-sisa dari lembaran foto masa lalunya bersama Alfie Kincaid yang baru saja dia bakar beberapa menit lalu sebelum Xavier masuk hanya ada tersisa satu sudut potret pernikahan yang belum sepenuhnya habis dilalap api yang memperlihatkan separuh wajah Alfie yang tersenyum palsu.
Emma meraih pemantik gas di atas meja, menyalakan apinya, dan menyulut sudut foto terakhir itu hingga menjadi abu seutuhnya.
"Masa laluku sudah mati bersama abu itu," ucap Emma tegas sambil menatap kobaran api kecil yang perlahan padam.
"Fokus hidupku sekarang hanya dua, membesarkan anak-anakku dan memastikan keluarga Kincaid membayar setiap tetes darah dan air mata yang keluar dari tubuhku."
"Termasuk mantan suamimu?" pancing Xavier dengan sorot mata menyelidik.
Emma mendongak, sepasang mata indahnya telah menjelma menjadi perisai es yang kokoh.
"Alfie Kincaid adalah orang pertama yang harus menyaksikan keruntuhan kerajaannya. Aku akan memastikan dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya tanpa memiliki kesempatan untuk memohon ampun."
Xavier terkekeh rendah.
"Sempurna. Panggungmu sudah siap, Emma. Kamu bukan lagi bidak catur yang pasif. Kamu adalah ratu yang memegang kendali permainan."
Tepat pada saat itu, Kevin melangkah masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa. Di tangannya, ia membawa sebuah map dokumen tebal berlogo perak, lambang dari Le Grand Prix d'Or, sebuah kompetisi desain perhiasan independen tahunan yang sangat disegani namun underrrated di kalangan kolektor elite Eropa.
"Tuan Xavier, Nyonya Emma, hasilnya baru saja keluar dari panitia pusat di Jenewa," ucap Kevin dengan nada suara yang tertahan akibat rasa senang yang luar biasa.
Xavier berdiri dan langsung mengambil map tersebut lalu membukanya. Ia mengeluarkan sebuah lembar sertifikat penghargaan tertinggi beserta selembar cetakan sketsa perhiasan pertama yang dirancang oleh Emma selama berada di Paris, sebuah kalung yang dinamai The Weeping Willow, sebuah desain air mata yang terbuat dari jalinan emas putih dan bongkahan berlian hitam yang melambangkan rasa sakit yang bertransformasi menjadi kekuatan.
Xavier berjalan mendekati Emma, lalu menyodorkan sketsa tersebut dengan binar mata yang penuh kemenangan.
"Dunia mode kelas atas mulai membicarakan desainer misterius bernama Emma Ellis," ucap Xavier.
Emma menerima sketsa itu dan menatap hasil karya tangannya sendiri dengan binar kebanggaan.
"Ini baru langkah awal, Xavier."
"Langkah awalmu bergerak jauh lebih cepat daripada yang kita duga," sahut Xavier dan bibirnya menyunggingkan senyuman sinis.
Ia memajukan tubuhnya dan menatap Emma lekat-lekat sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Dan tebak siapa konglomerat Asia yang baru saja mengajukan proposal resmi dengan nilai fantastis untuk membeli hak paten eksklusif dari desain pertamamu ini demi menyelamatkan lini perhiasan mereka yang hampir bangkrut?"
Emma menaikkan sebelah alisnya.
"Siapa?"
Xavier mengetukkan jarinya tepat di atas nama desainer Emma Ellis pada dokumen tersebut.
"Kincaid Group. Mantan suamimu, Alfie Kincaid, baru saja mengirimkan tim utamanya ke Paris untuk memburu desainer bernama Emma Ellis."