Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.
Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reruntuhan di Balik Dinding Kaca
Gedung PT Sinar Surya selalu dirancang untuk memantulkan kemegahan. Dinding-dinding kaca tempernya membiarkan cahaya matahari siang menyusup masuk, menerangi marmer lobi yang berkilau tanpa cela. Namun bagi Reza Adijaya, koridor yang biasanya terasa seperti karpet merah tempat ia memamerkan kekuasaannya, kini berubah menjadi lorong eksekusi yang menyiksa.
"Lepaskan saya! Saya bisa berjalan sendiri!"
Suara Reza melengking tinggi, bergetar di antara keputusasaan dan sisa-sisa keangkuhan yang menolak mati. Namun, dua pasang tangan kekar dari petugas keamanan berpakaian safari hitam tidak mengendurkan cengkeraman mereka sedikit pun. Ibu jari mereka menekan persendian lengan Reza dengan kekuatan yang terukur, cukup untuk menahan gerakan meronta tanpa meninggalkan bekas luka luar yang bisa diperkarakan secara hukum.
Sepatu Reza terseret di atas lantai marmer yang mengilat, meninggalkan bunyi decitan yang memilukan.
Di sepanjang koridor divisi logistik, puluhan pasang mata menatapnya. Wajah-wajah yang kemarin menunduk takzim kini membeku, beberapa di antaranya menatap Reza dengan kepuasan yang tertahan di balik helaan napas. Rian, yang biasanya mengekor di belakang Reza bagai bayangan yang setia, kini berdiri di balik kubikelnya dengan kepala tertunduk dalam, pura-pura sibuk memeriksa tumpukan kertas kerja yang sebenarnya kosong.
"Rian! Tolong aku! Beritahu mereka bahwa ini semua salah paham!" teriak Reza saat melintasi kubikel sahabatnya.
Rian sama sekali tidak mendongak. Di dunia korporasi yang kejam, kesetiaan hanyalah komoditas yang diperdagangkan selama posisi masih aman. Begitu seseorang jatuh ke dalam jurang, mereka yang pernah bersamanya akan menjadi orang pertama yang menutup jalan keluar agar tidak ikut terseret ke bawah.
Melihat Rian yang mengabaikannya, dada Reza bergemuruh oleh rasa dikhianati yang teramat sangat. Napasnya memburu, wajahnya merah padam menahan malu yang meluap hingga ke ubun-ubun.
Tiba-tiba, sebuah kekuatan misterius dari rasa frustrasinya membuat Reza mampu menghentakkan tubuhnya dengan keras. Ia berhasil melepaskan diri dari cengkeraman salah satu petugas keamanan selama satu detik yang berharga. Reza berbalik arah, menatap lurus ke arah pintu ruang rapat utama tempat Naya baru saja melangkah keluar bersama Baskara.
"Naya!" teriak Reza, suaranya parau, bergema di langit-langit lobi yang tinggi.
Naya menghentikan langkahnya. Ia tidak mendekat, melainkan berdiri di ujung koridor yang diterangi lampu kristal dingin. Mantel kasmir hitam yang tersampir di bahunya bergerak halus tertiup angin pendingin ruangan. Ia menatap Reza dari kejauhan dengan keheningan yang lebih menakutkan daripada bentakan badai.
"Kamu pikir kamu bisa menghancurkanku begitu saja dengan secarik kertas?!" teriak Reza, menudingkan jarinya yang gemetar ke arah Naya. Ketakutan yang teramat sangat kini menjelma menjadi keberanian yang buta dan konyol. "Ingat, Naya! Kita masih terikat pernikahan yang sah secara hukum! Setengah dari apa yang kamu miliki sekarang adalah harta bersama! Aku akan menuntutmu ke pengadilan! Aku akan membongkar semua ini ke media bahwa CEO baru Atmadja Group menelantarkan suaminya sendiri!"
Mendengar ancaman Reza, beberapa direktur senior yang berdiri di belakang Naya saling berpandangan dengan cemas. Namun, tidak ada kepanikan sedikit pun di wajah Naya.
Baskara melangkah maju satu tapak, berniat memberi perintah kepada petugas keamanan untuk membungkam mulut lancang pria itu, namun Naya mengangkat tangan kirinya secara halus. Isyarat kecil itu langsung menghentikan gerakan Baskara.
Naya menatap Reza, lalu melangkah perlahan mendekatinya. Setiap ketukan sepatu hak tingginya terdengar begitu teratur, bagai detak jarum jam yang menghitung sisa waktu hidup Reza sebagai orang merdeka.
Ketika jarak mereka hanya tersisa tiga langkah, Naya berhenti. Bau wangi kayu cendana yang mahal dan dingin menguar dari tubuh Naya, mengusir bau keringat dingin kepanikan yang menguar dari raga Reza.
"Harta bersama, Pak Reza?" Naya berbisik, suaranya begitu rendah namun memiliki daya tembus yang luar biasa tajam hingga membuat bulu kuduk Reza meremaj. "Pernikahan kita baru berjalan tiga tahun. Dan dalam perjanjian pranikah yang pernah Anda tandatangani tanpa membacanya terlebih dahulu—karena saat itu Anda terlalu sibuk menertawakan kemiskinan keluarga saya—tertera klausul yang sangat jelas."
Naya mencondongkan tubuhnya, menyisakan jarak yang sangat tipis di dekat telinga Reza.
"Seluruh aset yang digunakan selama pernikahan ini bersumber dari dana hibah Yayasan Dharma Atmadja, yang secara hukum tidak dapat dikategorikan sebagai harta gono-gini. Dan mengenai tuntutan hukum..." Naya menegakkan kembali tubuhnya, menatap Reza dengan sorot mata yang penuh ejekan. "...silakan hubungi pengacara Anda. Tapi pertanyaannya, dengan rekening yang telah membeku, pengacara mana yang mau mendengarkan keluh kesah seorang pengangguran yang terancam pidana korupsi?"
"K-Kamu..." Reza kehabisan kata-kata. Seluruh rencana ancaman yang ia susun di dalam kepalanya mendadak menguap bagai embun pagi yang disiram minyak tanah terbakar.
"Paman Baskara," panggil Naya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah pucat Reza.
"Ya, Nona Muda?"
"Pastikan seluruh barang-barang pribadi Pak Reza di ruangan kerjanya dikirimkan menggunakan kardus bekas ke alamat rumah kontrakannya yang baru. Jangan biarkan ada satu pun kotoran dari masa lalunya yang tertinggal di gedung ini."
"Sesuai perintah Anda, Nona Muda."
Naya berbalik, melanjutkan langkahnya tanpa sekali pun menatap ke belakang lagi. Punggung tegaknya yang dilapisi mantel hitam adalah pemandangan terakhir yang mengukuhkan bahwa bagi Naya, Reza kini tak lebih dari sekadar bayangan masa lalu yang telah berhasil dihapus.
"Seret dia keluar," perintah kepala sekuriti dengan nada dingin.
Kali ini, petugas keamanan tidak lagi memberi ruang bagi Reza untuk meronta. Mereka mencengkeram bahu Reza dan memaksanya berjalan cepat melewati pintu kaca berputar di lobi utama.
Brak!
Reza didorong hingga terjerembap di atas anak tangga marmer teras luar gedung. Tas kerja kulitnya yang mahal dilemparkan begitu saja, mendarat di samping tubuhnya yang kini terduduk lemas.
Seketika itu juga, hawa panas Jakarta yang membakar langsung menyergap tubuh Reza. Udara pengap yang sarat polusi terasa mencekik tenggorokannya, sangat kontras dengan kesejukan berkelas yang baru saja merenggut paksa seluruh kehidupannya di dalam gedung.
Reza menatap pintu kaca PT Sinar Surya yang tertutup rapat di hadapannya. Di balik kaca yang gelap itu, ia bisa melihat bayangan dirinya sendiri—seorang pria dengan kemeja kusut, tanpa arloji mewah, terduduk di tangga luar seperti gelandangan yang sedang mengemis belas kasihan.
Ia mencoba berdiri, namun lututnya terasa begitu lemas. Dunia yang kemarin ia genggam dengan keangkuhan, kini telah runtuh sepenuhnya di bawah kakinya sendiri, menyisakan puing-puing keputusasaan yang mulai terbakar oleh teriknya matahari siang.