Niat hati mengejar nilai A, Nadine Halwatunissa nekat mendatangi kediaman dosennya. Sama sekali tidak dia duga jika malam itu akan menjadi awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.
Cita-cita yang telah dia tata dan janjikan pada orang tuanya terancam patah. Alih-alih mendapatkan nilai A, Nadin harus menjadi menjadi istri rahasia dosen killer yang telah merenggut kesuciannya secara paksa, Zain Abraham.
......
"Hamil atau tidak hamil, kamu tetap tanggung jawabku, Nadin." - Zain Abraham
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 02 - Hancur
Sekuat tenaga Nadin berteriak, dia berontak hingga ponsel yang tadi sempat dia genggam itu terjatuh dengan begitu saja. Wajah Zain terlihat marah, mungkin tak suka dengan cara Nadin menyelamatkan dirinya.
Kendati demikian, walau keadaannya sudah terpojok dan harapan untuk selamat sekecil itu, Nadin masih berusaha melindungi dirinya. Sekuat tenaga Nadin melepaskan pelukan Zain sebelum kemudian berlari tanpa arah.
Kemanapun, selama bisa menghindar dia akan lakukan. Ternyata, di mata Zain hal itu justru membuatnya tertantang dan keinginan untuk bersenang-senang semakin menggelora.
Mungkin di mata Zain saat ini, Nadin tak ada bedanya dengan kelinci kecil yang siap dia terkam. Tak sedikit pun dia memberikan kesempatan Nadin untuk kabur, hingga ke lubang semut pun tetap dia kejar.
"Kembali!!"
"Ya Tuhan, lindungi aku dari iblis itu," gumam Nadin di sela isak tangis yang tak lagi bisa dia tahan.
Dia merasa sudah terlalu lelah, hanya berharap belas kasih dari pria yang kini benar-benar akan menerkamnya.
Pada akhirnya perjuangan Nadin hanya sekadar menunda, bukan menyelamatkan diri sepenuhnya. Sebuah kebodohan yang akan Nadin sesali hingga akhir nanti ialah, berlari ke sebuah ruangan dan ternyata kamar tidur Zain.
Sungguh menyesal Nadin datang ke tempat ini. Alih-alih mendapat nilai A, kedatangan Nadin justru menghancurkan hidupnya.
.
.
Tidurnya nyenyak sekali memang, tapi ketika terbangun di pagi hari dunia Zain seolah jungkir balik kala menyaksikan seseorang tengah terbaring di atas tempat tidurnya. Wajah Zain seketika pucat pasi, sepucat bibir Nadin yang hingga saat ini tak sadarkan diri.
Perlahan, dia tersadar dan mengingat rentetan kejadian yang telah terjadi. Seketika, dia gusar dan merutuki kebodohannya. "Ya Tuhan, Zain!! Apa yang kau lakukan?"
Zain bermonolog, dia memandangi kondisi kamar yang tampak acak-acakan. Besar kemungkinan hal itu terjadi karena Nadin yang berusaha menyelamatkan diri.
Ya, Zain mulai ingat akan hal itu, dan jika dia terus mengingatnya bayangan ketika Nadin memohon ampunan seketika merasuk dalam pikirannya.
Sungguh dia salah menduga, tadi malam jelas-jelas Zain merasa jika Nadin adalah Jesica, calon istrinya. Zain termenung beberapa saat, dia bingung sebenarnya yang gila di sini siapa.
Persetan dengan hal itu, saat ini yang perlu Zain pikirkan adalah hendak bagaimana? Apa yang harus dia lakukan pada mahasiswi yang kemaren sempat membuatnya tersinggung.
Cukup lama Zain pandangi, hingga dia baru menyadari jika gadis itu pucat pasi. Hati kecil Zain menuntut untuk memastikan suhu tubuh Nadin.
"Panas sekali, apa yang terjadi padanya?"
Menyadari jika Nadin panas tinggi, tanpa berpikir dua kali Zain membawanya ke rumah sakit. Tak lupa, sebelum itu dia kembali memakaian pakaian Nadin lengkap, bahkan sampai bagian dalam.
Tidak kurang suatu apapun, bahkan sampai kerudung yang selalu membalut mahkotanya itu juga Zain pakaikan lagi.
Langkahnya amat begitu terburu-buru, Zain gelagapan dan mencari rumah sakit yang sekiranya aman untuk membawa gadis ini.
Begitu tiba di rumah sakit, dia disambut dengan begitu baik karena memang tidak banyak pasien. Mereka begitu cepat bertindak dan selama Nadin diperiksa, pria itu terus berharap agar tidak terjadi hal buruk padanya.
"Istri?"
Pertanyaan dokter tersebut membuat Zain mati kutu. Dia bingung hendak menjawab bagaimana. "Iya, istri saya," jawab Zain mantap pada akhirnya.
Dokter tersebut mengulas senyum, mungkin sudah biasa menemukan pasangan semacam ini. Namun, Zain yang tidak ingin bercanda memilih diam saja dan menunggu penjelasan dokter selanjutnya.
"Dari hasil pemeriksaan, asam lambung istri Anda naik ... apa dia sering begini? Apa Anda tidak memerhatikan nutrisi istri Anda dengan baik?"
Niat hati membawa Nadin untuk mendapat informasi, bukan malah disemprot semacam ini. Zain tidak protes, dia terus mendengarkan penjelasan dokter paruh baya tersebut.
"Asam lambung?" Zain bergumam seraya menatap sekilas Nadin yang masih terbaring di ranjang.
Penyakit yang biasa diderita anak kost, tapi Zain tetap terkejut dan menghela napas kasar setelahnya. Cukup banyak yang dokter sampaikan, dan Zain mengangguk berkali seolah pesan untuk menjaga Nadin akan benar-benar dia laksanakan.
"Segitu saja dan saat ini, mohon kesabarannya untuk menunggu, jangan disentuh lebih dulu." Terakhir, dokter tersebut menyampaikan pesan penutup yang Zain angguki dengan mantap.
Tanpa perlu diperintahkan, dia juga tidak memiliki rencana menyentuh Nadin untuk kedua kali. Apa yang terjadi semalam hanyalah sebuah kesalahan dan tidak ingin Zain ulang.
Mengingatnya saja, Zain seketika merasa bersalah dan perlahan mendekati gadis itu. Matanya terpejam, tapi bibirnya tampak berusaha mengucapkan sesuatu hingga Zain tertarik mendekatkan wajah demi bisa mendengar ratapannya. "Maaf, Umi, Nadin gagal jaga diri."
.
.
- To Be Continued -