Karena setiap orang memiliki rahasia.
Ellio yang baru sadar dari koma baru tahu bahwa gadis yang menjadi alasannya untuk bertahan hidup ternyata sudah membagi hatinya untuk orang lain. Patah hati tentu membuat Ellio hampir kehilangan arah. Namun, tekad untuk mendapatkan kembali cintanya mendorong ia lebih keras untuk segera pulih.
Di saat yang sama, ada Putri
yang mencintai Ellio dalam diam. Ia yang hanya berperan sebagai figuran di kisah cinta Ellio dan Shanum. Dia yang selalu ada untuk Ellio, malah menjadi tersangka yang harus di adili untuk kesalahan yang sebenarnya tidak patut di salahkan. Jatuh cinta.
Siapa yang bisa memvonis bahwa jatuh cinta adalah kesalahan ? Mungkin hanya Ellio. Dan, ketika Ellio baru menyadari arti kehadiran Putri, gadis itu sudah pergi. Menghilang seperti permintaan Ellio terakhir kali.
Cinta, benci serta sebuah tahta yang harus di teruskan, bagaimana kisah ini akan berakhir ?
Baca juga :
~Bima & Ellena : Pernikahan Kontrak
~Senja di Moorea
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSP#21
Pria itu langsung meluruhkan tubuhnya dan bersimpuh di lantai. Kedua tangannya menyatu dan menunduk ketakutan pada gadis kecil dengan wajah super imut di hadapannya.
"Tolong ! Jangan bunuh saya." Serunya dengan suara bergetar memohon.
"Kalau begitu, katakan ! Siapa yang nyuruh om buat bunuh Ellio ?" Tanya Putri dingin.
"Tu-tuan Teguh. Tuan Teguh yang menyuruh kami." Jawab pria itu.
"Oh ya ? Tua bangka itu lagi ?" Putri tersenyum miris mendengarnya. Ia menggeleng tak percaya lalu melucuti setiap peluru yang berada di dalam pistol itu satu per satu.
Tak lupa, dia mengambil pistol pria yang sudah lebih dulu ia buat terkapar dan melakukan hal yang sama seperti pistol sebelumnya.
Pria yang berlutut itu menatap takjub pada kelihaian gadis muda itu. Entah, orang seperti apa yang bisa membentuk malaikat secantik ini menjadi iblis menyeramkan.
Perlahan, air mata Putri mulai luruh kembali. Dia tahu, jika Ellio saja sedang terancam, pasti Ellena juga sedang dalam bahaya saat ini.
"Bawa teman om pulang. Dia nggak akan mati hanya karena pukulan dari aku." Ucapnya kemudian seraya berbalik menatap Ellio.
Tak berselang lama, pintu ruangan kembali terbuka. Dua orang berpakaian hitam yang sama persis dengan dua orang yang baru saja ingin melenyapkan Ellio masuk dan begitu terkejut saat melihat salah satu temannya terkapar dengan luka di kepala dan satu lagi sedang berlutut memohon.
"Ada apa ini ?" Seru salah seorang pria yang bisa Putri tebak sebagai pemimpin mereka.
Orang yang berlutut itu tidak menjawab. Ia hanya mengarahkan pandangannya ke arah Putri yang di sambut senyuman menakutkan dari gadis itu.
"Kalian mau bernasib sama kayak dia juga ?" Telunjuk gadis itu mengarah pada pria yang ia buat terkapar dengan luka di kepala. Alis Putri terangkat. Menantang dua orang yang baru saja datang dengan tatapan menusuk.
"Sialan." Geram pemimpin kelompok itu. Dia dan anak buahnya kompak menyerang Putri bersamaan. Ini rumah sakit. Mereka tidak mau ambil resiko dengan menembakkan pistol yang sudah pasti akan mengundang perhatian.
Putri kembali meraih tongkat baseball miliknya yang tergeletak di lantai dengan menggunakan bantuan kakinya untuk mengait pemukul itu. Mengangkatnya ke atas, lalu menangkapnya dengan tangan. Menangkis tiap serangan yang di layangkan dua pria itu dengan tenang tanpa tersentuh serangan sedikit pun. Ia bahkan berhasil melumpuhkan mereka dalam waktu kurang dari semenit dengan pukulan cepat yang telak mengenai bagian vital mereka. Pria yang berlutut itu hanya terbelalak tak percaya di tempatnya. Jenis beladiri yang gadis itu perlihatkan adalah seni bela diri yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Siapa kamu ?" Tanya pemimpin mereka sambil berusaha mundur dan menyandarkan tubuhnya pada tembok. Ia sibuk memegang dadanya yang terasa sakit. Dia yakin benar, bahwa setidaknya ada dua tulang rusuknya yang patah dalam waktu bersamaan.
"Aku cuma gadis kecil yang di minta menjaga Ellio dari orang-orang jahat seperti kalian." Jawab gadis itu santai. Tongkat baseball nya dia taruh di atas pundaknya.
"Dari organisasi mana kamu berasal ?"
Putri terdiam mendengar pertanyaan itu. Namun, sesaat kemudian ia tetap menjawab pertanyaan yang di layangkan pria tadi. "Yang pasti lebih tinggi dari organisasi black scorpion kalian."
"Kamu tahu siapa kami ?" Pria yang sejak tadi berlutut terkejut bukan main. Gadis ini memang bukan gadis sembarangan. Ia bahkan tahu darimana asal usul mereka.
"Tentu saja." Jawab Putri tersenyum.
"Siapa namamu ?" Ketua mereka kembali bertanya dengan napas terengah-engah. Tak banyak orang hebat dengan kemampuan langka seperti gadis ini. Dia yakin, jika gadis di depannya sekarang memang berasal dari organisasi atas, harusnya ia kenal siapa nama gadis muda di hadapannya.
Putri mengarahkan kembali tongkat baseball miliknya dengan begitu cepat tepat di depan wajah pria yang bertanya itu. Wajahnya terlihat begitu marah saat namanya dipertanyakan.
"Pergi sekarang, kalau kalian nggak mau mati di sini." Ancam gadis itu dengan nada penuh penekanan. Matanya berkilat-kilat menyiratkan amarah.
"Ba-baik. Oke , saya menyerah." Sahut pria itu dengan tangan terangkat.
Ia kemudian memberi kode pada kedua anak buahnya untuk segera membopong kawan mereka yang masih tidak sadarkan diri dan segera berlari keluar ruangan menuju pintu darurat sebelum ada orang lain yang melihat mereka.
"Tunggu !" Cegah Putri sebelum mereka melewati pintu.
"Ada apa ?" Tanya pemimpin mereka.
"Rahasiakan tentangku pada siapapun kalau kalian masih ingin hidup tenang."
Ketiga orang itu saling berpandangan lalu mengangguk serentak ke arah Putri sebelum melanjutkan langkah mereka. Sementara Putri langsung luruh ke lantai. Memegangi kedua kepalanya yang terasa begitu pusing karena kejadian barusan.
Usai ketegangan itu berakhir, Putri keluar mengambil kain pel dan membersihkan darah yang berceceran di lantai. Gadis imut itu membersihkannya dengan begitu kesal hingga akhirnya ia membanting kain pel itu dan menangis. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil terisak.
"Sial ! Sekarang harus gimana ?" Gumamnya kebingungan. Dia takut, kawanan pria tadi tidak menepati janji dan akan memberi tahu petinggi organisasi mereka tentang dirinya. Dan jika hal itu terjadi, maka tinggal menghitung hari hingga orang yang paling ingin dia hindari datang dan menjemputnya pulang secara paksa.
Lantai sudah kembali bersih setelah Putri mengelapnya. Gadis itu bergerak untuk duduk di samping Ellio sambil kembali menekan-nekan pipi milik lelaki itu dengan menggunakan telunjuknya. Gadis itu kembali tertawa, mendapat sedikit penghiburan dari pangeran tidurnya setelah ketegangan yang baru saja menyergap.
"Nanti, kalau Ellio sadar mau nggak, Putri ajarin beladiri kayak tadi ?" Tanyanya pada Ellio.
"Mau ya ? Biar Ellio bisa lindungin Ellena sama diri Ellio sendiri suatu hari nanti. Putri kan gak bisa selamanya ada di sini." Gadis itu tertunduk dalam. Air matanya kembali turun deras bagai air hujan.
"Ellio bangun dong ! Putri pengen banget Ellio kenal Putri sebelum Putri pergi. Please !" Ucapnya mengiba. Tangisnya semakin lirih seiring malam yang semakin larut.
"Putri cuma mau Ellio kenang Putri. Putri cuma mau agar Ellio bisa tahu bahwa ada orang lain selain Shanum yang juga peduli sama Ellio."
Beberapa saat kemudian, Putri baru saja teringat akan Ellena. Segera, dia menghubungi Bima dan memberi tahu apa yang baru saja terjadi. Tapi, tidak semua tentu saja. Ada beberapa bagian yang dia simpan untuk dirinya sendiri.
"Pak, Ellena baik-baik aja kan ? Tadi ada orang ke sini mau celakain Ellio. Putri takut mereka juga akan apa-apain Ellena." Sahut Putri tanpa basa-basi sesaat setelah sambungan teleponnya tersambung.
Hening cukup lama sebelum orang di seberang sana membalas ucapan Putri.
"Terlambat, Put ! Mereka udah dapetin Ellena."
Putri menelan ludahnya kasar. Apa yang dia khawatirkan sekarang benar-benar terjadi.
"Ya udah, Pak Bima di mana ? Putri mau nyusul Pak Bima ya. Kita bebasin Ellena sama-sama."
"Nggak perlu, Put ! Saya bisa sendiri. Kehadiran kamu cuma akan menambah beban saya aja. Kamu cukup jaga Ellio di rumah sakit dan jangan kemana-mana."
"Tapi, Pak ?"
"Ikuti perintah saya saja. Ellena akan kembali dengan selamat bagaimana pun caranya. Saya janji."
murat tau nggk klo putri anak.adimas