NovelToon NovelToon
Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:53.3k
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.

Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.

Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5 - Benalu Keluarga

"Mas Raka... ini... ini mobil siapa?!"

"Mobilku."

Budi menatap Alphard hitam itu, lalu menatap Raka. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar selama beberapa detik.

"Mobil Mas?" Ia akhirnya mendekat dan menyentuh kap depan tanpa izin. "Serius? Bukan punya bos kantor?"

Raka menekan tombol pada kunci. Lampu Alphard berkedip, disusul bunyi kunci pintu.

"Jangan pegang catnya."

Budi buru-buru menarik tangan. Matanya beralih ke kunci di tangan Raka, penuh rasa ingin memiliki.

"Mas, pinjam sebentar, dong. Cuma muter kompleks."

"Tidak."

"Aku bisa nyetir."

"Aku tahu." Raka berjalan ke bagian belakang dan mengambil beberapa kantong belanja. "Itulah alasannya."

Wajah Budi menegang. "Maksud Mas apa?"

"Kamu pernah menabrakkan motor Ratna lalu menyalahkan pengendara lain."

"Itu sudah lama." Budi terkekeh canggung. "Lagian cuma lecet."

"Mobil ini bukan motormu."

Raka mengunci kendaraan, kemudian berjalan menuju tangga.

Budi mengikuti di belakang.

"Kalau tidak boleh nyetir, antar aku ketemu teman nanti malam. Sekali saja. Biar mereka lihat."

Raka tidak menoleh. "Tidak."

"Mas Raka sekarang pelit sekali."

Raka berhenti di anak tangga pertama. Ia memandang Budi dari atas bahu.

"Kamu datang untuk apa?"

"Menemui Mbak Ratna."

"Kalau begitu, temui kakakmu. Bukan mobilku."

Ia naik tanpa memberi kesempatan Budi menjawab.

Di belakangnya, terdengar bunyi kamera ponsel.

Raka tidak perlu menoleh untuk tahu apa yang dilakukan Budi.

Pemuda itu pasti sedang memotret Alphard dan mengirimkannya kepada Bu Sumini.

Benar saja.

Kurang dari satu jam kemudian, suara ketukan keras mengguncang pintu apartemen.

BUK! BUK! BUK!

"Raka! Buka!"

Bu Sumini.

Raka yang sedang mengatur data di komputer baru melirik jam. Cepat juga.

Ratna membukakan pintu dari ruang tengah. Bu Sumini masuk lebih dulu, disusul Budi. Keduanya tidak melepas alas kaki sebelum melangkah ke tengah ruangan.

"Mana kuncinya?" tanya Bu Sumini tanpa salam.

Raka tetap duduk. "Kunci apa?"

"Kunci mobil."

"Untuk apa?"

Bu Sumini mendecakkan lidah. "Ibu mau lihat. Budi bilang kamu beli mobil besar. Katanya harganya lebih dari satu miliar."

Ratna berdiri di belakang ibunya. Ia sudah melihat kotak-kotak mahal kemarin, tetapi kabar tentang mobil tampaknya juga mengejutkannya.

"Raka, benar kamu beli Alphard?" tanyanya.

"Benar."

"Dengan uang dari mana?"

"Uang yang sah."

"Itu bukan jawaban."

"Itu jawaban yang kamu perlukan."

Bu Sumini memukul meja makan dengan telapak tangan.

"Jangan bicara berputar-putar! Kamu punya uang beli mobil lebih dari satu miliar, tapi enam juta untuk menyelamatkan Budi saja tidak mau. Orang macam apa kamu?"

Budi duduk di sofa, memasang wajah tersinggung seolah dirinya korban.

"Aku cuma pinjam, Mas. Nanti kalau sudah ada uang, aku ganti."

Raka menatapnya.

Di kehidupan sebelumnya, Budi selalu mengatakan hal yang sama.

Pinjam.

Nanti diganti.

Masalahnya darurat.

Tidak satu pun uang itu kembali.

"Kamu tidak punya pekerjaan," kata Raka. "Dari mana uang penggantinya?"

Budi mengangkat dagu. "Aku sedang bangun bisnis."

"Nama bisnisnya?"

"Masih rahasia."

"Produknya?"

"Belum bisa dibocorkan."

"Pendapatannya?"

Budi tidak menjawab.

Raka mengangguk kecil. "Jadi tidak ada."

"Mas jangan meremehkan aku."

"Aku hanya menyebut fakta."

Bu Sumini berjalan mendekati meja kerja Raka. Matanya menyapu monitor, laptop, dan jam tangan baru. Semakin banyak barang yang dilihatnya, semakin marah wajahnya.

"Semua ini dibeli saat keluarga sedang susah." Ia menunjuk kotak ponsel. "Kamu sengaja pamer di depan kami?"

"Saya membelinya untuk bekerja."

"Kerja apa sampai perlu barang semahal ini?"

"Pekerjaan saya."

Bu Sumini menarik napas keras, lalu mengubah nada. Kali ini suaranya terdengar seperti seorang tetua yang sedang memberi nasihat.

"Raka, dengarkan Ibu. Rezeki itu harus dibagi dengan keluarga. Kamu sudah menikahi Ratna. Artinya ibu dan adiknya juga keluargamu. Kalau tetangga tahu menantu Ibu punya mobil mewah sementara mertuanya masih naik ojek, mereka akan bilang kamu tidak tahu balas budi."

Raka hampir dapat mengulang kalimat berikutnya sebelum wanita itu mengatakannya.

"Lagi pula, kamu laki-laki. Kepala keluarga. Masa membiarkan keluarga istrimu dipermalukan?"

Ratna menghela napas seolah sedang berusaha menjadi orang paling masuk akal di ruangan.

"Raka, Ibu memang bicara keras. Tapi maksudnya baik. Kita tidak minta semuanya. Beli saja satu mobil untuk Ibu. Tidak perlu Alphard. Mobil biasa juga cukup."

Budi langsung menyela, "SUV saja. Biar muat banyak."

Bu Sumini mengangguk. "Nah. Budi bisa jadi sopir Ibu."

Mereka sudah membagi mobil yang belum dibeli.

Raka bersandar di kursi.

"Tidak."

Bu Sumini menatapnya tajam. "Apa?"

"Saya tidak akan membelikan mobil."

"Kenapa?"

"Karena saya tidak punya kewajiban membelikan Ibu mobil."

"Kurang ajar!"

Suara Bu Sumini menggema sampai koridor. Dari balik dinding, terdengar televisi tetangga dikecilkan. Orang-orang mulai mendengarkan.

Bu Sumini menyadarinya dan justru meninggikan suara.

"Lihat, Ratna! Ini suami pilihanmu! Baru punya sedikit uang sudah lupa keluarga. Ibu membesarkanmu sampai dewasa, lalu suamimu memperlakukan Ibu seperti pengemis!"

Ratna segera memegang lengan ibunya. Namun tatapannya tetap menyalahkan Raka.

"Kamu bisa bicara lebih baik," katanya.

"Aku sudah bicara jelas."

"Ibu cuma minta dihargai."

"Menghargai tidak sama dengan membeli mobil."

Bu Sumini menunjuk wajah Raka dengan jari gemetar. "Kalau bukan karena Ratna, siapa yang mau menikah dengan laki-laki kurus dan miskin sepertimu? Sekarang kamu merasa hebat karena bisa beli mobil?"

Raka berdiri.

Gerakan sederhana itu membuat Budi refleks bangkit dari sofa.

Tubuh Raka tidak bertambah besar secara mencolok, tetapi posturnya yang tegak dan tatapan tenang membuat ruang sempit itu terasa berubah. Ia tidak perlu berteriak.

"Bu," katanya, "saya bukan ATM keluarga ini."

Bu Sumini membeku.

Ratna juga diam.

Selama pernikahan mereka, Raka tidak pernah berbicara seperti itu kepada ibunya. Ia selalu menunduk, meminta maaf, kemudian mencari pinjaman.

Raka melanjutkan, suaranya tetap rata.

"Saya membayar sewa apartemen ini. Saya membayar kebutuhan Ratna dan Nila. Selama dua tahun, saya juga mengirim uang bulanan kepada Ibu. Tapi utang judi Budi, kendaraan pribadi Ibu, dan keinginan kalian untuk pamer bukan kewajiban saya."

"Kamu menghitung semua yang pernah kamu berikan?" Ratna bertanya.

"Mulai sekarang, ya."

Bu Sumini memegang dada, seolah baru dihina di depan ratusan orang. "Ratna, kamu dengar? Suamimu menyuruh ibumu pergi dengan tangan kosong!"

"Aku tidak menyuruh Ibu pergi," kata Raka. "Tapi kalau Ibu datang hanya untuk meminta uang, pintunya ada di sana."

Budi melangkah maju.

"Hati-hati ya, Mas." Ia berusaha membuat suaranya terdengar berat. "Kalau Mbak Ratna minta cerai, Mas yang rugi. Mobil, uang, semua bisa dibagi. Belum lagi Nila. Mas tidak akan ketemu dia lagi."

Raka memandang pemuda itu.

Ancaman tersebut pernah membuatnya tunduk.

Sekarang, kata cerai justru terdengar seperti pintu yang terbuka.

"Kalau Ratna ingin bicara soal perceraian," katanya, "suruh dia bicara sendiri. Jangan bersembunyi di belakang adiknya."

Budi mengatupkan mulut.

Ratna tampak pucat, lalu marah. "Kamu benar-benar sudah tidak waras."

"Mungkin aku baru mulai waras."

Bu Sumini menarik Ratna menuju pintu sambil terus mengomel. Budi mengikuti, tetapi sebelum keluar ia sempat melirik kotak ponsel dan kunci mobil di meja.

Tatapan itu hanya berlangsung sesaat.

Raka tetap menangkapnya.

Pintu tertutup.

Apartemen kembali sunyi.

Raka tidak merasakan kemenangan penuh. Ia tahu keluarga Hartono tidak akan berhenti karena satu penolakan. Orang seperti Bu Sumini akan mengubah cerita, membuat dirinya menjadi korban, lalu kembali dengan tekanan yang lebih besar. Budi akan mencari jalan mengambil sesuatu. Ratna akan menyembunyikan percakapan dan pertemuannya.

Di kehidupan sebelumnya, Raka selalu datang terlambat karena tidak memiliki bukti.

Kali ini, ia tidak akan bergantung pada ingatan atau pengakuan mereka.

Ia membuka laptop, mencari penyedia perangkat keamanan rumah, lalu memilih beberapa kamera kecil dengan penyimpanan cloud terenkripsi.

Bukan untuk kamar tidur.

Bukan untuk kamar mandi.

Hanya pintu masuk, ruang tengah, dan area tempat dokumen serta barang berharga disimpan.

Tempat keluarga Hartono selalu menunjukkan wajah asli mereka.

Jari Raka berhenti di atas tombol pemesanan.

Mulai hari ini, setiap kebohongan akan memiliki rekaman.

1
Wega Luna
ka,rumah kita dekat dong ,saya tinggal di belakang perumahan Citraland🤣🤣🤣🤣, sawah saya sudah dibeli Citraland,,cuma masih boleh ditanami belum dibangun🤭🤭🤭
casanova
kurang suka bacanya
Tyo Reanu
bener2...dont judge a book by its cover....
Tyo Reanu
Awalnya, sempat mengira cerita ini hanya akan seperti cerita2 sistem pada umumnya, cheesy,dendam,absurd...dan saya mintamaaf yang sebesar2nya untuk penulis akan itu.
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....
irena
bagus banget ceritanya thor
Anonim
ceritanya menarik
Zidan Official
knp GK ceraiii aja woii
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Aang Reza
bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!