NovelToon NovelToon
Miracle

Miracle

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:458
Nilai: 5
Nama Author: Ayyasy Asy-Syaif

Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Petualangan Menuju Dimensi Darking

Pagi harinya, mentari terbit menyinari markas Miracle Kosmik dengan pendar cahaya keemasan. Setelah percakapan mendalam antara Night dan Ayyasy di balkon semalam, suasana di antara para pahlawan terasa kian erat. Rasa canggung dan beban masa lalu yang selama ini dipendam masing-masing anggota perlahan luluh, berganti menjadi kepercayaan mutlak sebagai sebuah keluarga besar.

Di lapangan latihan terbuka markas Kosmik, 32 pahlawan dari empat kota sudah berkumpul lengkap dengan seragam dan senjata mereka masing-masing. Udara pagi yang sejuk dihiasi oleh dentuman energi, lintasan sihir, dan sabetan senjata saat mereka menggelar simulasi pertempuran gabungan.

"Tarik garis pertahanan! Tim Harvest jaga poros tengah, tim Cyber amankan jalur evakuasi data!" seru Ayyasy memimpin pergerakan dari barisan depan. Suara lantangnya bergema, memberi komando yang ditanggapi cepat oleh para ketua tim lainnya.

Davi melompat ke depan, menancapkan perisai buminya ke tanah untuk menahan simulasi gelombang kejut, sementara Cheryl melayang lincah di atasnya, melepaskan tembakan energi presisi. Di sisinya, Alya memutar selendang pelanginya dengan anggun. Kain spektrum tujuh warna itu melibas proyektil simulasi, mengikat target dengan kilatan cahaya yang memukau.

Fadhil yang memperhatikan pergerakan Alya tersenyum bangga. "Serangan yang rapi, Alya! Pertahankan ritmenya!"

Alya menoleh, memberikan senyuman manis yang membuat pendar spektrum di sekelilingnya makin bersinar. "Siap, Fadhil! Kita gak boleh lengah sedikit pun!"

Sementara itu di area pengintai, Iyan tampak melatih tebasan pedang mataharinya dengan kecepatan penuh. Setiap tebasan memancarkan hawa panas yang membakar udara di sekitarnya. Sintia memperhatikan Iyan dari kejauhan dengan tatapan penuh kagum. Melihat fokus dan ketenangan Iyan yang telah bangkit dari ketumpukan masa lalunya membuat Sintia makin yakin bahwa tim mereka siap menghadapi apa pun.

Tidak jauh dari sana, Rava sedang sibuk menyesuaikan pelindung tangannya. Azkailah berjalan mendekat sambil menyodorkan handuk kecil dan botol minuman.

"Nih, minum dulu. Jangan maksa diri sampai lemas sebelum kita berangkat," ujar Azkailah dengan perhatian khasnya.

Rava yang kaget refleks menerima botol itu. Muka rupawannya mendadak memerah. "E-eh... makasih, Azkailah. Gue cuma mau memastikan kekuatan gue cukup buat lindungi kalian nanti."

Vikka, Gita, Delila, dan Delaya yang melihat momen itu dari samping langsung saling sikut sambil menahan tawa. "Tuh kan, ujung-ujungnya tetep aja gengsi!" goda Gita pelan yang dibalas dengusan malu dari Rava.

Di dalam laboratorium utama, Dimas, Tsalwa, dan Arunnaqa fokus menyelesaikan perangkat kunci dimensi. Sebuah kalkulator frekuensi berukuran besar yang terhubung langsung ke satelit Kota Cyber kini berdiri mengambang di tengah ruangan, memancarkan pendar cahaya hijau-kebiruan.

"Selesai!" seru Arunnaqa sambil menekan tombol eksekusi terakhir pada layar kontrolnya. "Frekuensi energi dari DNA monster sudah seratus persen terintegrasi dengan pemancar portal. Begitu kita menembakkan gelombang ini ke koordinat bekas munculnya pria berjubah hitam kemarin, portal menuju dimensi Darking akan terbuka secara stabil."

Dimas menghela napas lega, mengusap peluh di dahinya. "Bagus banget, Arunnaqa. Dengan ini, portal gak bakal menutup secara mendadak saat kita semua menyeberang."

Tsalwa menatap Dimas dengan raut penuh keyakinan. "Kamu hebat, Dim. Tanpa analisis kamu semalam, kita gak akan bisa sejauh ini."

"Ini kerja keras kita semua, Sya," jawab Dimas tulus, menatap mata Tsalwa hangat.

Tak lama kemudian, pintu laboratorium terbuka. Ayyasy, Davi, Tasya, dan seluruh anggota Miracle lainnya melangkah masuk. Ruangan laboratorium yang luas itu kini dipenuhi oleh 32 sosok muda yang siap mempertaruhkan segalanya demi keselamatan dunia mereka.

"Bagaimana, Dim, Arunnaqa? Perangkatnya sudah siap?" tanya Tasya mewakili yang lain.

Arunnaqa mengangkat tablet kontrolnya, mengangguk mantap. "Sistem siap seratus persen. Kita bisa membuka jalan menuju kerajaan Darking kapan saja kalian siap."

Night melangkah maju ke barisan depan di samping Ayyasy. Ia memegang gagang senjatanya rapat-rapt, mengingat kembali kata-kata Ayyasy semalam di balkon. Rasa takut dan trauma masa kecilnya kini telah berganti menjadi tekad membara untuk melindungi 31 temannya yang sudah ia anggap sebagai keluarga kandung.

"Gak ada alasan buat menunda lagi," tegas Night dengan suara tenang namun penuh penekanan. "Darking nunggu kita di sana, mengira kita bakal terjebak dalam perangkapnya. Tapi dia gak tahu kalau kita datang bukan sebagai korban, melainkan sebagai kekuatan yang bakal meruntuhkan kerajaannya."

Ayyasy tersenyum bangga, menepuk bahu Night, lalu menoleh menatap seluruh rekan perjuangannya.

"Dengar semuanya!" panggil Ayyasy dengan energi yang membakar semangat seluruh ruangan. "Di balik portal itu ada kegelapan abadi, kerajaan monster, dan musuh terkuat yang pernah kita hadapi. Tapi di sini, ada 32 Miracle dari Zenith, Kosmik, Cyber, dan Harvest! Kita adalah cahaya yang gak bakal pernah padam!"

"SIAP!" seru ke-32 pahlawan itu serempak, menggema memenuhi seluruh penjuru markas.

Ghofar sempat melirik Nailu yang berdiri di barisan belakang. Nailu memberikan anggukan kecil dan senyuman menguatkan, memberi kepastian bahwa mereka akan berjuang dan kembali bersama-sama.

Dimas dan Arunnaqa menjadi navigator mereka. Mereka pun memulai perjalanan mencari energi portal dari Darking.

Mereka pun mulai perjalanan mencari energi portal Darking. Dimas dan Arunnaqa yang menjadi navigator mereka menunjuk arah selatan.

Abzari kaget. "Arah selatan kan bukannya paling horor yak? Kan kita harus lewatin hutan belantara, tebing-tebing sampe gua gede!"

"Mau gimana lagi, Zari," sahut Dimas sambil mengetuk layar tablet analisisnya. "Sinyal fluktuasi energi portal yang paling stabil emang mengarah ke sana. Kalau kita lewat jalur lain, energinya terlalu samar dan kita bisa tersesat di dimensi kegelapan."

Arunnaqa mengangguk setuju, mengoreksi kacamata holografiknya. "Peta geospasial Kota Cyber dan Kosmik mencatat kalau area selatan punya titik balik energi yang sangat kuat. Jadi, mempersiapkan mental buat medan ekstrem itu pilihan wajib, bukan opsional."

Ayyasy menepuk bahu Abzari sambil tertawa pelan. "Tenang aja, Zari. Kita bawa 32 Miracle lengkap. Hutan horor atau tebing curam gak bakal bisa ngalahin kekuatan kita kalau bareng-bareng."

Dengan keputusan bulat tersebut, rombongan besar 32 pahlawan dari empat kota mulai melangkahkan kaki menuju arah selatan. Perjalanan panjang nan penuh tantangan pun resmi dimulai.

Hari Pertama: Menembus Hutan Belantara

Perjalanan di hari pertama dimulai dengan menembus Hutan Belantara Selatan. Pohon-pohon purba berukuran raksasa membumbung tinggi, menutupi sebagian besar sinar matahari dan menciptakan suasana remang-remang yang membayang. Namun, ketakutan yang sempat dibayangkan Abzari perlahan menguap karena atmosfer perjalanan justru dipenuhi oleh gelak tawa dan gurauan.

Di barisan depan, Iyan dan Ghofar berjalan memimpin rintisan jalan. Ghofar yang biasanya santai, beberapa kali melemparkan lelucon konyol yang memicu gelak tawa anggota lainnya.

"Gue heran deh," ledek Cheryl dari barisan tengah, menatap Ghofar yang sebentar-sebentar mengecek ponselnya meski di dalam hutan tidak ada sinyal. "Si Ghofar ini jalan di hutan belantara tapi pandangannya tetep aja nempel ke layar HP. Nyari sinyal apa nyari perhatian Nailu?"

"Dua-duanya lah!" sahut Ghofar tanpa rasa malu, membuat Nailu yang berjalan di dekat Alya mendadak memerah pipinya.

"Iyyuuuh, bucin tingkat dewa!" timpal Tasya sambil menggelengkan kepala, ikut tertawa bersama Ayyasy yang berjalan di sampingnya.

Sembari menyusuri jalanan setapak yang dipenuhi semak belukar, benih-benih perasaan hangat juga perlahan tumbuh dan makin merekah di sela-sela perjalanan. Fadhil dengan telaten membukakan jalan untuk Alya, memastikan selendang pelanginya tidak tersangkut di dahan-dahan pohon berduri.

"Hati-hati langkahnya, Al. Di bawah banyak akar gantung yang licin," tutur Fadhil pelan sambil menyodorkan tangannya untuk membantu Alya melompati batangan kayu lapuk.

Alya menyambut uluran tangan Fadhil dengan senyuman lembut. "Makasih ya, Dhil. Kamu perhatian amat dari tadi."

Di sudut lain, Rava dan Azkailah berjalan beriringan. Rava yang biasanya berusaha berlagak tangguh dan dingin, beberapa kali secara refleks pasang badan tiap kali ada ranting pohon yang berayun ke arah Azkailah.

"Rava, kamu gak usah segitunya kali," bisik Azkailah sambil tertawa kecil menutupi rasa gemasnya. "Aku kan bisa menghindar sendiri."

"Y-ya kan jaga-jaga aja," gumam Rava gengsi, memalingkan wajahnya yang mendadak terasa hangat.

Saat malam pertama tiba, mereka mendirikan perkemahan di sebuah celah hutan yang aman. Api unggun dinyalakan, memancarkan hangat di tengah dinginnya malam. Rahman membagikan makanan hangat, sementara Night duduk di dekat Ayyasy dan Dimas, menikmati kebersamaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Malam itu dihabiskan dengan cerita-cerita humor dan nyanyian bersama sebelum mereka beristirahat bergantian.

Hari Kedua: Meniti Tebing-Tebing Terjal

Memasuki hari kedua, medan perjalanan berubah drastis. Hutan lebat mulai berganti menjadi guratan tebing-tebing batu yang menjulang tinggi dan terjal. Angin kencang bertiup melintasi lembah, menuntut kewaspadaan penuh dari seluruh anggota Miracle.

"Ikat tali pengaman kencang-kencang!" seru Davi memberi instruksi kepada tim Harvest dan Zenith saat mereka mulai memanjat jalur tebing.

Meskipun jalurnya terlihat mengerikan dan penuh risiko, rasa kebersamaan membuat segalanya terasa lebih ringan. Kerja sama antartim terlihat begitu solid. Davi dengan perisai buminya menciptakan pijakan batu buatan di tebing yang curam, memudahkan barisan belakang untuk melangkah.

Cheryl yang melayang santai di udara menggunakan kemampuan menciptakan bola air berkali-kali menggoda Davi yang sibuk bekerja keras di bawah. "Semangat, Ketua! Pijakannya dibikin yang agak empuk dong, kasihan tuh anak-anak yang kakinya udah pegel!"

Davi mendongak, menyapu keringat di dahinya lalu terkekeh. "Lu enak melayang, Cheryl! Mending turun bantu pegangin tali!"

"Ogah ah, mending mantau dari atas!" jawab Cheryl jahil, meski ia tetap sigap meneliti area sekitar agar tidak ada batuan gugur yang membahayakan Davi dan yang lainnya.

Di sela-sela rehat di atas tebing, Dimas dan Tsalwa duduk bersama di atas sebuah batu besar yang menghadap ke arah lembah luas. Tsalwa menyerahkan botol air minum kepada Dimas yang tampak kelelahan setelah seharian menjadi navigator.

"Dim, minum dulu," kata Tsalwa lembut.

Dimas menerima botol itu dan meneguknya. "Makasih, Wa. Perjalanannya emang berat, tapi liat kalian semua tetep semangat bikin gue makin yakin kalau kita bisa selesain misi ini."

Tsalwa menatap pandangan mata Dimas yang teduh, menyunggingkan senyum paling tulusnya. "Kita pasti bisa, Dim. Selama kamu ada di depan memimpin analisis kita, aku bakal selalu siap di samping kamu."

Malam kedua dihabiskan di atas ceruk tebing batu. Mereka menikmati pendar bintang yang terasa begitu dekat dari puncak tebing, sementara Iyan, Sintia, dan Abzari berjaga di barisan luar.

Hari Ketiga: Menembus Gua Gede dan Menemukan Titik Portal

Hari ketiga menjadi puncak dari perjalanan panjang mereka. Di hadapan ke-32 pahlawan, berdiri sebuah mulut gua raksasa yang dikenal warga lokal sebagai 'Gua Gede'. Mulut gua tersebut memancarkan hawa dingin yang pekat dan aroma mistis yang kental.

"Wah, ini dia nih lorong horor yang dimaksud Abzari," gumam Ghofar menatap kegelapan di dalam gua.

"Gak usah nakut-nakutik deh, Ghof!" cetus Tasya sambil menyiapkan obor energi. "Ayo masuk, Dimas sama Arunnaqa udah konfirmasi kalau sinyal energinya ada di ujung gua ini."

Mereka bertiga puluh dua melangkah masuk ke dalam Gua Gede. Suara tetesan air dan gema langkah kaki mereka memenuhi lorong batu yang luas. Rahman menggunakan Api Jiwa-nya untuk menerangi jalan, sementara Alya menyebarkan pendar lembut dari selendang pelanginya agar suasana gua tidak terlalu mencekam.

Selama menyusuri lorong-lorong gua yang berliku, kerja sama dan chemistry mereka makin teruji. Tidak ada lagi rasa canggung di antara empat kota. Zenith, Kosmik, Cyber, dan Harvest telah melebur menjadi satu unit yang tak terpisahkan.

Setelah menelusuri kedalaman Gua Gede selama berjam-jam, mereka akhirnya tiba di sebuah aula gua raksasa bawah tanah. Di tengah-tengah ruangan tersebut, sebuah pusaran pendar energi hitam keunguan mengambang di udara, memancarkan getaran yang sangat kuat.

BZZZZZZT... WUUUUSHHH!

"Kita sampai..." bisik Dimas sambil melihat indikator di tabletnya yang menunjukkan angka 100%. "Ini dia titik pusat energi portal Darking."

Arunnaqa melangkah ke depan bersama perangkat pemancarnya. "Sinyalnya sudah terkunci sempurna. Sesuai perhitungan kita, portal ini terhubung langsung ke batas kerajaan Darking di dimensi lain."

Ayyasy mencabut senjatanya, melangkah berdiri di barisan paling depan bersama Davi, Tasya, Night, dan seluruh ketua tim. Ke-32 Miracle berbaris rapi, membentuk formasi tempur yang sangat kokoh di depan portal kegelapan tersebut.

Tiga hari tiga malam perjalanan menembus hutan, tebing, dan gua raksasa telah menempat fisik, mental, serta ikatan cinta dan persahabatan mereka hingga mencapai titik tertinggi. Rasa takut telah musnah, digantikan oleh tekad membara untuk melindungi dunia mereka dari ancaman Darking.

"Perjalanan panjang kita berakhir di sini," seru Ayyasy dengan suara menggelegar, menatap seluruh rekannya satu per satu. "Dan pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Semuanya... bersiap masuk!"

"GAS!" teriak 32 Miracle serempak, siap melangkah menembus portal menuju dimensi kegelapan!

Dengan kekuatan black hole milik Tasya, energi bayangan Night, dan aura jiwa dari Rahman. Mereka berhasil membuka portal menuju dimensi Draking menggunakan energi gelap dari gua itu.

1
Ayyasying
waduh!! siap yang jadi next villain?
Ayyasying
yahh kepisah kelasnya😢
Ayyasying
balik rumah malah disuruh ujian😭
Ayyasying
Akhirnya plot armor turun juga
Ayyasying
terusin bang seru banget
Ayyasying
lu ngasih villainnya OP banget bang. di combo ga mati
Ayyasying
kacau villainnya terlalu farming aura🔥🔥🔥
Ayyasying
sangar euy villainnya
Ayyasying
gacorrrr
Ayyasying
Sedih banget bang masa lalunya di night 😭😭😢
Ayyasying
GG Gaming😍😍
Ayyasying
keren banget bang miracle Harvest kuat kiat💪💪💪
Ayyasying
💪💪💪
Polaris 03
Lanjutkan
Herman Syah
kerenn
Guzzie
💪💪💪
Guzzie
serafe cowok apa cewek?
Ayyasying: cewek
total 1 replies
Guzzie
💪💪💪
Ayyasying: subscribe atuh yah
total 1 replies
Guzzie
lanjutan
Guzzie
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!