Sekuel novel Rain & Sunny
Cinta itu berhak memilih kepada siapa ia akan berlabuh dan juga cinta itu tidak memandang status.
Begitulah yang dirasakan pemuda bernama Cyril Orion Stevenson. Ya, ia merasakan cinta itu tumbuh dalam hatinya secara tak sadar.
Jantungnya seakan digedor paksa oleh sesuatu yang bernama cinta kala melihat Irene Cassiopeia Jonathan sang sepupu.
“Jika cinta berhak memilih, lantas mengapa cinta kita seolah ada yang menghalangi?"
- Cyril Orion Stevenson -
“Aku tahu bahwa aku juga mencintaimu, tapi aku juga tahu bahwa perasaanku padamu adalah sebuah kesalahan."
- Irene Cassiopeia Jonathan -
Akankah mereka dapat bersatu?
Atau justru menemukan cinta yang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Claudia Diaz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Dia?
Dalam gelapnya malam, dan seberkas cahaya rembulan yang mengintip, suasana mencekam dan dingin amat terasa. Para anak buah hanya tertunduk kaku, bermandikan keringat dingin yang sebesar biji jagung dan getaran yang mereka rasakan di sekujur tubuh.
Oksigen yang memenuhi ruangan seolah terserap habis oleh kemurkaan sang tuan, membuat dada terasa sesak hanya untuk sekedar menarik napas.
Dia, orang itu berdiri di sana hanya termenung memandang kegelapan dunia luar. Pikirannya melayang jauh, setelah menerima laporan dari mulut anak buahnya.
Sejenak tawa sumbang mulai mengalun memecah keheningan. Namun, perasaan sesak kembali dirasakan oleh para bawahan.
Suara sol sepatu beradu dengan dinginnya lantai seakan menghisap nyali para bawahan, hingga tak memiliki keberanian hanya sekedar untuk menatap.
Pyar!
Vas bunga yang terbuat dari porselen itu menjadi samsak dari luapan amarah sang ketua, hingga hancur berkeping-keping karena dilempar dan membentur dinding,
Kalau saja benda itu bisa bicara, ia pasti sudah memekik dengan nyaring karena tak terima menjadi pelampiasan amarah.
“Kalian semua bodoh, tidak punya otak, payah, lemah. Bagaimana mungkin kalian yang bisa dikalahkan oleh satu orang saja, padahal jumlah orang yang kalian turunkan sebanyak 150?!"
“Ma-maafkan kami, Tuan. Ka-ka-kami tidak tahu bahwa dia sekuat itu," dengan suara bergetar, salah seorang dari mereka mencoba berbicara.
“Aku tidak butuh maafmu. Yang kubutuhkan adalah kematiannya, Brengsek!"
“K-kami akan berusaha, Tuan!"
“Memang seharusnya begitu, atau kalian yang akan menggantikan nyawanya dan mati terlebih dulu?!" desis sang tuan tajam.
“Si-siap, Tuan!"
“Kalian pergi dari hadapanku!"
“Siap Tuan. Kami permisi!" beberapa anak buah berbondong-bondong keluar dari ruangan yang menyesakkan itu.
“Hero sialan. Tunggu kehancuranmu di tanganku. Aku bersumpah akan menghabisimu!"
“Papa, ada apa denganmu?" seorang pemuda muncul dan bertanya pada pria yang jauh lebih tua darinya itu.
“Papa kesal, anak-anak payah itu tak bisa menghabisi Hero. Semalam orang-orang kita terbunuh dan mati di tangannya."
“A-apa, bagaimana bisa?" Pemuda itu terkejut, bagaimana bisa anak buah yang ayahnya kirim mati begitu saja di tangan musuh sang ayah?
Sang ayah yang merasa frustasi pun tak dapat menjawab pertanyaan sang putra. Ia juga sama bingungnya, mengapa Hero sulit sekali dilumpuhkan?
“Berarti rumor itu, bukan hanya sekedar rumor. Ternyata julukan si mafia berdarah dingin bukan sekedar isapan jempol belaka," sang anak bergumam.
Sang ayah tidak mengacuhkan gumaman anaknya. Pikirannya sedang kacau saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, gurat kegelisahan tampak sekali di wajah tampannya, meski saat ini ia tengah tertidur.
Namun, seolah ada yang menarik kesadarannya dan membuat dirinya tersentak, hingga terbangun dari tidurnya.
“Yang tadi itu apa? ... mimpi tadi terasa benar-benar nyata. Mimpi yang mengerikan," seberkas cahaya temaram menjadi teman Triton yang terus bergumam lirih, karena rasa tidak nyaman menyeruak dalam hatinya.
Dipandanginya wajah tenang sang istri yang tengah tenggelam dalam tidurnya, kemudian ia beranjak dari tempat tidur.
“Mungkin segelas air bisa menenangkan pikiranku," langkah kaki Triton membawanya ke dapur guna mengambil segelas air.
“Semoga itu semua hanya sekedar bunga tidur belaka," dalam hati Triton berharap mimpinya itu hanya bayangannya saja dan tidak akan pernah terjadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cahaya keemasan telah terlihat menandakan hari telah pagi. Keluarga Stevenson tengah menikmati sarapan pagi ini. Namun, ada yang terlihat berbeda. Hari-hari yang biasanya diisi kericuhan di pagi hari, kali ini hanya diisi keheningan.
Penyebabnya? Tentu saja sang kepala keluarga yang saat ini seperti terlihat tidak fokus. Raut wajah sendu dan binar mata yang redup sangat tergambar jelas di diri sang ayah saat ini.
Mata tajam lain tengah memandang sang kepala keluarga, seakan sang ayah seperti mangsa yang sudah ia incar sedari lama.
“Dad, are you okay?" suara Leander menarik kesadaran Triton kembali ke tempatnya.
“Daddy baik-baik saja, jangan khawatir," Triton tersenyum mencoba meyakinkan anggota keluarganya bahwa ia baik-baik saja.
“Honey," Cleo meremat tangan sang suami yang berada di bawah meja. Ia tahu jika sang suami sedang tidak baik-baik saja.
Sedikit tersentak karena rematan tangan istrinya, Triton memandang wajah cantik jelita istrinya, bola matanya yang jernih seakan menarik Triton untuk menyelamkan diri di sana dan menemukan sebuah ketenangan.
Orion masih diam seribu bahasa. Namun, matanya masih mengawasi gerak-gerik sang ayah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hamparan langit biru membentang luas, dengan gumpalan awan menggantung yang menjadi penghiasnya.
Orion termenung sendirian di taman kampus, pikirannya berkecamuk karena sang ayah yang terlihat berbeda dari biasanya.
“Sepertinya ada yang mengganggu pikiran Daddy, tapi apa?"
Orion berjalan mengikuti ke mana arah langkah kakinya, membawanya.
“Rion, kau melamun?"
Suara Cassie membuat Orion tersentak, “Cassie?"
“Kau terlihat melamun, ada yang mengganggu pikiranmu?"
“Ah, bukan. Aku hanya sedang tidak fokus saja, mungkin karena tugas kuliah dan pekerjaan di kantor," Orion beralasan.
“Begitu? Kalau begitu, ayo makan siang. Aku sudah membuatkan kalian bekal hari ini, termasuk dirimu," Cassie langsung menarik tangan Orion. Membuat tubuh Orion sedikit limbung, beruntung ia langsung sigap dan dapat menguasai dirinya.
“Kau sangat bersemangat sekali hari ini?" heran Orion.
“Aku mencoba resep masakan baru, dan kalian harus mencobanya!"
“Yakin enak, tidak? Aku tidak mau jika tidak enak," Orion mulai menggoda gadis kesayangannya itu.
“Aku sudah mencoba sesuai resepnya, jadi seharusnya masakanku enak!" jawab Cassie mantap.
Orion tersenyum, ya menggoda kesayangannya, merupakan hiburan tersendiri untuknya. Setidaknya hal yang membuat pikirannya sedikit runyam hilang sejenak karena melihat senyum sang bintang.
“Aku tidak akan keracunan, kan?"
“Jahat sekali kau sampai berpikiran jauh seperti itu tentangku," Cassie merajuk dan memajukan bibirnya.
“Jangan berpose seperti itu, wajahmu jelek seperti bebek. Padahal, kan yang seharusnya seperti bebek itu, kan Vega."
“Ah, Rion. Kau menyebalkan, aku kesal padamu!"
“Ha-ha-ha ... Cassie si bebek karet," Orion terus meledek.
“Kalau begitu, kau tidak perlu mencicipi masakan yang kubuat. Aku akan memberikannya pada Kakak tingkat lain yang menyukaiku saja."
“Eh, mana bisa begitu?" Orion menyatakan ketidaksetujuannya terhadap perkataan Cassie.
“Tentu saja aku bisa. Aku, kan memiliki banyak penggemar karena aku cantik dan baik hati," sombongnya, membuat Orion memutarkan bola matanya.
“Terlalu narsis," Orion menanggapi dengan tak acuh.
“Ihh ... terserah, dong!" Cassie memekik tak terima.
“Wahai, rakyat-rakyatku yang budiman. Ada apa gerangan yang membuat kalian bertengkar?" Arche tiba-tiba muncul dan mengejutkan mereka berdua.
“Mereka terlihat seperti suami dan istri yang sedang bertengkar, masalah rumah tangga," Michael ikut berkomentar.
“Mana mungkin mereka bertengkar masalah rumah tangga? Mereka itu sepupu, dasar payah!" dengan penuh kasih sayang Gerald memukul kepala belakang Michael.
“Diam!" teriak Cassie dan Orion bersamaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini di ruang kerja yang terasa hening hanya ada suara keyboard yang beradu dengan jari. Triton tengah bekerja memeriksa laporan di sana.
Matanya yang indah dan tajam yang terbingkai kacamata, dengan gurat keseriusan yang terpancar dari wajahnya, membuat dirinya semakin tampan di usia yang hampir menginjak 50 tahun itu.
Tok ... Tok ... Tok ....
“Masuk!" Triton menyahut ketukan pintu.
Tampaklah seorang pria masuk dengan mengenakan setelan kantor.
“Kak, tanda tangani berkas ini," ucap Noe sambil menyerahkan berkas kantor yang harus ditandatangani oleh sang kakak.
Triton meraih berkas yang disodorkan oleh sang adik.
“Kau terlihat banyak pikiran, jika ada masalah, kau bisa bercerita pada kami, kami selalu ada untukmu, Kelinci," Noe mencoba menenangkan kakaknya.
“Aku tak apa-apa. Oh, iya, aku akan bertemu dengan Jupiter hari ini. Hanya sekedar makan siang biasa."
“Baiklah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seperti yang dikatakan Triton pada Noe tadi, saat ini Triton sudah sampai di universitas di mana anaknya berkuliah. Saat menuju ke ruangan Jupiter, seorang mahasiswa tak sengaja menabrak Triton.
“Ah, maafkan aku, Paman. Aku tidak sengaja," Mahasiswa itu menundukkan kepala, meminta maaf.
“Tidak apa-apa. Lain kali hati-hati," Triton membersihkan pakaiannya yang sedikit kotor dan dan merapikan pakaiannya yang sedikit kusut.
Ketika mata mereka bertemu pandang, mahasiswa tersebut langsung pamit undur diri. Namun, saat menjauh dari Triton sang mahasiswa itu memperhatikan punggung Triton yang menjauh dengan sedikit menyeringai.
Sementara Triton yang merasa diperhatikan, menoleh lagi ke belakang, hatinya merasa tak nyaman dengan tatapan mahasiswa tadi. Seperti ada sesuatu yang mengancam dan membahayakan dirinya.
“Siapa dia?" pikirnya.
ak bacanya nyicil hehe
aku suka banget gaya bahasanya