Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.
Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.
Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
POV Kiara
Hari ini aku meminta Vera untuk menjemput, karena hanya dia yang kupercaya untuk mendengarkan cerita tentang kejadian semalam. Sebelum pergi dari rumah Om Seno, aku berpamitan terlebih dahulu kepada beliau, Bu Yuni, dan Mas Bara.
Aku keluar dari kamar dan mataku tertuju pada mereka bertiga yang sedang duduk menikmati teh. Aku mendekat dan menyapa, “Uhm… Om Seno, Bu Yuni…”
“Iya, Kiara. Ada apa?” tanya Om Seno lembut.
“Saya mau pamit pulang. Terima kasih banyak sudah memberi tempat berteduh untuk saya selama ini,” ujarku sopan.
“Sama-sama, Kiara. Uhm… kalau suatu hari nanti kamu menghadapi masalah lagi, jangan sungkan untuk datang ke rumah kami. Pintu ini akan selalu terbuka untukmu, Nak,” kata Om Seno, membuat hatiku terasa hangat.
“Terima kasih, Om,” jawabku.
“Panggil saja aku Om, tidak usah Pak, supaya lebih akrab.” Saat aku menatap wajahnya, terlihat matanya sedikit berkaca-kaca. “Tapi… kenapa mata Om berkaca-kaca?” tanyaku. Bu Yuni dan Mas Bara pun ikut menoleh ke arah Om Seno.
“Ah, tidak apa-apa, Nak. Uhm… suatu saat nanti, ketika waktunya sudah tepat dan hatimu sudah siap, semua rahasia akan terbongkar, dan kamu akan mengetahui segala kebenarannya,” ungkap Om Seno, membuatku semakin bingung dengan maksud ucapannya.
Mas Bara pun tampak sama bingungnya. “Maksud Papa apa, ya?” tanyanya, namun Om Seno hanya menggeleng tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Karena aku harus segera berangkat, aku pun berpamitan. Soal ucapan Om Seno, akan kupikirkan nanti saja.
.
.
.
Tak lama kemudian, aku sudah berada di sebuah kafe bersama Vera. Kami memesan minuman dan duduk bersantai.
“Kiara, kamu tidak dicari orang di rumah?” tanya Vera, membuatku tersenyum getir.
“Siapa aku ini, Vera? Apakah mereka akan peduli mencari ku?” jawabku sambil menggeleng pelan.
“Siapa tahu saja mereka khawatir…”
“Tidak akan pernah, Vera. Kalau aku pulang, yang ada hanya kemarahan. Aku disebut anak pembawa sial, anak tidak tahu diuntung, tidak tahu diri…” Ucapanku terhenti karena rasa sesak di dada. “Dan yang paling menyakitkan… aku ternyata bukan anak kandung mereka,” bisikku pelan.
Vera langsung menutup mulutnya tak percaya. “Kamu serius, Kiara? Jangan bercanda soal ini…”
“Aku serius, Vera. Ingat kemarin kita bertemu dan aku pulang larut malam? Malam itu aku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan di ruang kerja. Aku menguping pembicaraan mereka, dan kenyataan pahit itu terungkap. Aku bukan anak mereka. Dan kedua orang tua kandungku…” Air mataku tak tertahan lagi dan mengalir membasahi pipi. “Orang tua kandungku dibunuh oleh Anton dan istrinya, Vera. Aku… aku…”
Aku tak sanggup melanjutkan kalimatku. Vera segera mendekat dan memelukku erat. Ia mengerti betapa dalam luka yang selama ini kusimpan. Sejak masa sekolah, aku tak pernah merasa memiliki teman dekat, hingga akhirnya aku bekerja di kantor Mas Bara dan mengenal Vera. Dialah yang selalu ada untukku, mendengarkan setiap keluh kesahku.
“Tidak usah dilanjutkan kalau kamu belum sanggup, Kiara. Aku sudah mengerti. Ceritakan saja nanti kalau hatimu sudah lebih kuat,” ucap Vera lembut sambil memelukku.
“Aku benar-benar tidak habis pikir dengan perlakuan mereka. Pantas saja kamu selalu dimaki, dimarahi, bahkan disiksa. Lihatlah tubuhmu yang menjadi kurus begini, dan mereka pun masih melarang mu untuk bekerja,” lanjut Vera dengan nada kesal.
Saat kami saling berpelukan, tanpa sengaja kami mendengar suara berat yang sangat kami kenal. Aku segera menoleh, dan ternyata itu adalah Mas Bara.
“Wah, kalian berpelukan kok tidak mengajak aku? Ayo peluk lagi, aku juga mau!” candanya sambil merentangkan kedua tangan.
“Ogah! Malas aku berpelukan sama kamu!” sahut Vera ketus, membuat Mas Bara mendengus kesal.
“Mas Bara… kok tahu aku ada di sini?” tanyaku penasaran.
“Kebetulan aku melihat mobil Vera terparkir di depan kafe ini, jadi aku mampir sekalian. Oh iya, Kiara, ini titipan dari Mama. Tadi beliau lupa memberikannya padamu,” kata Mas Bara sambil menyodorkan sebuah benda. Ternyata itu adalah sebuah kunci.
“Kunci apa ini, Mas?” tanyaku bingung.
“Aku juga kurang tahu jelas, Kiara. Tapi kata Mama, ini kunci sebuah apartemen.”
“Untuk apa Tante Yuni memberikannya padaku?”
“Kamu jangan-jangan merencanakan hal yang tidak-tidak ya, Bar? Kamu kan terkenal punya pikiran yang aneh-aneh,” selidik Vera.
“Pikiranmu saja yang selalu negatif soal aku! Kapan sih aku bisa dipercaya sama kamu?” protes Mas Bara.
“Memang kamu tidak bisa dipercaya, Bar!”
“Sudahlah, jangan bertengkar terus. Mas Bara, aku terima kuncinya. Boleh antar aku ke tempat itu sekarang?”
“Boleh saja. Kalau mau sekarang, ayo kita berangkat.”
“Baiklah, kita berangkat sekarang juga.”
“Aku ikut juga!” seru Vera.
Kami bertiga pun meninggalkan kafe dan menuju ke lokasi apartemen itu. Jujur saja, aku masih tak mengerti alasan Tante Yuni memberikannya padaku.
Perjalanan memakan waktu sekitar dua jam karena jaraknya cukup jauh. Tak lama kemudian, kami tiba di sebuah gedung tinggi. Setelah meminta izin kepada petugas keamanan, kami masuk menuju lantai lima, tepatnya unit nomor 561.
Setelah sampai di depan pintu, kami mencari kunci yang tepat. “Kamu yang buka atau aku?” tanya Mas Bara. Aku menyerahkan kunci akses itu padanya.
Klik! Pintu pun terbuka. Begitu kami melangkah masuk, tercium semerbak wangi yang lembut dan menenangkan. Ruangan itu terlihat sangat bersih dan terawat, seolah baru saja ditinggalkan oleh penghuninya.
“Apakah tempat ini masih ada penghuninya?” tanyaku heran.
“Kata Mama, penghuni terakhirnya adalah Tante Linda, saat beliau masih ada. Tempat ini selalu dirawat dengan baik, jadi tetap bersih dan wangi seperti ini,” jawab Mas Bara.
“Siapa itu Tante Linda, Bar?” tanya Vera yang sejak tadi penasaran.
“Aku juga tidak tahu, Ver. Kalau aku tahu, pasti sudah kukatakan sejak tadi,” jawabnya.
“Makanya kalau Mama menyuruhmu memberikan kunci ini, tanya dulu dong! Tanya, ‘Ma, ini kunci milik siapa? Siapa Tante Linda itu?’ Paham kan?” omel Vera, membuatku tersenyum tipis melihat kelakuan mereka.
“Sudahlah, jangan marah-marah terus. Nanti aku tanya Mama lagi, atau kita cari tahu saja sendiri dari isi di dalam sini,” usul Mas Bara.
“Kita sudah beruntung diizinkan masuk, malah disuruh mengorek isi rumah orang lain? Itu tidak sopan, tahu!” sahut Vera kesal.
“Selalu saja aku yang salah kalau dekat kamu. Sungguh melelahkan,” keluh Mas Bara.
Aku membiarkan mereka beradu pendapat, karena percuma saja melerai keduanya. Namun, perhatianku tiba-tiba tertuju pada sebuah bingkai foto di dinding. Di sana terlihat seorang wanita cantik mengenakan gaun indah, rambut panjangnya terurai rapi. Di tangannya tergenggam sebuah alat yang aku kenal sebagai alat tes kehamilan. Di sampingnya berdiri seorang pria tampan yang wajahnya sekilas mirip dengan Papa Anton, sedang memeluk lembut perut wanita itu.
Namun… mengapa wajah wanita itu terasa begitu mirip denganku? Atau jangan-jangan… dia adalah…
Bersambung