Hana Untari seorang wanita yang baik dan cantik, diamenikah dengan laki‑laki bernama Dimas Prayoga. Hana tinggal dengan suami beserta keluarga suaminya. Namun, Dimas selama 3 tahun menjadi suami Hana tidak menafkahinya dengan layak, dia beralasan jika Hana juga mempunyai penghasilan yang cukup. Dimas menghabiskan uangnya untuk kebutuhannya sendiri, sedangkan untuk kebutuhan ibu dan kakak serta adiknya semua uang dari Hana. Perselingkuhan Dimas dengan orang terdekat Hana, membuat Hana tidak bisa memaafkan suaminya. Mampukah Hana menjalani biduk rumah tangga dengan Dimas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisxone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan Mereka
" Terima kasih, Sayang ."Ucap Dimas sambil mencium kening Sintia.
Sepasang selingkuhan itu baru saja menghabiskan malam bersama. Dimas beralasan jika ada pekerjaan dan dia kerjakan di kamar belakang. Sementara Sintia, Bayu yang sudah tidur dari jam 8 membuat dia semakin mudah untuk melancarkan aksinya.
" Sayang aku kembali lagi ke kamarku ya, siapa tahu mas Bayu nanti kebangun."Ucap Sintia mulai merapikan penampilannya.
" Iya sayang, ingat semua yang ada di tubuhmu itu sekarang sudah menjadi milikku. Kamu tidak boleh memberikannya kepada pria lain, termasuk mas Bayu."Seru Dimas sambil menunjuk beberapa titik di tubuh Sintia.
Heeemmmm.
Sintia hanya berdehem, setelah semuanya rapi Sintia keluar dari kamar itu secara pelan‑pelan. Dia melangkahkan kakinya secara perlahan. Dimas dan Sintia sudah sangat keterlaluan, mereka berselingkuh dan berzina di rumah Hana.
" Dari mana, sayang?."Tanya Bayu tiba‑tiba terbangun.
" Emm.. Itu, itu mas aku dari dapur ambil minum. Tadi haus banget, mas."Jawab Sintia terbata‑bata.
" Oh, mas kira kamu dari mana. Sayang, maaf ya tadi mas ketiduran. Apa boleh mas minta sekarang?."Seru Bayu meminta haknya kepada Sintia.
Haaahhh?
Sintia menelan salivanya sendiri, malam ini dia harus melayani dua pria? Satu selingkuhannya dan satu lagi suaminya? Jika dia menolak Bayu, pasti Bayu akan marah tapi jika dia menerima ajakan Bayu, tubuhnya sudah sangat lelah karena Dimas sudah menggarapnya selama 2 jam. Adik iparnya itu ternyata mempunyai tenaga yang prima.
" Ayolah sayang, mas pulang juga tidak lama. Masa mas harus tahan terus."Seru Bayu mulai memaksa.
" Emm.. iya mas, ayo kita mulai."Seru Sintia akhirnya memberikan apa yang diminta suaminya.
Dimas pun keluar kamar, dia ingin kembali ke kamar Hana. Namun saat melewati kamar Sintia, Dimas mendengar suara‑suara yang sudah biasa dia dengar.
" Sintia !! Bukannya aku sudah memberikan kepuasan selama 2 jam, dia masih kurang? Heemmm.... bukannya mas Bayu memang suaminya, jadi tidak masalah juga sih. Yang penting aku dan Sintia aman, dan bisa kapanpun melakukannya."Ucap Dimas berdiri tepat di depan kamar Sintia.
Lastri memberikan beberapa kertas kepada Hana, kertas itu berupa rincian biaya untuk mendaftar kuliah. Lastri memilih kampus yang elite dan tentunya bayarannya tidak lah murah. Untuk pendaftaran dan yang lainnya saja sudah hampir 10 juta.
" Siapkan uangnya mbak, aku mau ke kampus hari ini."Seru Lastri dengan tidak tahu sopan santun.
" Apa-apaan kamu, Lastri? Memang nya aku ini pohon uang yang dengan mudah kamu meminta uang segini banyak? Memangnya aku mau membiayai kuliah kamu? Sudah cukup ya selama ini aku membiayai sekolah kamu dan biaya hidup kamu. Bukannya aku sudah bilang, aku tidak akan keluar uang sedikitpun untuk kalian !!."Seru Hana tidak mau membiayai kuliah Lastri.
Ibu Sundari dan Lastri sama-sama mengepalkan kedua tangannya. Mereka tidak terima atas penolakan Hana, Hana tidak memenuhi kebutuhan mereka sudah tidak mereka permasalahkan. Tapi bukan berarti Hana tidak membiayai kuliah Lastri juga.
" Heh Hana !! Jangan menjadi menantu durhaka kamu, Hana. Uang kamu itu juga uangnya Dimas, dan kami juga ada hak atas uang itu. Ibu tidak mau tahu, pokoknya kamu harus menyiapkan uang 10 juta hari ini juga."Seru ibu Sundari tidak tahu malu masih tetap meminta uang kepada Hana, padahal dirinya sendiri selalu menghina Hana miskin dan kampungan.
" Itu aturan dari mana, Bu? Atau ibu belajar itu semua dari mana? Seharusnya kalian itu malu, kalian di sini cuma numpang tapi tidak mau mengerjakan apa-apa. Bahkan untuk biaya hidup kalian selama kalian tinggal di rumah ku, itu aku yang menanggungnya. Kalau kalian masih mau seenaknya, lebih baik kalian keluar dari rumah ku !!."Teriak Hana dengan lantang sampai terdengar di telinga semua penghuni rumah.
Bayu, Dimas dan Sintia pun mulai mendekat. Bayu tidak tahu ada masalah apa di rumah itu, dan baru kali ini dia mendengar Hana bicara dengan kasar dengan ibu mertuanya.
" Ada apa ini, Hana?."Tanya Bayu.
Hana langsung melirik Bayu dan Sintia yang berdiri berdampingan. Bahkan tanpa ada rasa malu Sintia tidak menutupi bekas merah yang ada di lehernya. Hana tahu, bekas itu bukan buatan Bayu akan tetapi buatan Dimas semalam.
" Hana sekarang semakin kurangajar, Bayu. Dia sudah tidak mau membantu keuangan rumah lagi, dan biaya kuliah Lastri. Padahal Lastri juga adik iparnya, uang dia juga uangnya Dimas. Dia pelit dan perhitungan. Sudah hampir seminggu ini dia tidak masak dan tidak membeli bahan kebutuhan makanan, dia juga tidak memberi uang ibu dan Lastri. Dia beralasan jika dia tidak memegang uag gaji Dimas!"Ucap ibu Sundari menatap Hana dengan tajam.
" Maksudnya? Kebutuhan rumah kan bukan tanggung jawabnya Hana, Dimas sebagai seorang suami lah yang harus bertanggung jawab. Untuk biaya sekolah Lastri setiap bulannya Bayu kan sudah bantu bu, setiap bulan Bayu kirim ke rekening ibu 1 juta. Memang tidak banyak, hanya segitu yang Bayu bisa. Dan untuk kebutuhan rumah juga, setiap Bayu pulang, Bayu selalu menitipkan uang 600 ribu sama Sintia. Itu untuk bantu‑bantu biaya dapur.
Bbbeoouuummm
Akhirnya kebohongan ibu Sundari dan Sintia terbongkar. Selama 3 tahun ini Hana lah yang banting tulang untuk menghidupi semua anggota keluarga dengan uang pribadinya. Gaji Dimas, dia sama sekali tidak tahu.
" Ohhh... jadi selama ini mas Bayu juga sudah membantu keuangan di rumah ini? Tapi mana, aku sama sekali tidak tahu uangnya. Selama 3 tahun aku membiayai sekolah Lastri sendirian, dan selama 3 tahun itu juga aku membiayai hidup kalian semua. Aku dijadikan pembantu di rumahku sendiri, bahkan kamu mbak Sintia !! Untuk sabun mandi saja aku yang membelikanmu. Pakaian dan makan minum mu pun aku yang mengurusnya."Ucap Hana dengan kasar menunjuk ke wajah Sintia.
Sintia dan ibu Sundari salah tingkah, ternyata mereka sudah membohongi Hana. Bukan hanya Hana, akan tetapi juga membohongi Bayu.
" Apa benar itu bu, Sintia? Uang belanja kamu pakai sendiri, dan ibu uang untuk sekolah Lastri ibu pakai sendiri? Dan Hana yang harus membiayai sekolah Lastri? Jawab!! "Tanya Bayu dengan geram.
" Bohong !! Hana bohong mas, dia itu iri sama kebahagiaan kita makanya dia mencoba memfitnahku mas. Sebab Hana sama Dimas itu sedang marahan, jadi dia sengaja membuat kita berantem juga."Ucap Sintia membela diri.
" Iya, Hana bohong Bayu."Ucap ibu Sundari ada dipihak Sintia.
Hhhuuuffff
Bayu tidak tahu harus percaya dengan siapa, namun hati kecilnya mengatakan jika Hana tidaklah berbohong. Bayu bisa melihat keseriusan dan ketulusan dari wajah Hana. Terlebih, setiap kali Bayu pulang istrinya memang tidak pernah memasak ataupun membereskan rumah serta pakaiannya.
" Dimas !! Kamu seorang kepala keluarga, dan kamu tega berbuat seperti ini sama istrimu. Apa benar selama ini uang Hana yang dipakai untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Lastri?."Tanya Bayu dengan pelan namun gaya bicaranya tegas.
" Iya mas. Aku mengakui jika selama ini Hana lah yang menafkahi kami dan membayar sekolah Lastri. Itu semua kan memang sudah menjadi kewajiban dia, uang dia juga uang Dimas. Bukannya suami istri itu harus saling bahu membahu? Lagian dia juga punya penghasilan kan? Jadi gaji Dimas ya untuk Dimas pribadi, Dimas ingin beli mobil jadi uang itu semua sama Dimas."Jawab Dimas tidak tahu malu dan tetap bersikap merasa apa yang dia lakukan sudah benar.
Bbuugghh Bbuugghh
Bayu geram dengan jawaban Dimas, tanpa fikir panjang Bayu langsung menghadiaahkan pukulan di wajah Dimas. Rasanya ingin sekali Bayu menghabisi adiknya itu. Bayu memang laki‑laki pendiam dan tidak banyak tingkah, akan tetapi jika dia sudah marah rumah bisa dia robohkan.
" Dimas !!."Teriak Sintia histeris saat melihat Dimas tersungkur di lantai.
" Dimas kamu tidak apa‑apa?."Tanya Sintia menghampiri Dimas dan membantuny berdiri.
Bayu menatap aneh Sintia dan Dimas yang nampak akrab tidak seperti biasanya. Bahkan tidak ada sungkan sedikitpun saat Sintia membantu Dimas untuk bangun.
" Sintia, apa pantas kamu seperti itu?."Seru Bayu menyadarkan Sintia.
Dengan cepat Sintia melepaskan tangan Dimas, dia benar‑benar lupa keberadaan suaminya. Dia sangat cemas dan khawatir saat Dimas tersungkur dengan hidung berdarah.
" Emm.. maaf mas. Aku tadi hanya reflek saja, aku kaget saat melihat Dimas tersungkur dengan hidung berdarah seperti itu."Ucap Sintia beralasan.
" Ini semua gara‑gara kamu, Hana !! Anak‑anakku sampai berantem seperti ini, lebih baik kamu ceraikan saja istri sialanmu ini Dimas."Seru ibu Sundari.
" Cerai ? Oh, silahkan saja, aku tidak takut. Jika aku dan mas Dimas bercerai kalian harus angkat kaki dari rumah ku ini."Ucap Hana sama sekali tidak takut dengan ucapan ibu mertuanya.
Bayu pusing dengan keributan yang ada di hadapannya. Jika boleh jujur, dia malu dengan Hana yang ternyata selama ini dia yang menjadi tulang punggung keluarganya dan menafkahi istrinya.