Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Lain
Setelah mobil mewah Krisdayanti lenyap di balik tikungan komplek, kekuatan yang baru saja dipamerkan Alya di depan ibu mertuanya seolah runtuh tak bersisa. Bahunya yang tegap perlahan merosot. Langkah kakinya yang kaku membawanya kembali ke kamar utama di lantai atas.
Begitu pintu dikunci dari dalam dan handuk digantungkan di gagangnya, Alya meluruh di balik pintu. Ia duduk bersandar pada kayu jati yang kokoh, menekuk kedua lututnya, lalu membenamkan wajahnya di sana.
Isak tangis yang sejak tadi ia tahan di depan Krisdayanti dan Bu Aminah akhirnya pecah. Kali ini, bukan tangis amarah yang membakar, melainkan tangis kepedihan yang teramat sangat dari seorang gadis yang merasa dunia terlalu kejam menumpahkan seluruh beban di pundaknya.
Di dalam kesunyian kamar yang mewah namun hampa itu, hati Alya menjerit. Ia baru berusia delapan belas tahun. Enam minggu lalu, satu-satunya hal yang ia cemaskan adalah apakah ia bisa lulus ujian nasional dengan nilai baik dan universitas mana yang akan menerimanya.
Namun sekarang, dalam waktu sesingkat itu, seluruh dunianya dijungkirbalikkan tanpa ampun.
Ia teringat tubuhnya yang remuk. Di usia sedini ini, kesuciannya telah direnggut paksa, bukan oleh pria yang ia cintai dalam sebuah malam yang penuh kehangatan, melainkan oleh suaminya sendiri—seorang pria asing yang memperlakukannya tak lebih dari sekadar pelampiasan amarah dan nafsu buta.
Yang lebih menyakitkan dari segalanya adalah kenyataan bahwa kakak kandungnya sendiri, Gita, wanita yang selama ini ia puja dan anggap sebagai pengganti sosok pelindung, adalah dalang yang tega menjual dirinya demi mempertahankan seorang pria kaya.
Kini, ibu mertuanya datang hanya untuk menaburkan garam di atas luka yang menganga, mencapnya sebagai perempuan murahan yang gila harta.
Kenapa harus aku? tanya Alya dalam hati, dadanya naik turun dengan sesak. Apa salahku hingga di usia delapan belas tahun aku harus memikul takdir sekelam ini?
Ia menangis hingga matanya bengkak dan tenggorokannya terasa kering.
Namun, di titik terendah itu, saat air matanya mulai habis, Alya mengangkat wajahnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin lemari yang besar. Wajahnya sembab, tetapi gurat kepasrahan yang dulu ada kini mulai terkikis. Luka-luka ini nyata, tetapi ia menolak untuk mati di dalam kesedihan.
Jika dunia tidak memberinya pilihan untuk menjadi gadis delapan belas tahun yang normal, maka ia yang akan menciptakan ruang normalnya sendiri.
Hari Senin yang dinantikan akhirnya tiba. Sore itu, langit perumahan Blok C-12 tampak bersih, menyisakan semburat jingga yang indah di ufuk barat. Bagi Alya, hari Senin bukan lagi sekadar awal minggu yang menjemukan, melainkan hari di mana ia bisa menghirup udara kebebasan.
Pukul setengah empat sore, Alya sudah bersiap dengan kaus olahraga kuning terang milik sanggar, jaket biru tua yang sengaja tidak ia ritsleting penuh, dan celana training hitam. Ia melangkah keluar rumah dengan langkah yang jauh lebih ringan.
Kamera CCTV di sudut teras merekam gerakannya, tetapi kali ini Alya tidak peduli. Biarkan kamera itu merekam kepatuhannya pergi ke tempat aerobik.
Begitu sampai di sanggar Sangkar Hati, dentum musik berirama cepat langsung menyambutnya. Aroma lantai kayu yang khas dan hiruk-pikuk ibu-ibu komplek yang sibuk bersiap membuat dada Alya mendadak terasa lapang. Di tempat ini, di antara hentakan kaki dan tetesan keringat, ia merasa menjadi manusia normal kembali.
Di sini, ia bukan istri simpanan Reza, bukan boneka Gita, dan bukan menantu yang dibenci Krisdayanti. Ia hanyalah Alya, seorang peserta aerobik.
Aktivitas fisik yang menguras tenaga ini menjadi jembatan bagi kewarasannya. Setiap kali ia melompat, mengangkat tangan, dan mengikuti ritme musik, ia merasa sedang membuang seluruh racun dan stres yang mengendap di dalam kepalanya
"Oke, ganti gerakan! Tangan ke atas, double step!" seru Diana dari depan kaca besar.
Alya bergerak dengan lincah, senyuman yang kali ini benar-benar tulus dan lepas akhirnya terukir di bibirnya.
Tubuhnya bermandikan keringat, tetapi energinya justru terasa penuh. Ia mulai menikmati posisi ini—menikmati peran sebagai istri Reza yang memanfaatkan setiap fasilitas dan uang yang diberikan suaminya untuk merawat dirinya sendiri, menjaga kesehatannya, dan membangun kekuatannya diam-diam.
Kau memberiku uang ini sebagai upah mengurungku, Reza, pikir Alya di tengah gerakannya. Maka akan kugunakan uangmu untuk menghancurkan penjaramu.
Setelah kelas satu jam yang intens itu berakhir, ibu-ibu komplek segera berhamburan ke dispenser air dan ruang ganti. Alya berjalan pelan menuju sudut ruangan, menyeka keringat di leher dan wajahnya menggunakan handuk kecil.
Napasnya masih memburu, tetapi wajahnya terlihat sangat segar dan bercahaya.
"Ini, minum dulu."
Sebuah botol air mineral dingin tiba-tiba disodorkan di depan wajahnya. Alya tersentak pelan, lalu mendongak. Diana sudah berdiri di hadapannya. Sang instruktur bertubuh atletis itu telah mengganti kaus basahnya dengan jaket parasut tanpa lengan, memperlihatkan otot bisepnya yang kokoh. Potongan rambut pixie-cut-nya tampak sedikit basah oleh keringat.
"Ah, iya. Terima kasih, Mbak Diana," ucap Alya sopan sambil menerima botol tersebut.
Diana tidak langsung pergi. Ia menarik sebuah kursi plastik kecil dan duduk di dekat loker Alya, melipat kedua tangannya di atas lutut. Sepasang matanya yang tajam meneliti wajah Alya dengan kelembutan yang tidak pernah ia tunjukkan pada anggota kelas yang lain.
"Hari ini kamu kelihatan beda, Alya," ujar Diana, suaranya yang berat mengalun tenang di antara sisa-sisa kebisingan ruangan.
"Senyummu... lebih hidup dibanding hari pertama kemarin. Gerakanmu juga sangat lepas. Bagus."
Alya meminum air dingin itu seteguk, merasakan kesegaran menjalar di tenggorokannya. Ia terkekeh kecil, merasa nyaman dengan pujian itu.
"Iya, Mbak. Ternyata aerobik seru banget. Rasanya semua beban di pundak langsung hilang pas denger musik."
Diana tersenyum tipis—sebuah senyuman yang jarang terlihat di wajah tegasnya.
"Olahraga memang obat terbaik untuk hati yang sedang penuh. Kamu tahu, Alya? Sejak hari pertama, aku langsung tahu kalau kamu punya potensi. Kamu mandiri, cepat belajar, dan punya daya tahan tubuh yang bagus."
"Mbak Diana bisa saja," sahut Alya, pipinya bersemu merah, kali ini bukan hanya karena lelah, tapi karena merasa tersanjung.
Selama beberapa hari terakhir, Diana pelan-pelan mulai mengakrabkan diri dengannya.
Setiap kali kelas usai, wanita matang itu selalu meluangkan waktu untuk menyapanya, membetulkan gerakannya yang salah dengan sentuhan lembut di bahu atau pinggang, atau sekadar menemaninya mengobrol ringan.
Bagi Alya yang kehilangan sosok kakak perempuan sejati setelah pengkhianatan Gita, kehadiran Diana terasa seperti oase. Sosok Diana yang dewasa, protektif, dan penuh perhatian perlahan memberikan kenyamanan baru yang membuat Alya merasa dilindungi.
"Kalau kamu ada waktu senggang di luar jam kelas, kamu bisa datang ke sini lebih cepat," kata Diana lagi, matanya menatap lekat ke dalam manik mata bulat Alya.
"Aku bisa ajarkan kamu beberapa teknik peregangan khusus untuk mengurangi ketegangan otot di punggungmu. Aku perhatikan, punggung atasmu sering kelihatan kaku."
Mendengar kata "punggung", sekilas bayangan memar akibat bantingan Reza melintas di benak Alya. Sentuhan emosional dari Diana terasa begitu hangat, namun alarm kewaspadaan di dalam diri Alya seketika berdenting pelan.
Ia teringat posisinya sekarang: ia sedang menyusun rencana besar untuk kuliah malam ini. Rumahnya diawasi, suaminya berbahaya, dan ia tidak boleh membiarkan siapa pun masuk terlalu dalam ke dalam hidupnya saat ini, termasuk Diana yang baik hati.
Alya tersenyum manis, namun dengan halus ia menarik jarak emosionalnya kembali. "Wah, tawaran yang bagus, Mbak Diana. Terima kasih banyak. Tapi sepertinya jadwal saya agak padat setelah ini. Saya harus langsung pulang mengurus rumah."
Diana menangkap perubahan halus dari intonasi suara Alya. Ada benteng tidak terlihat yang baru saja dinaikkan oleh gadis delapan belas tahun itu. Namun, alih-alih kecewa, kilatan ketertarikan di mata Diana justru semakin dalam.
Baginya, misteri dan pertahanan diri yang dimiliki Alya justru membuat gadis muda ini terlihat jauh lebih memikat dibanding wanita-wanita lain yang ada di sanggar ini.
"Tidak apa-apa, jangan sungkan," balas Diana lembut, ia berdiri dan menepuk bahu Alya sekilas dengan telapak tangannya yang hangat.
"Pintu ruanganku selalu terbuka kalau kamu butuh teman cerita. Ingat, kamu masih sangat muda, Alya. Jangan biarkan apa pun di luar sana merenggut hakmu untuk menikmati hidup."
"Iya, Mbak Diana. Saya pamit ke atas dulu ya, mau ganti baju," ucap Alya.
Diana mengangguk, membiarkan Alya melangkah pergi menaiki tangga menuju lantai dua. Tatapan mata Diana terus mengiringi punggung mungil itu hingga menghilang di balik sekat ruangan.
Ada rasa kagum, ketertarikan yang tidak biasa, dan hasrat tersembunyi yang mulai tumbuh di dalam hati sang instruktur matang tersebut terhadap istri muda Reza Ardiansyah.
Di lantai dua, di dalam ruang ganti yang sepi, Alya bersandar di loker kayu. Ia menarik napas panjang. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul lima lewat lima belas menit. Sore akan segera berganti malam.
Alya membuka ritsleting jaket biru tuanya, menatap kaus kuning terang yang basah oleh keringat. Rasa cemas, sedih, dan lelah yang sempat menghimpitnya beberapa hari lalu kini menguap, digantikan oleh kesiapan mental yang luar biasa.
Bagian pertama dari alibinya hari ini berjalan sempurna. Reza telah melihatnya masuk ke tempat aerobik melalui sistem monitoring temannya.
Kini, tinggal bagian kedua. Bagian yang sesungguhnya. Malam ini, di bawah kegelapan pukul tujuh, ia akan menyelinap dari balik pohon kenanga untuk menjemput mimpinya di kampus swasta itu.
Alya mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya menyala dengan tekad yang bulat di balik cermin ruang ganti. Aku akan bertahan, dan aku akan menikmati setiap detik perlawanan ini.
Mohon Support Like & Comment nya Guys
jangan lupa mampir yaa🤭