Menjadi janda di usia muda bukanlah pilihan yang pernah diinginkan Maya. Setelah kehilangan suami tercinta karena sakit, ia harus menjalani kehidupan baru sebagai ibu tunggal yang membesarkan anaknya seorang diri. Di tengah keterbatasan ekonomi dan pandangan sinis masyarakat, Maya berusaha bangkit dari keterpurukan yang hampir menghancurkan semangat hidupnya.
Berawal dari keputusan sederhana untuk kembali mencintai dirinya sendiri, Maya mulai merawat penampilan, membangun kepercayaan diri, dan membuka lembaran baru dalam hidupnya. Namun perubahan itu justru mengundang berbagai gosip dan prasangka. Banyak orang menganggap seorang janda tidak pantas tampil menarik dan percaya diri.
Tidak ingin menyerah pada penilaian orang lain, Maya membuktikan kemampuannya melalui dunia kerja. Dengan ketekunan dan kerja keras, ia berhasil meraih kesempatan yang mengubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Menjaga Jarak
Malam itu, langit Jakarta seolah ikut merasakan beratnya isi kepala Maya. Di dalam kamar kontrakan yang sederhana, Maya mendekap Dika yang sudah tertidur lelap. Deru napas halus putranya selalu menjadi penawar lelah yang paling mujarab, namun malam ini, ada ketakutan yang merayap lebih dalam. Tatapan sinis rekan kerja, bisik-bisik di koridor, hingga pembelaan tegas Pak Arga di ruang rapat tadi sore terus berputar di benaknya seperti kaset rusak.
"Ibu akan lindungi kamu, Nak. Ibu juga akan jaga nama baik Ayah," bisik Maya lirih, mencium kening Dika sembari menyeka setitik air mata yang lolos di sudut matanya.
Ia mengambil keputusan bulat. Mulai besok, tidak boleh ada lagi ruang untuk ambiguitas. Tidak ada lagi percakapan personal di pantri, tidak ada lagi tatapan yang berlama-lama, dan tidak ada lagi toleransi yang bisa digoreng menjadi gosip murah. Dinding yang sempat retak oleh perhatian Arga harus dibangun kembali, bahkan harus lebih kokoh dan lebih tinggi dari sebelumnya.
### Profesionalisme di Atas Meja
Keesokan paginya, Maya tiba di kantor Aruna Kreasi tiga puluh menit lebih awal dari biasanya. Ia sengaja menghindari jam-jam sibuk di mana koridor dan lift dipenuhi karyawan yang gemar bertukar sapa—atau bertukar gosip.
Langkah kakinya mantap menuju kubikalnya di divisi keuangan. Di atas mejanya, botol air mineral premium pemberian Arga kemarin sudah tidak ada; Maya telah membuangnya ke tempat sampah malam sebelum ia pulang. Sebagai gantinya, ia meletakkan tumbler stainless steel miliknya sendiri yang kusam namun fungsional.
Tepat pukul sembilan pagi, interaksi yang ia cemaskan itu akhirnya datang. Telepon di mejanya berdering pendek.
"Bu Maya, Pak Arga meminta Anda ke ruangannya sekarang untuk menyerahkan revisi lampiran dokumen audit," suara sekretaris Arga terdengar formal dari seberang saluran.
"Baik, saya segera ke sana," jawab Maya dengan nada suara yang sengaja dibuat sedatar mungkin.
Maya berdiri, merapikan blazer hitamnya, dan mengambil iPad serta map berisi dokumen fisik yang diperlukan. Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu berjalan menuju lantai empat. Setiap langkahnya melewati kubikal tim pemasaran terasa seperti berjalan di atas paku, namun ia menolak untuk menunduk. Ia menatap lurus ke depan.
Di depan pintu kayu ek tebal bertuliskan *Arga Dirgantara - Direktur Utama*, Maya mengetuk tiga kali.
"Masuk," terdengar suara berat dari dalam.
Maya membuka pintu. Arga sedang duduk di balik meja kerjanya yang luas, kacamata bertengger di hidungnya, sementara jemarinya menari lincah di atas keyboard laptop. Begitu melihat Maya masuk, Arga melepas kacamatanya dan menyandarkan punggung ke kursi. Sorot matanya yang biasanya sedingin es langsung melembut—sebuah perubahan mikro yang kini justru membuat Maya waspada.
"Selamat pagi, Pak Arga. Ini berkas revisi lampiran audit eksternal yang Anda minta," kata Maya, berdiri dua langkah dari meja kerja Arga. Ia sengaja tidak langsung duduk di kursi yang tersedia.
Arga menatap kursi di hadapannya, lalu menatap Maya. "Silakan duduk, Maya. Kita perlu membahas strategi mitigasi untuk minggu depan."
"Terima kasih, Pak. Namun, jika hanya untuk menyerahkan dokumen ini dan memberikan penjelasan singkat, saya rasa berdiri saja sudah cukup demi efisiensi waktu. Masih ada beberapa input jurnal yang harus saya selesaikan di bawah," jawab Maya, menyodorkan map dokumen dengan kedua tangannya secara formal.
Arga tertegun sejenak. Alisnya bertaut, menangkap perubahan intonasi dan jarak fisik yang kentara dari wanita di depannya. Ia menerima map tersebut, membolak-balik halamannya tanpa benar-benar membaca fungsinya.
"Mengenai rapat kemarin sore..." Arga membuka suara, nadanya beralih menjadi lebih rendah dan personal. "Saya harap perkataan Bu Ratna tidak membuat Anda berkecil hati. Fasilitas yang saya berikan—"
"Pak Arga, maaf jika saya memotong," sela Maya dengan sopan namun sangat tegas. Ia menatap tepat pada kedua bola mata Arga, menyembunyikan getaran gugup di dalam suaranya. "Fasilitas *work from home* dan fleksibilitas yang Anda berikan memang sangat membantu saya sebagai ibu tunggal. Namun, demi menjaga kondusivitas kerja dan profesionalisme tim keuangan, mulai minggu depan saya memutuskan untuk melepaskan hak istimewa tersebut. Saya akan bekerja penuh dari kantor sesuai jam operasional standar."
Arga meletakkan map itu kembali ke meja dengan sedikit hentakan. "Kenapa? Anda tidak perlu mendengarkan gunjingan orang-orang yang tidak berkompeten, Maya. Saya yang memegang kendali di sini."
"Ini bukan tentang mereka, Pak. Ini tentang saya," tegas Maya. "Saya ingin performa kerja saya dinilai secara objektif berdasarkan kehadiran dan hasil, tanpa ada ruang untuk salah paham. Saya sangat menghargai kebaikan Anda sebagai atasan, namun saya lebih menghargai profesionalisme di lingkungan kerja ini."
Mendengar penuturan Maya yang begitu lugas, Arga terdiam. Ada kilat kekecewaan yang melintas cepat di matanya, namun sebagai seorang pemimpin, ia juga menghormati prinsip yang ditunjukkan oleh Maya. Dinding pembatas itu telah ditarik kembali oleh Maya, sangat tebal dan tidak menyisakan celah.
"Baik jika itu keputusan Anda," ujar Arga akhirnya, kembali memasang topeng profesionalnya yang dingin. "Pastikan saja produktivitas Anda tidak menurun."
"Tentu, Pak. Terima kasih. Saya permisi kembali ke ruangan," ucap Maya dengan anggukan hormat, lalu berbalik dan melangkah keluar tanpa ragu.
### Ujian yang Sesungguhnya
Menjaga jarak ternyata jauh lebih sulit dipraktikkan daripada diucapkan. Sebagai penanggung jawab pra-audit, intensitas pertemuan Maya dengan Arga justru semakin meningkat seiring mendekatnya hari H pemeriksaan dari auditor eksternal.
Dua hari kemudian, diadakan *workshop* intensif di ruang rapat kecil yang melibatkan Arga, Maya, dan Dina sebagai perwakilan tim sistem informasi. Di ruang yang lebih sempit itu, ketegangan emosional terasa semakin pekat.
Setiap kali Arga mencoba mengarahkan pembicaraan ke hal di luar pekerjaan—seperti menanyakan kabar Dika atau menawarkan kopi—Maya selalu membelokkan topik kembali ke angka-angka di layar proyektor dengan lihai.
"Untuk modul piutang tak tertagih, bagaimana penanganannya, Bu Maya? Apakah perlu saya intervensi langsung ke vendor?" tanya Arga dalam rapat tersebut.
"Tidak perlu, Pak Arga. Prosedurnya sudah jelas di halaman 45. Kami hanya membutuhkan tanda tangan persetujuan Anda pada formulir ini," jawab Maya formal, menyodorkan kertas dan pulpen.
Dina yang duduk di samping Maya hanya bisa mengamati interaksi tersebut dengan kekaguman sekaligus rasa iba yang mendalam. Ia tahu betul betapa besarnya energi yang harus dikeluarkan Maya untuk terus bersikap seperti robot yang efisien di depan pria yang jelas-jelas menaruh perhatian lebih padanya.
Saat jam istirahat tiba, Arga meninggalkan ruangan lebih dulu setelah menerima telepon penting. Begitu pintu tertutup, Dina langsung menoleh ke arah Maya.
"May, kamu hebat banget asli. Aku yang melihatnya aja sampai ikutan sesak napas," bisik Dina sambil merapikan kabel laptopnya.
Maya menghela napas panjang, bahunya yang sedari tadi tegang akhirnya merosot. "Aku harus begini, Din. Ini satu-satunya cara agar aku bisa bertahan di Aruna Kreasi tanpa mengorbankan harga diri."
"Tapi Pak Arga kelihatan terpukul banget sama sikap dingin kamu, May. Kamu nggak takut dia tersinggung terus mempersulit posisi kamu?"
Maya menggeleng lemah namun pasti. "Pak Arga itu pria yang cerdas dan logis. Dia mungkin kecewa, tapi dia tahu apa yang kulakukan ini benar untuk kelangsungan proyek ini. Gosip di luar sana sudah mulai mereda sejak aku selalu bekerja dari kantor dan tidak pernah lagi terlihat berdua dengannya tanpa ada agenda rapat resmi. Itu buktinya strategi ini berhasil."
Dina tersenyum tipis, menggenggam tangan sahabatnya. "Aku bangga sama kamu. Kamu benar-benar wanita yang kuat."
### Garis Batas yang Abadi
Sore harinya, menjelang jam pulang kantor, hujan deras mengguyur ibu kota. Maya berdiri di lobi lantai dasar, menatap rintik air yang menghantam kaca besar dengan cemas. Ia harus segera menjemput Dika di tempat penitipan anak sebelum tempat itu tutup pukul enam sore. Namun, memesan taksi daring di saat hujan seperti ini adalah perjuangan tersendiri.
Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depan lobi. Kaca jendela belakang perlahan turun, menampilkan wajah Arga yang tegas.
"Bu Maya, mari naik. Hujan sangat deras dan jam jemput anak Anda pasti sudah mepet. Saya bisa mengantar Anda," ajak Arga. Nada suaranya tidak lagi memerintah, melainkan menawarkan bantuan yang tulus dari seorang sesama manusia.
Maya memandang mobil itu, lalu memandang beberapa karyawan lain yang juga sedang berteduh di lobi. Ia tahu, satu saja langkahnya masuk ke dalam mobil itu, maka seluruh dinding pertahanan yang ia bangun dengan susah payah selama seminggu ini akan runtuh seketika. Gosip baru akan lahir dengan narasi yang jauh lebih merusak.
Maya tersenyum—senyuman paling formal dan paling berjarak yang bisa ia berikan.
"Terima kasih banyak atas tawarannya, Pak Arga. Namun, saya sudah memesan kendaraan lain dan pengemudinya sudah hampir sampai," bohong Maya dengan sangat halus. "Sangat tidak efisien jika Anda harus memutar jalan demi saya. Silakan jalan duluan, Pak."
Arga menatap Maya dalam keheningan selama beberapa detik. Ia melihat keteguhan yang tidak bisa digoyahkan di damba mata wanita itu. Sebuah keteguhan yang lahir dari rasa cinta yang besar kepada anaknya dan penghormatan yang tinggi pada masa lalunya.
"Baiklah. Hati-hati di jalan, Bu Maya," ucap Arga formal, sebelum akhirnya menaikkan kembali kaca mobilnya.
Mobil mewah itu perlahan bergerak membelah genangan air dan hilang di balik tirai hujan. Maya mengembuskan napas lega yang amat dalam. Ponselnya bergetar, memperlihatkan aplikasi ojek daring yang akhirnya mendapatkan pengemudi mobil setelah penantian lama.
Maya melangkah keluar menerobos gerimis tipis menuju mobil yang menjemputnya. Hatinya mungkin terasa dingin seperti dinding kaca Aruna Kreasi, namun ia tahu, dengan menjaga jarak ini, ia telah memenangkan pertempuran terbesar dalam dirinya: menjaga kehormatan di tengah badai dunia kerja.