NovelToon NovelToon
Tuhan, Apa Salahku?

Tuhan, Apa Salahku?

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:138.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Siti H

Anna, seorang wanita yang berjuang dari penderitaannya karena mendapatkan suami pemalas dan juga mertua yang membencinya serta istri dari ipar-iparnya yang selalu menghasut sang mertua untuk menciptakan kebencian padanya. siapakah Ana sebenarnya, bagaimana kisah masa lalunya, sehingga membuat ibu mertuanya begitu membencinya dan siapa dalang dari semua kebencian tersebut?

Bagaimana kelanjutannya, ikuti kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masih Flashback Anna

Dalam kesadaranku yang mulai menghilang. Aku merasakan jika sebuah tangan mencengkram pinggangku, lalu menarikku kedalam sebuah kamar uang berukuran kecil.

Pandanganku samar, namun aku dapat melihat jika sosok yang membawaku ke dalam kamar adalah seorang pria bertubuh tambun dan pastinya juga sudah berumur.

Melihat tubuhku yang masih muda belia, sekitar 18 tahun, tentu saja ia tak sabar untuk menerkam dan menikmati mangsa barunya.

Sekuat apapun aku mencoba melawannya, namun tenaganya kalah jauh dariku, hingga akhirnya kesadaranku hilang, semua serasa menggelap, dan aku tak mengingat apapun.

*****

Rasa kantuk masih menyergapku. Sepertinya Indah mencampurkan obat tidur ke dalam minumanku. "Hah!" aku tersentak saat melihat tubuhku tanpa sehelai benangpun berada diatas ranjang yang mana spreinya telah berantakan.

"Indaaah..! Sialan, Kau!" makiku dengan perasaan yang hancur dan memakai pakaianku dengan cepat, lalu keluar dari kamar dan bergegas mencari sahabatnya yang ia anggap sebagai pecundang.

Tampak gadis berpakaian setengah jadi itu sedang memandu lagu untuk para pelanggannya yang mana terdapat beberapa pria tua yang sudah bangkotan dan seharusnya beramal untuk mempersiapkan kematian.

Aku yang merasakan duniaku hancur oleh tipu dayanya merasa geram dan tak menghiraukan pandangan para pengunjung yang menatapku dengan lelehan air liur bak seolah binatang najis yang sangat menjijikkan.

"Wuuuih, anak baru, Woy," teriak salah seorang pria yang baru saja menenggak minuman keras.

Aku terus berjalan dan dengan kasar menarik tali tanktop milik Indah dan membawanya keluar meski ia mencoba memberontak cengkramanku.

Melihat perbuatanku, ia mencoba mencakarku, tetapi aku berhasil menepisnya. Lalu aku mendorongnya didinding cafe yang terbuat dari bahan tepas dan ku cengkram kasar dagunya.

"Dasar kau wanita laknat! Kau sudah merusak dan menjerumuskanku ke lembah sesat ini!" ucapku dengan sangat geram.

Ia mencibirku dengan tatapan sinis.

"Gak usah munafik, Kau! Lagian sudah janda saja belagu!" balasnya dengan tanpa merasa bersalah.

"Apakah kau ingin ku cincang!" ancamku dengan tatapan tajam.

"Oh, ya?! Coba kau baca pesan dari ibumu. Ia mengatakan jika meminta bantuan uang untuk meringankan biaya berobat adikmu yang baru lahir dan ia kebaisan uang sehingga tidak makan semalam!" ucapnya dengan senyum yang membuatku mual saat melihatnya.

Ku lepaskan cengkramanku. Ku rampas ponselku yang sedang dipegangnya. Ponsel jadul yang trend pada masanya yang hanya bisa untuk menelpon dan mengirim pesan saja.

Ku buka pesan masuk dari nomor kakak iparku yang mengatakan ibuku sakit serta adikku yang baru lahir juga dirawat dirumah sakit dengan biaya yang tidak sedikit.

Indah mencibirku. "Kau kira dengan pelayan toko kau bisa mengirimkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat?! Hanya jual apem legit yang dapat menghasilkan uang dengan mudah, dan juga enak!" bisiknya padaku. Lalu ia memasukkan uang disaku celanaku untuk pendapatan melayani pria tua malam tadi.

Hatiku bagaikan tercabik. "Tuhan, apa salahku?" rintihku dalam kepiluan. Aku tak tahu mengapa cobaan terus silih berganti tak jua pergi.

Tak berselang lama, tampak Mami Uji datang menghampiriku. "Eh, kamu, bukan waktunya untuk nangis, sana layani pengunjung," ucapnya sembari menyeka air mataku, lalu menempelkan bedak padat untuk menutupi yang telah luntur tersapu air mataku.

Ingin rasanya ku berteriak mengeluarkan semua beban yang ku hadapi, tetapi rasanya sangat percuma. "Tuhan! Ini-kah mau-Mu? Baiklah, aku akan mengikuti apa yang menjadi kehendak-Mu!" ucapku dengan patah hati dan merasakan hancurnya hidupku.

Ku sapu air mataku, lalu berjalan menuju para pengunjung dan berbaur pada mereka yang sedari tadi sudah menungguku dengan tak sabar.

Ku biarkan rambut panjang lurusku tergerai dan bergerak mengikuti irama langkahku. "Jika harus hancur mungkin hancur sekalian!" gumamku yang seolah dunia tak adil padaku.

Ku duduk ditempat karaoke dan disana para lelaki dengan segala usia dari remaja hingga yang tua bangka bersorak sorai menyambut kedatanganku.

*****

Dua bulan sudah aku bekerja didunia hitam aku mampu membelikan adikku perhiasan, ibuku juga ponakanku. Aku tahu itu uang haram, tetapi sepertinya aku sudah tak perduli lagi, aku terlanjur sakit akan kehidupan yang ku jalani.

Adikku ku kirim roda-roda untuk membantunya berjalan, meskipun belum dapat digunakan, tetapi aku sudah mempersiapkannya, dan begitu juga dengan keponakanku, aku membelikannya sepeds dan berbagai mainan serta aku yang menanggung perekonomian mereka semua, ku lakukan semua dengan ikhlas.

Hingga suatu hari aku bertemu dengan seorang pemuda yang juga menjadi tamu dicafe tempat aku bekerja.

Ada sekitar sepuluh pemuda datang ke tempat aku mencari nafkah dengan cara yang salah. Mereka menenggak minuman dan berkaraoke dengan memintaku untuk menjadi pemandunya.

tampak salah satu dari mereka yang sedikit berbeda, dari penampilan dan juga wajah, setidaknya ia terlihat lebih rapih dan menawan.

Ia melirikku, tetapi tidak menyentuh minuman yang ku suguhkan, sedangkan teman-teman yang lainnya sudah teller dan tidak sadar dengan segala prilaku mereka yang nyeleneh.

Sejak pertemuan pertama itu, aku sedikit merasakan sesuatu yang berbeda dengan hatiku.

Beberapa minggu kemudian, ia datang kembali bersama teman-temannya, dan ku lihat hal yang sama saat pertama kali ia datang, ia tak menyentuh minuman berakohol tersebut sehingga membuatku semakin penasaran dengannya.

Hingga saatnya pertemuan kami yang ke lima kalinya, ia datang sendirinya tanpa mengajak teman-temannya dengan mengendarai sebuah motor ninja yang masa itu sangat begitu dibanggakan oleh para pemuda untuk memilikinya.

Kemudian ia memberanikan dirinya untuk memintaku menemaninya memandu lagu berkaraoke. Ia berjanji akan memberiku tips lebih.

Aku pun dengan senang hati memandu lagu untuknya, hingga sampai larut malam ia memutuskan untuk pulang dan benar saja, ia memberikanku uang tips yang lebih dari biasanya.

"Besok malam apakah aku bisa mengajakmu untuk makan diluar?" tanyanya dengan tatapan serius.

Aku terdiam sejenak. Sepertinya baru kali ini aku merasakan jantungku kembali berdebar dan ini sangat tak biasa.

Aku mencoba menganggukkan kepalaku yang mana artinya aku setuju.

Aku masuk kekamarku setelah mengantarnya pulang dari depan pintu cafe.

Aku berlari ke kamar dan entah mengapa hatiku begitu berbunga hari ini. Ada banyak kupu-kupu yang berterbangan didalam perutku. Ku peluk erat guling yang menjadi pelampiasan rasa gugupku saat ini.

Saat bersamaan, ku lihat Indah masuk ke dalam kamar dengan kondisi mabuk dan pakaiannya acak-acak kan.

Dalam kesadaran yang menipis, ia mengambil sebuah bong lengkap dengan alat untuk meng-hisap barang haram tersebut. Lalu menghidupkan pemantik api dan mulai menggunakan barang haram itu dengan sangat dalam, hingga membuatnya merasa melayang ke langit ketujuh.

Aku tersadar, apakah aku harus terus begini? Atau keluar dari masalahku? Tetapi aku harus kemana, sedangkan aku tak mengenal siapapun ditempat ini.

1
Erlina Candra
Luar biasa
Eko Nur Yanto
Lumayan
Neulis Saja
is there a continuation?
Neulis Saja
utk kali ini tdk ada yg menolong karena terlampau sering berbuat masalah so enjoy it ehm 😀
Neulis Saja
i agree
Neulis Saja
padahal ibumu benar Fina kelakuanmu mungkin terpengaruh oleh lingkungan dan kamunya tdk pernah mempelajari agama Rabmu sehingga nasehat dari ibumu dianggap tdk penting dan merugikan , sayang pikiranmu picik
Neulis Saja
Fina kamu tdk merasa kalau kamu sdh terlalu menyakiti mertuamu, boro2 ingat sedekah mestinya kamu intropeksi diri karena kamu memiliki harta dgn cara kotor maka akan keluar lewat penyakit bukan karena disedekahkan, try to intropection yourself even though you are sick maybe that is a warning for you
Neulis Saja
i agree
Neulis Saja
rupanya sdh kalap dunia hanya tipu daya yg akan nencelakan kita kalau kita tdk bisa memanfaatkan dgn sebaik mungkin
Neulis Saja
makanya jadi org tua ketika ada info hrsnya diselidiki dulu jgn main ambil saja gak tahunya justru yg menghancurkan
Neulis Saja
ehm next
Neulis Saja
Allah yg membolak balikan hati seseorang maka mendekatlah pada Allah diseperti malam langitkan doamu agar hatimu menjadi tenang dan selalu intropeksi diri barangkali Allah memberi pelajaran karena kamu telah berbuat tdk adil terhadap anakmu
Neulis Saja
emak2 siksa dia dgn alat dapur biar kabur
Neulis Saja
Anna ibumu telah salah mendidik abangmu menjadi manusia serakah, tamak tdk puas kalau udah dikasih maunya semuanya biar yg lain tdk kebagian
Neulis Saja
next
Neulis Saja
selamat masuk penjara lagi lah
Neulis Saja
ibu yg baik pasti akan mengutamakan pendidikan anaknya utk bekal kelak jgn sampai seperti bapaknya kaya tapi kekayaannya tdk digunakan sekolah yg tinggi
Neulis Saja
aamiin 🤲
Neulis Saja
i agree Anna
Neulis Saja
cape kalau kerjanya sitik melulu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!