NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Pelakor / Kelahiran kembali menjadi kuat / Rumah Tangga
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.

Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Karin masih berdiri di depan cermin. Jemarinya mengusap lembut kain gaun hijau zamrud yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia kembali melihat bayangan perempuan yang dulu begitu percaya diri sebelum menikah dengan Dimas.

Pegawai butik berdiri di sampingnya sambil tersenyum kagum.

"Bu, gaun ini benar-benar sangat cocok. Potongannya seolah dibuat khusus mengikuti bentuk tubuh Ibu."

Karin membalas dengan senyum tipis. "Aku juga menyukainya."

"Kalau dipadukan dengan sepatu dan perhiasan yang tepat, saya yakin Ibu akan menjadi pusat perhatian malam ini."

Karin hanya mengangguk pelan. "Kalau begitu, tolong pilihkan semuanya sekalian."

"Tentu, Bu."

Tak lama kemudian, beberapa pegawai membawa beberapa pilihan sepatu hak tinggi, tas tangan, anting berlian, serta kalung dengan desain sederhana namun elegan. Karin mencoba satu demi satu tanpa banyak komentar. Sesekali pegawai butik memberikan pendapat, sementara Karin hanya memperhatikan pantulan dirinya di cermin.

Setelah semuanya selesai dipilih, pegawai itu tersenyum puas.

"Sudah sempurna, Bu."

Karin kembali melihat bayangannya. Kali ini ia benar-benar puas.

"Baik. Aku ambil semuanya."

"Baik, Bu. Silakan ke kasir."

Di area lounge, Arga yang sejak tadi menunggu segera berdiri ketika melihat Karin berjalan menghampirinya.

"Nyonya, sudah selesai?"

"Sudah."

Arga membuka pintu untuk Karin, lalu mengikuti langkahnya menuju meja kasir.

Pegawai kasir mulai menghitung seluruh belanjaan. Setelah beberapa saat, ia mengangkat wajahnya sambil tersenyum ramah.

"Total pembayarannya sekian, Bu."

Tanpa ragu, Karin mengeluarkan kartu hitam milik Dimas dari dalam dompetnya.

"Gunakan kartu ini."

"Baik, Bu."

Kasir menggesek kartu tersebut, lalu beberapa detik kemudian mesin EDC mengeluarkan bunyi pelan.

"Transaksi berhasil."

Karin menerima kembali kartu dan struk pembayaran. Sudut bibirnya sedikit terangkat.

Di waktu yang hampir bersamaan...

Ponsel Dimas yang sedang berada di kamar bergetar. satu notifikasi transaksi kembali masuk.

Nominalnya jauh lebih besar dibanding transaksi-transaksi sebelumnya.

Dimas yang sedang memasang jam tangannya langsung mengernyit. Ia buru-buru membuka notifikasi itu.

Nama butik yang tertera di layar membuat wajahnya berubah.

"Apa lagi yang dibeli Karin?"

Ia menggertakkan giginya pelan.

"Perempuan itu benar-benar sengaja menghabiskan uangku."

Di depan meja rias, Vina yang sedang mengenakan anting langsung menoleh.

"Mas, ada apa?"

Dimas buru-buru mematikan layar ponselnya.

"Tidak ada."

"Mas terlihat kesal."

"Hanya urusan pekerjaan."

Meski begitu, rahangnya masih mengeras. Ia mulai kehilangan kesabaran, tetapi acara amal malam itu jauh lebih penting daripada pulang untuk memarahi Karin.

"Sudahlah, nanti saja," gumamnya pelan.

Sementara itu, Karin keluar dari butik dengan langkah anggun. Langit mulai berwarna jingga, menandakan malam akan segera tiba.

Arga membukakan pintu mobil.

"Nyonya, apakah kita langsung menuju lokasi acara?"

Karin menggeleng pelan.

"Belum."

Arga tampak heran.

"Kita mampir ke salon sebentar."

"Salon?"

Karin tersenyum tipis.

"Gaunnya sudah sempurna. Sekarang tinggal menyempurnakan penampilanku."

Arga mengangguk hormat.

"Baik, Nyonya."

Sedan hitam itu kembali melaju membelah jalan kota.

Tak lama kemudian, sedan hitam yang dikendarai Arga berhenti di depan sebuah salon kecantikan premium yang sudah lebih dulu dipesan oleh Karin. Seorang resepsionis segera menyambutnya dengan ramah, lalu mempersilahkannya masuk ke ruang rias khusus.

"Selamat datang, Bu Karin. Semua kebutuhan Ibu sudah kami siapkan."

"Terima kasih."

Selama hampir dua jam, beberapa penata rias bekerja dengan teliti. Rambut Karin ditata menjadi gelombang lembut yang elegan, riasannya dibuat natural dengan sentuhan mewah, sementara kuku dan detail penampilannya disempurnakan hingga tidak ada yang terlewat.

Saat semuanya selesai, salah seorang penata rias memutar kursi perlahan menghadap cermin.

"Silakan dilihat, Bu."

Karin menatap pantulan dirinya beberapa saat. Ia hampir tidak mengenali perempuan yang berdiri di hadapannya.

Bukan karena wajahnya berubah. Melainkan karena aura yang selama ini hilang akhirnya kembali.

Perempuan di dalam cermin itu tampak anggun, percaya diri, dan berwibawa.

Senyum tipis terukir di bibir Karin.

"Terima kasih."

"Senang bisa membantu, Bu."

Karin kemudian berdiri dan berjalan menuju meja kasir. Seperti sebelumnya, ia kembali mengeluarkan kartu hitam milik Dimas untuk melakukan pembayaran.

"Silakan, Bu."

Kasir memproses pembayaran, lalu menyerahkan kartu beserta struknya.

"Transaksi berhasil. Terima kasih, Bu."

"Terima kasih."

Karin keluar dari salon dengan langkah tenang.

Arga yang sejak tadi menunggu di dekat mobil sempat terpaku beberapa detik. Meskipun sebelumnya ia sudah melihat Karin mengenakan gaun itu di butik, setelah rambut dan riasannya selesai, penampilan wanita itu terasa jauh lebih memukau.

"Nyonya..." ucapnya pelan.

Karin menghentikan langkahnya.

"Ya?"

Arga sedikit menundukkan kepala.

"Maaf kalau lancang."

"Katakan saja."

"Kalau saya tidak mengenal Nyonya sebelumnya, mungkin saya akan mengira Nyonya adalah seorang direktur perusahaan atau pemilik grup bisnis besar."

Karin terkekeh pelan.

"Berlebihan."

"Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat."

Karin menggeleng sambil tersenyum kecil.

"Terima kasih."

Arga segera membukakan pintu mobil.

"Silakan, Nyonya."

Karin baru saja akan masuk ke dalam mobil ketika ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat dikenalnya.

Dimas.

"Aku dan Ibu ada urusan di luar untuk acara yayasan. Jangan menunggu kami makan malam."

Karin membaca pesan itu sekali lagi, lalu tersenyum sinis.

"Masih saja berbohong."

Pria itu sedang bersiap membawa Vina menghadiri Gala Charity Night, sementara dirinya sengaja ditinggalkan seperti yang terjadi di kehidupan sebelumnya.

Karin mengunci layar ponselnya tanpa membalas pesan itu. Ia menatap Arga yang masih berdiri di samping pintu mobil.

"Arga."

"Ya, Nyonya."

"Sekarang kita ke hotel tempat Gala Charity Night diselenggarakan."

Arga mengangguk mantap.

"Baik, Nyonya."

Sedan hitam itu perlahan meninggalkan halaman salon, melaju menuju hotel tempat acara amal paling bergengsi malam itu akan berlangsung.

Di saat yang sama, Dimas, Bu Ratna, dan Vina sama sekali tidak menyadari bahwa perempuan yang sengaja mereka tinggalkan sebentar lagi akan muncul di hadapan seluruh tamu sebagai istri sah Dimas.

1
Thewie
terlalu bertele tele.
Dede Dedeh
perasaan setiap episode nya kok cina and the geng yg selalu menang, karin terlalu lambat memberi balasan,,, kecewa aku thor/Pray/
Thewie
sikarin kayak jadi bodoh. keluar dr rmh itu kenapa. bawa smua berkas2 penting. ini pake acara belanja belanja . bodoh bodoh
Irma
puas banget 🤣🤣🤣 lanjut Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!