Darah Pewaris Dewa
Atlas dan Oliver menjalani hidup sebagai manusia biasa, hingga kematian ibu mereka membangkitkan kekuatan kuno yang tersembunyi dalam darah mereka.
Mereka ternyata adalah pewaris terakhir dari pendekar legendaris yang pernah melindungi Alam Dewa dari kegelapan.
Namun saat rahasia masa lalu mulai terbuka, mereka menemukan bahwa para dewa menyimpan pengkhianatan besar yang mengubah sejarah.
Dengan ancaman yang semakin dekat, Atlas dan Oliver harus mencari kebenaran tentang warisan mereka...
sebelum kekuatan dalam darah mereka menjadi penyebab kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ASAL SANG PENCIPTA
Pertanyaan terakhir dari Penjaga Kenangan terus terngiang di pikiran para pewaris.
"Dari mana asal Sang Pencipta?"
Sebuah pertanyaan yang bahkan lebih besar daripada awal.
Lebih dalam daripada akhir.
Karena selama ini...
mereka selalu mencari sumber dari segala sesuatu.
Namun tidak pernah bertanya...
siapa yang menciptakan sang pencipta?
KEGELISAHAN PARA PEWARIS
Kembali di Alam Dewa...
Atlas berdiri di tempat yang tinggi, memandang seluruh dunia yang telah mereka lindungi.
"Dunia Pertama mengetahui tentang penciptaan."
"Tapi mereka tidak mengetahui asal Sang Pencipta."
Oliver mengangguk.
"Aku mencoba melihat masa lalu."
"Tapi tidak ada apa pun."
"Seolah keberadaan Sang Pencipta tidak memiliki awal."
BATAS PENGETAHUAN
Arkan duduk dalam keheningan.
"Selama ini kita menganggap Sang Pencipta adalah titik pertama."
"Tapi bagaimana jika..."
"...bahkan titik pertama memiliki sesuatu sebelum dirinya?"
Seraphion menatap langit.
"Apakah mungkin ada sesuatu yang lebih tinggi dari pencipta?"
Tidak ada yang menjawab.
Karena pertanyaan itu terlalu besar.
DATANGNYA PESAN BARU
Tiba-tiba...
Pohon Warisan yang ada di tangan Atlas bersinar.
Daun emas yang diberikan Dunia Pertama bergerak perlahan.
Sebuah pesan muncul.
Bukan dari masa lalu.
Bukan dari masa depan.
Melainkan dari tempat yang tidak memiliki waktu.
"Jika kalian ingin mengetahui asal penciptaan..."
"carilah tempat sebelum alasan pertama."
TEMPAT SEBELUM ALASAN
Oliver terkejut.
"Tempat sebelum alasan pertama?"
Arkan mengangguk perlahan.
"Berarti tempat sebelum keinginan untuk menciptakan muncul."
Atlas memandang semua pewaris.
"Apakah tempat seperti itu benar-benar ada?"
Sang Pengamat menjawab:
"Aku tidak tahu."
Dan jawaban itu membuat semuanya semakin serius.
Karena Sang Pengamat telah melihat hampir seluruh keberadaan.
Namun ada satu tempat yang bahkan ia tidak mampu melihat.
GERBANG TANPA NAMA
Di luar Alam Dewa...
muncul sebuah gerbang.
Tidak terbuat dari cahaya.
Tidak terbuat dari kegelapan.
Tidak memiliki bentuk yang jelas.
Seolah gerbang itu hanya ada ketika seseorang mencoba mencarinya.
UJIAN PERTAMA
Ketika Atlas mendekati gerbang itu...
sebuah suara terdengar.
"Sebelum memasuki tempat ini..."
"jawablah satu pertanyaan."
Atlas berhenti.
"Apa pertanyaannya?"
Suara itu bertanya:
"Jika tidak ada yang melihat, apakah sesuatu tetap memiliki arti?"
JAWABAN PARA PEWARIS
Oliver berpikir lama.
Karena pertanyaan itu mirip dengan ujian yang pernah mereka hadapi.
Namun kali ini lebih dalam.
Seraphion berkata:
"Ya."
Semua menatapnya.
Ia melanjutkan:
"Karena arti tidak lahir dari pengakuan orang lain."
"Arti lahir dari keberadaan itu sendiri."
GERBANG TERBUKA
Setelah jawaban itu...
gerbang perlahan terbuka.
Namun di baliknya tidak ada dunia.
Tidak ada ruang.
Tidak ada waktu.
Hanya sebuah kehampaan yang terasa hidup.
TEMPAT SEBELUM SEGALANYA
Mereka melangkah masuk.
Dan untuk pertama kalinya...
para pewaris melihat sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan.
Sebuah tempat tanpa penciptaan.
Tanpa kehancuran.
Tanpa kehidupan.
Namun di tengah kehampaan itu...
terdapat satu cahaya kecil.
Cahaya yang tampak sederhana.
Namun seluruh keberadaan terasa berasal darinya.
Atlas berbisik:
"Apakah itu..."
Sang Pengamat menjawab dengan suara pelan:
"Mustahil..."
"Karena jika itu benar..."
"maka kita sedang melihat..."
"...awal dari Sang Pencipta."
Cahaya kecil itu tetap berada di tengah kehampaan.
Tidak bergerak.
Tidak membesar.
Namun seluruh keberadaan di sekitarnya terasa bergantung padanya.
Para pewaris berdiri diam.
Untuk pertama kalinya...
mereka tidak merasakan kekuatan.
Mereka merasakan ketenangan.
CAHAYA SEBELUM PENCIPTAAN
Atlas perlahan mendekat.
Namun sebelum tangannya menyentuh cahaya itu...
sebuah suara terdengar.
Bukan suara laki-laki.
Bukan suara perempuan.
Bukan suara makhluk apa pun.
Suara itu seperti pikiran yang berubah menjadi kata.
"Mengapa kalian mencari aku?"
Atlas menjawab:
"Karena kami ingin mengetahui asal dari semua yang ada."
JAWABAN DARI KEHAMPANAN
Cahaya itu bergetar lembut.
"Kalian mencari awal."
"Namun kalian lupa..."
"bahwa awal hanya ada ketika sesuatu memutuskan untuk dimulai."
Oliver terdiam.
"Jadi sebelum awal..."
"Tidak ada apa pun?"
Cahaya itu menjawab:
"Bukan tidak ada."
"Hanya belum memiliki nama."
SESUATU YANG TIDAK TERLIHAT
Arkan memperhatikan cahaya itu.
"Jadi sebelum penciptaan..."
"ada kemungkinan?"
"Benar."
"Segala sesuatu yang ada..."
"pernah menjadi kemungkinan."
ASAL SANG PENCIPTA
Para pewaris semakin penasaran.
Atlas bertanya:
"Lalu bagaimana Sang Pencipta muncul?"
Cahaya itu diam sejenak.
Kemudian menjawab:
"Aku tidak muncul."
"Aku memilih."
Semua terkejut.
PILIHAN PERTAMA
Cahaya itu melanjutkan.
"Sebelum segala sesuatu memiliki bentuk..."
"ada satu pertanyaan."
"Apakah sesuatu yang belum ada berhak mendapatkan kesempatan?"
Dan dari pertanyaan itulah...
lahir sebuah pilihan.
Pilihan untuk menciptakan.
BUKAN KEKUATAN
Seraphion terdiam.
"Jadi penciptaan tidak dimulai dari kekuatan?"
"Tidak."
"Juga bukan dari keinginan untuk menguasai?"
"Tidak."
"Penciptaan dimulai dari keyakinan..."
"bahwa sesuatu yang belum ada tetap memiliki nilai."
PEMAHAMAN ATLAS
Atlas melihat kembali perjalanan mereka.
Mereka mencari pedang terkuat.
Mencari kekuatan tertinggi.
Mencari rahasia alam semesta.
Namun jawaban sebenarnya...
selalu sederhana.
Sebuah kepercayaan.
Bahwa sesuatu layak untuk ada.
UJIAN TERAKHIR
Cahaya itu tiba-tiba berubah.
Mereka melihat sebuah dunia.
Dunia tanpa penderitaan.
Tanpa kesalahan.
Tanpa kehilangan.
Sebuah dunia sempurna.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Tidak ada pilihan.
Semua sudah ditentukan.
PERTANYAAN SANG PENCIPTA
Suara itu terdengar.
"Jika kalian dapat menciptakan dunia sempurna..."
"Apakah kalian akan mengambil kebebasan mereka demi kebahagiaan?"
Para pewaris kembali menghadapi pertanyaan yang pernah mereka hadapi.
Namun kini...
mereka menjawab di hadapan sumber segala penciptaan.
JAWABAN PARA PEWARIS
Atlas menggeleng.
"Tidak."
"Karena dunia yang sempurna tanpa pilihan..."
"...bukan kehidupan."
Cahaya itu bersinar lebih terang.
"Kalian telah memahami."
"Sebab inilah alasan mengapa aku menciptakan."
RAHASIA TERAKHIR
Namun sebelum mereka pergi...
Oliver bertanya:
"Jika kau adalah asal Sang Pencipta..."
"Lalu siapa yang menciptakan tempat ini?"
Keheningan.
Cahaya itu tidak langsung menjawab.
Dan untuk pertama kalinya...
mereka merasakan sesuatu.
Keraguan.
"Pertanyaan itu..."
"bahkan aku tidak memiliki jawabannya."
Di kejauhan...
dalam kehampaan sebelum segala sesuatu...
muncul sebuah bayangan kecil.
Sesuatu yang bahkan berada di luar pemahaman Sang Pencipta.
Bayangan kecil itu perlahan muncul dari kehampaan.
Tidak membawa kegelapan.
Tidak membawa kehancuran.
Namun keberadaannya membuat cahaya asal penciptaan bergetar.
Untuk pertama kalinya...
sesuatu yang tidak diketahui bahkan oleh Sang Pencipta muncul.
SESUATU DI LUAR PEMAHAMAN
Para pewaris menatap bayangan itu.
Atlas menggenggam tangannya.
"Apakah itu musuh?"
Cahaya asal penciptaan menjawab:
"Tidak."
"Lalu apa?"
Keheningan berlangsung lama.
Kemudian cahaya itu berkata:
"Aku tidak tahu."
Jawaban itu membuat semua terdiam.
Karena mereka baru menyadari...
bahkan sumber penciptaan memiliki batas.
MAKHLUK TANPA ASAL
Bayangan itu perlahan mengambil bentuk.
Bukan manusia.
Bukan dewa.
Bukan energi.
Sebuah keberadaan yang belum memiliki definisi.
Ia menatap cahaya.
Lalu bertanya:
"Apakah kau yang menciptakan aku?"
Cahaya itu menjawab:
"Tidak."
"Apakah aku yang menciptakanmu?"
Bayangan itu diam.
Karena ia juga tidak memiliki jawaban.
PERTANYAAN YANG LEBIH TUA
Arkan mulai memahami.
"Jadi ada sesuatu yang bahkan lebih awal dari penciptaan."
Sang Pengamat mengangguk perlahan.
"Selama ini kita mencari titik pertama."
"Tapi mungkin..."
"...tidak pernah ada titik pertama."
LINGKARAN KEBERADAAN
Cahaya itu berkata:
"Penciptaan bukan sebuah garis."
"Yang memiliki awal dan akhir."
"Ia seperti lingkaran."
"Sesuatu memberi arti kepada sesuatu yang lain."
JAWABAN YANG TIDAK SEMPURNA
Atlas menatap kehampaan.
"Jadi kita mungkin tidak akan pernah menemukan jawaban terakhir?"
Cahaya itu menjawab:
"Mungkin."
"Tapi bukankah pencarian itu sendiri yang membuat kalian terus berjalan?"
PEMAHAMAN BARU
Para pewaris akhirnya memahami.
Mereka tidak melakukan perjalanan untuk menemukan akhir dari semua pertanyaan.
Mereka melakukan perjalanan karena setiap jawaban membuka kesempatan untuk memahami lebih banyak.
WARISAN SANG PENCIPTA
Cahaya itu memberikan sebuah tanda kepada para pewaris.
Bukan kekuatan.
Bukan kemampuan baru.
Sebuah simbol kecil berbentuk lingkaran.
"Ini adalah Warisan Pertama."
Atlas bertanya:
"Untuk apa?"
"Untuk mengingat bahwa tidak semua hal harus memiliki akhir agar memiliki arti."
KEMBALI KE ALAM DEWA
Para pewaris kembali melewati gerbang tanpa nama.
Namun kali ini...
mereka tidak membawa jawaban.
Mereka membawa pemahaman.
Mereka akhirnya mengetahui:
Penciptaan lahir dari pilihan.
Kehidupan lahir dari rasa ingin tahu.
Dan keberadaan lahir dari kemungkinan.
SEBUAH RAHASIA BARU
Saat mereka kembali...
Sang Pengamat melihat simbol lingkaran di tangan Atlas.
Wajahnya berubah.
"Aku pernah melihat simbol itu."
Atlas menatapnya.
"Di mana?"
Sang Pengamat menjawab pelan:
"Di tempat yang bahkan tidak tercatat dalam sejarah."
"Tempat yang berada di luar awal dan akhir."
PINTU TERAKHIR
Langit Alam Dewa kembali berubah.
Namun kali ini...
tidak ada ancaman.
Tidak ada musuh.
Hanya sebuah pintu yang muncul.
Sebuah pintu sederhana.
Tanpa cahaya.
Tanpa bayangan.
Dengan satu tulisan.
"Bagi mereka yang masih ingin memahami."
Para pewaris saling melihat.
Karena mereka tahu...
perjalanan mereka belum selesai.
Masih ada tempat yang belum mereka datangi.
Masih ada rahasia yang belum terungkap.
Dan mungkin...
di balik pintu itu...
tersimpan jawaban tentang alasan keberadaan itu sendiri.
...★----------------★...