Kisah rumah tangga Atika dan Aris yang diterpa badai, sebelumnya mereka keluarga yang harmonis dan saling melengkapi akan tetapi adanya orang ketiga yang membuat hubungan rumah tangga mereka hancur.
Bagaimana kelanjutan kisahnya? yuk ikuti ceritaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratih Ratnasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Setelah kepulangan Rendi dari kantornya, Intan dengan sigap mempersiapkan kebutuhannya dari mulai baju ganti, bahkan makan malamnya sudah ia siapkan.
"Mas mau mandi dulu atau makan dulu," tanyanya pada Rendi ia mengubah panggilan mas untuk suaminya.
"Kau ini bodoh atau gimana? tentu saja aku akan mandi dulu, aku bukan dirimu!"
"Baik Mas, kalau gitu silahkan. Aku sudah menyiapkan air hangatnya."
'Rupanya dia mulai bisa mengimbangi keinginan ku, baguslah tak perlu capek untuk mengajarinya'
Setelah selesai mandi Intan pun menyiapkan makan malamnya, ia memasaknya sendiri karena Rendi tidak ingin masakan pembantu setelah menikah dengannya. Menurut Rendi untuk apa punya istri kalau masih membutuhkan pembantu, baginya seorang istri seperti pembantu yang harus menyiapkan segala keperluannya.
"Kau yang masak ini semua?"
"Iya Mas,"
"Rupanya kau pintar juga dalam hal memasak, tapi jangan senang dulu. Aku belum mencicipinya."
Intan mengambilkan piring kosong lalu mengambil makanan untuk Rendi. Jantungnya berdebar, ia takut masakannya tak sesuai selera dengan lidah suaminya.
'Ini enak, lebih enak dari masakan bi asih. Kok dia bisa ya'
"Gimana Mas? apa sudah sesuai dengan selera Mas."
"Hemmm lumayan."
Intan mengelus dadanya dengan tenang, akhirnya Rendi tidak protes soal masakannya.
Atika dan Reihan sedang makan malam bersama, sudah hari kedua art nya masih cuti dan semua keperluannya Atika lah yang menyiapkannya.
"Masakan mu sangat enak Tik,"
"Tentu saja Mas, karena aku sudah terbiasa."
"Oh iya bagaimana dengan orang tua mu, apa mereka sudah tahu kita akan segera menikah?"
"Belum Mas, orang tua ku belum tahu kalau aku sudah bercerai dengan mantan suamiku apalagi soal pernikahan kita Mas."
"Apa? kamu serius, kok bisa kamu gak beri tahu orang tua mu."
"Aku belum siap Mas, aku takut ibu akan kepikiran soal rumah tangga ku jadi sampai saat ini aku masih menyembunyikannya."
"Astaga Atika, kau ini ada ada saja. Bagaimana aku akan menikahi mu kalau orang tua mu saja taunya kau masih bersama Aris."
"Maaf ya Mas, nanti aku akan pulang ke Jawa untuk memberitahu orang tua ku."
Reihan tak semangat lagi, seharusnya ia mempercepat pernikahannya dengan Atika namun ternyata Atika belum merencanakan apa apa.
"Maaf ya Mas, gimana kalau libur nanti aku mau mengajak Mas pulang ke Jawa untuk memberitahu orang tua ku."
Reihan tersenyum kembali mendengar ucapannya.
"Boleh, aku ingin segera kesana. Gimana kalau besok."
"Mas kan kerjaan kita di kantor masih banyak loh,"
"Aku tak peduli Atika, yang penting aku ingin secepatnya meminta restu pada orang tua mu, apa kau tahu aku ini pria normal yang sangat lama menahan keinginanku."
"Mas jangan berbicara soal itu, aku jadi merinding kalau kau mengatakannya."
"Hahaha maaf maaf, tenang saja aku tak akan memakan mu."
Mereka berdua sudah seperti seorang suami istri yang sedang becanda, bahkan Reihan merasa kehangatannya kembali lagi setelah ia dicampakkan oleh mantan istrinya. Namun ia tak menyangka akan bertemu lagi dengan Atika yang pernah ia cintai dulu.
***
Aris diam diam mencari tahu keberadaan Atika lewat bawahannya tanpa sepengetahuan istrinya.
"Apa kau sudah menemukan dia dimana?"
"Sudah pak, ibu Atika tinggal bersama pak Reihan."
"Apa? maksudmu mereka tinggal berdua dalam satu rumah."
"Ya betul pak,"
Nadia sekilas mendengar suaminya sedang ngobrol, ia penasaran lalu masuk ke ruang kerjanya.
"Mas siapa yang tinggal bersama?" Seketika Aris langsung gugup dengan kedatangan Nadia yang begitu saja.
"Tidak sayang, bukan apa apa."
"Bohong kamu Mas,"
"Mas serius sayang, ada apa kesini?"
"Tentu saja aku ingin melihat suamiku, ini sudah malam Mas, ayo kita tidur bukankah kau ingin aku segera hamil tapi kau malah sibuk dengan pekerjaan."
"Sebentar dong sayang, kan pekerjaan juga penting, apalagi kamu lebih penting."
"Ayo lah Mas kita main lagi, bukannya ibu mu selalu meminta cucu. Aku capek di caci terus sama ibu mu dan aku ingin segera mengandung anak mu Mas."
Aris pasrah menerima keinginan istrinya padahal ia belum selesai berbicara dengan bawahannya, semakin hari Aris semakin malas melayani Nadia yang tidak ada puasnya, terkadang ia kelelahan karena Nadia selalu memintanya lagi sampai pagi. Sehingga Aris mulai merasakan bosan dan jenuh dengan sikap istrinya itu.
"Baru sebentar kok udah keluar sih Mas, aku masih mau tau," ucapnya dengan penuh kekesalan pada suaminya.
"Maaf Atika, hari ini aku benar benar lelah."
"Pokoknya aku gak mau, kau harus memuaskan ku Mas." Ternyata selama ini Nadia memiliki hyper yang tinggi, membuat pasangannya kewalahan bahkan Aris ingin menyerah pada istrinya itu namun Nadia terus saja merayunya dengan rayuan maut yang membuat Aris kembali melakukan lagi dan lagi.
'Sumpah ini sangat membuat ku lelah, kenapa wanita ini tak ada puasnya. Rasanya aku ingin kembali pada Atika yang tak selalu menuntut soal kepuasannya'
"Mas kenapa sih akhir akhir ini kamu sering kalah."
"Mas capek Nadia, kenapa kau tak pernah puas?"
"Aku juga tak tahu Mas kenapa rasanya aku selalu menginginkan lagi dan lagi."
"Kau harus periksa pada dokter Nadia, kau membuatku kewalahan. Kalau begini caranya aku semakin lelah tak nafsu."
"Kau tak suka Mas, kau sudah tak cinta lagi sama aku."
"Bukan begitu maksud ku Nadia, tapi kau kenapa selalu ingin melakukannya bahkan hampir sepuluh kali."
Aris mulai jengah dengan sikap Nadia, rasanya ia ingin menghilang saja dari hadapan Nadia namun ia tak mau kalau pergi tanpa harta yang ia bawa. Ia juga sudah lelah menunggu benihnya tumbuh di rahim istrinya itu, sampai kapan ia harus menunggu lagi setelah dulu menunggu Atika lima tahun lebih.