"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.
Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.
Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 Mulai Mengajari
"Dengar ya Alfian, Rafa itu tidak pernah menjadi guru privat gue, Rafa memang ngajari gue dan....."
"Sekarang minta ajari sama gue karena lo sama sekali tidak ada kemajuan saat diajari olehnya, tetap menjadi peringkat terakhir," tebak Alfian memotong kalimat Celia.
"Nggak!" tegas tegas Celia.
"Sudah ngaku aja kalau gue lebih pintar daripada Rafa dan sudah pasti tidak ada-apanya dibandingkan lo," sahut Alfian.
"Heh! belum tentu juga elu lebih pintar," sahut Celia.
"Oke kita akan tukaran, gue akan ngajarin lo belajar dan lo harus ngajari gue ngaji dan gue juga mau tukaran karena supaya terbukti bahwa gue lebih pintar daripada Rafa dan ketika nilai lo naik saat berada di tangan gue, lo harus akui kepintaran gue dan harus turuti satu keinginan gue," ucap Alfian.
"Ke- inginan apa?" tanya Celia.
"Nanti ketika sudah pembuktian itu, baru gue akan kasih tahu," jawab Rafa.
Celia tampak waspada, sejujurnya dia cukup gugup, dan sudah pasti takut jika sebenarnya Alfian akan memanfaatkan kesempatan, tetapi sebenarnya dia sendiri juga tidak mengetahui apa yang di Alfian.
"Hey jangan bengong!" Alfian membunyikan jarinya tepat di wajah Celia.
"Bagaimana setuju apa tidak?" tanya Alfian memastikan.
"Oke siapa takut, tapi awas aja jika permintaan Lo aneh-aneh," jawab Celia terlihat berani.
Alfian tidak merespon hanya mengangkat kedua bahunya.
******
Celia pada akhirnya diantarkan pulang Alfian, karena Celia yang diantarkan, jadi Alfian bisa menaiki mobil lain dan tidak menggunakan sopir.
"Enak banget jadi orang kaya, bisa gonta-ganti mobil," ucap Celia menyadari mobil tersebut bukan mobil biasa yang dipakai Alfian saat ke sekolah.
"Itu hanya pandangan lo saja," sahut Alfian menyetir dengan tenang tanpa menoleh ke arah Celia.
"Oh iya untuk tugas yang telah diberikan oleh Bu Tati kepada kita, kita akan melanjutkan untuk mengerjakan besok pulang sekolah," ucap Celia.
"Oke," sahut Alfian tidak masalah sama sekali.
"Dan untuk mengajari tentang pelajaran di sekolah, kita bisa gunakan waktu istirahat selama berada di sekolah," ucap Celia.
"Oke," sahut Alfian.
"Oke-oke aja?" Celia mengerutkan dahi.
"Ya terus mau gimana lagi? Protes?" tanya Alfian.
"Nggak protes juga, tetapi sejak tadi wajah lo itu nggak pernah meyakinkan," jawab Celia.
"Lo itu kebiasaan apa-apa selalu melihat dari wajah saja, dan sepertinya tidak satupun tanggapan lo yang benar tentang gue," ucap Alfian.
"Maksudnya bagaimana?" tanya Celia.
"Lo selalu berpikiran buruk kepada orang lain, apa-apa selalu melihat dari wajah, seharusnya berpikir positif dan jangan berprasangka kepada orang lain!" tegas Alfian
"Iya-iya yang paling benar," sahut Celia.
Alfian menghela nafas, tidak mengatakan apa-apa lagi.
******
Celia dan Alfian akhirnya bertukar tugas dan kebutuhan mereka masing-masing. Alfian ternyata menepati janjinya, saat ini keduanya berada di dalam perpustakaan dengan Alfian yang mencari beberapa buku Celia.
Kedua tangan Celia yang berpangku saat ini sudah tertimpa empat buku Celia hampir saja jatuh terbawa oleh buku-buku tersebut.
"Alfian apa nggak sekalian aja satu rak buku diletakkan di tangan gue. Pegal tahu!" kesal Celia.
"Bawel!" sahut Alfian.
"Siapa yang nyuruh lo pegang buku itu sampai menutupi wajah. Memang nggak bisa diletakkan di atas meja," ucap Alfian.
"Kenapa nggak nyuruh dari tadi," sahut Celia akhirnya meletakkan buku-buku tersebut di atas meja dan barulah tangannya terasa lempang.
Sudah cukup banyak tumpukan buku, Alfian tampak mengambil satu buku.
"Kembalikan yang lain pada tempatnya," ucapnya dengan enteng setelah memilih-milih buku tersebut.
"Hah!" pekik Celia.
"Kenapa? mau membaca semuanya?" tanya Alfian.
"Ya nggak gitu juga, kalau hanya yang dipilih satu buku saja, kenapa mengambil semuanya dan kenapa tidak ambil ini saja dari tadi?" tanya Celia protes dengan kelaku Alfian.
"Syarat agar pelajaran itu masuk ke dalam otak, kalau guru memberikan perintah dan memberi arahan di lakukan dan bukan protes!" tegas Alfian.
"Iya-iya deh, terserah lo," sahut Celia pada akhirnya mengembalikan buku-buku tersebut kedalam tempatnya.
Celia dan Alfian sudah duduk berduaan, dan tampak dekat.
Alfian mengambil buku itu, dan juga mengambil pulpen terlihat tangannya begitu meja menandai beberapa hal dalam buku tersebut, cara membaca Alfian juga sangat cepat, Celia sampai terkagum-kagum tidak bisa berkata apa-apa.
"Alfian lo sebenarnya hanya gaya-gayaan saja bukan, lo asal-asal, an ya!" ucap Celia tidak yakin dengan Alfian.
Alfian tidak merespon dan tetap melanjutkan caranya dalam belajar.
"Lihat yang gue tandai ini adalah hal-hal penting dalam pembelajaran yang menjadi pokok-pokok pembahasan pembelajaran, lo cukup kuasai ini, tidak ada gunanya membaca banyak buku, karena materinya tetap hanya itu-itu saja dan selalu berkaitan, lebih baik membaca satu buku dengan materi pokok yang langsung bisa dikuasai," ucap Alfian.
"Sebentar lagi akan ujian semester, seluruh nilai akan ditampilkan di mading sekolah, bukan hanya 1 kelas, tetapi seluruh sekolah dari kelas 1 sampai kelas 3, juara 1 umum sampai akhir akan dipajang di mading, tidak kebayang dari ratusan siswa yang ada di sekolah ini dan lo peringkat terakhir," ucap Alfian.
"Sembarangan....." Celia langsung mendorong dada Alfian.
"Enak aja asal bicara, doanya benar-benar sangat kejam, bukannya doanya yang baik-baik malah nyumpahi," sahut Celia.
"Makanya belajar yang benar dan jangan protes, hal yang pertama yang dilakukan itu adalah kurangi berburuk sangka kepada orang lain dan terus belajar dengan baik!" tegas Alfian.
"Iya-iya yang paling pintar," sahut Celia dengan menghela nafas.
"Ayo belajar!" tegas Alfian sudah seperti orang benar yang mengajari Celia.
Celia mengikuti trik yang diberikan Alfian, mulai belajar dengan cara-cara yang ditunjukkan kepadanya.
Valery bersama dengan Kania memasuki perpustakaan, keduanya juga ingin mengambil salah satu buku yang mereka butuhkan tetapi tiba-tiba pandangan mereka tertuju pada Alfian dan Celia.
"Nggak salah, mereka sedekat itu?" tanya Valery.
"Jadi lo baru lihat kedekatan mereka?" tanya Kania
"Maksudnya bagaimana?" tanya Valery.
"Gue sudah lama pengen ngobrol sama lo tentang hal ini, gue juga beberapa kali menangkap mereka berdua jalan bareng dia benar-benar dekat," ucap Kania.
"What!" pekik Valery.
"Entahlah apa yang terjadi, Alfian juga sikapnya belakangan ini berubah dan jangan-jangan karena dekat dengan cewek kampungan itu lagi," ucap Kania.
"Tunggu, dari mana jalannya mereka tiba-tiba saja dekat, bukankah dia adalah musuh bebuyutan kita dan tidak seharusnya dekat," sahut Valery.
"Kenapa tanya gue, tanya saja sama orang yang bersangkutan," jawab Kania dengan mengangkat kedua bahunya.
"Apa-apaan Alfian, jangan bilang dia terpengaruh lagi sama cewek itu, benar-benar Alfian jika sampai hal itu terjadi gue nggak tahu harus bilang apa lagi," ucap Valery tampak begitu kesal.
Ditengah-tengah pembicaraan mereka berdua tiba-tiba saja bahu Valery dari belakang disenggol yang membuatnya hampir saja jatuh.
"Upps maaf Valery aku tidak sengaja," ternyata orang yang melakukan hal itu tak lain adalah Chintya.
"Lo memang nggak lihat ada orang di sini dan jalan begitu luasnya, harusnya lewat jalan lain!" tegas Kania.
"Shutttt, kalian tidak boleh berisik, ini perpustakaan," ucap Chintya.
"Chintya mau lo sebenarnya apa, gue tahu lo sengaja bukan melakukan hal tadi, kenapa lo itu nggak pernah berhenti iri sama gue, gue paling populer di sekolah dan banyak orang-orang yang suka sama gue, lo pengen banget ingin jadi gue hah!" sahut Valery benar-benar kesal kepada Chintya.
"Iri, apa yang harus membuatku iri kepada kamu Valery, aku juga populer di sekolah ini dan terlebih lagi aku juara dua umum, sudah jelas aku berada di atas kamu tentang masalah otak, juara 1 di kelasku dan juara 2 umum," sahut Chintya menyombongkan diri.
"Lo juga nggak bakalan juara kelas kalau Rafa tidak terkendala pendidikan semester ini, ingat lo juga selalu yang nomor 2 di kelas!" sahut Kania dengan kapal menekankan teman seangkatannya itu tetapi mereka beda kelas.
"Paling tidak jika bersaing dengan temannya lo yang sombong ini, gue tetap menjadi pemenangnya, dan dia akan selalu kalah dalam hal apapun, jangankan bersaing dengan gue, bersaing dengan orang lain saja dia tidak akan mampu," ucap Chintya menyombongkan diri.
"Apa lo bilang!" Valery terlihat emosi dan rasanya ingin sekali menarik rambut Chintya.
"Sudah Valery, ayo kita pergi dan jangan membuat keributan di sini!" ajak Kania menarik temannya keluar dari perpustakaan tersebut sebelum membuat kegaduhan.
"Dasar wanita aneh," ucap Chintya dengan geleng-geleng kepala.
Bersambung ......