Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8
"Mau jadi teman makanku sekali lagi?"
Air keran berhenti cukup lama.
Hans menatap layar ponsel di tangan Kiana, lalu menaruh gelas yang baru dicuci ke rak. "Tidak bisa."
Kiana berkedip. Jawaban itu datang terlalu cepat.
"Ada tugas?"
"Ada urusan sore."
Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Seperti biasa, kalimatnya berhenti tepat di tempat orang lain mulai curiga. Kiana menahan diri untuk tidak bertanya. Pernikahan mereka punya batas. Ia sendiri yang menetapkan batas itu sejak awal.
"Baik. Aku pergi sendiri."
Hans menatapnya beberapa detik. "Jangan sendirian."
"Kamu baru saja menolak."
"Bawa orang kantor."
Kiana mengangkat alis. "Kamu cemburu atau khawatir?"
"Aku tidak suka tempat ramai."
"Itu bukan jawaban."
"Pakai sepatu yang aman."
Kiana hampir tertawa. Pria itu selalu kabur ke detail paling praktis saat percakapan mulai berbahaya.
Besok sorenya, Kiana tiba di Galeri Cahaya, Kemang, dengan gaun hitam sederhana dan sepatu hak rendah. Di belakangnya berjalan Fang, asisten sementara yang dua hari terakhir membantu Navara Tech merapikan data proposal. Pria itu tidak banyak bicara, wajahnya tenang, kemejanya rapi tanpa terlihat mencolok.
"Bu Kiana, daftar tamu sudah saya konfirmasi," kata Fang pelan. "Navara Tech masuk sebagai calon vendor observasi, belum peserta final."
"Malam ini kita ubah itu."
Fang menoleh sekilas, seolah menilai apakah itu ambisi atau rencana. Ia tidak bertanya. Kiana menyukai kualitas itu.
Namun sebelum mereka mencapai meja registrasi, suara yang terlalu ia kenal memotong langkahnya.
"Kiana."
Jovian berdiri di dekat pintu utama dengan jas abu-abu gelap. Di sampingnya, Vanya mengenakan gaun satin biru muda, wajahnya lembut seperti tidak pernah merebut ruang kerja siapa pun.
Beberapa tamu langsung melirik. Nama Kiana, Jovian, dan Vanya masih terlalu segar di mulut orang-orang.
Jovian mendekat. "Kamu datang sendiri?"
"Tidak."
Tatapannya turun ke Fang. Bibir Jovian menegang. "Asisten?"
"Pendamping."
"Jangan bercanda. Masuk denganku. Orang-orang akan bicara kalau kamu berjalan dengan staf."
Kiana menatap tangan Jovian yang sudah terulur ke arahnya. Dulu, tangan itu selalu tampak seperti perlindungan. Sekarang ia hanya melihat kebiasaan mengambil tanpa izin.
"Yang orang bicarakan bukan urusanku."
Vanya menggigit bibir. "Kiana, Jovian cuma khawatir. Acara seperti ini banyak orang penting. Kalau kamu bersama kami, setidaknya tidak akan terlihat... sendirian."
"Aku tidak sendirian."
Kiana mengangkat tangannya dan menggandeng lengan Fang dengan tenang.
"Dia pendampingku."
Fang tidak bergerak kaget. Ia hanya sedikit menegakkan punggung, cukup untuk memainkan peran itu tanpa mencuri panggung. Beberapa tamu berbisik. Wajah Jovian menggelap.
"Kamu memilih mempermalukan diri sendiri?"
"Tidak. Aku memilih tidak berjalan dengan pria yang sudah memilih orang lain di hari pernikahanku."
Kalimat itu jatuh di depan pintu Galeri Cahaya seperti gelas pecah. Vanya pucat. Jovian membuka mulut, tetapi suara di dalam aula mendadak berubah menjadi gelombang bisik-bisik yang lebih besar.
"Erlan Kei datang."
"Benar itu Erlan Kei?"
"Katanya dia jarang muncul di acara publik."
Pintu samping aula dibuka oleh dua staf keamanan. Seorang pria masuk dengan jas hitam yang jatuh sempurna di bahunya. Tidak ada senyum. Tidak ada gerakan berlebihan. Namun seluruh ruangan seperti otomatis memberi jalan.
Erlan Kei.
Pak Linson.
Nama itu bergerak lebih cepat daripada tubuhnya. Pewaris misterius Kei Group. Pria yang disebut bisa membuat perusahaan jatuh hanya dengan membatalkan satu kontrak. Orang bilang ia jarang bicara, tetapi setiap kalimatnya bernilai miliaran.
Kiana sudah siap melihat konglomerat dingin.
Ia tidak siap melihat wajah Hans.
Napasnya tertahan.
Rahang yang sama. Garis hidung yang sama. Mata yang sama gelapnya. Tapi pria ini bukan Hans yang memakai kaus hitam di dapurnya, bukan pria yang mencuci piring dan menaruh samcan di atas nasinya. Linson berdiri dengan jarak yang mahal. Dingin, tinggi, terawat, seolah udara di sekitarnya pun harus meminta izin.
Kerumunan bergerak maju. Seseorang menyenggol bahu Kiana. Sepatu hak rendahnya tersangkut ujung karpet.
Tubuhnya oleng.
Sebelum jatuh, sebuah tangan menahan pinggangnya.
Aroma cologne kayu yang asing menyentuh hidungnya. Kiana mengangkat wajah dan mendapati dirinya tepat di depan Pak Linson.
Dari dekat, kemiripan itu nyaris menakutkan.
"Terima kasih," ucapnya pelan.
Linson menatapnya, datar dari atas ke bawah. "Kalau tidak bisa berdiri stabil, jangan berdiri di tengah kerumunan."
Kiana membeku.
Nada itu bukan Hans.
Hans dingin, tapi dinginnya tidak merendahkan. Pria ini berbicara seperti orang yang terbiasa melihat dunia dari lantai tertinggi.
"Saya terdorong," jawab Kiana.
"Semua orang di sini terdorong kepentingan masing-masing."
Ia melepaskan tangannya dan berjalan lewat, meninggalkan Kiana dengan detak jantung yang masih tidak rapi.
Fang mendekat. "Bu Kiana?"
"Aku baik-baik saja."
Tapi ia tidak baik-baik saja. Ada dua wajah yang sama di dua dunia yang mustahil bertemu. Satu memasak di apartemennya. Satu membuat seluruh ruangan menahan napas.
Belum sempat Kiana merapikan pikirannya, Jovian mencengkeram lengannya.
"Ikut aku."
"Lepaskan."
Jovian tidak mendengar. Ia menarik Kiana melewati tirai samping menuju koridor VIP. Cengkeramannya keras, bukan karena panik, melainkan karena ia merasa berhak.
Rasa dingin menjalar di punggung Kiana.
Ini bukan cinta. Ini bukan perlindungan. Ini kontrol.
Di ruang istirahat kecil, Jovian menutup pintu.
"Kamu tidak boleh dekat dengan Kei Group."
Kiana menarik lengannya, tetapi Jovian masih menahan. "Kamu tidak punya hak melarangku."
"Navara Tech tinggal dua bulan sebelum tutup. Kamu pikir Kei Group akan menyelamatkan perusahaan bangkrut? Mereka hanya akan memakai kamu lalu membuangmu."
"Seperti kamu?"
Wajah Jovian berubah.
"Aku melakukan semua ini demi kamu. Kiana, kamu tidak mengerti keluarga Kei seperti apa. Jangan pakai pria lain untuk membuatku cemburu."
Kiana menatapnya, muak sampai ingin tertawa.
"Kamu masih berpikir semuanya tentang kamu?"
"Karena aku tahu kamu."
"Tidak." Kiana menunduk ke tangan yang masih mencengkeramnya. "Kalau kamu tahu aku, kamu akan melepas sebelum aku harus menyakitimu."
Jovian tidak melepas.
Kiana menggigit pergelangan tangannya.
Jovian mengumpat dan mundur. Kiana langsung membuka pintu. Di koridor, beberapa staf menoleh. Ia sengaja tidak menutupi bekas merah di lengannya.
"Lain kali," katanya dengan suara cukup jelas, "jangan pernah menarik perempuan yang sudah bilang lepaskan."
Mata staf berubah. Jovian berdiri di dalam ruang istirahat, wajahnya gelap, untuk pertama kalinya terlihat seperti orang yang ketahuan melakukan sesuatu yang kotor.
Kiana berjalan kembali ke aula.
Jantungnya masih cepat, tapi pikirannya sudah dingin. Ia tidak datang untuk mengurus obsesi Jovian. Ia datang untuk menyelamatkan Navara.
Pak Linson berdiri di dekat area VIP, dikelilingi petinggi Vista Home. Fang memberi jalan halus di sisi Kiana, siap jika ia butuh mundur. Kiana justru maju.
"Pak Linson."
Percakapan di sekitar mereka berhenti.
Linson menoleh. Matanya seperti tidak mengenalnya.
Kiana menyerahkan kartu nama dengan dua tangan. "Kiana Lim, Direktur Navara Tech. Kami sedang menyiapkan proposal untuk Vista Home."
Salah satu pria Vista Home tertawa tipis. "Navara Tech? Bukankah perusahaan itu sedang restrukturisasi?"
"Benar," jawab Kiana. "Karena itu kami tidak bisa menjual omong kosong. Kami harus menjual sistem yang benar-benar bekerja."
Linson tidak mengambil kartu itu segera. "Apa yang membuat Anda berpikir Kei Group membutuhkan perusahaan yang hampir tutup?"
"Karena perusahaan yang hampir tutup tidak punya kemewahan untuk ceroboh."
Kiana membuka tablet. Dalam tiga puluh detik, ia menampilkan skema Vista Home yang sudah ia ubah: deteksi panas, kamera visual, peta tiga dimensi, jalur evakuasi penghuni, dan akses data untuk tim penyelamat.
"Kebanyakan vendor akan menjual keamanan sebagai pagar," katanya. "Navara ingin menjual keamanan sebagai jalan keluar. Saat api muncul, sistem tidak hanya memberi alarm. Ia memandu penghuni keluar dan memberi peta hidup kepada tim rescue."
Untuk pertama kalinya, mata Linson bergerak ke layar.
"Basis AI?"
"Langit AI. Arsitektur awalnya saya bangun sendiri sebelum Bintang Grup menurunkannya menjadi Cakrawala."
Hening kecil jatuh.
Linson mengambil kartu nama itu.
"Kirim demo awal dalam tiga hari."
Pria Vista Home terkejut. "Pak Linson, berarti Navara masuk daftar pitching?"
"Saya tidak mengulang keputusan."
Kalimat itu pendek, dingin, dan final.
Kiana menahan napas lega. "Terima kasih atas kesempatannya."
Linson menatapnya sekali lagi. "Jangan buang waktu saya."
"Saya juga tidak punya waktu untuk dibuang."
Sudut bibir Linson nyaris bergerak. Nyaris saja. Lalu ia pergi, meninggalkan ruang yang kembali bising.
Di sudut aula, Vanya memegang lengan Jovian dengan wajah tegang. Jovian menatap kartu nama yang kini berada di tangan Linson, matanya seperti terbakar.
Kiana tidak peduli.
Malam itu, setelah kembali ke apartemen, ia berdiri lama di depan pintu Hans. Lampu unit pria itu mati.
Ia membuka WhatsApp.
Kiana: Kamu punya saudara bernama Pak Linson?
Balasan datang lima menit kemudian.
Hans: Tidak.
Kiana: Anak tunggal?
Hans: Iya.
Kiana menatap layar.
Pesan berikutnya masuk.
Hans: Orang pernah bilang kami mirip.
Kiana mengetik, menghapus, lalu akhirnya mengirim pesan ke Vani.
Kiana: Vani, Erlan Kei itu wajahnya sama persis dengan Hans.
Telepon dari Vani masuk kurang dari sepuluh detik kemudian.
Begitu tersambung, suara Vani tidak meledak seperti biasa. Justru terlalu pelan.
"Kia... lo ketemu dia di mana?"
Kiana memegang ponsel lebih erat.
Itu bukan suara sahabat yang kaget karena gosip.
Itu suara orang yang sudah tahu sesuatu.