Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.
Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.
Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.
Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Sentuhan yang Menyembuhkan Luka
Keheningan di dalam mobil Bentley itu terasa kian larut. Di ujung telepon, suara helaan napas berat Adrian Atmadja seolah menyiratkan sebuah ketenangan yang menanti jawaban. Vira menatap jemarinya yang lentik, lalu memori otaknya mendadak berputar mundur, kembali pada hari Sabtu kemarin di kediaman mewah Menteng.
Hari di mana untuk pertama kalinya, dinding es yang ia bangun dengan susah payah jebol oleh kepolosan seorang anak kecil.
Sabtu Kemarin...
Sesuai permintaan polos Elvano di halaman belakang, Vira akhirnya melangkah menaiki tangga marmer menuju kamar tidur bocah itu. Kamar Elvano sangat luas, didominasi warna biru langit dengan langit-langit yang dilukis menyerupai rasi bintang. Namun, di balik kemewahan fasilitasnya, ada nuansa sepi yang kental, sebuah kamar anak yang tumbuh tanpa pernah merasakan pelukan hangat seorang ibu.
"Tante Cantik, bobo di sini..." Elvano yang sudah mengenakan piyama bermotif dinosaurus langsung menepuk sisi ranjang ukuran king size yang kosong.
Vira tersenyum tipis. Dia melepas flat shoes-nya dan ikut merebahkan diri di samping Elvano. Ranjang itu terasa teramat empuk, namun kehangatan yang sesungguhnya justru datang ketika Elvano dengan manja langsung merangkak mendekat, menyurukkan kepala kecilnya di bawah ketiak Vira dan memeluk pinggang wanita itu erat-erat.
"Aroma Tante wangi... El suka," gumam bocah itu dengan suara serak khas anak-anak yang menahan kantuk.
Jantung Vira berdesir hebat. Selama tiga tahun terakhir, sejak rahimnya diangkat secara paksa akibat kanker dan racun yang diberikan keluarga Narendra, Vira selalu menganggap dirinya sebagai wanita yang cacat. Dia mengubur dalam-dalam insting keibuannya karena tahu dia tidak akan pernah bisa melahirkan darah dagingnya sendiri. Setiap kali melihat anak kecil di jalan, hatinya akan terasa teriris.
Namun siang itu, ketika tubuh mungil Elvano menempel lekat pada tubuhnya, rasa hampa di dalam dada Vira seolah terisi oleh sebuah kehangatan yang magis. El bukan darah dagingnya, namun entah mengapa batin Vira merasa seolah ada ikatan tak kasatmata yang mengikat mereka sejak lama.
Perlahan, Vira mengangkat tangan kirinya, lalu dengan gerakan yang teramat lembut dan penuh kasih sayang, dia mulai mengusap punggung Elvano. Ritme napas bocah itu perlahan berangsur teratur seiring dengan usapan tangan Vira yang menenangkan.
"Tante... jangan pergi ya..." bisik Elvano lirih, matanya sudah terpejam sepenuhnya sebelum akhirnya dia tertidur lelap dengan napas yang teratur.
Vira terpaku menatap wajah tidur Elvano yang begitu damai. Tanpa sadar, setitik air mata hangat lolos dari sudut mata Vira, membasahi bantal mewah tersebut. Itu bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan dari seorang wanita yang akhirnya menemukan secercah kedamaian di tengah badai balas dendamnya.
Cukup lama Vira terbuai dalam momen itu hingga dia tidak menyadari bahwa pintu kamar yang sedikit terbuka menampilkan sosok Adrian Atmadja yang sedang berdiri di sana.
Adrian memperhatikan pemandangan itu dari balik kegelapan lorong. Sepasang mata elang sang kaisar bisnis tampak bergetar. Selama tiga tahun, dia selalu melihat Elvano gelisah dan sering terbangun di tengah malam karena mimpi buruk tentang figur ibu yang tidak pernah dia miliki. Namun siang itu, di bawah dekapan Vira, Elvano tidur dengan senyuman kecil di bibirnya.
Adrian melangkah masuk dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara. Dia berjalan ke sisi ranjang, lalu menundukkan tubuhnya untuk menarik selimut tebal guna menutupi tubuh Elvano dan Vira.
Saat tangan Adrian bergerak merapikan selimut, wajahnya berada sangat dekat dengan wajah Vira. Vira menahan napasnya, menatap lekat garis rahang tegas pria itu di bawah temaramnya lampu tidur.
Adrian tidak menjauh. Dia justru mengulurkan tangan kokohnya, lalu dengan ibu jarinya yang hangat, dia mengusap sisa air mata yang membekas di pipi tirus Vira dengan kelembutan yang teramat dalam.
"Jangan menangis," bisik Adrian dengan suara baritonnya yang teramat rendah, tepat di depan wajah Vira. "Mulai hari ini, apa pun yang membuatmu terluka di masa lalu, tidak akan pernah kuizinkan untuk menyentuhmu lagi. Tidurlah... aku akan menjagamu dari sini."
Malam itu, Vira tertidur di samping Elvano dengan perasaan aman yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya, sementara Adrian duduk setia di sofa sudut kamar, menjaga dua sosok paling berharga di hidupnya hingga fajar menyingsing.
Kembali ke Masa Kini (Senin Malam)...
Mengingat kembali sentuhan hangat jari Adrian di pipinya hari Sabtu kemarin membuat wajah Vira di dalam mobil Bentley mendadak terasa panas. Dia berdeham kecil, mencoba mengembalikan suara dingin dan profesionalnya ke saluran telepon.
"Tuan Adrian... saya mengerti," ucap Vira akhirnya, nadanya melunak secara signifikan. "Sambungkan saja teleponnya pada Elvano. Saya akan menemaninya berbicara sampai dia tertidur."
Mendengar jawaban Vira, terdengar helaan napas lega yang samar dari seberang telepon. "Terima kasih Vira. Dan mengenai rencana kotor keluarga Narendra... kamu tidak perlu memikirkannya lagi. Aku sudah mengatur sebuah kejutan kecil untuk mereka besok pagi sebagai peringatan awal dari Atmadja Group."
Panggilan kemudian beralih, dan sedetik kemudian, suara ceria nan cempreng Elvano langsung memenuhi indra pendengaran Vira, mengusir seluruh penat dan kabut dingin yang menyelimuti hatinya malam itu.
...
Sementara itu, di kediaman Narendra, Arka baru saja menerima sebuah email misterius dari jaringan bisnisnya yang menyatakan bahwa tiga vendor utama yang menyuplai bahan baku untuk Narendra Group mendadak membatalkan kontrak sepihak atas perintah dari Atmadja Group.
Arka terduduk lemas di meja kerjanya dengan keringat dingin yang mengucur deras. Dia menyadari satu hal yang teramat mengerikan. Davira yang dia buang dulu kini tidak hanya kembali dengan uang ratusan miliar, melainkan juga didampingi oleh sang kaisar bisnis tertinggi di Asia yang siap meruntuhkannya kapan saja.