"Aku bersumpah demi setiap tetes darah Chaca yang menyatu dengan air, demi setiap air mata yang ia keluarkan hari ini, dan demi setiap detik rasa sakit yang ia rasakan. Kau ... Devon Albara dan yang lainnya, jika suatu hari nanti kalian tahu kebenarannya, kalian akan merasakan yang namanya kematian itu lebih baik daripada hidup dalam bayang-bayang penyesalan. Dan untukmu Darent Al Jeck, semoga kau bahagia setelah menghianatiku dan memilih dia. Sekarang aku sudah tidak memiliki harapan untuk hidup, semuanya sudah terbawa bersama buih lautan darah Chaca, jadi untuk apa aku tetap tinggal di dunia ini, selamat tinggal, semoga suatu hari kita bisa dipertemukan lagi di akhirat teman-teman."
~Lisa~
"Enggak ada gunanya gue hidup, semua teman-teman gue udah pergi menyusul Chaca, dan satu-satunya orang yang gue cintain ternyata tega ingin membunuh gue karena rekaman palsu yang di buat seseorang, jadi ... selamat tinggal."
"Tidaaaakkk!"
~Lista~
__________________
JAUH JAUH SANA PLAGIAT!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cha_Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitnah
"Jendral, Kapten, Brigadir, mereka telah kami tahan. Sekarang mereka sedang di interogasi oleh Letnan Surya," ucap orang itu.
"Katakan kepada Letnan Surya, kalau kami bertiga lah yang akan menginterogasi mereka semua," tegas Jendral Damian.
"Ma—maaf jendral, kami tidak dapat menemukan 4 tersangka lain yang berjenis kelamin perempuan. Data mereka tidak bisa dilacak, sepertinya ada pihak lain yang menyembunyikan lokasi mereka," sahut polisi lainnya.
Seketika wajah ketiga orang itu menjadi merah padam karena emosi yang meletup-letup hingga ke ubun-ubun.
Mereka tak lain adalah Jendral Damian, Brigadir Alexander, dan Kapten Maher.
"Bagaimana bisa kalian di bodohi oleh perempuan, hah! Kalian ini para polisi handal dan profesional, kenapa kalian tak bisa melacak mereka sedangkan kalian mempunyai hacker yang handal, Ayo Jawab!!" berang Brigadir Alexander meluapkan segala kekesalannya.
"Ma—maafkan kami Brigadir Alex, kami sudah mengerahkan 2 hacker terbaik kami. Tapi, tetap saja keberadaan mereka tak dapat dilacak oleh komputer," lirih mereka lantaran takut di copot jabatannya karena kelalaian mereka dalam menjalankan tugas.
"Huh! Yasudah, sekarang pergilah dari sini. Kami akan ke ruang interogasi sebentar lagi," perintah Jenderal Damian menghela nafas kuat-kuat.
Skip ⏩
"Katakan apa motif kalian dalam membunuh agen terbaik kami?" tanya Letnan Surya dengan aura menindas yang mendominasi ruangan interogasi.
"Semua itu adalah hal yang tidak di sengaja pak, suer!" kilah Ronald membalikkan fakta sebenarnya.
"Brakk!" Letnan Surya memukul meja kuat-kuat.
"Jangan berani berbohong pada polisi jika kalian tak mau menambah hukuman kalian di penjara nanti!" bentak Letnan Surya yang tidak percaya dengan omongan Ronald.
"Kami benar-benar tidak berbohong pak, kami khilaf saat itu," sanggah Jeck membantu kebohongan Ronald.
"Begini saja, jika kalian memang tidak membunuh mereka dengan sengaja, ceritakan bagaimana kronologis kejadian yang menimpa agen terbaik kami. Dengan begitu, mungkin saja hukuman kalian akan kami kurangi, walaupun hanya sedikit," tawar Letnan Surya yang langsung di iyakan oleh Devon.
"Baiklah, sekarang ayo cerita," ujar Letnan Surya.
Flashback on
"Sayang, aku punya tugas baru lagi nih. Kamu gak papa kan aku tinggalin sebentar? Gak lama kok, cuma dua mingguan aja," tanya Chaca.
"Yah ... sayang! Kamu kan tahu aku gak bisa lama-lama jauh dari kamu, Jangan pergi yah?" sedih Devon berusaha menahan Chaca agar tidak pergi.
"Gak bisa Yank, ini memang udah jadi tugas aku, dan aku gak bisa nolak karena udah terlanjur menyetujui perintah atasan aku. Dari awal kita jadian juga kan aku udah bilang sama kamu, kalau aku gak bisa selalu ada didekat kamu, karena aku punya tugas yang harus aku prioritaskan terlebih dahulu sebelum kamu, " ucap Chaca mengingatkan dengan lembut.
"Huh ... yaudah aku dibolehin," Devon menghembuskan nafas kuat-kuat karena pasrah.
"Tapi ... aku berangkat malam ini dengan yang lain ke .... Negeri Tirai Bambu...," lirih Chaca dan pelan.
"APA!! Negeri tirai bambu? Itu jauh Yank, aku mana bisa ngijinin kamu untuk ke sana...," lirih Devon tak suka.
"Aku gak bisa nolak Yank, aku harus bayar denda 1 miliyar kalau nolak, dan aku gak mau ngerepotin kamu lagi buat nebusnya," Devon melihat mata Chaca udah berkaca-kaca saat mengatakan hal itu.
Devon akhirnya luluh, dengan sayang ia mengelus pipi Chaca lalu memeluknya dengan erat seakan hal itu adalah pelukan terakhir mereka.
Mereka berdua tak sadar bahwa ada sepasang mata yang tengah terbakar api amarah dan dendam lantaran cemburu dengan kemesraan mereka berdua.
"Silahkan bermesraan sepuas yang kalian mau, tapi sepertinya ... hari ini akan menjadi hari terakhir kalian bermesraan seperti itu. Camkan itu!" desisnya pelan.
Malam harinya...
"Huaaa... kamu jahat ... kamu jahat Leo ...hiks ... hiks."
"Aduuuh! Huh ... Udah dong nangisnya Sof, bisa budek gue lama-lama," dengus Vila membentak adiknya.
"Huaaaaaaaaa...." Sofi menambah volume tangisannya, membuat Vila yang tengah fokus mencari sesuatu, seketika menjadi buyar.
"Sofi stop! Lo mau kan kalau Leonard jadi pacar lo?" tanya Vila yang langsung di beri anggukan olehnya.
"Yaudah ...diem dan biarin gue yang beraksi." Sofi langsung terdiam, sekarang ia bingung apa yang akan di lakukan oleh kakaknya.
"Halo! Ren ... lo udah ngelakuin apa yang gue suruh, kan?" tanya Vila pada Rena melalui via telepon.
"Tenang aja princess, gue udah ngelakuin apa yang lo mau kok," balasnya.
"Bagus ... sekarang kita tinggal ikuti saja permainan mereka, setelah itu ... bom waktu yang kita tanam akan meledak dengan sendirinya." Vila mengeluarkan aura yang semakin membuat tanda tanya besar di benak Sofi, adiknya.
____________________________________________
Sementara itu ditempat lainnya...
Jeck kelihatan gelisah, ia berkali-kali mondar-mandir kian kemari di depan Ronald dan Leonardo.
"Bro! Lo kenapa sih? Ada masalah? Dari tadi kek gelisa banget gitu, cerita sama kita, barangkali kita bisa bantu, Iyakan Nard?" Leo mengangguk mendukung pernyataan Ronald.
"Huh... gue putus sama Lisa minggu lalu...," lirihnya pura-pura sedih.
"What!! Lo putus udah seminggu, dan lo gak pernah mau cerita sama kita? Kenapa?" tanya Ronald sedikit kesal.
"Gue gak mau kalian khawatir dengan gue," jawab Jeck sangat tidak masuk akal menurut Ronald.
"Gue sahabat baik lo, udah seharusnya kita saling membantu kalau ada masalah. Sekarang coba lo cerita, kenapa lo bisa putus sama Lisa." pinta Ronald setelah berhasil mengendalikan kekesalannya.
"Katanya ... gue berhak dapat yang lebih baik dari dia. Tapi ternyata—" Jeck mengeluarkan air mata buaya untuk menambah efek aktingnya. "Dia cuman mau memanfaatkan gue buat balas dendam sama adik gue, Rena. Dia juga bilang kalau kita semua cuma di manfaatin sama mereka buat balas dendam sama Redcasti Girls." kilah Jeck alias Darent Al Jeck.
"Maksud lo 'mereka' siapa?" tanya Leo.
"BlackBerry Girls," gumam Jeck pelan, namun masih dapat di dengar oleh teman-temannya.
"APAAAA!" teriak Ronald dan Leo bersamaan.
"Lo jangan bercanda bang*at! Meraka gak mungkin jadiin kita alat balas dendam mereka. Lo pasti bohong kan? Ayo Jawab!" bentak Leo yang tangannya sudah mencengkram kuat kerah baju Jeck.
"Gu—guee punya buktinya," ucap Jeck mengeluarkan handphone miliknya.
Jeck memutar salah satu rekaman yang seketika membuat ekspresi Leo dan Rolan merah padam.
"Kasihan yah mereka, bisa-bisanya mereka percaya kalau kita beneran cinta sama mereka."
"Bodoh! Mau aja di tipu sama kita-kita dan nolak cinta Vila dkk mentah-mentah di depan semua orang."
"Gue yakin, Vila dan yang lain bakalan nangis trus depresi dan bunuh diri karena gak sanggup menahan malu setelah di jach pelakor oleh orang-orang."
"Dan berita baiknya adalah, Vila dkk dikeluarin dari agensi kemarin. Huh ... akhirnya kita udah bebas buat mutusin mereka, gue udah gak tahan sama Leo yang selalu over protective sama hidup gue selama sebulan ini."
"Tapi ... lama-kelamaan rencana kita bakalan terkuak juga. Dan gue yakin kalau mereka gak bakal tinggal diam untuk balas dendam ke kita."
"Tenang aja, mereka gak akan pernah nemuin kita lagi setelah ini, karena kita bakalan pindah ke luar negeri dan menghilang tanpa jejak dari mereka semua."
Selanjutnya yang terdengar dari rekaman tersebut hanyalah suara tertawa dari ke empat orang yang sedang berbincang di rekaman tersebut.
Ronald dan Leo sangat yakin bahwa mereka tak mungkin salah dengar, suara itu adalah suara anggota BlackBerry Girls, kekasih mereka.
"Sial! Ternyata selama ini, kita hanya dimanfaatkan oleh mereka. Dan dengan bodohnya gue nolak cinta Sofi yang ternyata beneran tulus sama gue," Leo mengumpat sejadi-jadinya.
"Ternyata Rena benar, kalau mereka semua itu serigala berbulu domba. An*ing! Bang*at!" Ronald menyebut semua nama hewan yang ada di kebun binatang untuk mengungkapkan amarahnya.
Namun di sisi lain, Jeck diam-diam menampilkan senyum licik di wajahnya.
semngat thor..
pada nunggu nih kita kita
apa ni crita mau di berhentikankah thor
kok udah habis sih 🥺🥺🥺🥺
Lagi dong, please🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Next....
Semangat buat kelanjutan ceritanya ya...
Semangat....
ih jahat banget sih🥺🥺🥺🥺