Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Keesokan harinya, Rena bangun pagi-pagi sekali, bahkan sebelum ayam berkokok dan semburat fajar menyapa langit. Kamar masih temaram saat dia mendudukkan diri di tepi kasur, mengumpulkan sisa-sisa kesadaran. Alih-alih merasa lelah, semangat baru justru bergelora di dalam dadanya. Hari ini adalah hari pertama dia akan menjemput kebebasannya sendiri, dimulai dengan memastikan masa depan Dio aman.
Tanpa membuang waktu, Rena langsung mengerjakan pekerjaan rumah dengan sangat gesit. Dia menyalakan lampu dapur, lalu beralih ke kamar mandi untuk mencuci baju semua penghuni rumah. Tumpukan pakaian kotor milik Aris, Bu Broto, dan Siska yang biasanya membutuhkan waktu berjam-jam, kini dia sikat dengan kekuatan penuh. Setelah membilas dan menjemurnya di halaman belakang yang masih berembun, Rena kembali ke dapur untuk memasak.
Dia benar-benar harus menyelesaikan semua pekerjaan rumah ini lebih awal karena agenda hari ini sangat padat, dia akan mendaftarkan Dio sekolah, dan setelah itu, dia harus mulai bekerja lepas di rumah anak Ibu Lastri tepat pukul delapan pagi. Pagi itu, Rena benar-benar dikejar waktu. Setiap detik terasa begitu berharga, dan dia tidak boleh terlambat semenit pun untuk membuktikan bahwa dirinya bisa diandalkan.
Apa yang dilakukan Rena pagi itu membuat mertuanya kebingungan setengah mati. Sekitar pukul enam pagi, Bu Broto keluar dari kamarnya sambil menguap lebar. Langkah kakinya terhenti saat melihat sekeliling rumah sudah rapi, lantai telah mengilat karena disapu dan dipel, serta aroma makanan sudah menguar dari arah dapur. Saat wanita tua itu melangkah ke ruang makan, semua masakan sudah terhidang rapi di atas meja. Walau sebenarnya, menu yang disajikan masih dengan makanan yang sama seperti kemarin—hanya ada nasi, tahu goreng, dan sisa sambal.
Meskipun semua pekerjaan rumah telah diselesaikan jauh lebih awal dan rumah tampak jauh lebih bersih dari biasanya, bukan pujian yang diberikan oleh mertuanya. Sifat asli Bu Broto tidak akan pernah berubah. Alih-alih mengapresiasi, masih cemoohan yang kembali Rena dengar begitu dia melangkah ke dapur untuk meletakkan kain lap.
"Tumben kamu sudah selesai jam segini? Kesambet setan apa kamu bangun sepagi ini?" sindir Bu Broto dengan nada sinis, sembari menarik kursi meja makan dengan kasar. "Masakannya juga masih sama saja. Cuma tahu goreng. Benar-benar tidak ada kemajuan. Dasar menantu aneh."
Namun, kali ini Rena tetap diam. Tidak ada lagi helaan napas berat, tidak ada lagi binar mata yang berkaca-kaca karena terluka. Dia sama sekali tidak mengambil hati ocehan wanita tua itu. Rena bersikap seperti orang bisu dan tuli yang hanya menyelesaikan pekerjaan rumah seperti sebuah robot yang diprogram. Dia bergerak ke sana kemari, mencuci wajan, dan merapikan rak piring tanpa sedikit pun menghiraukan semua kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut mertuanya. Baginya, Bu Broto kini tak lebih dari sekadar angin lalu yang bising.
Seperti biasa, Aris keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang rapi, lalu duduk di kursi makan. Pria itu menyantap sarapannya dengan tenang, menyuap nasi dan tahu goreng tanpa sepatah kata pun, tanpa menghiraukan keadaan atau ketegangan yang ada di rumah. Aris benar-benar seperti orang yang tak terlihat. Dia menganggap rumah ini seperti sebuah hotel yang hanya digunakan untuk tempat tidur dan istirahat setelah lelah bekerja, tanpa pernah mau memperhatikan bagaimana keadaan anak dan istrinya sendiri.
Rena menatap suaminya yang sedang mengunyah makanan dengan pandangan sedingin es. Tidak ada lagi rasa ingin melayani dengan senyuman. Setelah Aris menyelesaikan sarapannya, mengambil tas kerja, dan berangkat ke kantor tanpa berpamitan, Rena segera bergerak cepat.
Dia masuk ke dalam kamar, memandikan Dio, dan memakaikan baju terbaik yang dimiliki anaknya. Setelah dirinya sendiri bersiap dengan pakaian yang rapi dan sopan, Rena menggandeng tangan Dio dan berjalan keluar rumah.
Melihat menantunya sudah rapi dan bersiap melangkah keluar pagar di jam yang tidak biasa, Bu Broto yang sedang bersantai di depan televisi seketika berdiri dengan wajah bingung sekaligus curiga. "Mau kemana kamu rapi-rapi begini bawa Dio? Pekerjaan rumah sudah selesai semua, jangan coba-coba keluyuran tidak jelas!"
Rena menghentikan langkahnya sejenak di ambang pintu. Dia menoleh, menatap ibu mertuanya dengan tatapan datar yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya. Rena hanya menjawab singkat dengan suara yang tegas.
"Aku mau mendaftarkan Dio sekolah, Bu."
"Mau daftar sekolah? memangnya Aris udah ngasih kamu uang? berapa yang dikasih Aris padamu. " Bu Broto terlihat terkejut dan kesal saat mendengar rena akan mendaftarkan anaknya sekolah.
Rena tidak menjawab dan langsung berbalik pergi dari rumah, menuntun Dio menuju sepeda ontel mereka tanpa menoleh lagi kepada mertuanya yang terus mengomel di ambang pintu, meneriakinya sebagai istri boros dan hanya bisa buang-buang uang.
Rena mengayuh sepeda ontelnya dengan penuh semangat, membelah udara pagi yang masih terasa sejuk. Di boncengan belakang, Dio memeluk pinggang ibunya dengan erat, sesekali tertawa kecil karena senang bisa berjalan-jalan lagi. Rasa cemas yang sempat menghantui Rena perlahan sirna berganti dengan keyakinan yang mantap.
Tak butuh waktu lama, mereka sampai di Sekolah Dasar Negeri yang letaknya beberapa kampung dari rumah mereka. Suasana sekolah sudah cukup ramai oleh para orang tua yang mengantre. Rena menggandeng Dio masuk ke ruang pendaftaran dengan jantung yang berdegup agak kencang. Dia sudah menyiapkan lembaran uang dari Ibu Lastri di dalam tasnya, berjaga-jaga jika biaya pendaftaran dan seragam menguras seluruh uang tersebut.
Namun, kejutan besar justru menantinya di meja registrasi. Setelah menyerahkan semua berkas persyaratan seperti Kartu Keluarga dan Akta Kelahiran Dio, petugas pendaftaran tersenyum ramah kepada Rena.
"Semua berkasnya sudah lengkap ya, Ibu Renata. Mulai bulan depan, Dik Dio sudah bisa mulai bersekolah di sini," ujar petugas tersebut sembari membubuhkan cap resmi pada formulir.
Rena menelan ludah, sedikit ragu sebelum membuka tasnya. "Maaf, Pak. Untuk biaya pendaftaran, uang pangkal, dan seragamnya, totalnya berapa ya? Biar saya lunasi sekarang."
Petugas itu terkekeh pelan lalu menggelengkan kepalanya. "Oh, tidak ada biaya sama sekali, Ibu. Untuk pendaftaran murid baru di sekolah dasar negeri ini semuanya gratis, tidak dikenakan biaya sepeserpun. Bahkan untuk pakaian seragam, baju olahraga, dan aksesoris seragam seperti dasi dan topi juga sudah disediakan dan ditanggung sepenuhnya oleh pihak sekolah melalui program pemerintah."
Mendengar penjelasan itu, Rena seketika terpaku. Dadanya bergemuruh hebat, bukan karena sedih, melainkan karena rasa lega dan bersyukur yang luar biasa yang mendadak membuncah di dalam hatinya. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Ternyata, ketakutannya selama ini dan alasan Aris menolak membiayai sekolah Dio karena mengira biayanya mahal, hanyalah ketakutan semu yang tak beralasan. Pendidikan untuk anaknya ternyata dijamin oleh negara tanpa memeras keringatnya.
Rena menjabat tangan petugas itu dengan rasa terima kasih yang tak terhingga. Setelah menyelesaikan semua proses administrasi, dia menuntun Dio keluar dari area sekolah dengan senyum yang merekah lebar. Beban berat yang selama ini mengimpit pundaknya seolah menguap begitu saja ke udara.
Sembari menatap wajah ceria Dio, Rena menghitung kembali uang tunai yang masih utuh di dalam tasnya. Dia hanya perlu membelikan perlengkapan Dio sekolah yang belum ditanggung, seperti buku tulis, tas baru, dan sepasang sepatu hitam untuk upacara nanti. Sisa uangnya masih sangat banyak. Rena tersenyum penuh tekad; dia berniat untuk segera mengembalikan sebagian uang yang diberikan oleh Bu Lastri kepadanya kemarin sebagai bentuk kejujuran, sementara sisa lainnya akan dia simpan sebagai modal awal tabungan rahasianya.