"Jangan dekat rawa itu!"
semenjak banyak yang meninggal karena memasang jebakan ikan di malam hari, rawa kecil itu di jauhi oleh banyak orang karena sudah banyak yang meninggal dunia.
Apa yang sudah terjadi?
Siapa penghuni rawa kecil itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06. Hilang lagi
"Nasya, kita harus pulang karena ini sudah mau malam." Lala mengajak Nasya untuk pulang ke rumah karena saat ini memang sudah mau malam.
"Ah tapi ini tanggung karena sedikit lagi akan selesai dan masih banyak keong emas yang berserakan di sebelah sana." Nasya enggan untuk pulang ke rumah.
"Ya sudah Bila memang begitu maka kami saja yang akan pulang karena ini sudah sangat malam, Nanti mama bisa marah kalau aku pulang sampai malam sekali." Khodijah juga bergegas pergi.
"Lan aku sudah bilang untuk kita pulang saja sekarang, kau kalau tidak mau pulang maka kami akan pulang sendiri dan membiarkan kau sendirian di sini." Lala mulai mengancam Nasya.
Namun gadis ini sama sekali tidak peduli dan dia tetap saja mencari keong emas itu, sebab menurut dia Keong Mas sudah sangat berserakan begitu banyak sehingga sayang bila tidak segera dia ambil dan dia bawa pulang ke rumah untuk makan, jadi nasihat tetap saja keras kepala dan membiarkan para teman itu pulang ke rumah sendirian.
Khodijah juga pulang tanpa menoleh lagi karena dia takut bila nanti mama Bintari pasti akan sangat marah bila mengetahui dia pulang terlalu malam, sebab tadi juga sudah memberi pesan agar Khodijah tidak pulang sampai waktu magrib dan lebih baik bila sekarang dia meninggalkan Nasya di Rawa itu.
Lala juga sudah tidak peduli kepada Nasya karena dia juga telah mengajak agar sang teman pulang ke rumah dan besok bisa bermain kembali, namun gadis kecil itu yang menolak sehingga para teman-teman tidak peduli lagi kepada Nasya membiarkan saja dia sendirian di sana.
"Orang keong emas sebanyak ini tapi mereka malah tidak mau mencari, Pasti karena mereka sebenarnya tidak suka makan keong emas.'' Nasya berkata sendirian.
''Ya sudah kalau mereka memang tidak mau ikut mencari maka aku akan cari sendirian saja,nanti bisa dijual sama ibu di pasar." Nasya berkata lirih dan dia segera memungut para keong emas yang berserakan di Rawa tersebut.
Pyuuuuk.
Pyuuuuk.
Air yang ada di Rawa itu mulai bergelombang ke sana kemari, namun gadis kecil ini sama sekali tidak peduli dan dia terus memungut para keong emas untuk dia masukkan ke dalam ember. Padahal sekarang adzan maghrib mulai terdengar sehingga para warga kemungkinan sudah mulai berkumpul di dalam rumah dan sebagian juga sudah menuju masjid.
"Hahaha ternyata banyak sekali ini para keong emas." nasihat tertawa begitu girang karena dia membayangkan akan mendapatkan banyak uang.
Serrrrr.
Serrr.
"Eh apa itu?" Nasya agak kaget juga karena mendadak ada sesuatu yang menyentuh kaki dia di dalam air.
Namun gadis kecil ini sudah terlambat untuk menyadari bahaya yang sedang mengincar dirinya saat ini, sesuatu yang bergerak itu sudah menyambar dia dan membawa masuk ke dalam air sehingga nasi yang sama sekali tidak bisa berontak karena kekuatan lawan begitu besar sekali.
Bluuuupp.
Bluuuupp.
"Ahahaaaa hari ini aku mendapat makanan yang begitu lezat dan juga nikmat.'' siluman ular Berduri itu tertawa begitu girang.
''Empppp!''
''Diam saja kau bocah, aku akan memakan dirimu secara perlahan sehingga kau tidak akan merasakan sakit.'' janji siluman ular itu kepada Nasya.
Gluuuk.
Gluuuk.
Air Rawa itu perlahan sudah mulai masuk ke dalam paru-paru gadis kecil ini sehingga dia tidak bisa untuk bernafas lagi, sementara siluman itu tertawa sangat senang dan membawa tubuh nasehat ke sana kemari untuk berenang agar dia bisa pamer kepada para iblis yang menentang dirinya selama ini.
Tidak ada yang mengetahui bagaimana nasib bocah itu di dalam air, semua harus dia tanggung sendirian dan tidak ada yang bisa menolong Nasya karena mereka semua sama sekali tidak mengetahui bahwa dia telah tertangkap oleh sesuatu yang sangat jahat itu, salah Nasya juga karena tidak mendengar ajakan sang teman untuk segera pulang ke rumah karena ini sudah mau malam.
...****************...
Bu Apri menjadi heran ketika melihat Lala sudah pulang ke rumah sambil membawa ember kecil, Padahal tadi Mereka pergi secara bersama namun kenapa sekarang hanya Lala saja yang pulang ke rumah dan Nasya sama sekali tidak ada pulang, tentu saja hati wanita setengah baya ini merasa tidak tenang karena sang anak yang tak kunjung pulang.
''La, Nasya nya mana?'' Bu Apri bertanya lembut sekali.
''Nasya ada di rawa sana karena dia tadi tidak mau kami Ajak pulang.'' Lala menjawab apa adanya.
''Loh kenapa tidak di paksa saja, ya sudah kalau begitu.'' Bu Apri berlari karena takut juga.
Lala segera pulang ke rumah karena dia juga tidak tahu kenapa Bu Apri terlihat begitu takut sekali setelah mendengar kabar bahwa Nasya sendirian di rawa sana, itu bocah kecil ini sama sekali tidak menyadari dengan bahaya yang ada di dalam Rawa itu karena dia juga tidak pernah melihat apa isi penunggu rawa.
Bu Apri sendiri sudah berlari pontang-panting karena dia takut ada sesuatu yang akan terjadi terhadap sang anak, pikiran dia sudah cemas kemana-mana sehingga ketika melihat rawa itu sepi dan tidak ada orang sama sekali maka Bu Apri semakin merasa lemas dan dia berteriak keras untuk mencari keberadaan Nasya.
"Nasyaaaaaa!" Bu Apri menjerit lagi.
"Kamu ada di mana sekarang? Ayo kita pulang karena ini sudah mau malam!" Bu Apri kembali berteriak dengan perasaan yang semakin bergetar hebat.
"Jangan cuma diam saja, ayo kita pulang sekarang!" pekik wanita ini dengan perasaan yang tidak beraturan.
Pyuuuuk.
Pyuuuuk.
"Tawa kok bisa bergelombang gitu ya?" batin Bu Apri ketika melihat air itu mulai bergelombang.
Namun wanita ini sama sekali tidak memperdulikan hal itu lagi karena lebih baik untuk segera mencari keberadaan sang anak yang masih entah ada di mana, meski ada rasa takut juga di dalam hati namun dia tidak menyerah karena ini adalah anak dia sendiri yang hilang dan tidak mungkin ada orang yang mau membantu untuk sekarang.
''Ya allah ini kemana sih si Nasya?'' Bu Apri begitu ketakutan bila nanti sang anak akan hilang.
''NASYAAAAAA!''
''Dengarkan Ibu sekarang, kamu ada di mana dan ayo kita segera pulang sekarang!'' Bu Apri kembali menjerit karena dia tak kunjung melihat keberadaan Nasya.
Entah, semua menjadi terasa begitu mencekam untuk Bu Apri itu karena dia pun merasakan sendiri bagaimana suasana yang ada di sekitar rawa, ada rasa merinding dan juga ketakutan namun dia tetap bertahan karena ingin melihat dan menemukan keberadaan sang anak.
Selamat malam semua nya, jangan lupa like dan komentar kalian buat cerita autor Novita Jungkook ya.
aneh betul dia
naferia curiga SMA siapa ya🤔🤔
Nana jg kok bisa masuk lumpur bukan nya td menghajar melda🤔🤔