Setiap rumah tangga pasti memiliki ujiannya masing-masing. Tergantung kita, apakah bisa menyikapinya dengan baik atau justru semakin memperburuk keadaan.
Rasa cinta Zarina Febrianti diuji saat sang suami mendapatkan masalah. Dia terjebak ke dalam hubungan gelap dengan seorang pria asing yang dikenal melalui media sosial.
Semua hancur ketika Robby, sang suami tahu bahwa anak sang istri bukan berasal dari benihnya. Bagaimana Zarina akan menjalani kehidupan bersama anak hasil perselingkuhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurma Azalia Miftahpoenya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Baru
Kedua manusia yang masih saling mencintai tetapi harus berpisah demi kebaikan bersama kini harus tetap melanjutkan kehidupan mereka masing-masing. Kehancuran rumah tangga yang mereka bina bersama selama kurang lebih lima tahun hanya menyisakan duka dan nestapa. Namun, dibalik peristiwa itu, ada pelajaran yang dapat mereka ambil, yakni pentingnya menjaga komunikasi dan kesetiaan dalam rumah tangga.
Zarina mulai fokus menata kehidupannya bersama Alam, putra semata wayangnya yang harus dia besarkan seorang diri. Demi menghidupi sang putra, kini Zarina kembali memulai usaha kecil-kecilan seperti dulu, yaitu menerima pesanan beraneka ragam jenis kue basah maupun kering.
Wanita yang dulu sangatlah manja pada suaminya, kini harus mengurus semuanya seorang diri. Mulai dari mencari nafkah serta mengurus anak, semua dilakukan oleh Zarina tanpa mengeluh.
Ketukan pintu menghentikan kegiatan Zarina yang tengah bergulat dengan bahan-bahan kue kering pesanan tetangganya. Dengan terburu-buru, Zarina membuka pintu untuk tamunya.
"Eh, Mbak Maya," sapa Zarina ramah.
"Gimana, Rin? Pesananmu sudah jadi, 'kan?"
"Belum, Mbak. Sebentar lagi selesai," jawab Zarina dengan perasaan tidak enak hati.
"Loh! Kemarin kamu janjiin jam segini. Kenapa sekarang belum selesai?"
Meskipun tetangganya itu berkata dengan nada datar, tetapi cukup membuat Zarina merasa bersalah.
"Maaf, Mbak. Alam sedikit demam, jadi aku sambil ngurus dia," ujar Zarina dengan sedikit menundukkan kepala.
"Huh! Ya sudah enggak apa-apa. Nanti aku ke sini lagi. Makanya, Rin, suruh suamimu pulang. Ngurus anak sendirian itu enggak gampang, loh!"
Zarina mengangkat wajahnya untuk menatap wanita di depannya. Senyum kecut terbit di bibirnya yang tipis tanpa polesan lipstik.
"Saya sudah bercerai dengan mantan suami saya, Mbak."
"Lah, maaf, aku sama sekali enggak tahu."
"Enggak apa-apa, Mbak."
Bibir memang bisa berkata tidak apa-apa, tetapi hati manusia siapa yang tahu? Nyatanya ucapan dari pelanggannya itu berhasil membuat Zarina kembali mengingat rumah tangganya yang hancur tak tersisa.
"Ya sudah, aku pulang dulu, deh! Biar nanti kakakku yang ambil pesanannya," ucap Maya yang ikut merasa bersalah karena membuat tetangganya itu bersedih.
"Baik, Mbak. Terima kasih atas pengertiannya," ujar Zarina dengan lembut.
Setelah kepergian Maya, Zarina pun kembali masuk ke rumah. Dia bergegas melanjutkan kegiatannya untuk menyelesaikan pesanan Maya.
Zarina kembali bergelut dengan berbagai peralatan dapur serta bahan-bahan pembuatan kue. Beberapa saat kemudian Zarina mengeluarkan kue dari oven.
"Syukurlah, sudah matang. Sekarang tinggal memasukkan kue ini ke dalam toples."
Suara tangisan Alam menyita perhatian Zarina yang sedang mengemasi pesanan Maya. Takut terjadi sesuatu kepada putranya, Zarina pun berlari ke kamar. Benar saja, bayi berusia hampir satu tahun itu sudah bangun dari tidurnya, bahkan Alam sudah berada di pinggiran ranjang. Dengan sigap, Zarina berlari menghampiri sang putra agar tidak jatuh.
"Astaga, Alam. Hampi saja kamu jatuh, Sayang. Maafin mama, yah!"
Zarina segera membawa Alam ke dalam pangkuannya. Tangannya kurusnya mengelus lembut punggung sang putra untuk menenangkan bayi tampan itu.
Bukannya diam, tangisan Alam justru semakin keras. Zarina menempelkan punggung tangannya ke kening sang putra.
"Panas sekali. Bagaimana ini? Aku harus membawa Alam ke klinik, tapi pesanan Mbak Maya belum selesai aku kemas," gumam Zarina kebingungan.
"Permisi, Mbak Rina!" Teriakan dari luar yang memanggil namanya membuat Zarina tergopoh-gopoh menuju pintu.
"Ya, sebentar!" teriak Zarina saat suara itu terus memanggil namanya.
Ketika pintu terbuka, seorang pria berdiri dengan gagahnya di depan Zarina. Wanita itu mengangguk kecil untuk menyapa pria itu.
"Loh, Alam kok nangis terus?"
"Iya, Mas Dika. Alam sedang demam. Mas Dika ke sini mau ambil pesanan Mbak Maya, yah?"
"Iya, Mbak Rina. Itu Alam sudah dibawa ke klinik belum?"
"Belum, Mas. Rencananya setelah selesai kemas pesanan Mbak Maya, saya mau bawa Alam ke klinik," jawab Zarina canggung.
"Pesanan Maya belum selesai dikemas? Kalau begitu, biar Alam saya gendong dulu, Mbak."
"Tidak perlu, Mas. Nanti merepotkan," tolak Zarina lembut.
"Enggak repot, kok! Lagi pula kuenya udah ditunggu. Maya mau bawa kue itu untuk buah tangan mertuanya," jelas Dika yang tentu saja membuat Zarina terpaksa menerima bantuan dari tetangganya itu.
"Kalau begitu tolong, yah, Mas. Maaf merepotkan," ucap Zarina sungkan.
"Enggak perlu sungkan, Mbak Rina. Kita tetangga, sudah sewajarnya saling bantu," tuturnya dengan nada sangat lembut.
Alam kini berpindah tangan. Dika menggendong Alam yang sejak tadi masih menangis. Namun, lama-kelamaan suara tangis itu menghilang berganti dengan suara sesegukan.
Zarina buru-buru mengemas pesanan kue kering dari Maya dengan hati-hati. Meski buru-buru, Zarina tidak ingin pelanggannya semakin kecewa karena kuenya ada yang rusak.
Sepuluh menit kemudian Zarina sudah selesai mengemas semua pesanan Maya yang kini sudah rapi di dalam kotak kardus. Zarina membawa kotak itu ke ruang tamu, tempat dimana Dika berada.
"Loh, Alam tidur, Mas Dika?"
"Iya, Rin. Mungkin kecapean nangis, deh!"
"Hm, iya mungkin, Mas. Eh, ini pesanan Mbak Maya sudah selesai," ucap Zarina seraya menaruh kotak kardus berisi kue kering pesanan Maya di atas meja.
"Oh, iya. Ini Alam mau aku bantu bawakan ke kamar?"
"Tidak perlu, Mas!" Zarina dengan cepat menolak, jujur saja dia masih memiliki trauma jika berada di satu tempat sepi dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya.
"Kamu tenang saja, Mbak Rina. Aku enggak akan macam-macam, kok!"
"Eh, bukan seperti itu, Mas. Saya hanya merasa tidak enak jika ada tetangga yang tahu," kilah Zarina berkelit karena takut jika penolakannya tadi menyinggung perasaan Dika.
"Memangnya kenapa, Mbak? Kita sama-sama single, kok! Jadi tidak masalah."
Zarina hanya diam tidak menjawab perkataan Dika. Meski mereka sama-sama tidak memiliki pasangan, tetapi Zarina masih belum ingin memiliki kedekatan khusus dengan seorang pria. Terlebih lagi Zarina tahu bahwa pria di depannya ini adalah seorang perjaka.
"Em, Mbak Rina marah karena ucapanku?"
"Enggak, Mas!"
"Apa kamu masih memiliki pasangan, Mbak Rina? Tadi Maya bilang kamu itu seorang … maaf–"
"Janda," potong Zarina cepat.
"Apakah itu benar, Mbak?" tanya Dika yang mulai berhati-hati dengan ucapannya.
"Benar, Mas. Saya diceraikan oleh suami saya karena saya–"
Suara tangisan Alam menghentikan ucapan Zarina. Wanita itu sigap mengambil alih sang putra dari gendongan Dika. Sebenarnya, Zarina sengaja ingin mengatakan hal yang sebenarnya agar pria yang terlihat ingin mendekatinya ini berpikir panjang sebelum mendekatinya. Namun, melihat kondisi Alam yang menangis akhirnya membuat Zarina terpaksa mengurungkan niatnya.
"Aku antar kue Maya dulu, yah, Mbak Rina. Nanti aku balik ke sini lagi untuk antar Mbak Rina dan Alam ke klinik," ujar Dika tiba-tiba.
"Tidak perlu, Mas. Saya bisa pesan taksi," tolak Zarina dengan cepat.
Sayangnya Dika tidak memperdulikan penolakan Zarina. Laki-laki perjaka itu justru berlari setelah mengambil kotak kardus berisi pesanan sang adik.
"Lebih baik aku segera berganti pakaian dan memesan taksi. Aku tidak ingin merepotkan orang lain dengan urusan pribadiku," gumam Zarina yang langsung bergegas menuju kamarnya.
Kini Zarina sudah rapi, begitupun dengan alam. Dengan Alam yang berada di gendongannya, Zarina sedang menunggu taksi pesanannya datang. Namun, hingga beberapa saat menunggu, taksi itu tidak kunjung datang.
Zarina mengernyitkan dahinya saat sebuah mobil berwarna silver berhenti tepat di depan kontrakannya. Detik berikutnya Zarina terkejut ketika seseorang keluar dari mobil mewah itu.
"Ayo, biar aku antar ke klinik!"
"Mas Dika!"
"Ayo, Rin. Kasihan Alam."
"Tapi saya sudah pesan taksi, Mas."
"Batalkan saja!"
Karena kondisi Alam yang semakin demam tinggi dan terus menangis, lagi-lagi Zarina terpaksa menerima tawaran bantuan dari Dika. Mereka kini sedang dalam perjalanan menuju klinik. Zarina masih sibuk berusaha menenangkan Alam agar tidak terus-menerus menangis. Sedangkan Dika, pria itu sesekali curi-curi pandang ke arah wanita yang dua bulan kebelakang mencuri perhatiannya.
Ketika Maya mengatakan bahwa ternyata Zarina adalah seorang janda, Dika merasa angin segar menyapanya. Dika merasa masih memiliki kesempatan untuk mendekati wanita tangguh di sampingnya.
"Mbak Rina, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Dika hati-hati.
"Tanya apa, Mas Dika?" tanya balik Zarina sambil terus fokus pada Alam yang masih merengek.
"Kenapa kamu bercerai dengan mantan suami kamu, sementara anak kalian masih sangat kecil?"
diselingkuhi, istri yang selingkuh bukan nya menyesal dan sujud minta maaf padanya tapi istri seakan tidak merasa bersalah pada Robby dan segampang itu pergi dan tinggal Robby, dan Robby malah dibuat menderita karena berpisah dengan istri jahanamnya, malah Robby yang dibuat mengejar2 dan berjuang merebut cinta istri jahanamnya
kalau hidup author dibuat kayak Robby, adil tidak author rasakan
hor jadi orang harus punya hati juga sedikit jangan mentang author wanita dan hanya melihat dari sudut pandang pemeran utama wanita jadi author seenak buat karakter pria kayak lelaki bodoh dan tidak punya harga diri
ini yang jadi masalah karena ratusan novel yang konfliknya
suami selingkuh
* suami dibuat menderita, menyesal, mengemis minta maaf, berjuang mati2an dapat kesempatan dan mengejar istri yang pergi
*pemseran utama wanita tegas pergi dan tidak mudah memaafkan
*novel hadir lelaki lain yang baik dan berkesempatan besar menggantikan posisi pemeran utama pria (bukti banyak novel pemeran utama pria digantikan PEBINOR)
*semua orang yang peduli pada istri dicap orang baik dan semua orang akan melaknat perbuatan suami
yang jadi masalah dinovel2 (banyak sekali novel). karena berbanding terbaik jika konfliknya pemeran utama wanita (istri) yang selingkuh
*istri hanya menyesal, paling jauh hanya minta maaf dan mudah sekali dimaafkan, tidak dibuat berjuang, tidak dibuat mengemis, tidak dibuat mengejar suami, malah dia yang dia buat pergi tinggalkan suaminya tampa peduli perasaan sakit hati suami, yang paling parah sebagian novel malah membenarkan perselingkuha itu dan satu lagi posisi pemeran utama wanita aman 100%, tidak akan tergantikan
*suami dibuat karakternya bodoh, kayak tidak punya harga diri yang Terima saja dan mudah memaafkan dan malah sang suami dibuat balik berjuang
*lelaki selingkuhan sebagian novel dilaknat tapi ada sebagian novel lelaki ini dispesialkan dan diistimewakan dan akhirnya juga bahagia dan malah ada beberapa novel lelaki tetap berhasil merebut istri orang dan mengantikan posisi pemeran utama pria
beda dari yg lain