Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.
Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.
"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."
Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langit Malam
Malam di Wonosobo selalu menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan. Dalam dinginnya udara pegunungan, dan setiap hembusan angin seolah membawa kedamaian. Siapapun yang memandang langit malamnya, merasa seolah memberi ruang bagi hati untuk beristirahat—setelah panjangnya perjalanan hari.
Rumah keluarga Pradipta kembali tenang. Pradipta kembali ke ruang kerjanya untuk memeriksa beberapa dokumen, Ratih memilih beristirahat lebih awal, sementara Alana sudah berpamitan sejak satu jam yang lalu.
Di lantai atas, Niken baru saja selesai merapikan lemari sambil sesekali melirik jam dinding di kamar itu. Saat itu Danendra belum masuk.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan pelan yang membuat Niken langsung menoleh ke arah sumber suara. Di ambang pintu, Danendra berdiri sambil memegang dua cangkir susu hangat.
"Aku boleh masuk?"
Niken sedikit terkejut, "tentu, Mas."
Danendra melangkah masuk, lalu meletakkan kedua cangkir itu di atas meja kecil dekat jendela.
"Ayah bilang, susu hangat bisa membantu tidur lebih nyenyak," kata Danendra dengan suara yang terdengar sedikit canggung.
Niken tersenyum kecil, "terima kasih."
Keduanya lalu terdiam. Danendra berdiri menatap langit malam melalui jendela, sementara Niken duduk di tepi ranjang.
Keheningan itu terasa panjang. Beberapa kali Danendra ingin berbicara, tetapi selalu urung. Hingga akhirnya Niken lebih dulu memecah suasana.
"Mas. Apa ada yang Mas pikirkan?"
Danendra menarik napas panjang. "Ada."
"Apa?"
Lelaki itu memejamkan mata sesaat, seolah sedang mengumpulkan keberanian yang selama ini tidak pernah ia butuhkan dalam urusan bisnis. Namun malam ini terasa berbeda baginya. Mengakui kesalahan kepada perempuan yang telah ia sakiti ternyata jauh lebih sulit daripada menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah.
Danendra akhirnya berbalik menghadap Niken. "Niken..."
"Iya, Mas."
"Aku minta maaf."
Niken terdiam. Ia menatap suaminya seakan sedang memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
Danendra kembali berkata, namun kali ini lebih pelan. "Aku minta maaf, atas semua ucapanku setelah malam pernikahan kita."
Niken masih diam menatapnya. Kemudian perlahan Danendra mendekat ke arah Niken, lalu berdiri di hadapannya.
"Aku sudah menuduhmu. Aku membiarkan prasangka mengalahkan akal sehatku. Aku bahkan, membuatmu merasa harus membuktikan sesuatu yang seharusnya tidak perlu kamu buktikan."
Suara Danendra terdengar melemah, yang membuat cairan bening seketika menggenangi pelupuk mata Niken.
"Aku salah. Aku sampai sempat bertanya pada Rizky, Pak Hadi juga menjelaskannya. Mereka membuatku sadar, bahwa selama ini aku hanya percaya pada mitos, bukan pada perempuan yang menjadi istriku."
Danendra terdiam sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya dengan nada penuh penyesalan. "Seharusnya orang pertama yang kupercaya itu kamu. Sayangnya penyesalanku datang setelah aku lebih dulu melukaimu."
Air mata Niken jatuh tanpa mampu ia tahan.
"Aku tidak akan memaksamu memaafkanku malam ini. Aku hanya ingin kamu tahu, aku benar-benar menyesal."
Niken menyeka air matanya. "Mas..." suaranya bergetar, "yang paling menyakitkan bukan karena Mas bertanya, tapi karena waktu itu Mas sudah memutuskan bahwa aku bersalah, bahkan sebelum mendengar penjelasanku."
Setiap kata yang keluar dari bibir Niken terasa seperti menghantam hati Danendra. "Aku tahu. Aku bahkan tidak punya alasan untuk membenarkan diriku."
Niken tersenyum tipis dibalik air matanya. "Tapi aku sudah memaafkan Mas, dari sejak Mas membelaku di depan Ibu."
Danendra menatap perempuan di hadapannya dengan penuh rasa bersalah.
Niken mengangguk pelan. "Kita sama-sama belajar menjadi suami istri yang baik ya, Mas."
Danendra mengangguk lalu duduk di tepi ranjang menghadap Niken. Ia akhirnya mengulas senyum yang tidak lagi disembunyikan seraya melebarkan kedua bahunya. "Boleh?"
Danendra menunggu jawaban tanpa terburu-buru, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak mengambil hak istrinya tanpa lebih dulu meminta izin.
Niken menatap suaminya sejenak, lalu dengan senyum yang dipenuhi keiklasan, ia melingkarkan tangannya di pinggang Danendra.
Danendra menarik Niken dalam pelukan yang hangat, bukan pelukan yang terburu-buru, bukan pula pelukan yang dipenuhi hasrat, tetapi pelukan seorang suami yang sedang meminta maaf dengan seluruh hatinya.
Niken menyandarkan kepalanya di dada Danendra, ia dapat mendengar detak jantung lelaki itu yang berdetak begitu cepat.
"Mas, detak jantung Mas keras sekali." Ucap Niken yang membuat Danendra terkekeh pelan.
"Mungkin karena aku gugup." Jawabnya.
"Gugup?"
Danendra mengangguk kecil. "Iya, bahkan lebih gugup daripada saat rapat dengan investor."
Niken akhirnya tak kuasa menahan tawanya.
"Alhamdulillah..." bisik Danendra yang langsung membuat Niken mendongak.
"Kenapa bilang Alhamdulillah?"
"Karena akhirnya aku bisa melihatmu tertawa seperti ini lagi."
Mata Niken kembali berkaca, "Aku juga merindukan Mas yang seperti ini."
Danendra mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi istrinya mengunakan ibu jarinya. "Mulai malam ini, aku tidak ingin ada lagi prasangka di antara kita."
Niken mengangguk, "iya, Mas. Kalau suatu hari nanti Mas ragu tentang apa pun, tanyakan langsung padaku. Jangan diam atau memendamnya sendiri."
Danendra mengangguk mantap. "Aku janji."
Malam itu, tidak ada lagi kecanggungan yang memenuhi kamar. Di luar, embusan angin malam Wonosobo menggoyahkan tirai jendela dengan lembut. Sementara di dalam kamar, pelukan itu masih bertahan beberapa saat—menghadirkan rasa tenang yang sempat hilang beberapa hari terakhir.
Beberapa saat telah berlalu...., pelukan itu akhirnya perlahan terlepas. Meski begitu, tangan Danendra masih menggenggam jemari Niken dengan lembut, seolah engan kembali menciptakan jarak di antara mereka.
Danendra mengukir senyum kecil. "Susunya nanti keburu dingin."
Niken ikut tersenyum, "iya."
Setelahnya mereka berjalan menuju meja kecil itu. Dua cangkir susu hangat masih mengepulkan uap tipis. Danendra mengangkat salah satunya, lalu menyerahkannya pada Niken.
"Terima kasih, Mas." Ucap Niken.
Keduanya duduk, menikmati susu hangat buatan Danendra. Niken meniup pelan permukaan susu sebelum menyeruputnya sedikit.
"Hm...enak. Manisnya pas," katanya.
Danendra ikut mencicipi susu di tangannya, ia lalu berkata, "Ayah memang selalu minum susu sebelum tidur. Katanya supaya tidurnya lebih nyenyak."
Niken terkekeh pelan. "Kalau begitu, mulai besok aku yang buatkan setiap malam."
"Setiap malam?"
Niken mengangguk. "Iya. Asal Mas tidak bosan."
Danendra menggeleng pelan, "kurasa, aku tidak akan bosan."
Jawaban Danendra membuat pipi Niken terasa menghangat. Ia menundukkan wajah, berpura-pura sibuk dengan cangkirnya. Sesekali mereka saling mencuri pandang. Begitu mata mereka bertemu, keduanya justru sama-sama tersenyum kecil. Rasa canggung itu, kini berubah menjadi manis.
Kemudian Danendra meletakan cangkirnya lebih dulu. "Niken."
"Iya, Mas?"
"Ada satu hal yang ingin aku tanyakan."
"Apa?"
"Waktu pertama kali kita bertemu saat acara ta'aruf..."
Niken mengangguk pelan, menunggu kalimat selanjutnya.
"...apa kamu langsung yakin menerimaku?"
Niken tersenyum tipis. "Jujur... awalnya aku gugup. Soalnya Mas kelihatanya pendiam sekali."
Danendra terkekeh pelan. "Lalu kenapa tetap mau?"
Niken memandang teduh suaminya. "Karena Ayah sama Ibu selalu mengajarkan bahwa memilih pasangan bukan hanya karena kita menyukainya. Tapi juga karena kita siap belajar mencintainya."
Danendra terdiam.
"Jadi kesimpulannya, aku datang ke pernikahan ini bukan karena sudah mengenal Mas. Tapi karena ingin mengenal Mas seumur hidup."
Kalimat itu membuat hati Danendra menghangat. Perlahan ia kembali meraih tangan Niken, dan Niken membiarkan jemarinya berada dalam genggaman suaminya.
"Kalau begitu," ucap Danendra pelan. "Izinkan aku mengejar ketinggalanku."
"Maksud Mas?"
"Aku ingin mulai mengenal istriku. Bukan lewat prasangka, tapi lewat setiap hari yang kita jalani bersama."
Mata Niken kembali berkaca-kaca. "InsyaAllah, Mas. Aku juga ingin mengenal suamiku lebih banyak."
Danendra mengusap lembut punggung tangan Niken mengunakan ibu jarinya. "Besok pagi, aku antar lagi ke sekolah."
"Mas yakin tidak merepotkan?"
"Aku senang melakukannya." Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Danendra, tanpa sempat ia tahan.
Danendra tampak sedikit salah tingkah setelah mengucapkannya. Sementara Niken justru terus menatapnya, lalu sudut bibirnya melengkung membetuk bulan sabit.
"Kalau begitu, aku juga senang dijemput dan diantar suamiku."
Danendra akhirnya terkekeh pelan. "Baik, Bu Guru."
Mendengar panggilan itu, Niken tertawa kecil. "Kenapa jadi Bu Guru?"
"Soalnya semua orang di sekolah memanggilmu begitu."
"Kalau di rumah?" Tanya Niken sambil menatapnya penuh harap.
Danendra berpikir sejenak, lalu berkata dengan suara lembut. "Kalau di rumah..., kamu tetap Niken. Tapi Niken yang menjadi bagian dari hidupku."
Kalimat itu membuat Niken cukup salah tingkah, ia menundukan wajah sambil menyembunyikan senyum di wajahnya.
Tanpa banyak kata lagi, mereka menuntaskan susu hangatnya masing-masing, lalu berdiri di dekat jendela menikmati indahnya langit malam dan dinginnya udara Wonosobo. Bahu mereka bersentuhan lembut, seolah tak satu pun dari mereka yang berusaha menjauh.
...****************...