Dikhianati. Ditinggalkan. Ditindas.
Itu yang Miracle dapat setelah 5 tahun berjuang untuk Morgan mantan suaminya.
Tapi Miracle bukan wanita yang bisa diinjak lalu dibuang. Tiga tahun kemudian, namanya jadi momok di dunia bisnis. Dia kembali bukan untuk balikan. Dia kembali untuk membeli perusahaan itu. Dan untuk membuat Morgan berlutut di hadapannya.
Siapkah kamu menyaksikan seorang "Mantan Istri" merebut kembali tahtanya?
Kita ikuti sepak terjang mantan istri CEO...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 07. Negosiasi Di meja Direksi.
Ruang Rapat Direksi M.W Group, Lantai 27. pukul. 09.00 WIB.
Jakarta dari atas sini terlihat terlalu megah, bersih dan rapi, seolah semua masalah bisa disapu kalau punya cukup uang. Tapi kalau tidak punya niscaya tidur di kolong jembatan.
Morgan duduk di kursi paling ujung berbatas meja. Dua belas kursi kulit kosong di kirin kanan membentang di antara dia dan Miracle di ujung sana. Tiga hari dia kurang tidur. Tiga hari tanda tangan di map coklat itu jadi mimpi buruk.
Disebrang Meja.
Miracle tidak menatapnya, dia tidak peduli. Dingin, hatinya membeku. Jari lentiknya menari di atas keyboard Laptop MacBook yang tertutup stiker. Satu-satunya yang membuat Miracle tersenyum saat Komariah menaruh segelas coffee latte di atas meja.
"Kopi boss. only you...kalau ada yang ngiler beli sendiri, kita tak akrab." sindir Komariah.
"Tidak apa-apa...aku sudah ngopi."
"Syukurlah..." sahut Komariah lalu keluar.
Morgan menatap Miracle dengan rasa rindu, ada sesal menyesakkan dada. Seandainya Miracle mau kembali....
Mengenakan Blazer abu-abu potongan sempurna. Jam Patek Philippe. Rambut cepol. Sangat cantik dan Elegan. Ahh... Miracle terlihat mahal susah digapai.
Tak ada cincin di jari manis menandakan nama Morgan masih dihatinya.
"Selamat pagi, Tuan Morgan, terimakasih sudah datang tepat waktu. Saya hargai itu." ucap Miracle akhirnya. Tanpa mendongak atau berusaha menatap Morgan.
"Hemm..."
Padahal Morgan sudah 3 hari berturut-turut ngantri, supaya bisa berbicara langsung dengan CEO M.W Group. Pertama bertemu hanya bisa memandangnya tidak dapat giliran komunikasi.
CEO M.W Group ternyata mantan istrinya. Ia yakin Miracle akan menyuntikan dana ke Morgan's Kitchen. Bukankah perusahaan ini dulu di bangun bersama. Miracle tidak akan tega melihatnya menderita. bathin Morgan.
Sebenarnya ia malu kepada Miracle, mereka kembali bertemu dengan keadaan dirinya yang hancur. Semua salahnya, gara-gara ia terlalu mengikuti kehendak Arini.
Ia memungut kerikil dan membuang berlian. Istri yang baik malah dibuang. Malu itu yang dirasakan. Mundur tak mungkin karena dana dari Investor sangat ia butuhkan.
Suara itu datar, tidak ada tekanan emosi. Profesional, seolah mereka baru ketemu di tender proyek. Morgan memaksa tersenyum.
"Kita bisa langsung mulai?"
Miracle baru menutup laptopnya. Klik. Lalu dia menatap lurus. Tajam.
"Baik. Kita mulai."
Layar proyektor turun. Pandangan mereka tertuju kepada layar. Grafik merah membuat Miracle mengernyitkan alis. Utang, kredit macet. Aset yang dijual. Nama investor yang dicoret satu-persatu.
"Enam bulan terakhir Morgan's Kitchen merugi 40%. Hutang ke Bank Sentral jatuh tempo tiga puluh hari lagi, jumlahnya, 1.8 Triliun." ucap Miracle berjeda, nada suaranya seperti presenter berita.
"Silahkan minum Tuan Morgan." ucap Miracle sambil menyeruput air mineral.
"Terimakasih, bisakah kamu memanggil ku Morgan saja? aku merasa kamu mengejek ku." sahut Morgan pelan hampir tak terdengar.
"Tuan Morgan kita berada di kantor, semua orang yang datang kesini harus saya hormati sesuai porsinya, tolong jangan berpikir macam-macam."
"Ada niat menjual Morgan's Kitchen? Pak Hendra, sahamnya sudah aku beli minggu lalu."
Morgan mengepal tangannya di bawah meja.
"Jadi ini permainanmu?" ucap Morgan.
"Bukan permainan."
Miracle mematikan proyektor. Ruangan jadi gelap sedetik sebelum lampu otomatis nyala.
"Ini fakta. Dan aku menawarkan solusi."
Komariah masuk dengan wajah kecut dan meletakkan satu map hitam tebal di tengah meja. Lalu keluar tanpa suara.
Miracle mendorong map itu dengan satu jari. Sampai berhenti tepat di depan Morgan.
"Dua triliun. Tunai. Untuk 30% saham Morgan's Kitchen. Valuasi pasar. Tanpa diskon kasihan."
Angka itu berputar di kepala Morgan.
Dua triliun, angka yang dulu mereka pernah coret-coret di kertas nasi jam dua dini hari.
"Nanti kalau kita kaya ya, Mi." ucap Morgan waktu itu. Kenangan pahit.
"Kenapa Miracle?" tanya Morgan. Suaranya serak.
"Dengan uang sebanyak itu kamu bisa beli tiga perusahaan lebih sehat."
Miracle bersedekap. Untuk pertama kalinya ekspresinya retak. Seujung kuku.
"Karena Morgan's Kitchen dibangun di atas keringat dan pengorbanan ku. Meski tidak ada di akta atau di surat nikah kita." ucapnya pelan.
Kalimat itu mendarat. Berat.
Morgan tertawa. Pahit.
"Hebat. CEO M.W sekarang main perasaan juga?"
"Saya tidak main perasaan, Tuan Morgan." Miracle ikut berdiri. Jalan memutari meja. Heels-nya beradu dengan marmer. Tik. Tik.
"Saya main logika. Dan logika mengatakan dalam 30 hari bank akan menyita Morgan's Kitchen. Karyawan akan di-PHK. Nama besar mu akan hancur."
Miracle berhenti di belakang kursi Morgan. Terlalu dekat sampai aroma parfumnya tercium. Bukan aroma yang dulu. Yang ini lebih mahal. Lebih dingin.
"Pilihan ada dua," bisik Miracle.
"Nomer satu. Kamu tanda tangan. Jual 30% ke M.W Group. Kamu tetap CEO. Tapi aku sebagai pemegang saham terbesar."
"Dan dua?"
"Dua, Anda pertahankan ego. Dan kehilangan semuanya."
Hening. Cuma suara AC.
Morgan menatap pulpen di atas map. Mahal. Hitam. Seperti masa depannya sekarang. Sungguh mengenaskan, ia tidak menyangka.
Pilihan pertama sangat menguntungkan, ia tetap bisa bekerja, sekaligus ingin mendekati Miracle kembali.
"Kalau aku tanda tangan Apa jaminannya kamu nggak akan tendang aku bulan depan?"
Miracle kembali ke kursinya. Rapi. Sempurna.
"Jaminannya adalah kontrak, yang berisi sepuluh halaman. Silakan dibaca pengacara Anda."
Dia melirik jam. "Anda punya 24 jam. Lewat dari itu, tawaran saya hangus. Dan saya akan tunggu di lelang bank."
Morgan mengangguk pasrah.
Sebelum keluar, Miracle berhenti, tangannya memegang gagang pintu.
"Oh ya satu lagi, rapat pemegang saham minggu depan katanya tanpa menoleh.
"Rapat pemegang saham minggu depan. Saya akan hadir."
"Sebagai apa?"
"Sebagai pemilik 30% saham Wijaya Group." Dia baru menoleh. Senyum tipis, matanya kosong.
"Dan mulai sekarang, di forum resmi... panggil aku Nyonya M.W."
Klik. Pintu tertutup.
Morgan masih duduk di sana. Sendiri dengan map dua triliun, kontrak yang baru di tanda tanganinya. Yang membuatnya sedih wanita yang pernah disakitinya mau menolongnya kembali. Ntah apa yang di rencanakan oleh Miracle, apa dia mau balas dendam? atau morning menolong...
Tangannya meraih pulpen. Gemetar. Bukan karena takut bangkrut. Tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidup... Morgan harus berlutut ke wanita yang pernah dihina, ditipu dan dibuang.
Miracle masuk ke ruangannya dengan perasaan hampa. Dulu dikhianati, sekarang harapannya tercapai.
Itu "hadiah" lima tahun pengorbanannya dan tiga tahun kemudian dunia bisnis mengenal satu nama baru "M.W Group.
Miracle tanpa belas kasihan, tanpa jejak masa lalu. Dia kembali bukan untuk meminta.
Dia kembali untuk membeli perusahaan yang dulu dibangun dengan darah dan air mata.
Yang membuatnya puas Morgan berlutut di hadapannya.
Siapkah dia melihat seorang "Mantan Istri" merebut kembali semua yang pernah jadi miliknya?
*****
ini yang namanya ingat wajah ea ingat rasanya....
tapi rasa itu tak selalu nyaman....