Dikhianati pasangan yang telah lama bersama sejak sekolah & bahkan nyaris menikah membuat Reza memilih meninggalkan apartemen yang sebelumnya ia beli untuk nantinya bisa ditinggali bersama kekasihnya.
Pindah ke tempat baru dengan harapan akan memiliki takdir baru nyatanya memang terjadi pada diri Reza.
Ia bertemu dengan gadis ayu namun misterius.
Yuk, kita temani Reza mencari tahu siapa sosok gadis misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Telfon Hantu
Sesosok bayangan melesat menembus malam yang dingin, ia menangis tersedu-sedu mengikuti mobil yang meluncur entah ke mana,
"Kembalikan... Kembalikan tubuhku... Ku mohon... aku takut... aku takut..."
Bayangan itu menangis sambil merintih sedih,
Sementara, yang di dalam mobil, tubuh Maura yang kini di dalamnya adalah Dea terlihat memaksa pemuda yang mengemudikan mobil untuk menghubungi Reza,
"Reza siapa?"
Tanya si pemuda,
"Reza siapa tidak tahu, pokoknya Reza,"
Kata Dea,
"Lah, Reza itu banyak, Reza Rahadian, Reza Herlambang, Reza Artamevia, Reza yang mana?"
Kesal pemuda jadinya, dari yang semula takut, lama-lama dia jadi darting,
Dea menabok bahu si pemuda,
"Ah buka saja ini hpnya, aku hubungi sendiri,"
Kata Dea tak sabar,
Haiiish... Pemuda itupun meraih hp nya dengan tangan kirinya, membuat pola di hp agar bisa terbuka,
Begitu polanya terbuka, Dea pun langsung menyambar hp itu, ingatannya yang cukup bagus membuatnya langsung hafal nomor hp Reza,
Tuuuut... Tuuut... naik kereta api...
Oh bukan, ini tuuut suara hp yang terhubung,
Dea mencoba menghubungi Reza sambil menunjuk jalan ke arah gedung yang terbengkalai, di mana dia akan menyelamatkan Dila, adiknya,
"Aku sudah tahu, tidak usah nunjuk tepat di muka, aku malah tidak bisa lihat jalan,"
Pemuda itu jadi tambah emosi,
"Kesurupan sih kesurupan, ampunlah, baru tahu aku ada orang kesurupan nyusahin begini,"
Pemuda itupun menggerutu,
Yang tentu saja langsung kena tabok Dea,
Tuuuut... tuuuu...
Suara terhubung ke nomor Reza masih berbunyi, seiring dengan dering hp Reza yang kini terdengar,
Tampak di rumahnya Reza menatap hp nya yang tergeletak di atas sofa di samping ia duduk,
Reza masih merasa tubuhnya tak bertulang, lemas luar biasa,
Herman sedang dimintanya membuatkan wedang teh panas, ia butuh asupan zat-zat yang akan membuatnya lebih berenergi,
Hp terus berdering, seolah menyuruh Reza menerima panggilannya,
Reza melihat layar di mana nomor baru yang masuk,
Siapa?
Batin Reza.
Sampai akhirnya panggilan pertama yang masuk itupun berubah menjadi panggilan tak terjawab,
Lalu panggilan kedua dari nomor yang sama masuk lagi,
Melihat nomor baru itu memanggil lagi, Reza yang masih lemas akhirnya mau tidak mau menerima panggilan itu, takut penting atau ternyata nomor adik sepupunya yang lain,
"Ya halo,"
Kata Reza menerima panggilan telfon si nomor baru,
Tepat saat itu, Herman muncul dengan satu mug ukuran sedang berisi wedang teh yang sengaja ia buatkan agak banyak,
"Bang, ini Dea,"
Suara itu kemudian yang terdengar, yang tentu saja langsung membuat Reza kaget luar dalam, eh maksudnya luar biasa,
Saking kagetnya, Reza sampai melempar hp nya,
"Hah, tidak... tidak... jangan ganggu aku... jangan ganggu aku... zuh zuh zuh..."
Reza menendang-nendangkan kakinya ke udara,
Herman memandanginya dengan heran,
Sementara dari hp terdengar suara perempuan memanggil-manggil nama Reza,
"Bang Reza... whoiiii... Bang... Busetlah,"
Suara perempuan itu mengomel,
Reza makin ketakutan,
"Lihat... Lihat... Hantu apa itu bisa bilang buset, astaga... dia jelas bukan hantu ecek-ecek, dia hantu yang jam terbangnya sudah tinggi,"
Kata Reza sambil menunjuk hp nya,
Herman pun lantas mendekati hp milik Reza, diambilnya hp Reza tersebut,
"Halo..."
Herman menggantikan Reza bicara pada Dea,
"Mana Bang Reza, aku mau minta tolong,"
Ujar Dea,
Reza menggeleng-gelengkan kepalanya ke arah Herman,
"Jangan bilang ada aku, jangan bilang ada aku, dia hantu,"
Reza kakinya naik ke sofa, meringkuk di sudut sofa dengan wajah takut,
Hantu apa sih? Batin Herman.
Majikannya benar-benar tak jelas.
"Mbak, ada apa? Ada yang bisa dibantu?"
Tanya Herman akhirnya,
"Haiiish, nanti kamu kesurupan, tutup saja, tuutuuuup..."
Reza malah jadi kayak orang kesurupan.
Tapi Herman yang kadung penasaran tetap bicara dengan Dea.
Dan Othor mau kerja dulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...