NovelToon NovelToon
Konslet

Konslet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUKU UTANG PAK TOR

Malam itu, buku utang Bapak terletak di tengah meja makan seperti barang bukti.

Tidak ada seorang pun menyentuh nasi. Mak Mina berdiri dekat kompor dengan tangan bersilang. Tia duduk di ujung meja, ponselnya diletakkan terbalik. Bapak baru pulang dari bengkel dan berhenti di ambang pintu ketika melihat sampul hitam itu.

“Siapa buka?” tanyanya.

“Aku,” jawabku.

“Siapa suruh?”

“Angkanya yang menyuruh.”

Ia meletakkan kantong komponen, lalu menarik kursi. Tangannya yang kanan sedikit bergetar saat menyentuh karet gelang buku. Ia menutup sampulnya, seolah angka-angka di dalam dapat hilang kalau tidak terlihat.

“Itu urusanku.”

“Kalau bengkel disita, jadi urusan siapa?”

“Tidak akan disita.”

“Ada tunggakan sewa terakhir di laci.”

Bapak menatapku. “Kau bongkar semua sekarang?”

“Aku cari kunci gudang.”

“Lain kali cari kunci, jangan cari kehormatan orang.”

Kalimat itu membuat suaraku naik. “Kehormatan apa kalau listrik rumah pernah diputus?”

Bapak berdiri. Kursinya bergeser keras.

Mak Mina mengambil sendok sayur dan melemparkannya ke meja. Sendok itu berputar sekali sebelum berhenti di antara kami.

“Duduk dua-duanya,” katanya. “Kalau mau berkelahi, bayar dulu piring yang pecah.”

Kami tidak langsung duduk, tetapi tidak ada yang berani melanjutkan berdiri terlalu lama ketika Mak Mina menggunakan suara Komandan Dapur.

Bapak akhirnya membuka buku. Ia menunjuk beberapa baris tanpa melihat wajahku. “Pengobatan tangan. Sewa bengkel. Komponen untuk pekerjaan yang pelanggannya tidak bayar. Ada juga kerusakan yang harus kuganti.”

“Apa yang terjadi dengan tangan Bapak?” tanya Tia pelan.

“Sudah lama.”

“Lama bukan jawaban,” kataku.

Bapak mengusap pergelangan kanannya. “Jatuh waktu kerja. Sarafnya kena. Dokter bilang bisa membaik kalau terapi teratur.”

“Kenapa kami tidak tahu?”

“Karena tidak perlu.”

Mak Mina tertawa tanpa humor. “Tidak perlu? Aku yang temani kau ke klinik.”

“Mereka tidak perlu,” kata Bapak, menunjuk aku dan Tia.

“Rumah ini satu meter kali, Torang. Kau batuk di kamar mandi, satu gang dengar. Masih juga sok simpan rahasia.”

Aku membalik halaman. Nama Marpaung Elektrik muncul beberapa kali. “Ini ayah Rinso?”

Bapak mengangguk.

Sebelum meninggal, ayah Rinso memiliki toko suku cadang dan bengkel yang lebih besar. Bapak meminjam uang untuk membeli alat, menutup biaya terapi, dan mengganti kerugian beberapa pekerjaan. Setelah orang tua Rinso meninggal, catatan pinjaman serta piutang usaha berpindah kepada anaknya.

“Jadi sekarang Rinso menagih Bapak?”

“Dia belum menagih keras.”

“Belum?”

“Dia kasih waktu.”

Aku teringat cara Rinso berdiri di parkiran, rapi, tenang, seolah selalu mempunyai daftar kesalahan orang lain. Ternyata keluargaku juga ada di dalam daftar itu.

“Pantas dia merasa lebih tinggi.”

“Jangan bawa-bawa dia,” kata Bapak. “Utangnya sah.”

“Dia baru bilang akan buka bengkel sendiri.”

Bapak mengangkat wajah. “Itu haknya.”

“Dengan uang dari kita?”

“Jefri.”

“Kalau dia menutup bengkel ini supaya saingannya hilang—”

“Jangan bikin niat orang dari kepalamu sendiri.”

Aku hendak membalas ketika suara motor batuk-batuk berhenti di depan rumah. Fadli masuk tanpa mengetuk sambil membawa helm dan sebungkus gorengan.

“Assalamualaikum. Aku bawa bala bantuan berupa bakwan—” Ia melihat wajah kami. “Atau aku datang besok saja?”

Mak Mina menunjuk kursi. “Duduk. Gorengannya tinggal.”

Fadli duduk perlahan. “Ini rapat keluarga atau pemeriksaan tersangka?”

“Utang bengkel,” kata Tia.

“Ah.” Fadli menaruh gorengan. “Kalau begitu aku bukan keluarga. Aku cuma lewat.”

Ia tetap duduk. Setelah dua menit diam, Fadli mengaku pernah beberapa kali diminta Bapak mengantar amplop cicilan ke toko lama ayah Rinso. Ia tidak tahu jumlahnya, hanya tahu Bapak selalu memilih waktu sore ketika toko hampir tutup.

“Kenapa tak pernah bilang?” tanyaku.

Fadli menatap gorengan. “Kupikir kau tahu. Lagi pula setiap kali namanya Rinso disebut, urat lehermu langsung rapat umum.”

“Jadi semua orang tahu kecuali aku?”

“Tidak semua. Aku, Makmu, mungkin tukang parkir toko itu.”

Mak Mina menyentil kepala Fadli dengan ujung sendok. “Jangan tambah minyak.”

Kenyataan bahwa orang lain menyimpan rahasia untuk melindungi gengsiku terasa lebih buruk daripada utangnya sendiri. Selama ini aku pulang membawa cerita pekerjaan besar, pelanggan sulit, dan teknisi lain yang menurutku tidak becus. Tidak sekali pun aku bertanya mengapa Bapak semakin jarang menerima servis berat atau mengapa Mak Mina menambah jumlah nasi bungkus setiap minggu. Aku terlalu sibuk menjadi orang paling penting dalam ceritaku sendiri.

Aku menunjuk ke luar. “Motor yang kau pakai itu bisa dijual.”

Fadli memeluk helmnya. “Motor siapa?”

“Motorku.”

“Kau memberi aku pakai karena kau dapat motor operasional.”

“Sekarang aku tidak punya pekerjaan.”

“Justru aku masih punya. Motor itu sumber nafkahku.”

“Utang ini harus dibayar.”

“Kalau motor dijual, aku ikut dijual dengan paket hemat?”

Mak Mina mengambil satu bakwan. “Tidak ada yang jual motor malam-malam. Harganya jatuh kalau penjualnya kelihatan putus asa.”

Bapak menutup buku lagi. “Aku yang buat utang. Aku yang urus.”

“Dengan tangan yang makin sulit menyolder?” tanyaku.

Ruangan diam.

Aku langsung menyesal, tetapi gengsiku terlalu cepat menutup jalan untuk minta maaf.

Bapak berdiri dan mengambil alat ukur dari tas. Ia meletakkannya di depanku. “Kau merasa sudah jadi teknisi karena bisa menemukan titik rusak. Itu bagian paling gampang.”

“Aku tidak bilang gampang.”

“Kau selalu bilang gampang.”

Ia membuka telapak tangannya. Getaran kecil kembali terlihat pada jari telunjuk dan ibu jari.

“Yang susah itu bekerja saat takut hasilmu salah,” katanya. “Takut itu boleh. Asal tanganmu tetap mengikuti prosedur.”

Aku menatap multimeter tua itu. Untuk pertama kalinya aku memahami bahwa kebiasaan Bapak memeriksa ulang bukan karena ia lambat. Ia sedang memastikan tubuhnya tidak mengambil keputusan sendiri.

Mak Mina duduk dan menarik buku utang. “Sekarang dengar. Listrik rumah diputus dua bulan lalu, lalu kusambung lagi setelah pinjam dari kelompok arisan. Sewa bengkel tinggal tiga puluh hari. Uang nasi bungkus cukup untuk makan dan cicilan kecil. Jadi mulai besok, tidak ada lagi yang bilang ini urusan sendiri.”

Tia mengangkat tangan. “Aku bisa ambil kerja tambahan edit video.”

Fadli berkata, “Aku bisa antar barang setelah jam ramai.”

Aku melihat Bapak. “Aku kerja di bengkel.”

“Kau cari kerja tetap.”

“Sambil itu, aku kerja di bengkel.”

Ia tidak mengiyakan. Namun, ia juga tidak menolak lagi.

Pagi berikutnya, suara ketukan keras membangunkanku. Bukan dari pintu rumah, melainkan dari rolling door bengkel.

Ketika kubuka, Mak Sendok berdiri dengan sendok logam di satu tangan dan selembar kertas di tangan lain. Ia menempelkan pemberitahuan itu tepat di bawah papan nama miring.

BENGKEL HARUS MELUNASI TUNGGAKAN DALAM 30 HARI ATAU DIKOSONGKAN.

Mak Sendok menepuk kertas dengan ujung sendok.

“Tiga puluh hari,” katanya. “Hari pertama mulai sekarang.”

1
Kustri
ini cerita ttg apa thor✌
Kustri
mau ketawa takut karma🫣
Kustri
penasaran ama bang J✌(lbh keren)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!