NovelToon NovelToon
Mantan Komandan Muda

Mantan Komandan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Penyelamat / Fantasi
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

Bima mengira ia bisa mengubur masa lalunya yang kelam di Desa . Mantan komandan regu pasukan khusus ini memilih hidup bersahaja sebagai petani jagung dan pemancing di tepi sungai demi melarikan diri dari trauma perang. Namun, kedamaian yang ia bangun susah payah runtuh setiap kali ia teringat pada Joni, sahabat sekaligus anak buahnya yang gugur dalam pelukan Bima akibat terjangan peluru senapan mesin musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

undangan ibu sanjaya

Keesokan harinya, fajar baru saja menyingsing di ufuk timur Kota Barat. Sinar matahari pagi yang hangat perlahan merayap naik, menembus celah-celah dedaunan dan menyinari balkon lantai dua villa mewah di tepi danau. Suasana di sekitar kediaman Bima masih sangat sunyi dan tenang. Kicauan burung-burung kecil yang saling bersahutan menjadi satu-satunya melodi yang memecah keheningan pagi itu. Bima, yang sudah terbiasa bangun sebelum matahari terbit karena kedisiplinan militernya yang mendarah daging, sedang duduk santai menikmati udara pagi yang bersih dan segar.

Namun, ketenangan alami di balkon tersebut mendadak terusik oleh sebuah suara nyaring yang sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya. Suara itu adalah bunyi dering telepon yang bernada standar monofonik—sebuah bebunyian nyaring nan melengking yang sudah sangat jarang, bahkan hampir mustahil terdengar di era digital modern seperti sekarang ini. Ponsel jadul nan usang milik Bima bergetar hebat di atas meja kayu. Tanpa terburu-buru, Bima mengulurkan tangan kekarnya dan merogoh saku celana kainnya untuk mengambil benda tersebut. Dia melirik layar kecil non-warna berlatar hijau redup yang berkedip-kedip, menampilkan sebaris nama yang baru saja dia ketik dan simpan ke dalam memori teleponnya kemarin sore: Ibu Sanjaya.

Bima menatap layar itu selama satu detik sebelum akhirnya ibu jarinya menekan tombol keras berwarna hijau yang berlogo gagang telepon kuno untuk menerima panggilan masuk tersebut. Dia mendekatkan ponsel kuno itu ke telinganya. "Iya, Ibu. Bima di sini," jawab Bima dengan nada baritonnya yang khas dan dalam, tenang, datar, namun tetap menyiratkan rasa hormat dan kesopanan yang tinggi kepada orang yang lebih tua.

"Nak Bima, selamat pagi. Bagaimana kabarmu pagi ini? Apakah tubuhmu sudah benar-benar pulih total? Kamu tidak merasakan sesak napas atau pusing lagi, kan?" Rentetan pertanyaan itu langsung meluncur dari seberang saluran. Suara lembut seorang wanita paruh baya terdengar begitu jelas, memancarkan rasa khawatir yang mendalam sekaligus perhatian yang sangat tulus atas kondisi kesehatan Bima pasca insiden kebakaran hebat kemarin siang. Ibu Sanjaya tampaknya benar-benar merasa bersalah sekaligus cemas jika terjadi sesuatu yang buruk pada pemuda yang telah bertaruh nyawa demi keluarganya.

Mendengar perhatian yang begitu melimpah, Bima hanya tersenyum tipis, hampir tak terlihat. "Kabar saya baik, Bu. Saya sudah segar bugar seperti biasa. Tubuh saya sudah fit kembali. Terima kasih banyak atas perhatian dan kekhawatiran Ibu," sahut Bima dengan kalimat yang singkat, padat, dan jelas, tanpa ada niat untuk melebih-lebihkan kondisi fisiknya yang memang sudah terlatih menghadapi situasi yang jauh lebih ekstrem dari sekadar menghirup asap kebakaran.

Di seberang sana, Ibu Sanjaya terdengar mengembuskan napas panjang, sebuah helaan napas lega yang sangat kentara setelah mendengar konfirmasi langsung dari mulut sang penyelamat. Nada suaranya kini terdengar jauh lebih santai dan ceria dari sebelumnya, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menyampaikan maksud utama dan tujuan intinya menelpon Bima di pagi-pagi buta seperti ini. "Hmm... syukurlah kalau begitu, Nak Bima. Ibu jadi merasa lebih tenang mendengarnya. Begini, Nak... Kira-kira kapan kamu punya waktu luang yang cukup senggang? Apakah kamu keberatan untuk datang berkunjung ke rumah Ibu?"

Mendengar pertanyaan bernada undangan tersebut, Bima tidak langsung memeriksa kalender, memberikan jadwal yang kaku, atau memaksakan waktu luangnya sendiri agar terlihat sibuk. Sesuai dengan kepribadiannya yang sangat santai, mengalir apa adanya, sangat menghargai waktu orang lain, dan sama sekali tidak suka mengatur-atur agenda orang, Bima langsung melemparkan keputusan itu kembali kepada si penanya. "Ibu maunya kapan? Saya akan menyesuaikan," tanya Bima balik dengan nada yang sangat ringan tanpa beban.

Ibu Sanjaya sempat terkekeh pelan di seberang telepon. Suara tawa kecilnya terdengar renyah, merasa sangat senang, kagum, dan juga tersentuh dengan sikap Bima yang sangat penurut, rendah hati, dan begitu sopan terhadapnya, padahal Bima adalah orang yang memegang posisi sebagai pahlawan yang telah menyelamatkan nyawanya. "Kamu ini bisa saja, Nak. Kalau sekiranya siang ini, sekitar jam makan siang, kira-kira apakah kamu bisa meluangkan waktu?" tanya Ibu Sanjaya lagi, kali ini dengan nada yang penuh harap agar permintaannya tidak ditolak.

"Bisa, Bu," jawab Bima tanpa ada keraguan sedikit pun dalam suaranya. Baginya, tidak ada agenda mendesak yang harus dia lakukan di villa hari ini. "Kirimkan saja alamat lengkap rumah Ibu ke nomor ponsel saya ini. Nanti siang setelah bersiap-siap, saya akan langsung meluncur ke sana."

Setelah mendengar kesediaan Bima, Ibu Sanjaya kembali mengucapkan kata terima kasih yang berulang-kali dengan nada yang sangat emosional, seolah kata terima kasih saja tidak akan pernah cukup untuk membalas kebaikan Bima. Tak lama kemudian, wanita paruh baya itu menutup sambungan telepon sepihak dengan perasaan lega. Tidak sampai dua menit setelah telepon ditutup, sebuah getaran pendek menyertai pesan teks SMS masuk ke ponsel jadul Bima.

Bima menatap deretan teks di layar kecil itu dengan pandangan lurus dan tajam. Instingnya mengatakan bahwa ini bukan sekadar kunjungan biasa. Dia mulai bersiap untuk mendatangi sebuah pertemuan yang sangat penting, pertemuan yang mungkin saja akan menjadi kunci utama untuk membuka tabir misteri masa lalu yang kelam tentang sahabat karibnya, Joni, yang selama ini terus dia cari informasinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!