Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.
Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Setelah itu, Nadia segera masuk dan menarik beberapa kursi kayu sederhana, mengusap permukaannya dengan kain bersih yang masih dipegangnya, lalu mengisyaratkan dengan senyuman ramah agar mereka bertiga masuk dan duduk.
Lalu, Nadia pun bergegas ke dapur untuk menyeduh teh hangat seadanya, menyajikannya di atas meja kayu dengan gerakan jemari yang cermat dan penuh kesopanan.
Papa Mahendra dan Mama Bella duduk berdampingan, sementara Aksa memilih duduk di sudut sofa kayu yang agak jauh. Manik mata pekat pria itu tak pernah lepas memperhatikan gerak-gerik Nadia, bagaimana gadis itu tetap berusaha menyambut tamunya dengan sempurna di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi fisiknya.
"Nadia... Kedatangan Om dan Tante ke sini bukan cuma sekadar berkunjung atau berbelasungkawa," buka Papa Mahendra seraya meraih cangkir teh hangat itu dan menyesapnya sedikit.
Nadia yang baru saja duduk di kursi kecil berhadapan dengan Mama Bella mengangguk pelan dan menyatukan kedua tangannya di atas paha.
"Dulu, almarhum Ayah kamu dan Om pernah membuat sebuah janji besar. Saat bisnis Om dihantam kebangkrutan hebat, Ayahmu mempertaruhkan segalanya untuk membantu Om bangkit. Kami berjanji, jika suatu saat anak-anak kami sudah dewasa, kami ingin menyatukan kedua keluarga ini dalam ikatan pernikahan," lanjut Papa Mahendra dengan raut wajah emosional.
Deg!
Jantung Nadia serasa berhenti berdetak seketika. Matanya membelalak kaget, pandangannya refleks terlempar ke arah Aksa. Pria tampan itu duduk membeku, rahangnya mengetat tajam dengan pandangan yang sulit diterjemahkan.
Mama Bella tersenyum hangat, mengulurkan tangannya di atas meja dan menggenggam jemari Nadia yang mendadak dingin dan gemetar.
"Tante tahu ini sangat mendadak buat kamu, Nadia. Tapi melihat kamu hidup sendirian di sini tanpa ada yang menjaga... hati Tante jadi nggak tenang, kami ingin kamu menjadi bagian dari keluarga Mahendra dan menjadi istri Aksa," ucap Mama Bella lembut, suaranya sarat akan keibuan yang jujur.
Nadia menunduk dalam-dalam. Dadanya bergemuruh hebat oleh rasa tidak percaya, menikah dengan Aksa, pria jangkung berkuasa yang merupakan putra dari pengusaha besar dan pahlawan yang telah menyelamatkannya dari neraka. Bagi Nadia yang hanyalah seorang gadis yatim piatu keterbatasan fisik dan terjerat utang ratusan juta, tawaran ini terasa seperti mimpi yang terlalu tinggi untuk diraih, bahkan terasa tidak pantas bagi dirinya.
Dengan jemari yang gemetar hebat, Nadia menuliskan kalimat di bukunya, lalu memperlihatkannya kepada Papa Mahendra dan Mama Bella.
[Om, Tante... terima kasih atas kebaikan dan niat baik keluarga Om dan Tante. Tapi saya rasa, saya tidak bisa menepati janji itu, saya tidak pantas untuk Tuan Aksa. Saya gadis yang tidak bisa berbicara, miskin dan hanya akan menjadi beban untuk Tuan Aksa dan keluarga Om dan Tante.]
Membaca tulisan polos dan penuh kepasrahan itu, dada Aksa yang sejak tadi dipenuhi gengsi dan rasa bersalah mendadak terasa dihantam sesak luar biasa.
Aksa mengepalkan tangannya di atas lutut. Pria yang sebelumnya berteriak menolak gadis bisu di ruang kerja papanya itu, kini justru merasa tidak rela jika Nadia terus-menerus mengutuk dan merendahkan dirinya sendiri seperti itu.
"Siapa yang bilang kamu beban?" Suara berat dan dingin milik Aksa memecah keheningan ruangan sempit tersebut, membuat Papa Mahendra dan Mama Bella menoleh kaget ke arahnya.
Aksa berdiri dari duduknya, melangkah mendekat hingga bayangan tubuh jangkungnya menutupi tubuh ringkih Nadia, pria itu menatap lurus ke dalam mata bulat Nadia yang berkaca-kaca.
"Perjodohan ini adalah janji antar orang tua kita, kalau orang tuamu dulu mempercayakan kamu pada keluarga saya, maka tidak ada alasan untuk kamu merasa tidak pantas," tegas Aksa dengan nada penekanan yang tak terbantahkan.
Nadia terpaku mendongak menatap Aksa, tidak menyangka pria yang dingin itu akan mengucapkan kalimat tersebut di depan kedua orang tuanya.
Papa Mahendra tersenyum lega, mengangguk bangga melihat respons putra tunggalnya. "Tuh, kamu dengar sendiri kan, Nadia? Aksa sama sekali tidak keberatan, Om memohon padamu dan izinkan Om menjalankan amanah almarhum Ayahmu untuk melindungimu," pintanya.
Nadia meremas kain celananya, bayangan wajah galak Bibi Ratih dan ancaman pembongkaran makam orang tuanya akibat utang ratusan juta tiba-tiba melintas. Jika ia tetap tinggal di rumah ini sendirian, Bibi Ratih dan pengacaranya pasti akan menghancurkan hidup dan kenangan orang tuanya dalam waktu satu bulan.
Melihat ketulusan di mata Papa Mahendra dan kehangatan Mama Bella, serta ketegasan dari Aksa, Nadia akhirnya menarik napas panjang dan mengangguk pelan dengan air mata haru yang akhirnya menetes membasahi pipinya.
Anggukan pelan dari Nadia seolah menyalurkan kelegaan besar ke seluruh sudut ruangan sempit itu, Mama Bella yang tidak sanggup menahan rasa harunya segera berdiri dan menarik tubuh ringkih Nadia ke dalam pelukan hangat seorang ibu. Nadia tertegun sejenak, kehangatan yang sudah lama hilang sejak kepergian Ibunya kini merayap kembali dan meruntuhkan sisa-sisa pertahanan di dalam dadanya hingga tangisnya pecah tanpa suara di pundak Mama Bella.
"Terima kasih, Nak... Terima kasih sudah menerima niat baik kami," bisik Mama Bella lembut sambil mengelus punggung Nadia dengan penuh kasih sayang.
Papa Mahendra mengusap sudut matanya yang mengembun, tersenyum puas melihat calon menantunya. Sementara itu, Aksa masih berdiri mematung di tempatnya. Pandangannya terkunci pada sosok gadis dalam dekapan ibunya, ada gejolak aneh yang makin liar menggerogoti logikanya.
Gadis yang beberapa hari lalu ia selamatkan, kini menjadi calon istrinya. Ego Aksa terasa remuk, namun di saat yang sama dan ada dorongan posesif yang samar-samar mulai tumbuh di ulu hatinya.
Setelah tangis Nadia mereda, Mama Bella melepaskan pelukannya dan mengusap air mata di pipi pucat Nadia. Papa Mahendra kemudian memperbaiki posisi duduknya, menatap Nadia dengan raut wajah yang kembali serius namun hangat.
"Nadia, karena kamu sudah menyetujui perjodohan ini, Om tidak ingin kamu tinggal di rumah ini sendirian lagi. Mulai hari ini, kamu akan tinggal di kediaman Mahendra," ujar Papa Mahendra tegas.
Nadia tersentak, ia dengan cepat meraih buku tulisnya dan menggerakkan jemarinya.
[Om, terima kasih banyak. Tapi saya tidak bisa meninggalkan rumah ini begitu saja, ini rumah peninggalan Ayah dan Ibu dan saya harus merawatnya.]
Papa Mahendra membaca tulisan itu lalu menggelengkan kepala pelan, "Om paham rumah ini sangat berharga untukmu, Nak. Tapi keselamatan dan kenyamananmu adalah yang utama sekarang, Rumah ini tidak akan dijual, nanti om merenovasi rumah ini supaya layak ditempati," ucapnya.
"Sekarang, kamu ikut Mama ya. Kamu tinggal di rumah sama Mama," ucap Mama Bella.
[Tapi, aku belum menikah dengan Tuan Aksa. Sepertinya kurang sopan kalau aku tinggal di rumah Om dan Tante]
"Aksa itu nggak tinggal di rumah Om, sayang. Dia tinggal di apartemennya, dia datang ke rumah kalau ada urusan aja," jawab Papa Mahendra.
.
.
.
Bersambung.....