Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih-benih Cinta Yang Mulai Tumbuh
Sementara itu, di tengah keramaian pesta yang masih berlangsung meriah, Arga melangkah kembali masuk ke dalam aula dengan langkah santai namun tatapan matanya yang tajam masih menyimpan sisa-sisa kepuasan tersendiri. Ia berjalan menuju sudut tempat Fira menunggunya dengan wajah yang tampak gelisah.
Begitu melihat sosok Arga muncul kembali, Fira segera menghampirinya, menyandarkan tangan di lengan Arga dengan nada manja namun penuh tanya.
"Dari mana kamu sayang?" tanya Fira sambil menatap wajah Arga lekat-lekat, matanya menyipit sedikit menyadari perubahan pada diri laki-laki itu.
"Kok tadi menghilang begitu saja? Aku mencarimu ke mana-mana dan tidak menemukanmu di mana pun."
Arga hanya tersenyum tipis, lalu dengan santai ia mengelus pipi Fira untuk mengalihkan perhatian gadis itu dari sudut bibirnya yang sedikit lecet.
"Aku tadi pergi ke luar sebentar" jawab Arga dengan nada tenang dan meyakinkan.
"Aku hanya merasa sedikit sesak di sini, jadi aku pergi untuk menghirup udara segar. Itu saja."
Namun, Fira tidak sepenuhnya tenang. Matanya yang tajam tiba-tiba menangkap sudut bibir Arga yang sedikit pecah dan berbekas darah kering. Jemarinya langsung terulur menyentuh bagian itu dengan ekspresi kaget dan cemburu yang meledak.
"Tunggu... ini apa, Arga?" tanya Fira dengan nada meninggi, matanya menatap tajam mencari kebenaran di manik mata Arga.
"Kenapa bibirmu terluka? Dan lihat kemejamu... ada sedikit kerutan di sana-sini. Kamu bilang ke luar menghirup udara segar, tapi bukankah ini tanda kalau kamu baru saja berkelahi? Atau jangan-jangan..."
Suara Fira tercekat sejenak, menelan ludah dengan perasaan gelisah.
"Jangan bilang kamu bertemu Yena, kan? Kamu pergi mencarinya, bukan?"
Arga menepis tangan Fira dengan kasar, lalu membetulkan kerah kemejanya kembali dengan wajah dingin dan angkuh. Ia tidak mau kelemahannya diketahui oleh wanita serakah ini.
"Jangan berlebihan, Fira," jawab Arga datar dengan tatapan merendahkan.
"Hanya kecelakaan kecil. Aku tersandung dan tidak sengaja membentur tembok di lorong belakang. Itu saja. Yena? Dia tidak penting bagiku. Aku hanya ingin menenangkan pikiran sendiri."
Arga berbalik memunggungi Fira, menatap lantai dengan senyum licik yang tersembunyi.
Fira mengerutkan kening, masih belum sepenuhnya percaya namun tidak berani mendesak lebih lanjut melihat raut wajah Arga yang mengancam. Ia menelan rasa curiganya bulat-bulat sambil memeluk lengan Arga kembali dengan pura-pura manis.
"Baiklah kalau begitu... Aku percaya padamu. Mari kita lupakan hal tidak penting itu dan nikmati pestanya, ya?" bujuk Fira sambil tersenyum palsu, meski di dalam hatinya benih kecurigaan terus merayap tumbuh.
Di sisi lain Hati Yena masih bergetar hebat sisa kejadian tadi. Ia tahu, ia tak sanggup lagi berpura-pura tersenyum di tengah keramaian itu. Dengan suara yang masih terdengar sedikit serak namun tenang, ia menoleh ke arah Juvan.
"Juvan, kita pulang ya? Aku rasanya tidak enak badan," ucap Yena pelan.
Sebelum melangkah keluar, Yena mencari sosok Zara di tengah kerumunan. Ia menghampiri sahabatnya itu sebentar dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Zara, aku izin pulang duluan ya. Kepalaku tiba-tiba agak pusing sekali, tidak kuat lama-lama di sini."
Zara yang melihat wajah pucat Yena langsung mengangguk khawatir. "Ya sudah, hati-hati di jalan ya! Kabari aku kalau sudah sampai."
Mereka pun beranjak meninggalkan aula pesta yang riuh itu, berjalan menyusuri lorong panjang menuju tempat parkir yang agak sepi. Namun, baru beberapa langkah melangkah keluar dari pintu utama, rasa lemas yang luar biasa tiba-tiba menyerang sendi-sendinya. Kaki Yena terasa seperti kapas yang tak bertulang, pandangannya sedikit berkunang-kunang, dan tubuhnya oleng ke depan.
"Kak Yena!" seru Juvan sigap.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Juvan segera membungkuk dan melingkarkan lengannya yang kuat di bawah lutut dan punggung Yena. Dengan satu gerakan ringan namun mantap, ia mengangkat tubuh Yena dalam gendonganannya.
"Biarkan aku yang bawa sampai ke mobil," ucap Juvan lembut namun tegas, melangkah tegap membawa gadis itu.
Yena yang terbaring di pelukan hangat itu tak bisa mengalihkan pandangannya. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat dengan jelas rupa Juvan yang luar biasa menawan. Garis wajahnya yang tegas, bulu matanya yang panjang, serta kulitnya yang bersih memancarkan pesona muda yang memikat. Matanya berhenti sejenak menatap bibir Juvan yang berwarna merah muda alami, terlihat begitu lembut dan mengundang.
Jantung Yena berpacu tak beraturan. Rasa takut dan sedih tadi perlahan tergantikan oleh kekaguman yang mendalam. Ia merasa seolah kehilangan akal sehatnya sendiri terpaku pada ketampanan remaja di hadapannya itu. Di tengah dinginnya udara malam, kehangatan pelukan Juvan merambat masuk hingga ke sanubarinya, membuat benih-benih cinta yang semula hanya sekadar rasa nyaman, kini mulai berakar kuat dan perlahan mekar di dalam hatinya.
Sesampainya di sisi mobil, Juvan dengan sangat hati-hati menurunkan tubuh Yena, lalu melonggarkan pintu dan membaringkannya pelan di kursi penumpang. Tak lupa, jemarinya yang sigap dan lembut menyelipkan sabuk pengaman, menguncinya dengan aman agar Yena terikat rapi selama perjalanan. Gerakannya begitu tulus dan penuh perhatian, seolah sedang merawat benda berharga yang tak ternilai.
Setelah memastikan Yena nyaman, Juvan melangkah ke sisi pengemudi, masuk ke dalam mobil, dan menyalakan mesin. Kendaraan berwarna merah itu pun melaju tenang membelah jalanan malam yang mulai lengang.
Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam kabin terasa damai dan nyaman. Yena menatap profil samping wajah Juvan yang fokus menyetir, rasa syukur memenuhi setiap ruang di hatinya. Perlahan, tangan Yena bergerak mendekat, mencari kehangatan di sela-sela kemudi. Jemarinya menyentuh punggung tangan Juvan yang sedang beristirahat di tuas transmisi, lalu dengan lembut namun erat ia menggenggamnya.
Juvan sedikit menoleh, matanya menatap tangan yang saling bertaut itu, lalu kembali menatap jalanan dengan senyum tipis yang menghiasi bibirnya.
"Juvan, makasih ya... untuk hari ini," ucap Yena lirih, suaranya terdengar lembut dan penuh ketulusan di udara yang tenang.
"Terima kasih sudah menjadi tamengku, sudah melindungiku, dan selalu ada di saat aku paling hancur."
Juvan membalas genggaman itu dengan lembut, mengusap punggung tangan Yena menggunakan ibu jarinya dengan penuh kasih sayang.
"Kak yena," jawab Juvan pelan namun tegas.
"Membantu dan melindungi Kakak adalah hal yang paling tulus yang ingin aku lakukan. Jangan merasa sendirian lagi, ya."
Tak lama kemudian, mobil merah itu melambat dan berhenti tepat di halaman depan rumah Yena yang tampak tenang di bawah cahaya lampu taman. Juvan mematikan mesin, lalu menoleh dengan senyum lembutnya yang meneduhkan.
"Kak, kita sudah sampai," ucapnya pelan. Ia pun bersiap untuk berpamitan, tangan kanannya memegang gagang pintu mobil.
"Kakak jangan khawatir, aku akan pesan taksi untuk pulang ke rumah. Kakak masuk dan istirahat yang cukup ya... Daa, Kakak."
Saat Juvan hendak membuka pintu dan melangkah keluar, tiba-tiba tangan Yena bergerak cepat menahan pergelangan tangan pemuda itu. Gerakannya lembut namun tegas, mencegah Juvan pergi seketika.
Yena kemudian menyodorkan sebuah amplop cokelat berisi uang dengan kedua tangannya, menyajikannya di hadapan Juvan sebagai tanda terima kasih dan sekadar upah karena telah meluangkan waktu serta tenaga menemani dan menjaganya sepanjang malam yang melelahkan ini.
"Terima kasih banyak sudah mengantarku, Juvan. Ini... anggap saja sebagai ganti bensin dan waktumu, sekaligus bayaran karena sudah bersusah payah menemaniku malam ini," ucap Yena tulus.
Namun, Juvan menatap amplop itu sekilas, lalu menggeleng lembut dengan tatapan yang sangat tulus. Ia perlahan menuturkan kembali tangan Yena yang memegang amplop itu, menolaknya dengan sopan namun mantap.
"Tidak usah, Kak. Aku tidak bisa menerimanya," kata Juvan dengan suara yang tenang dan ramah.
"Aku membantu Kak Yena sepenuhnya ikhlas, tanpa mengharap imbalan apa pun. Bagi aku, bisa menemani dan melihat Kakak baik-baik saja itu sudah cukup menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku."
"Tapi kakak sudah banyak merepotkan kamu, kakak jadi gk enak hati ke kamu" ucap yena lemah
"Kak jangan berpikirran begitu, aku gk pernah merasa di repotkan sama kakak,aku pulang dulu ya kak"
Saat Juvan melangkah keluar dari mobil dan menutup pintu dengan pelan, ia terkejut saat mendengar pintu sisi lainnya terbuka kembali. Yena turun perlahan, meski kakinya masih terasa sedikit gemetar, ia berusaha mengejar langkah Juvan dan berdiri tepat di hadapan pemuda itu untuk menghentikannya.
"Juvan, tunggu sebentar!" panggil Yena lembut namun tegas.
Juvan berhenti melangkah, menoleh dengan tatapan bingung namun penuh perhatian.
"Ada apa lagi, Kak? Masih ada yang lupa?"
Yena menundukkan pandangannya, jari-jarinya saling meremas canggung di depan perutnya. Rasa bersalah yang dalam menyusup ke hatinya, membuatnya merasa perlu meluapkan semuanya saat itu juga.
"Bukan begitu... Aku hanya ingin bilang sesuatu," ucap Yena lirih, suaranya bergetar sedikit. Ia mengangkat wajahnya menatap mata Juvan.
"Tentang kejadian di pesta tadi... saat permainan itu. Aku benar-benar minta maaf, Juvan."
Napasnya tersendat sejenak sebelum melanjutkan,
"Aku merasa sangat lancang dan tidak sopan. Aku tahu itu peraturan mainnya, tapi aku tidak seharusnya menciummu begitu di depan banyak orang tanpa meminta izinmu lebih dulu. Itu mungkin membuatmu merasa tidak nyaman atau terjebak. Maafkan aku ya... Aku benar-benar tidak bermaksud membebanimu dengan hal itu."
Juvan tersenyum lembut, lalu menggeleng pelan seolah ingin menghapus segala rasa bersalah yang membebani hati Yena. Ia menatap gadis itu dengan sorot mata yang hangat dan tulus.
"Kak Yena, tidak perlu merasa bersalah atau meminta maaf," ucapnya pelan namun tegas.
"Aku sama sekali tidak merasa terbebani, tidak merasa tidak nyaman, dan sama sekali tidak keberatan. Justru aku yang merasa terhormat bisa mendampingi Kakak malam ini."
Juvan menarik napas sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang sedikit merendah namun penuh ketulusan, "Bagiku, ciuman itu bukan paksaan atau aib. Itu terjadi demi keadaan, dan aku ikhlas menerimanya. Jangan menyiksa diri sendiri dengan pikiran itu lagi, ya? Yang terpenting bagiku sekarang adalah Kakak aman dan sudah berada di tempat yang selamat."
Mendengar penuturan tulus itu, rasa sesak di dada Yena perlahan luruh berganti rasa haru yang hangat. Senyum tipis terukir di bibirnya yang masih sedikit nyeri, matanya memancarkan rasa syukur yang tak terhingga. Ia mengangguk pelan, menatap sosok remaja di hadapannya dengan pandangan yang kini terasa jauh lebih dekat dan berharga.
"Terima kasih, Juvan..." bisiknya lirih, suaranya penuh kelembutan.
"Kamu benar-benar orang yang luar biasa. Hati kamu selembut ini, ya?"
Udara malam yang sejuk menyapu halaman rumah yena, namun kehangatan di antara dua insan itu membuat segalanya terasa nyaman. Juvan tersenyum lega melihat raut wajah Yena yang kembali tenang. Ia pun melangkah mundur perlahan, memberi jarak tanda hendak beranjak.
"Sudah malam, Kak. Kakak masuklah segera dan istirahatkan tubuhmu. Jangan lupa obati luka di tangan dan bibirmu," pesan Juvan dengan penuh perhatian.
"Aku pulang sekarang, hati-hati di dalam rumah."
"Iya, kamu juga hati-hati di jalan ya," jawab Yena tak ingin melepaskan pandangan begitu cepat.
"Kabari aku kalau kamu sudah sampai di rumah, agar aku tidak cemas."
"Pasti. Selamat malam, Kak Yena."
"Selamat malam, Juvan."
Juvan melambaikan tangan sebentar, lalu berbalik badan melangkah ringan menjauh untuk memanggil taksi yang sudah ia pesan dari jauh. Yena berdiri terpaku di tempat, menatap punggung pemuda itu hingga menghilang di kegelapan malam. Hatinya terasa damai, seolah baru saja menemukan sebuah sandaran yang kokoh di tengah badai kehidupan yang menghempasnya.
Baru setelah bayangan Juvan tak terlihat lagi, Yena perlahan memutar tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam rumah. Di dalam benaknya, sosok Juvan kini terukir jelas—bukan lagi sekadar teman biasa, melainkan seseorang yang mulai mengisi ruang kosong di hatinya dengan perasaan yang perlahan tumbuh subur.