Tias tidak pernah menyangka kalau ternyata pilihannya untuk tinggal bersama neneknya malah membuatnya bertemu dengan orang paling menyebalkan yang pernah ditemuinya.
Tias kira dengan jabatan yang cukup disegani di kampung membuat orang itu punya rasa malu untuk sekedar menggodanya di depan umum. Tapi bukannya merasa malu orang itu malah terang terangan berkata ingin menikahinya meskipun banyak warga yang melihatnya.
" Dek Tias mau nggak jadi calon ibu Kades di sini ? Enggak perlu daftar langsung saya terima."
" Nggak."
" Kalau nggak mau daftar langsung saya nikahi aja ya. Gimana ?"
" Ih ! Aku nggak mau punya suami Kepala Desa."
" Jadi dek Tias maunya dapat suami yang kayak mana ?"
" Kayak pemulung."
" Kalau gitu besok saya turun jabatan jadi pemulung. Biar bisa nikahi dek Tias terus kita mungut sampah bareng bareng. Bagus juga keinginannya dek Tias."
" Astaga !" Tias berteriak kencang merasa frustasi menghadapi sikap Kades muda yang sangat menyebalkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maysar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
" Hah !" Tias merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Setelah melewati beberapa jam di rumah di Kades itu. Tias akhirnya bisa kembali ke rumah untuk menangkan diri.
Namun Tias masih ingat tentang Bram yang sama sekali tidak menyapanya hingga ia pulang. Meski sesekali Tias melihat Sinta sering memberi isyarat kepada Bram tetapi seperti pria paruh baya itu tetap kukuh pada pria pendiriannya. Tias menjadi bertanya tanya, sebenarnya dimasalah ini siapa yang salah ? Tias atau Bram ? Kenapa kesannya tadi saat makan malam malah Tias yang memiliki kesalahan dan Bram pihak yang menjadi korbannya. Seharusnya tadi yang tidak mau menyapa dan mengabaikan itu adalah Tias bukan Bram.
Yah, walaupun Tias juga tidak mau diperhatikan oleh pria itu sih. Tapi setidaknya ada basa basi sebentar untuk rasa bersalahnya kepada Tias. Bukan malah mengacuhkannya seakan akan Tias itu pihak yang bersalah di sini.
" Memang ya, orang kalau nggak tahu malu ya kayak gitu. Akhirnya jadi nggak tahu diri, siapa yang salah siapa pula yang marah." ucap Tias.
DRRRT ! DRRRT !
Tias mengambil ponselnya di atas bantal. Ia melihat nama si penelpon lalu mendengus kesal.
" Sudah begini baru ditelepon."
Tias melemparkan ponselnya kembali ke atas bantal. Malas sekali mengangkat panggilan itu. Sudah berhari hari Tias di sini baru menelponnya. Apa dia tidak tahu kalau seandainya Tias sudah mati sekarang atau masih hidup. Kalau seandainya ia sudah mati, mau menelpon siapa lagi dia ? Hantunya ?.
DRRRT ! DRRRT !
Suara ponselnya berbunyi lagi, tapi Tias malah beranjak bangun ke kamar mandi. Malas sekali berbaik hati setelah apa yang ia alami saat ini. Tias tidak akan mau berbicara kecuali ia sudah menjadi sukses dan bisa melampauinya. Kalau saat itu terjadi, barulah Tias bisa berdiri tegak dengan dagu terangkat. Mengulurkan tangan sebagai pembisnis wanita yang hebat dan patut dibanggakan hasil dari kerja kerasnya sendiri. Disaat itulah Tias bisa membuktikan bahwa tanpa bantuan harta dari papanya, ia masih bisa sukses dengan kerja kerasnya sendiri.
Ngomong ngomong tentang rasa percaya dirinya yang kurang ini. Tias akan berusaha lebih keras lagi untuk menghilangkannya. Ia akan belajar untuk tidak mudah malu dan bertindak lebih tegas lagi. Kata neneknya juga, ia tidak boleh merasa bahwa dirinya lebih rendah dari orang lain. Jangan memandang orang lain terlalu tinggi dan jangan pula memandang orang lain terlalu rendah. Biasa saja, yang penting Tias harus menghormatinya baik dia itu muda, seumuran ataupun tua.
Itu pelajaran pertama yang harus Tias terapkan untuk mengurangi rasa malunya di depan umum. Tapi kenapa ya saat pertama kali bertemu dengan Kades itu Tias tidak merasa malu ?.
" Astaga Yas ! Berhenti mikirin Kades itu !"
Tias memukul pelan kepalanya lalu cepat cepat membilas tubuhnya dan memakai handuk. Ini pasti efek dingin dari mandi malam yang membuat pikirannya berkelana kemana mana.
Tias membuka lemarinya dan memilih baju tidur bergambar strawberry yang lucu. Ini adalah karakter kesukaannya, bahkan dari parfum dan samponya beraroma Strawberry. Tapi Tias tidak suka memakan buahnya, entah karena apa. Mungkin inilah yang disebut keanehan manusia oleh Google si pintar yang banyak membantu orang di dunia internet itu.
" Stop mikirin hal hal yang nggak penting. Karena sekarang gue harus buat rencana untuk kedepannya nanti." ujar Tias berbicara sendiri.
Ia tiduran di atas ranjang sambil memikirkan rencananya. Sampai akhirnya sebuah pengetahuan muncul begitu saja dari kepalanya. " Bodohnya loe Tias, selama ini kan yang ngurus perusahaan itu gue sendiri. Otomatis gue tahu siapa siapa aja pengusaha yang bekerja sama dengan perusahaan bokap. Juga..., gue tahu kelemahan mereka masing masing."
Tias tersenyum licik memikirkan hal itu. Ini akan membuat rencananya lebih mudah lagi. Beruntung sejak dulu ia yang mengatur perusahaan ayahnya. Meskipun dipandangan orang lain ayahnya lah yang mengurus perusahaannya hingga dapat sebesar sekarang. Tanpa mereka tahu ada kerja keras Tias di dalamnya. Ternyata tidak sia sia ia mengalah selama ini,
" Dasar Gunawan bodoh, loe buang gue yang jelas jelas kunci dari kemajuan perusahaan loe sendiri. Seharusnya loe tahan gue waktu itu, karena kalau gue yang jadi lawan loe nanti. Loe yang bakalan jadi pihak kalah di sini."
Nah, sekarang yang tinggal Tias pikirkan adalah biayanya. Setidaknya Tias harus punya uang yang lebih dari seratus juta. Semoga saja ada jalan petunjuk untuknya kali ini. Lagipula Tias masih memiliki ladang sawit dan Cafe. Kalau untuk rumah biarkan saja ini untuk neneknya. Tias tidak akan mengakui rumah ini sebagai hartanya.
" Demi rencana gue buat bisa jadi sukses. Gue bakalan lakuin apa aja biar rasa malu yang gue alami ini bisa hilang." Tias berucap dengan penuh keteguhan.
Ini bukan Jakarta dimana kekuasaan Gunawan bisa berlaku. Ini adalah Riau dimana tempat inilah Tias bisa berkembang tanpa campur tangan dari papanya sendiri yaitu Gunawan.
Jangan mengira kalau saat Tias keluar dari rumah papanya dulu ia menangis karena sedih. Tidak, sedikitpun Tias tidak merasa sedih. Karena itulah ia tahu tujuannya dan datang kemari sebab di Provinsi inilah papanya tidak memiliki kekuasaan. Tias malah bersyukur ia bisa keluar dari rumah itu setelah belasan tahun lamanya. Saat itu Tias hanya kecewa karena mamanya sedikitpun tidak ada membelanya.
Padahal selama ini, orang yang tahu bagaimana sulitnya Tias bertahan di rumah itu adalah mamanya. Namun ternyata mamanya malah ikut menyalahkannya dan setuju ia keluar dari rumah itu.
Sekarang rasakan saja akibatnya. Tias tidak akan kembali ke rumah itu sampai kapanpun. Meskipun nanti mereka memohon kepadanya sekalipun. Karena setelah mereka mengusirnya, detik itu juga mereka telah memutuskan hubungan kepadanya. Walau Tias tahu darah mereka masih terhubung tetapi ia tidak perduli.
Cukup sebelas tahun lamanya ia dikurung dan diatur di dalam rumah itu layaknya hewan peliharaan. Sekarang setelah mereka melepaskannya, Tias akan hidup bebas dan mencari tujuannya sendiri tanpa mau kembali lagi.
Ia adalah burung yang telah bebas dari sangkarnya. Tidak peduli siapa tuannya dan seperti apa perlakuannya, burung itu tidak akan kembali ke sangkarnya lagi untuk dikurung. Seperti itulah Tias saat ini, bersama neneknya dan bisa mengunjungi makam pamannya. Baginya dua hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bebas dan bahagia.
Sisanya terserah mereka, Tias tidak akan ikut campur tangan lagi. Baginya di dunia ini hanya tersisa neneknya, calon suami, dan calon anak anaknya nanti. Selebihnya mereka hanyalah orang luar baginya.
" Gue akan berusaha di sini dan hidup bebas seperti yang gue inginkan."
Thanks dah up,Kak..☺️
Lanjuttttt and ttp semangat!!💪
penuh Teka teki....
Semangat,Thor...
Calon adik????🤔
Astaghfirullah
Aq mikirnya apaaaaaa gitu yah Roti sumbu... ternyata ubi kayu...
aaaa Author Somplak!!!
Thanks infonya.....